
“Raka aku pulang dulu ya.” Kata Velina.
“Loh kenapa buru-buru? Tunggu sebentar, aku antar kamu sampai rumah ya.” Kata Raka.
“No no jangan jangan tidak perlu. Aku pergi dulu bye.” Kata Velina lalu dia langsung keluar dari gedung apartemen Raka, namun dia justru menabrak seseorang di pinggir jalan.
“Maaf maaf saya tidak sengaja.” Kata Velina sambil membungkuk.
“Velina.” Kata Jinwo.
“Jinwo? Hai jerapah sayang, eh eh kenapa kenapa kamu bisa ada disini sih? Katanya kamu balik lagi ke hotel?” Tanya Velina.
“Ini aku mau balik ke hotel, hotelnya kan dekat dari sini, kenapa kamu bisa ada disini? Kamu keluar dari apartemen itu ya? Setauku Raka tinggal disini juga, oh kamu dari rumah Raka ya?” Tanya Jinwo.
“Aku pulang dulu ya, aku lelah sekali. Maaf ya sayang.” Kata Velina.
Tiba-tiba Raka datang dan memanggil Velina.
“Velina tunggu, diluar dingin jadi pakailah jaket milikku.” Kata Raka.
“Raka.” Panggil Jinwo.
“Jinwo? Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu sedang ada magang ya?” Tanya Raka.
“Jadi kalian berdua sedang bersama ya? Tadi kamu bilang dirumah temanmu?” Tanya Jinwo kepada Velina.
“Oh tadi aku mengajak Velina ke tempatku sebentar untuk mengajariku membuat makanan kimbab, jangan salah paham ya Jinwo.” Kata Raka.
“Aku balik dulu, terima kasih jaketnya tapi aku tidak kedinginan kok.” Kata Velina mengembalikan jaket Raka lalu segera berlari meninggalkan Raka dan Jinwo.
“Velina tunggu.” Kata Jinwo mengejar Velina.
Jinwo mengejar Velina yang sedang berlari.
__ADS_1
“Tunggu aku dong, kamu kenapa justru berlari sih? Kamu menghindariku ya?” Tanya Jinwo.
“Kalau kamu mau marah denganku jangan sekarang ya, aku benar-benar kacau hari ini.” Kata Velina.
Lalu Jinwo memeluk Velina dari belakang.
“Aku mempercayaimu, apapun penjelasanmu aku pasti akan mempercayaimu.” Kata Jinwo.
“Kamu tidak marah denganku? Kamu tidak kecewa denganku? Kamu pasti mengira aku dan Raka ada hubungan spesial kan?” Kata Velina sambil menangis.
“Hei hei hei kenapa menangis sih? Aku tidak menyalahkanmu sayang, kita ke kafe saja yuk.” Kata Jinwo.
“Aku mau pulang saja.” Kata Velina.
“Ok aku antar saja, naik taksi saja yuk.” Kata Jinwo.
Setibanya di tempat Velina.
Jinwo dan Velina masuk kedalam apartemen.
“Besok kamu jam berapa baliknya?” Tanya Velina.
“Jam 5.” Kata Jinwo.
“Dan sekarang sudah jam 9 malam, kamu balik saja ke hotel.” Kata Velina.
“Kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Jinwo.
“Tentu saja, aku merasa tidak enak saja denganmu sebenarnya.” Kata Velina.
“Lain kali bilang saja sejujurnya padaku, aku memang cemburu dengannya tapi aku takut saja kalau memang dia sengaja mendekatimu dan ingin mendapatkanmu karena kamu tau sendiri kan kalau orang tuamu sangat menyukainya.” Kata Jinwo.
__ADS_1
“Tapi aku kan tidak menyukainya, aku melakukan itu karena aku selalu merasa tidak enak dengannya.” Kata Velina.
“Sudahlah lupakan saja, pokoknya sebisa mungkin jangan terlalu dekat dengannya dan jangan berbohong padaku.” Kata Jinwo.
“Aku takut kamu marah dan kecewa padaku, karena aku tidak mau kehilangan kamu.” Kata Velina sambil menunduk.
“Hei lihat aku, tatap aku. Itu tidak mungkin terjadi ya jadi jangan berpikir negatif. Aku balik dulu ya sekarang, jaga dirimu dengan baik.” Kata Jinwo.
“Iya jerapah sayang, maaf ya.” Kata Velina.
“Hmmmm karena kamu berbohong padaku jadi aku akan meminta imbalan darimu.” Kata Jinwo.
“Imbalan apa memangnya?” Tanya Velina heran.
“Peluk dan cium aku.” Kata Jinwo.
“Jangan macam-macam kamu ya.” Bentak Velina.
“Kalau begitu aku akan menginap disini saja.” Kata Jinwo.
“No, cepat pergi dari sini.” Kata Velina.
“Aku tidak akan keluar sebelum aku mendapat imbalan tersebut.” Kata Jinwo.
Kemudian Velina diam-diam dan malu-malu memeluk dan mencium kening, pipi dan bibir Jinwo.
“Sudah, cepat pergi.” Kata Velina tersipu malu.
“Kurang lama.” Kata Jinwo.
“Kamu benar-benar ya, keterlaluan deh.” Gerutu Velina.
Kemudian Jinwo mendorong Velina ke dinding dan menciumnya, bahkan Jinwo menahan tangan Velina agar tidak banyak bergerak.
__ADS_1