
Velina dan Jinwo tiba di bandara.
“Ayo turun.” Kata Velina.
“Aku disini saja, aku tidak enak jika bertemu dengan keluargamu.” Kata Jinwo.
“Tidak apa-apa, ayo masuk kedalam, keluargaku sudah tiba kok barusan, mereka menungguku.” Kata Velina. Akhirnya Jinwo ikut masuk kedalam bandara. Dari kejauhan, keluarga Velina sudah terlihat.
“Papa mama.” Panggil Velina, dia langsung memeluk orang tuanya.
“Anakku sayang, bagaimana kabarmu? Kamu sehat-sehat saja kan?” Tanya ibu Velina.
“Alhamdulillah aku baik kok ma.” Kata Velina.
“Selamat datang pak bu, perkenalkan saya Jinwo.” Kata Jinwo sambil menunduk.
“Raka dimana? Kenapa dia tidak ikut datang denganmu?” Tanya ayah Velina.
“Aku memang tidak mengajak Raka pa, lagipula dia kan pasti sibuk. Kak Melisa mana pa?” Tanya Velina.
“Kakakmu tidak jadi ikut karena suaminya keluar kota, jadi kakakmu ikut suaminya sekalian.” Kata ayah Velina.
“Oh begitu, aku sudah memesankan tempat tinggal untuk papa dan mama. Ayo kita kesana, diantar sama Jinwo pa.” Kata Velina.
“Pesankan papa taksi saja, atau lebih baik papa dan mama naik transportasi umum saja.” Kata ayah Velina.
“Tapi dia kan datang jauh-jauh untuk menjemput mama dan papa.” Kata Velina.
__ADS_1
“Bukankah papa pernah bilang padamu kalau papa tidak suka jika kamu berpacaran dengan orang sini, pergaulannya bebas dan tidak tau aturan lagi. Papa yakin pasti dia hanya ingin memanfaatkanmu saja, lebih baik jauhi dia.” Kata ayah Velina.
“Jangan seperti itu, dia datang jauh-jauh untuk mengantar anak kita dan menjemput kita.” Kata ibu Velina.
“Aku sudah pesankan taksi online untuk bapak dan ibu, silahkan ikut saya. Taksinya sudah datang barusan kok.” Kata Jinwo.
“Syukurlah dia tau diri.” Kata ayah Velina.
“Ma papa kenapa sih? Aku kan jadi tidak enak sama Jinwo.” Kata Velina kepada ibunya.
“Padahal tadi mama sudah bilang untuk tidak seperti itu, memangnya kamu dan dia berpacaran atau hanya sebatas teman saja?” Tanya ibu Velina.
“Mana ada teman dekat yang mengantarku jauh-jauh dari Seoul kesini dan menjemput orang tuaku bahkan dia memesankan penginapan untuk mama dan papa, semuanya dia yang menyiapkan loh ma.” Gerutu Velina.
“Hati-hati ya pak bu, nanti supir taksinya akan mengikuti mobil saya. Kita bertemu di penginapan ya pak bu, hati-hati dijalan.” Kata Jinwo.
“Velina cepat masuklah kedalam mobil.” Kata ayah Velina.
“Cepat masuk.” Kata ayah Velina.
“Masuklah.” Bisik Jinwo.
“Tapi kan nanti kamu sendiri, aku tidak mau.” Kata Velina.
“Aku tidak apa-apa, nanti kita bertemu di penginapan saja.” Kata Jinwo.
Akhirnya Velina ikut masuk kedalam taksi. Didalam taksi, Velina sangat kesal dengan sikap ayahnya yang tidak peduli dengan Jinwo.
__ADS_1
“Jadi itu pacarmu?” Tanya ayah Velina.
Namun Velina diam saja tidak menjawab pertanyaan ayahnya.
“Sudah pa, jangan membahas itu lagi. Lihat Velina jadi diam seperti itu.” Bisik ibu Velina.
“Papa tidak akan pernah menyetujui jika kamu berpacaran dengan orang sini, pasti keyakinan dia berbeda dengan kita dan budaya dia dengan kita juga berbeda kan. Papa tidak setuju sampai kapanpun.” Kata ayah Velina.
“Dulu saat aku SMA, papa memaksaku untuk kuliah di luar negeri karena Raka juga kuliah di luar negeri, akhirnya aku berusaha keras agar bisa kuliah di luar negeri yang sama dengan Raka. Papa sadar tidak kalau selama ini selalu menekanku untuk selalu mengikuti semua keinginan papa. Aku bisa stres lama-lama pa jika papa selalu menuntutku, aku dan Jinwo memang berbeda dalam hal apapun tapi asal papa tau justru dia yang selalu mengingatkanku untuk beribadah, bahkan dia selalu melarangku memakai pakaian terbuka, bahkan dia sampai rela tidak makan dan minum makanan dan minuman yang aku tidak bisa makan pa, dia sangat menyukai alkohol tapi dia berhenti minum demi aku padahal aku tidak melarangnya. Dia penyemangatku pa, dia adalah alasan aku bisa bertahan juga hidup dan tinggal disini, hidup disini tidak semudah seperti kata orang pa, bahkan asal papa tau ya dia juga yang membiayaiku apartemenku selama tiga bulan terakhir karena aku aku, aku tidak sanggup menceritakannya lagi.” Kata Velina sambil menangis.
“Karena kamu tidak cerita, jadi papa tidak tau.” Kata ayah Velina.
“Sudahlah pa jangan membahas hal ini lagi.” Kata ibu Velina.
Mereka tiba di penginapan.
Velina dan orang tuanya langsung turun dari taksi, disana sudah ada Jinwo.
“Mari pak bu saya antar ke kamar bapak dan ibu. Saya sudah bilang juga ke resepsionisnya untuk menyiapkan makanan untuk bapak dan ibu.” Kata Jinwo.
“Makanannya aman kan? Jangan-jangan mengandung.” Kata ayah Velina.
“Aman pak.” Jawab Jinwo.
“Papa.” Bentak Velina.
“Kamu membentak papa kamu?” Tanya ayah Velina.
__ADS_1
“Papa benar-benar.” Kata Velina sangat kesal, kemudian Velina segera pergi meninggalkan ayah ibunya.
“Saya akan memastikan Velina untuk pulang pak bu, permisi ya pak bu. Maaf saya pergi dulu pak bu.” Kata Jinwo. Kemudian Jinwo segera berlari mengejar Velina.