SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
GE -ER


__ADS_3

Alhamdulillah aku menerima gaji pertamaku. Duuhhh... rasanya dunia milikku. Walau tidak seberapa. Namun aku bersyukur sekali.


Emak, akhirnya aku bisa pegang duit sendiri. Semoga tidak akan minta engkau lagi.


Sri senyum - senyum sambil memegang tas.


"Hhhmmm.. masih ingin pulang?" godaku.


"Hi Hi Hi.. kalau sekarang tidak jadi deh mbak.. "


"Ya.. dipikirkan lagi.Kerja di manapun sama. Yang penting kan bisa bantu keluarga"


"Ya mbak.. besuk antar ke kantor pos ya, ingin kirim uang buat adik-adik"


"Siap!"


"Untung ada mbak Wahyu, aku kan tidak bisa apa- apa"


"Husstts.. tidak boleh seperti itu!"


"Sudah ayo keburu pasar tutup"


Sri menggandeng tanganku.


Mas Sigit didepan restoran melihat kami lalu melambaikan tangan.


Kamipun membalas lambaian tangannya.


Panas terik tidak kami rasakan. Maklumlah namanya baru dapat gaji pertama.


Yang ada hanya riang gembira. Sederet daftar yang ingin dibeli. Semoga saja uangnya cukup.


Kerudung ku berkibar kena angin. Sri tertawa rambutnya yang panjang menutupi wajah.


"Makanya diikat Sri"


"Ya sih, kan biar kelihatan cantik" dia tertawa.


"Halah kamu ini ada - ada saja."


"Suatu saat aku juga ingin pakai kudung mbak"


"Ya.. harus itu Sri!"


Meskipun hari sudah siang namun pasar masih ramai.


"Sri.. belanja yang kita butuhkan, masih satu bulan lagi dapat uangnya"


"Eehh ya mbak" Sri mengerlingkan mata.


Aku hanya beli daster dan kerudung yang murah. Aku harus hemat.


Sri beli baju seperti yang dia ingin kan dulu.

__ADS_1


Kami segera keluar dari pasar takut kalap.


Selesai makan bakso kamipun pulang.


**


Sore hari aku coba daster dan kudung yang tadi kubeli. Aku ingin menyapu teras kost yang banyak ada daun - daun kering.


Terdengar suara motor berhenti.


Pasti Eko bawa teman kampungnya lagi.


"Sedang apa Yuuk?"Aku menoleh.


Mas Sigit berdiri sambil bawa bungkusan.


" Eehh.. Mas Sigit. Eko kayaknya belum pulang, main ke rumah temannya"


"Ya, aku tidak cari Eko kok!"


"Oohh gitu ya? "


Mas Sigit berikan senyum terindahnya.


"Ini buat kalian!"


"Terimakasih mas"


Akupun jadi salah tingkah sendiri. Malu rasanya.


"Ya dari tadi, kami hanya sebentar kok"


"Duduk dulu mas! "


Mas Sigit malah buka jaketnya.


"Panas banget hari ini"


Aku ambilkan air putih.


"Maaf adanya hanya air putih"


"Terima kasih, mana Sri?"


"Sedang mandi"


"Kamu betah di Jakarta? "


"Bajumu baru? bagus warnanya pas buatmu"


Duhh Gusti... bagaimana diri ini menata hati??


Rasanya terbang ke langit ke tujuh.

__ADS_1


"Ya mas.. ini baju murahan kok"


Jawabku sambil tertawa.


"Mau aku belikan yang mahal?"


"Tidak - tidak, terimakasih!!"jawab ku sambil tangan dan kepalaku geleng-geleng.


" Iihhh... kamu takut amat mau dibeli kan baju"


Mas Sigit tertawa.


Sri keluar dari kamar..


"Ada tamu.. "


"Ya Sri mampir"


Sri lalu mengambil sapu yang tadi kupegang.


Eko tiba-tiba datang.


"Dari mana saja kamu, ini dicari Mas Sigit"


Mas Sigit mendelik kepadaku.


Aku memang sengaja biar akupun tidak terlalu tergoda dan teman - teman tidak curiga.


"Ya tadi mampir ke rumah Andi"


"Ada apa ya mas? maaf sudah buat menunggu"


"Ya tidak ada apa - apa kok, hanya main"


"Mau pulang masih malas"


Akhirnya Mas Sigit ngobrol sama Eko.


Akupun bisa mundur masuk ke kamar.


Sri menariku dan berbisik.


"Ya kan Mas Sigit senang sama mbak Wahyu!"


Kututup mulut Sri.


Dan kamipun jatuh ke kasur tertawa bersama.


Masak sih? masak iya?


Suara tawa Mas Sigit terdengar sangat merdu melebihi suara penyanyi.


Membuat hatiku berdebar penuh bunga-bunga.

__ADS_1


***


__ADS_2