
Naik mobil bersama sangat menyenangkan. Sri ku lirik senyum-senyum kegirangan.
Dasar anak kampung batinku geli.
Ara tidak henti-henti ngoceh. Sesekali tangannya memukul manja bahu mas Sigit. Hhmm.. hatiku mendidih melihatnya.Aku selalu palingkan muka. Apalagi kalau mas Sigit tertawa lebih keras. Nampak gembira. Aku jadi makin sebel.
Menyesal rasanya menuruti bos. Mending tadi main ke pasar Cipulir. Bisa bebas menikmati. Ini naik mobil bagus tapi hati tersiksa.
"Kok pada diam, Eko kamu ngapain?"
Ara menoleh kebelakang .
"Ngantuk mbak Ara..!" Eko menjawab sambil tiduran.
"Ayo pada cerita.. masak aku terus yang bicara kayak penyiar radio nanti!" Ara ngakak dibarengi Mas Sigit.
Aku dan Sri hanya tersenyum tipis.
Lama banget perjalanannya.
"Mbak... kok lama!" Sri berbisik padaku.
"Sebentar lagi Sri!" Mas Sigit yang menjawab.
Aku menunduk. Tidak kuat dengan pandangan mas Sigit.
Akhirnya sampai lah kami di sebuah pusat perbelanjaan. Aku kagum dalam hati.
Akhirnya kesampaian juga aku masuk disini. Mereka biasanya hanya kulihat dari televisi/majalah.
Emak.. anakmu masuk di mall.
"Ayo turun.. kita cari makan dulu ya!" Seru Ara.
"Ya ya.. kamu ini makanan yang dipikirkan.
__ADS_1
Semua tertawa. Ara dan Mas Sigit jalan duluan. Bahkan tidak sungkan lagi Ara memegang lengan mas Sigit.
Aku dan Sri mengikuti di belakang.Eko nampak kampunganya. Terkagum-kagum dengan barang-barang bagus.
Sesekali bersiul saat ada cewek cantik. Sri jadi cemberut.
Ara yang mengajak menuju sebuah restoran cepat saji. Nampak dia sedang menghampiri seorang laki-laki tampan.
Mas Sigit sedang pesan makanan.
" Yuuk semua duduk dulu." Kebiasaan bos ini memang nyuruh.
Aku, Eko, dan Sri menuruti semua perintahnya.
Ara masih asyik ngobrol dengan lelaki yang baru ditemui. Kok mesra banget ya? Ku lirik Mas Sigit malah melambaikan tangan. Aneh.
Sri nampak bingung dengan situasinya.
"Mbak.. siapa itu.. tadi mbak Ara dengan Mas Sigit. Sekarang ganti dengan orang itu." bisik Sri.
Mas Sigit mendekati kami.
Ara dan laki-laki itu tertawa renyah sekali.
Eko masih lihat kesana-kemari.
Ini memang pertama kami ke mall.
Rasanya kayak sudah memiliki segalanya. Halah.. lebay.. dasar orang kampung.
**
Kami makan apa yang dipesan Mas Sigit. Rasanya sangat enak. Emak.. aku makan lezat.. hatiku mendadak sedih ingat emak dikampung.
Kutahan air mata yang akan jatuh. Mas Sigit terlanjur melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Pedes!! " jawabku santai.
Selama makan makin mencurigakan. Ara tidak peduli lagi dengan mas Sigit.
Namun Mas Sigit nampak tenang saja.
"Mas, habis makan aku akan nonton!"
"Ya.. hati-hati!"
"Kalian mau nonton juga?" Mas Sigit bertanya padaku.
"Nggak, lain kali saja!" Aku mewakili Sri dan Eko. Keduanya hanya manggut-manggut.
"Ya.. kapan-kapan kita jalan lagi."
Mas Sigit malah menantapku yang aku tidak berani mengartikan.
"Oya.. kalian belum kenal kan dengan ini?" Tanya mas Sigit sambil menunjuk ke lelaki
yang duduk di samping Ara.
"Namanya Tio, tunangan Ara."
Laki-laki yang dipanggil namanya tersenyum.
"Dan, Ara adalah keponakanku!" Mas Sigit seolah hanya berbicara denganku.
Kami hanya tersenyum.
Entah kenapa hatiku jadi lega dan senang sekali. Mukaku menjadi merah panas rasanya. Semoga tidak ada yang tahu.
Aku tidak berani mendongak. Namun aku tahu Mas Sigit sedang melihatku.
__ADS_1
Olala...