SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
KABUT


__ADS_3

Akhirnya bis yang aku tunggu datang juga. Warna merah namanya Marga Kaya pasti pemiliknya ingin selalu berjaya... Ya iyalah... pasti itu.. akupun tersenyum sendiri dalam hati. Sangat konyol... Ya pastilah semua ingin berkata dalam hidupnya. Termasuk diriku sendiri... aamiin..


Aku pun masuk dan duduk di belakang.


Banyak mata menuju ke arahku...


Entah karena apa... apa memang aku cantik atau bahkan terlihat aneh...?? Hi Hi Hi... Akupun sudah tidak peduli.


Bis masih belum berjalan. Pak sopir malah masih diluar ngobrol.


Sesekali tertawa hingga badan gembulnya bergerak semua.


Aku melihat keluar jendela.... Ku pandang jalan menuju rumah Bulik.. Ya... masih banyak pohon pinus yang berjejer rapi...


Sejauh mata memandang hamparan luas pegunungan indah sedikit dihiasi kabut tipis.


Sangat sejuk trlihat.


Dan.. hatiku merasa gelisah.. sedih meninggal kan tempat ini. Seakan tidak rela.


Matahari sudah hangat terasa. Disamping ku duduk seorang ibu-ibu setengah baya.


"Mau kemana..? " tanyanya ramah.


"" Saya mau pulang"jawabku tersenyum.


"Lha ini tadi dari mana..? " katanya sambil menggeser tubuhnya sedikit menghadap ke arahku.


"Dari rumah Bulik.. main bu.. " akupun menoleh kearahnya.


"Di mana itu..? " dia seperti nya ingin mengobrol dengan ku.


"Itu bu.. di Penggung.. " jawabku sambil menunduk..

__ADS_1


Dan beliau pun tersenyum lebar..


"Ayo.. ayo.. berangkat... " teriak pak Sopir mengagetkan kami.


Aku sangat gembira.. karena kalau kelamaan di dalam bus berhenti bisa mabuk nanti.


Kan tidak lucu.. hhhmmm memikirkan saja sudah buatku malu.


Pak sopir sudah siap di depan kemudi.


Pak kondektur yang masih muda melihatku dengan tatapan aneh. Akupun memalingkan muka.


Memang diantara penumpang hanya diriku yang masih muda. Banyak wanita namun hampir semua sudah tua.


Bus berjalan perlahan lalu mulai kencang.Udara semakin menusuk kulit.


Akupun menyilangkan tanganku di depan dada.


Dan tatapannya membuatku tidak nyaman.. terasa jengah sekali.


"Iihhh... ngapain ini orang senyum-senyum terus... sok kenal. " sungut didalam hati.


"Karcis-karcis.." katanya sambil menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.


Akupun membuka tas.. dan kuambil uang.


Dia melangkah ke belakang.. dan berdiri tepat disamping aku duduk.


"Mau berhenti dimana mbak..? " katanya ramah.


"Pasar Arjawinangun.. " jawabku singkat.


"Mau pulang atau main... ? " dia masih saja bertanya.

__ADS_1


"Pulang.. "sikapku dingin. Sambil menerima uang kembalian.


" Hhhmm... memang kemana pulangnya..? "


Dia masih mencoba ramah lagi kepadaku.


"Memang rumahnya mana? " Akupun mengangkat wajah.. Tidak suka dengan pertanyaan nya. Sepertinya dia tahu bahwa aku mulai tidak suka dengan sikapnya. Akhirnya duduk di bangku belakang..


"Dasar laki-laki.. ya mbak.. tiap melihat yang cantik tidak bisa diam mulutnya.. " ibu-ibu disamping ku pun berkomentar ..


"Aahh.. tidak bu.. memang sudah sifat mereka suka iseng".. jawabku..


Ibu itupun tertawa..


Kamipun kembali terdiam.. ya.. aku hanya ingin diam...


Sesekali mataku melihat kedepan. Setidaknya masih hampir satu jam setengah lagi sampai pasar Arjawinangun.. Aahhh... ingin aku tidur sebentar.


Tapi lagi-lagi bayangan Mas Ari melintas di mataku.. Aahh... mungkinkah dia pun sedang terbayang diriku..?? hati ku percaya diri sekali... Tapi mana mungkin?? Hatiku berperang sendiri.


Ibu di samping ku sudah mimpi entah kemana. Bagaimana bisa tidur bila jalannya saja berliku dan belum rata?


Mataku memandang keluar jendela.


Aahhh.. kabut itu sangat indah.. seolah berjalan -jalan mengikuti bis yang aku tumpangi. Tampak rumah kecil-kecil berserakan diantara bukit.


Sebagian tertutup kabut...


Ya Allah.. Engkau Maha Pencipta... Maha Indah hasil karya-MU.


Dan hatiku menjadi hangat...


***

__ADS_1


__ADS_2