SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
SENANG NYA


__ADS_3

Sri wajahnya sumringah. Aku melihatnya seperti anak kecil yang dapat hadiah dari orangtua.


"Leganya hatiku, terimakasih duhh Gusti.. " Sri benar-benar takut tadi.


"Sudah ayo ditunggu Mas Sigit tu!"


Ku gandeng tangannya.


Pintu toko segera ku kunci.


Mas Sigit sudah menyalakan mesin mobilnya.


"Mbak Wahyu didepan ya.. aku dibelakang."


"Nggaklah kamu saja yang di depan." Aku merasakan panas diwajah untung malam jadi tidak kelihatan mukaku berubah jadi merah jambu.


"Masuk, Yuk kamu didepan! "


Mas Sigit memerintah. Mungkinkah dengar pembicaraan ku dengan Sri?


Sri mendorongku. Dia masuk mobil duluan.


Akupun membuka pintu mobil dengan tangan sedikit gemetar.


Dan aku duduk di bangku.


Mas Sigit memperhatikanku.


"Kamu kok kayak takut sih?!! "


"Nggak.. takut kenapa?" Ku betulkan duduk ku senyaman mungkin.


"Ya mas, takut tuhh!" Sri malah ikutan meledek ku.


"Apaan, kata siapa? sudah ayo jalan!"


Akupun melihat ke arah Mas Sigit.


Tatapan Mas Sigit kuakui sangat menenangkan. Terbayang lagi saat dia tiba-tiba memelukku saat itu. Aroma tubuhnya seolah menempel padaku. Walau sebentar.Jadi malu sendiri aku. Tanpa sadar ku geleng-gelengkan kepalaku.


"Hei, ada apa? kok geleng-geleng?" Mas Sigit heran. Aku kaget.


"Kenapa mbak?"


"Tidak apa-apa!" Jadi malu sendiri.


Mas Sigit melirik ku sambil tersenyum.


Seperti nya dia paham yang kurasakan.


"Sri, mau makan dulu?"

__ADS_1


"Nggak!"


"Kok kamu yang jawab? Aku tanya Sri!"


Mas Sigit dan Sri tertawa bersama.


"Saya terserah mbak saja mas!"


"Nggak sudah malam!" Jawabku cepat.


"Belum, masih banyak kafe yang buka."


"Nggak, beneran sudah kenyang. Ingin segera tidur."


"Ya mas, pulang saja!" Sri menimpali.


"Mbak Yuk kasihan, tadi kan habis lari-lari!"


"Ha ha ha.. benar juga ya Sri!"


Mereka tertawa. Aku pura-pura marah.


Sampai lah kami dikost.


Eko sudah menunggu di depan.


"Tuh, satpam mu di pintu!"


Mas Sigit masih di mobil. Eko mendekat.


"Terimakasih ya mas!"Aku dan Sri menuju kamar.


" Terima kasih apa? mereka kan karyawanku!"


Eko mengangguk senang.


Mas Sigit mengawasi kami.


" Kamu belum tidur!? "


"Sebentar lagi, belum ngantuk!"


"Tidak mampir dulu?"


"Sudah malam, tidak enak!"


"Pulang dulu!"Mas Sigit membunyikan klaksonnya.


Sri langsung terkapar di kasur.


"Senangnya... sampai dirumah!"

__ADS_1


"Sholat dulu kalau mau tidur!"


Aku selalu mengingat kan.


"Ya mbak.. sebentar aku lelah sekali."


Aku kekamar mandi bersih-bersih.


Eko pun sudah masuk ke dalam kamarnya. Lampu pun sudah mati.


Kubiarkan Sri yang masih tiduran.


Segera ku tunaikan sholat Isya'. Ku bersyukur atas hari ini. Emak betapa aku merindumu.


**


Pagi ini kusambut ceria. Walau badanku rasanya masih lelah.


Akan kutebus keterlambatan kerjaku kemarin.


Aku akan segera bersiap.


"Sri, buruan..!!"


"Ya mbak.. aku keramas dulu."


Kucari baju yang menurut ku paling bagus.


Entah kenapa hari ini aku ingin tampil istimewa.


Kulihat-lihat isi lemari ku.


Pakaianku tidak banyak. Apalagi bagus-bagus. Namun menurutku rok hitam dan atasan biru laut serta kerudung biru ini yang paling bagus. Dan belum pernah kupakai.


Sri sudah keluar dari kamar mandi.


"Sudah mbak.. kalau mau mandi!"


"Ya, sarapan dulu tidak apa!"


"Nggaklah.. aku juga belum dandan."


Alhamdulillah tadi ada pedagang nasi keliling.


Jadi tidak perlu ke warteg.


Sri melanjutkan dandannya. Aroma wangi menyeruak seisi ruangan.


Sekarang Sri sudah memperhatikan penampilan nya.


Bahkan selalu wangi. Ahh.. aku juga harus wangi seindah melati.

__ADS_1


***


__ADS_2