
Sesampainya dikamar kost, kurebahkan badan ke kasur. Lega rasanya bisa segera berlalu dari hadapan mas Sigit. Mulai muak, marah, perasaan ku.
Baiklah, aku harus segera memutuskan sendiri. Apa yang terbaik untukku.
Daripada selama bekerja nanti aku jadi tidak tenang, selalu tertekan. Harus kupikirkan matang-matang semuanya.
Aku tahu mas Sigit pun menaruh hati padaku. Namun, sepertinya aku harus segera akhiri drama ini. Daripada makin terluka hatiku. Kemarin, sudah hampir saja aku pergi, namun masih berat kurasakan. Kalau untuk kali ini aku mesti tegas.
"Mbak, benar mau pulang?" Sri mendekati ku dengan wajah khawatir.
"Biar kupikirkan dulu Sri!Bukan suatu keputusan yang mudah." jawabku bijak.
Sri manggut-manggut dan berdiri keluar kamar.
"Mbak, aku mandi dulu!"
"Ya, nanti gantian!"
Namun sangat memalukan bila aku pulang hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau aku kerja setidaknya bisa bantu uang emak buat beli sehari-hari.
Juga bila di Jakarta, aku tidak ingin terus ketemu Mas Ari. Duuhhh.... aku jadi serba salah.
Kalau aku disini, rasa cintaku pada mas Sigit semakin besar.Namin disisi lain cobaan juga akan banyak.
Kuingat lagi bayangan sikap mas Sigit selama ini. Dia romantis dan lembut padaku.
Ahh.. namun pantaskah aku merindukannya?
Pertanyaan yang hanya aku sendiri yang bisa menjawabnya.
"Mandi, mbak!" Sri sudah muncul dibalik pintu.
"Eehh.. ya.. kok tiba-tiba dingin ya!"
Sri tertawa melihatku menarik selimut.
__ADS_1
"Hai, katanya mau mandi kok malah mau tidur!"
"Iya ya.. Hi Hi. Hi.. Aduh kenapa jadi linglung begini!"
"Namanya juga dimabuk asmara!" Sri kelepasan bicara.
"Apa!!??" Entah kenapa aku tersinggung.
Aku duduk lagi.
Sri agak takut melihatku.
"Sri, jangan salah paham. Aku masih waras. Belum sejauh itu."
"Hhmmm iya mbak!" Sri berusaha tersenyum padaku.
Akupun berdiri lalu berjalan kekamar mandi. Kubiarkan Sri bermain dengan perasaannya.
**
Hari baru, entah aku malas berangkat kerja.
"Lho, beneran mbak?"
"Ya.. tolong sampaikan ke mas Sigit aku ijin."
"Ya mbak.. tapi dirumah sendiri?"
"Ya, nggak apa-apa. Aku ingin tidur.Pusing kepalaku!"
"Mbak, butuh apa, biar aku belikan dulu." Eko sudah diteras kamarku.
"Tidak usah, sana berangkat kalian!" usir ku pada mereka.
Yang ku tahu aku hanya ingin tidur dan tidur. Semalam tidur ku hanya seperti orang mimpi. Sering terbangun.
__ADS_1
Bayangan emak dikampung semakin mengelilingi. Wajah Mas Ari kembali hadir seolah mengajakku pulang.
Ya.. aku ingin tidur.
**
"Terus sekarang dikost?" Tanya Sigit pada Sri.
"Ya mas!" Sigit menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.
Lalu segera berlalu ke restoran. Tidak lama kemudian keluar dan masuk ke dalam mobil. Entah kemana. Tidak bilang apapun pada Eko dan Sri.
**
Aku gulang-guling diatas kasur. Lumayan sudah mendingan setelah minum obat.
Kupejamkan mata.
Terdengar ada suara mobil berhenti.
Ahh paling tamu didepan rumah.
Namun tak lama terdengar suara langkah kaki. Mendekat dan mendekat. Aku sedikit takut. Siapakah yang datang.
"tok! tok!"
"Yuukk!" Ha.. suara mas Sigit. Serasa melompat dari tempat tidur.
"Ya,sebentar!" Aku rapikan baju dan kerudung ku.
Lalu kubuka pintu separo.
"Ya mas, ada apa, maafkan ya!" Aku menunduk.
"Ayo ke dokter!" ucapnya tegas.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja. Tadi sudah minum obat." Aku tidak berani menatap wajahnya.
***