SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
ENTAHLAH


__ADS_3

Panasnya mentari.. tetap tak terasa saat disini. Bahkan mungkin lebih panasnya hati. Ahhh... lebay...


Kutatap pucuk pinus didepan rumah. Ya... rumah Bulik dikelilingi gunung dan pohon pinus. Mereka bersuara seolah kapal terbang saat di terpa angin. Dan... harum pinus sangat terasa bahkan saat jauh dr sini.


Pikiranku melayang.. Iput sedari tadi dirumah mbah Putri.. Aku ingin menyusul tapi hati menolak.


Ingin aku berjalan ke belakang.. tapi nanti bila ketemu Mas Ari aku harus bilang apa..??


Kok jadi malu begini rasanya... akupun tersipu menahan panas di pipiku.


"Doorrr...!! " Iput mengagetkan ku..


"Ihhh... bikin jantung aku mau copot saja.. "Aku menoleh pura-pura marah.. Dan dia trtawa hingga tubuhnua bergerak semua...


Diapun duduk disamping ku.


Entah sejak kapan dia berdiri disana. Bajunya sudah wangi.. Aku menoleh trsenyum tipis.. dan kubuat jadi senyum trindah... aaahhhaayy... (edisi ngarep ini)


Diapun berdiri didepan kami...


Aku selalu ingin memandangnya .. tp mataku menolak...


Aku kan jadi gelisah..

__ADS_1


"Dik.. sudah makan? " tanyanya padaku..


"Ya.. sudah dari tadi.. " jawabku sembari memandangnya sekilas.


Memang aku tak berani melihatnya lama.. bukan karena dia seram.. tapi sangat menggelisahkan.. hati... Dan akupun belum tahu apa artinya itu.


Suara adzan terdengar dari mushola kecil.


Bulik dan pak lik sudah pulang.


Kamipun makan siang bersama.


Segera aku mencuci piring.Dan Bulik menyuruhku untuk tidur siang.. Duuhhh.. bakal jadi gemuk aku..


Memang kalau libur aku sangat senang main ke sini.Suasana desanya masih asri dan asli. Dan entah alasan lain apa.. akupun juga belum paham.. Aku sangat senang damai di desa ini.Walau kerjaan saja aku belum punya.. Waaduuhh.. jangan-jangan memang aku ingin jadi pengangguran selamanya.Hi Hi Hi... ya.. tidaklah.. Tapi yang pasti aku belum ingin pulang.


**


Hampir copot jantungku.. saat ada tercium aroma harum... disebelah ku. Dia berdiri dengan baju olahraga.


Ya... sdh jadi kebiasaan orang kampung kalau sore hari waktunya main voly bersama. Bukan dilapangan.. hanya kadang tanah lapang... yg tdk di olah. Dan itu sudah jadi hiburan yang terhebat.Bisa olahraga gratis.. kumpul teman.... kalau ada cewek lewat menggodanya berjamaah... Aahhh.. indah bukan?


"Yang bersih... " katanya sambil memberiku kacang atom..

__ADS_1


Aku tersenyum menerimanya.


Entah hatiku berdegup kencang..


Aku sangat mengaguminya.


"Sebentar ya... Anak-anak sudah kumpul".. katanya... entah itu pamit/sekedar basa-basi. Aku sudah tidak peduli. Senyumnya saja sudah mencerahkan hati..


Habis mandi aku duduk didepan tungku sambil menghangatkan badan. Suara anak-anak main voly masih bercanda ramai. Ingin aku melihat.. tapi kok ya malu. Iput sdh pulang sejak siang tadi.


Rumah Bulik besar tapi tidak terawat. Ya maklumlah.. orang desa yang tiap hari dari subuh hingga magrib harus ke sawah.. cari makan ternak.


Bulik senang kalau aku main kerumah. Karena rumah ada yang bersihin.


Suara mbah Putri membuyarkan lamunanku...


" Ibunya iput.. ini ada sayur buncis... "aku keluar... "Ee... putu wedok.. (cucu perempuan).. panggilan yang menurut ku sangat menyentuh dihati. Karena seumur hidupku.. merasa punya nenek.


Mbah Uti.. kami biasa memanggilnya. Beliau memberikan mangkuk berisi sayur buncis.


Aku menerimanya dengan tersenyum.


Mbah Uti tertawa sambil trlihat gigi ompong nya.

__ADS_1


Magrib terasa indah.


***


__ADS_2