Seoul In Love

Seoul In Love
Episode 23


__ADS_3

Velina tiba di taman labirin.


Kemudian dia menelfon fotografer tersebut.


“Hallo, saya sudah tiba di taman labirin.” Kata Velina.


“Saya juga sudah tiba di taman labirin kak, saya disamping air mancur kak.” Kata fotografer.


“Apakah kakaknya yang membawa kamera dan memakai topi hitam?” Tanya Velina.


“Iya benar kak, kakaknya di sebelah mana ya?” Tanya fotografer.


“Saya ada dibelakang kakak, silahkan melihat ke belakang.” Kata Velina.


“Iya kak baiklah.” Kata fotografer tersebut, tentu saja Jinwo kaget melihat Velina yang menelfon dan memesan jasa fotografer miliknya.


“Jadi ini alasanmu tidak bisa pergi bersamaku? Sudah lama ya menjadi seorang fotografer?” Tanya Velina.


“Sayang bagaimana kamu bisa eh aku aku, tolong jangan.” Kata Jinwo.


“Jawab saja pertanyaanku, sudah berapa lama kamu menjadi fotografer dibelakangku?” Tanya Velina.


“Aku jelaskan dulu ya.” Kata Jinwo.


“Selama ini aku mempercayaimu dan bahkan kamu tau semua rahasiaku tapi kenapa kamu sampai sembunyi-sembunyi seperti ini padaku? Kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku?” Tanya Velina dengan ekspresi sedih.


“Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya ya, jangan salah paham dulu ya.” Kata Jinwo.


“Apakah kamu mulai ragu dan tidak mempercayaiku?” Tanya Velina.


“Kalau kamu tidak memberiku waktu untuk menjelaskan, bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu? Jangan marah padaku sayang, ini kan hanya masalah kecil saja dan aku hanya perlu menjelaskannya padamu kan?” Kata Jinwo.


“Apa? Masalah kecil? Kamu anggap ini masalah kecil? Aku mengenalmu tidak hanya satu dua hari loh kenapa kamu menyembunyikan ini dariku?” Kata Velina.


“Jangan membesarkan masalah ini dong sayang.” Kata Jinwo.


“Kamu yang membuat masalah, aku kecewa denganmu.” Kata Velina lalu dia pergi sambil menangis.


“Sayang tunggu aku, jangan pergi begitu saja dong. Sayang aku akan menjelaskan semuanya ya.” Kata Jinwo sambil mengejar dan menarik tangan Velina.


“Lepaskan tanganku.” Kata Velina.


“Jangan marah padaku dong.” Kata Jinwo.

__ADS_1


“Aku malas berdebat denganmu jadi lepaskan tanganku sekarang juga.” Kata Velina.


“Ok ok aku akan mengantarmu pulang ya.” Kata Jinwo.


“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Kata Velina.


Tiba-tiba hujan lebat tiba-tiba.


“Ah kenapa datang hujan disaat seperti ini, bahkan aku tidak membawa payung.” Gerutu Velina lalu dia berlari sambil menutupi dirinya dengan tasnya.


Kemudian Jinwo berlari mengambil mobilnya dan mengejar Velina.


“Sayang masuklah, aku akan mengantarmu pulang.” Teriak Jinwo dari dalam mobil.


Namun Velina tetap saja berlari tanpa menoleh ke arah Jinwo.


Tiba-tiba Jinwo turun dari mobil sambil memayungi Velina.


“Aku tidak butuh bantuanmu, pergi dari sini.” Kata Jinwo.


“Nanti kamu sakit, kamu lupa dulu saat kamu kejuhanan akhirnya kamu masuk angin dan masuk rumah sakit. Cepat masuk mobil, aku akan mengantarmu.” Kata Jinwo.


“Aku bisa mengurus diriku sendiri, jadi tidak perlu ikut campur urusanku.” Kata Velina.


“Aaaaaa lepaskan aku, cepat lepaskan aku. Turunkan aku sekarang juga.” Teriak Velina.


Jinwo memasukkan Velina kedalam mobilnya dan memasangkan sabuk pengamannya juga.


Jinwo masuk kedalam mobil namun dia tidak menyalakan mobilnya.


“Baiklah cepat antarkan aku pulang.” Kata Velina.


“Bahaya kalau mengemudi di tengah hujan lebat seperti ini, kita tunggu saja sampai hujan reda.” Kata Jinwo.


Kemudian Velina membuka pintu mobil namun dicegah oleh Jinwo.


“Hei hei hujan sangat lebat diluar, kamu bercanda ya? Tunggu saja dulu sampai hujannya reda.” Kata Jinwo, Velina tentu saja sangat kesal.


“Setelah ini kita makan dulu ya, aku belum makan siang.” Kata Jinwo sambil memandangi wajah Velina.


“Aku tidak lapar.” Gerutu Velina.


Ponsel Velina berdering.

__ADS_1


“Hallo ada apa kak?” Tanya Velina.


“Kapan kamu transfer uangnya ke rekening kakak? Kakak butuh sekarang juga.” Kata Melisa kakaknya Velina.


“Aku sedang tidak ada uang kak, uang bulananku menipis karena aku pakai untuk bayar biaya sewa apartemenku dan juga untuk biaya hidupku sehari-hari disini kak.” Kata Velina.


“Kamu bodoh atau bagaimana sih? Kamu kan punya pacar kaya kenapa kamu tidak meminta uang darinya sih? Bukankah dia yang membiayai sewa bulanan apartemenmu? Atau cepat minta uang ke papa.” Kata Melisa.


“Minta saja ke papa sendiri.” Bentak Velina lalu menutup telfonnya. Velina sangat kesal dengan kakaknya karena selalu memeras Velina. Setelah kakaknya menikah, kakaknya memang tinggal dengan suaminya namun orang tua Velina menolak dan merestui hubungan kakaknya tersebut sehingga ayah Velina tidak lagi memberi bantuan kepada kakak Velina. Saat ini kakak Velina dan suaminya sedang terjepit masalah yaitu terlilit hutang yang sangat banyak namun kakak Velina takut jika meminta bantuan kepada ayah mereka sehingga dia selalu meminta uang kepada Velina. Bahkan dulu Velina rela keluar dari asrama kampus karena tidak mampu membayar biaya asrama dan akhirnya Jinwo membawa Velina ke rumahnya dan mereka tinggal bersama di kamar terpisah, namun seiring berjalannya waktu Velina akhirnya bekerja sebagai pekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya dan akhirnya bisa tinggal di apartemen yang saat ini ia tinggali namun dua bulan kemudian lagi-lagi kakaknya meminta uang kepada Velina kembali dan saat itu Velina pertama kalinya Velina meminjam uang kepada Jinwo untuk diberikan kepada kakaknya. Sejak lama Velina ingin mmeberitahu ayah ibunya bahwa kakaknya seringkali meminta uang kepadanya namun dia tidak tega dengan kakaknya apalagi dirinya jauh lebih beruntung dibandingkan kakaknya. Kakaknya menikah setelah lulus SMA akibat hamil terlebih dahulu namun kakaknya mengalami keguguran, dan saat kakaknya menikah orang tuanya bahkan tidak hadir dalam pernikahan tersebut, intinya orang tua Velina tidak bisa menerima kehadiran Melisa kembali. Karena orang tua Velina bukan sembarang orang, ayah Velina saat ini sedang mencalonkan dirinya sebagai seorang pemimpin daerah dan ayahnya Raka adalah ketua lembaga yang akan mendukung ayah Velina untuk menjadi pemimpin, oleh karena itu ayah Velina ingin menjodohkan Velina dan Raka. Keluarga Velina memang sangat tertutup bahkan banyak publik yang tidak mengetahui keluarga tersebut, ayah Velina memang sengaja menyembunyikannya karena tidak ingin merusak citra keluarganya terutama setelah pernikahan Melisa, keluarga Velina benar-benar tertutup bahkan Velina dan Melisa saja tidak pernah terekspos publik.


“Telfon dari kakakmu ya? Kenapa lagi memangnya?” Tanya Jinwo.


“Bukan urusanmu.” Kata Velina.


Kemudian ayahnya menelfon Velina.


“Whats wrong with today arghhhhh.” Teriak Velina yang kesal.


“Iya pa, ada apa?” Tanya Velina.


“Akhir tahun nanti kamu pulang kan? Raka juga pulang loh jadi kamu juga harus pulang.” Kata ayah Velina.


“Aku belum tau pa akan pulang atau tidak.” Kata Velina.


“Kamu kan sedang liburan jadi kamu harus pulang.” Kata ayah Velina lalu menutup telfonnya.


“Ayah kamu menyuruhmu pulang ya?” Tanya Jinwo.


“Iya.” Jawab Velina.


“Lalu apa rencanamu?” Tanya Jinwo.


“Aku tidak ingin pulang.” Kata Velina.


“Ikuti saja apa kata hatimu, kalau kamu mau pulang akan aku antar sampai Indonesia, sekalian aku juga ingin berlibur disana. Tapi kalau kamu tidak pulang aku akan mengajakmu pergi berlibur disini.” Kata Jinwo.



Tiba-tiba Velina meneteskan air matanya.


“Hei kenapa malah menangis? Tidak apa-apa, semuanya akan berjalan dengan baik kok.” Kata Jinwo lalu memeluk Velina.


“Aku masih kesal ya denganmu, aku membiarkanmu memelukku bukan berarti aku sudah memaafkanmu.” Kata Velina sambil menangis.

__ADS_1


“Iya iya, menangislah sepuasmu sampai hatimu tenang.” Kata Jinwo.


__ADS_2