
Adzan dhuhur sudah terdengar. Aku masih merasa ngantuk. Sri sedang mencuci baju.
Namun aku harus memaksa tubuhku untuk bangun. Aku harus naik angkot walau sebenarnya jarak ke restoran dekat.
Tapi aku malu kalau disuruh jalan sendiri. Juga ada rasa takut.Bagaimanapun ini ibu kota. Harus hati-hati. Apalagi aku belum lama di sini.
Aku segera siap-siap.
"Mbak, beneran sudah mau berangkat?" Sri memandangku khawatir.
"Ya, kenapa?hei, mukamu biasa saja!"
"Aku masih disini!"
Anak ini benar-benar baik.
"Memangnya apa yang mau kuerjakan?"
Haduh aku jadi pusing. Ini kan hanya alasanku saja biar dia bisa bareng sama Eko.
Ya sudahlah aku nanti bisa mampir sebentar ke pasar. Batinku merancang acara. Kalau terlalu cepat tiba di restoran malah bingung. Belum lagi nanti pandangan Mas Sigit.
"Yee... malah diam lagi!"
Sri menggoyangkan badan ku.
Aku tertawa. Ku ambil tas dan pamit sama Sri.
Ku lirik masih jam satu siang.
Sri masih menatapku dengan pandangan cemas.
Ku lambaikan tangan. Eko yang sedang duduk diteras kelihatan kikuk.
Baru kali ini aku jalan sendiri.
Aku stop angkot jurusan pasar.
Lumayanlah buat cuci mata. Sekedar lihat kan tidak apa-apa.
Aku turun dari angkot. Wahh... rasanya ke pikiran cerah. Memang menyenangkan bisa melihat sepatu, sandal, walau hati sedikit tergoda.
Sementara itu Sri duduk lesu.
__ADS_1
"Kenapa Sri, kamu kok diam saja dari tadi! "
Eko menghampiri Sri sejak aku berangkat dia malah bukannya senang karena bisa berduaan dengan Eko justru kelihatan sedih.
"Ayo mas kita juga berangkat!"
"Masih jam segini, aku belum mandi!"
"Ya sudah sana, mandi dulu!"
Sri jadi makin sewot. Eko garuk-garuk kepala yang tidak gatal.Segera ia kembali ke kamar.
Sekitar sepuluh menitan Eko sudah rapi. Sri sedikit terpana melihat penampilan Eko.
Hati Sri pun berbunga-bunga.
Eko menyadari perubahan wajah Sri.
"Lah.. begitu.. jangan cemberut kayak orang habis dikeroyok maling."
Sri melotot. Eko malah makin gemas sama Sri.
"Ayo kok, jangan bercanda terus!"
Kebiasaan Eko setiap menggoda pasti panggil tuan putri.
**
Aku masih asyik memilih-milih sandal. Aduh, sudah jam segini. Batinku setelah melihat jam tangan.
Aku segera berjalan keluar dari pasar.
Kutunggu angkot sambil duduk di halte.Namun hampir sepuluh menit belum juga angkot yang sesuai belum ada.
Aku mulai gelisah.. Sri pasti khawatir nanti kalau dia tiba aku belum ada ditoko.
**.
Sri memukuli pundak Eko agar cepat jalannya.
"Ya Sri, macet ini lho! Mbak sudah besar tidak bakalan hilang.
" Aduuhhh!! kamu kenapa sih!"
__ADS_1
"Makanya diam jangan ngomong macam-macam!" Malah ribut diatas motor.
Eko hanya berusaha sabar menghadapi gadis yang disukai.
Aah.. cinta butuh pengorbanan.
Eko membelokkan motornya. Sri seolah lompat padahal belum dimatiin motornya. Mas Sigit kaget lihat Sri datang sama Eko.
'Wahyu mana?"
"Lho.. memang belum sampai?"
Eko kaget. Mas Sigit makin bingung.
"Maksudnya apa?"
"Ya mas, mbak Wahyu maksa suruh aku bareng sama Sri. Gara-gara aku bilang mau anterin. Dia berangkat dari jam satu tadi."
Eko menunduk. Wajah Mas Sigit berubah.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu aku?"
Sri lari keluar. Wajahnya pucat.
"Mas! Mbak Yuuk belum datang, kemana dia?"
Sri mau menangis. Eko mendekati Sri.. "Tenang . sebentar lagi pasti datang.!"
Eko mencoba menghibur Sri.
Mas Sigit melihat jamnya.
"Kalau sampai jam dua kurang seperempat belum datang kita cari Ko!"
Eko mengangguk .
Aku berhasil juga dapat angkot.
"Tumben pak lama jaraknya! Biasanya setiap menit"
"Ya mbak.. susah cari penumpang.
***
__ADS_1