
Jantungku rasanya berhenti, Mas Sigit datang ke kost.Aku tak tahu harus jawab apa. Hatiku berdetak kencang.
"Yuk..ayo.. jangan kayak anak kecil kamu!"Mas Sigit masih nekad mengajak ku ke dokter.
" Nggak usah mas! buat tidur nanti juga sembuh." Jawabku singkat. Tanpa sengaja kakiku tersandung keset. Hampir terjatuh.
Mas Sigit dengan sigap memelukku. Aku terdiam gemetar.Diapun tidak bilang apa-apa. Kamipun hanya saling tatap mata. Terasa panas wajahku.
Mas Sigit pun terlihat gugup. Karena semua terjadi sangat cepat.
Akupun melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
Mas Sigit melihat dan meraih tanganku.
Aku tidak bisa menolak nya.
"Yuk.. aku tahu kok perasaanmu."
Ku berusaha menarik tanganku. Namun Mas Sigit tidak mau melepaskan.
"Ayo bicara dulu!" katanya keras.
"Apa mas, yang perlu mau dikatakan?" Aku luluh juga akhirnya.
"Aku tak ingin pisah denganmu!" Mas Sigit menatap tajam.
Hatiku melayang entah ke awan yang mana.
Aku termangu diam.
Mas Sigit melepaskan tanganku.
Kamipun duduk berhadapan. Saling terdiam tanpa bisa bersuara. Kepalaku yang tadinya sudah mendingan. Mendadak jadi sakit lagi. Namun kuakui hatiku merekah indah.
"Maksudnya?" Hanya itu yang keluar dari mulutku.
__ADS_1
"Ya.. aku mau kamu selalu ada."
"Mas.. " belum selesai aku bicara. Mas Sigit sudah menyuruhku diam.
"Aku tahu kok perasaanmu."
Duh...andai saja wajahku bisa kulepas , pasti kusimpan dilemari.
"Tak perlu kamu menjawab dan buat alasan yang panjang.Aku hanya ingin kita jalani apa adanya."
Aku menoleh ke samping. Aku tak bisa menjawab apa-apa. Serba mendadak.
Justru aku jadi penasaran kenapa Mas Sigit bisa jadi seperti ini.Pasti ini ulah Eko dan Sri. Batinku.
"Hei, jawab malah bengong!"
"Halah mas, kalau ngelawak jangan sekarang!"
"Yuk.. kok tega kamu!"Mas Sigit setengah berteriak.
Aku yang semula mau tertawa seketika terdiam menunduk. Sebisa mungkin kututupi perasaan ku. Agar tidak terlihat kepedean.
" Tapi, kan semua itu tidak mungkin!"jawabku pelan. Perutku mual.Aku rasa dunia jadi berputar.
Mas Sigit akhirnya pergi meninggalkan ku dengan wajahnya yang tidak bersahabat.
Hatiku rasanya bercampur aduk. Harus terjadi seperti ini lagi.
Jadi teringat pada Ara.
Kuusap mukaku.
Hatiku berdesir halus , terbayang wajah Mas Sigit tadi. Terlihat dia sungguh-sungguh.
Ya Allah, haruskah aku menerima, sedang perbedaan kami nyata terlihat.
__ADS_1
Kutundukkan wajah.
"Hai, mbak.. kok mendung mukanya?"
Sri sudah berdiri didepan ku. Mukanya mau jahil. Namun urung melihat ku yang loyo.
"Pusing lagi Sri!"
"Lho, kan pak dokternya sudah datang."
"Kamu, apaan sih?"
" Mas Sigit kok bisa kesini?" Tanyaku selidik.
"Ya, tadi Eko yang bilang."
"Hhmm, sudah kuduga."
"Bilang apa mas Sigit mbak?" Sri gantian menyelidiki ku.
Ku alihkan pandangan ku ke luar jendela. Angin berhembus sangat lembut. Namun gerah rasanya.
"Aku harus bagaimana Sri?" pelan suaraku kepada Sri.
"Mbak, ada apa sih, makin penasaran aja!"
Sri mendekati ku yang termangu. Harusnya aku bahagia, setelah mas Sigit ungkapkan perasaan nya. Namun aneh, kenapa aku jadi sedih?
Wajah Sri cemberut karena aku tidak segera memberitahu apa yang terjadi.
Kuberdiri mengambil air minum. Sri menatapku tanpa berkedip.
"Aku baik-baik saja Sri. Jangan khawatir, mas Sigit tidak bilang apa-apa. Hanya mengajakku ke dokter. Dan aku menolak."
Akhirnya bisa juga aku bicara, walau hatiku masih bimbang.
__ADS_1
***