
Sri lalu menarik tanganku. Aku didudukkan di kursi. Diambilnya air putih.
Aku belum paham ada apa ini. Langsung ku teguk minum yang diberikan Sri.
Eko didepanku tanpa banyak bicara hanya tatapan yang memelas.
"Eko, jangan pandang aku seperti itu, memang aku anak kecil yang kau curi permennya??"
Aku mencoba mencairkan suasana. Namun tetap saja semua diam. Sri jongkok dibawahku..
"Ayo berdiri, ngapain duduk disitu!?".
Sri tetap tidak mau mengangkat badan nya.
" Mbak, tadi kemana saja!?"
"Semua khawatir. Lain kali aku tidak mau lagi bareng sama Eko, Kecuali kita jalan bertiga."
"Ya benar aku tidak mau seperti ini lagi!"
Eko mendukungnya.
"Mas Sigit marah ya?Kalian dimarahi?"
"Maaf ya..!" Aku pandangi mereka bergantian.
Mas Sigit tiba-tiba datang dari arah pintu lalu menarik tanganku di bawa ke gudang.
Aku terkejut. Namun tidak bisa menolak.
bahkan sandal yang ku pakai terlepas.
Eko dan Sri hanya melongo. Semua terjadi di luar dugaan kami.
"Maaf mas, saya terlambat datang!"
Mas Sigit tanpa sepatah kata lalu memelukku.
Aku kaget. Namun tidak berdaya.
"Kamu buat aku mau jantungan!"
"Kemana saja kamu!? "
"Apa tidak bisa mengabari lewat wartel?"
Mas Sigit memberondong ku dengan banyak pertanyaan.
Kulepas kan diriku dari pelukannya.
__ADS_1
Aku tidak ingin sampai ada yang melihat kami. Dan berfikir macam-macam. Ini hanyalah kekhawatiran seorang atasan kepada karyawannya.
Mata nya tajam menatapku.
Aku menunduk. Sungguh aku masih kaget dengan sikap nya. Walau pelukan itu membuatku tenang namun aku masih belum mengerti kenapa sampai terjadi.
"Maaf, saya jalan-jalan ke pasar.!"
"Biasanya sama Sri kenapa bisa tidak bareng?
Kata mereka kamu yang suruh?!!"..
" Ya benar, karena kemarin ingin memberi kesempatan pada Eko untuk jalan sama Sri."
Aku belum berani mendongakkan kepala.
"Apa, maksudnya?"
"Ha ha ha.. kamu aneh tahu." Tiba-tiba mas Sigit tertawa. Aku kaget namun jadi ikut tertawa.
"Kamu ingin menjodohkan mereka?"
Aku hanya mengangguk.
"Ya sudah sana mulai kerja." perintahnya.
"Awas kalau kamu ulangi lagi.!"
"Ya mas!"
Mas Sigit melangkah keluar dan menuju toko.
Sri lalu menghampiriku.
"Ada apa mbak? habis dimarahi?"
"Tidak Sri hanya dikasih tahu untuk tidak mengulangi!"
"Pokoknya apapun yang terjadi besuk dan kapanpun kita ke mana-mana harus bersama!"
Kutatap Sri. Dia sudah khawatir seperti tadi.
Namun matanya berkaca-kaca.
Anak ini membuatku trenyuh.Memang dia sudah seperti adikku sendiri.
"Sudah sana kembali ke depan! Aku ganti baju dulu."
**
__ADS_1
Aku membantu Sri menata roti-roti dan minuman yang baru darang. Eko sibuk merapikan tanaman didepan toko.
Tiba-tiba Mas Sigit mendatangi kami.
"Kalian nanti jangan pulang dulu!"
"Baik, mas!" Aku dan Sri tidak menjawab lain dan juga tidak berani bertanya.
Sikap nya tidak seperti biasa.
"Mas Sigit jadi menakutkan ya mbak!"
Aku hanya diam.
"Tadi panik banget. Kenapa dia masih marah?"
Sri masih tetap belum mengerti.
Aku berdiri disamping rak. Tanpa sengaja mataku memandang ke arah restoran. Mata kami beradu pandang.
Namun Mas Sigit segera memalingkan wajah nya. Aku kaget. Dulu biasanya akan selalu tersenyum. Biarkan, kalau memang karena kejadian hari ini aku harus dipecat. Aku sudah pasrah.
Nampak Ara menghampiri Mas Sigit. Mereka berbincang dan bercanda. Sungguh serasi.
**
Masih dua jam lagi waktunya pulang.
Kira-kira apa yang akan dikatakan Mas Sigit?
Eko menghampiriku.
"Mbak, kita katanya ada meeting nanti!"
"Ya, tapi tak tahu ada apa."
"Mungkin Mas Sigit akan memecatku!"
"Apaa...??????!!!"
Eko dan Sri teriak.
"Hussttt diam kalian ini bikin kaget saja!"
"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!"
Akupun tertawa melihat gayanya seperti jagoan neon.
***
__ADS_1