SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
SURAM


__ADS_3

Aku menatap langit yang mendung. Seperti mewakili suasana hati ku. Tak bisa kulihat bintang menghiasi malam.Entah mereka sembunyi karena bosan padaku.


Suara lalu lalang kendaraan seolah menemaniku. Mengeja kisah demi kisah yang telah ku lalui.


Kulihat Sri sudah pulas. Ku hembuskan nafasku. Aku berjalan ke jendela. Mataku sudah mengantuk.. Namun hati masih berkecamuk.


Mas Sigit seolah didekatku. Genggaman tangannya masih kurasakan. Tak bisa kupungkiri kalau ada rindu untuknya. Namun apa dayaku. Tak ingin aku merusak suasana. Apalagi ada Ara yang selalu menjadi bayangan Mas Sigit. Aahh.. ada apa dengan hatiku?


Aku siapa berani menolak Mas Sigit? Walaupun ada cinta disana, kenyataan tak akan mengizinkan. Kututup mukaku dengan tangan. Ingin ku ikhlaskan dalam hati.


Malam.. biarkan aku sejenak lupa. Jangan engkau buka rahasia. Bahwa hatiku terluka. Karena cinta yang tak bisa bersama.


Biarlah semua sekedar mimpi siang yang tak bermakna.


Tidur.


**


Didalam kamarnya yang mewah, Sigit mematikan televisi. Ditariknya selimut.Wajah Wahyu kembali hadir.


"Kenapa dia takut?" batin Sigit heran.


Seharus nya dia jujur pada hatinya.


Sementara itu, diapun juga heran kenapa jadi tertarik sama Wahyu ya?? aahh lucu. Pertama dalam sejarah dihatinya . Menyukai gadis yang tidak dari kalangan nya.Apalagi hanya gadis desa yang kerja kepadanya.


Dia melompat duduk di kasur. Seolah menyadari sesuatu hal.


"Hhmmm.. ya, aku tahu sebab Wahyu tidak mau menerima cintaku." Sigit masih penasaran.


Mungkin karena dia malu dengan teman-temannya.Tentu tidak nyaman kalau pacaran sama dengan bos ditempat kerja.

__ADS_1


"Kenapa tidak terfikir kn sama sekali?? Terlalu gegabah memang." Sigit marah dengan dirinya sendiri.


Lalu berdiri mengambil minum.


Besuk harus diperbaiki.


Sigit pun menyusun rencana.


**


"Mbak, kok tidur lagi? sakit?" Tanya Sri kepadaku.


"Tidak, hanya malas saja." jawabku sekenanya.


"Tumben... tidak biasanya!" Sri masih heran.


Aku hanya tersenyum kecut.


"Ya bukan begitu, hanya aneh!" Sri nyengir.


"Sri.. ini sarapan nya!"


Eko belum sampai dikamar sdh teriak.


"Iihh.. kebiasaan!! seneng banget bikin berisik!" Sri jadi kesal.


Eko tidak peduli.. justru tertawa.


Aku hanya tersenyum mendengar mereka ribut.


"Sudah-sudah ayo makan!! " Aku menengahi.

__ADS_1


"Pagi-pagi sudah rame, malu sama tetangga!"


"Tuh... dengerin!" Sri masih saja marah.


Aku dan Eko terpaksa tertawa.


Sri mengambil piring. Lalu kami makan bertiga. Rasanya seperti dirumah.Sering aku terharu. Tak menyangka bisa bertemu dengan anak-anak baik ini. Aku pun bersyukur dalam hati.


Ku bulatkan tekad, untuk bersikap biasa. Aku harus kerja lebih baik lagi. Jangan sampai ada yang curiga. Apa yang terjadi padaku.


Biarlah kusimpan rapat.


Aku sudah semangat lagi. Terbayang wajah emak.Yang sudah bekerja sendirian.Aku tidak boleh goyah hanya karena hal kecil seperti ini.


Masa bodoh dengan urusan cinta. Kuingat lagi tujuanku ke Jakarta. Ya.. bekerja.. dan bekerja..


Kejadian kemarin sekedar kerikil kecil yang hampir menghalangi langkahku.


Kupejamkan mata.. Ada bayangan teman, rumah, dan orang-orang yang kusayangi.


Dan satu lagi, aku ingin kuliah! Pokoknya aku harus bisa.


"Ayo mbak..!" Suara Sri mengagetkan ku. Dia sudah rapi.


"Ya ya.. aku juga sudah siap!"


"Lha begitu!! jangan buat aku takut!" Sri memelukku.


Aku pun balas pelukannya.


Matahari temani aku menjemput impian.

__ADS_1


***


__ADS_2