SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
SIBUK


__ADS_3

Hari masih pagi. Adzan subuh baru selesai terdengar. Sri masih terlelap.


Aku ke kamar mandi dan segera mandi. Sudah menjadi kebiasaan sebelum sholat harus mandi dulu. Bahkan lebih menyehatkan. Dikampung saja yang dingin berani, apalagi dibanding udara Jakarta yang sangat panas.


Segera ku tunaikan sholat subuh. Dan ku lanjutkan tilawah walau hanya beberapa halaman.Aku ingin tetap melaksanakan pesan emak yang dulu mengizinkanku pergi.


Semoga di mana pun berada tetap selamat dalam lindungan-Nya.


"Sri.. bangun, sudah siang!"


"Eehhh ya mbak.. " Sri masih mengucek-ucek matanya.


"Aku kok ngantuk banget ya mbak" Sri beralasan.


Aku hanya tertawa.


"Sudah sana rejeki diambil ayam kalau siang bangunnya." Ku goyang -goyang badan Sri.


"Ya ya mbak.. " Sri tertawa lalu duduk melipat selimut.


Aku menyapu kamar yang hanya sekotak.


Hari ini aku sangat bersemangat. Mendadak melintas bayangan Mas Sigit. Sebentar lagi akan ketemu Mas Sigit.Yeeeyy tanpa sadar aku senyum sendiri.


"Lho lho ada apa ini kok senyum sendiri?" tanya Sri penasaran. Akupun jadi malu.


"Oohh tidak kn sebentar lagi gajian, hanya ingat aku" Alhamdulillah ada alasan juga.


"Sana sholat subuh dulu!" kataku sambil mendorong Sri keluar kamar.


"Ya ya mbak" Sri tertawa keras.


**


Aku dan Sri berjalan ke toko tempat kami bekerja. Karena hanya dekat. Tiba-tiba ada bunyi klakson. Kami menoleh tapi tetap melanjutkan jalan karena tidak tahu siapa yang didalam..


. "Tet-tet.. teeettt.. " Sri menoleh.

__ADS_1


"Siapa sih, berisik"


"Sudah jangan marah" cerahku melihat Sri mau marah. Walau sebenarnya aku juga takut siapa orang didalam mobil.


Mobil itu mencegat langkah kami. Degg.. makin terkejut lah kami. Mau tidak mau kamipun berhenti.


"Kok malah jalan terus, ayo sini naik"


Mas Sigit membuka pintu mobil.


Tumben, biasanya naik motor. Batinku.


"Tidak mas., kami jalan saja sudah dekat ini" Kataku sambil ku pegang tangan Sri bair membantuku bicara.


"Ya mas sudah duluan saja kami sambil olahraga" tambah Sri.


"Kenapa? tidak bareng saja?"


"Terima kasih" Kamipun tersenyum.


Lega hati kami Mas Sigit tidak memaksa kami.


"Wooww.. makin keren ya mbak Mas Sigit bawa mobil"


Sri menoleh ke arahku.


"Biasa saja" jawabku ringan.


"Kayaknya Mas Sigit naksir deh.. "


"Husss kata siapa Sri, tidak! "


Entah aku masih belum terima. Hatiku selalu menolak.


Sampai juga kami di toko. Eko sedang menyapu. Aku dan Sri lalu beres - beres.


Mas Sigit memandangku dari balik gorden kasir restoran. Aku tahu tapi pura - pura tidak melihatnya.

__ADS_1


Lalu Ara kelihatan sedang mendekat dan berbicara dengan nya. Ya sudah jadi rahasia umum kalau Ara suka Mas Sigit.


Itulah salah satu alasanku menjaga jarak dengan Mas Sigit.


**


Toko ramai, senang rasanya walau capek. Aku pun sampai lupa jam makan siang.


"Mbak, makan dulu yuuk"


"Ya duluan aku masih hitung ini" kataku sambil terus menghitung pendapatanku hari ini. Walau bukan milikku tapi aku bersyukur dengan hari ini.


"Yuk..nanti lagi" Suara mas Sigit sudah dibelakang ku.


"Ya Mas. ada apa?" aku heran kenapa dia sudah ada disini lagi.


"Memang tidak boleh aku kesini? "


"Bukan begitu maksudnya" jadi grogi aku.


Mas Sigit senyum lihat aku yang jadi kikuk mengahadapi nya.


"Nanti pulang aku antar ya.. "


"Maaf Mas, sudah janji sama Sri akan ke pasar"


"Sama Sri juga tidak apa - apa kuantar nanti"


"Tidak usah Mas! "


Mas Sigit kelihatan kecewa, tapi biarlah.


Aku lihat Ara memandang Mas Sigit yang berjalan kembali ke restoran.


Ahh biarlah..


""

__ADS_1


__ADS_2