
Tujuh bulan kemudian.
Velina, Jinwo maupun Raka akhirnya wisuda secara bersamaan. Selesai acar wisuda, Jinwo berencana mengajak Velina makan bersama.
“Akhirnya kita wisuda juga.” Kata Velina.
Jinwo sibuk mengambil foto Velina.
“Kamu dari tadi mengambil fotoku terus, kenapa kita tidak berfoto bersama saja?” Tanya Velina.
“Lalu siapa yang akan mengambil foto kita?” Tanya Jinwo.
“Hmmmm cepat minta tolong anak-anak saja lah, manfaatkan teman-temanmu sana.” Kata Velina.
“Hei cepat fotokan aku bersama dia, cantik kan dia? Tapi agak freak jadi mohon maklum.” Kata Jinwo.
“Hmmm dasar goblok.” Gerutu Velina sambil tertawa.
“Tuh kan kamu dengar sendiri kan dia bicara apa kepadaku?” Kata Jinwo.
“Jangan banyak bicara, ayo cepat.” Kata teman Jinwo.
“Kita berpose seperti apa sayang?” Tanya Jinwo.
“Berpose ala model majalah.” Kata Velina.
“Majalah apa?” Tanya Jinwo.
“Majalah dewasa.” Kata Velina.
“Kalau begitu foto kita harus tampak mesra dong, sini aku bukakan bajumu biar tidak tertutup seperti itu.” Goda Jinwo.
“Buka dulu celanamu dong sayang.” Kata Velina.
“Astaga benar-benar pasangan aneh, ayo buruan.” Bentak teman Jinwo.
“Hei jangan membentakku dong, kamu kan dibayar.” Kata Velina.
“Dibayar pakai apa? Ini mah gratis.” Kata teman Jinwo.
“Oh gratis ya? Aduh sayang nanti belikan dia makan lah atau traktir dia minum, kasihan loh dia.” Kata Velina.
“Jangan, tidak perlu memberiku makan atau minum.” Kata teman Jinwo.
“Terus maumu apa?” Tanya Jinwo.
“Bayarkan hutangku saja ya, nggak banyak kok cuma satu juta won saja.” Kata teman Jinwo.
“Pergi sana, aku bisa foto sendiri.” Kata Jinwo.
“Hahahaha aduh bang jangan marah dong bang.” Goda teman Jinwo.
“Dasar banci kaleng, cepat fotokan aku sama my princess.” Kata Jinwo.
“Iya iya, ayo cepat.” Kata teman Jinwo.
__ADS_1
"Foto kalian terlihat sangat serasi loh." Kata teman Jinwo sambil menunjukkan hasil fotonya kepada Velina dan Jinwo.
Setelah selesai foto, tiba-tiba Raka datang.
“Vel.” Kata Raka.
“Iya, ada apa?” Tanya Velina.
“Tadi papa kamu bilang kalau kita harus makan bersama di restoran hotel dan harus pergi sekarang, kamu sudah selesai berfoto-foto dengan teman-temanmu kan?” Tanya Raka.
“Ok baiklah. Guys aku balik dulu ya.” Kata Velina kepada teman-temannya.
“Hati-hati ya.” Bisik Jinwo.
Akhirnya Velina dan Raka pun pergi.
**
Setibanya di restoran hotel.
Disana sudah ada orang tua Velina dan orang tua Raka.
“Kalian sudah datang, duduklah. Kita para orang tua ada yang harus dibicarakan dengan kalian berdua.” Kata ayah Velina.
“Langsung saja, kalian harus segera menikah secepatnya, selagi kita masih di Korea kenapa tidak diadakan acara pesta pernikahan disini saja, bagaimana?” Tanya ayah Raka.
“Saya sangat setuju.” Kata ayah Velina.
“Nanti kamu bisa bekerja dengan statusmu sebagai seorang istri kan? Sudahlah nurut saja dengan apa kata papa dan mama.” Kata ayah Velina.
“Jadi kamu menolak anakku? Sudah banyak yang aku lakukan dan aku korbankan demi ayahmu loh, bahkan sampai ayahku kalah juga aku tetap mendukungnya. Anggap saja ini sebagai bentuk ucapan terima kasihmu kepada keluargaku.” Kata ayah Raka.
“Tapi kan tidak harus seperti ini caranya pak, ini namanya pemaksaaan.” Kata Velina.
“Jadi kamu berani melawanku?” Bentak ayah Raka.
“Pak pak tolong tenang, maafkan anak saya pak.” Kata ayah Velina.
“Pesta pernikahan kalian akan diadakan dalam minggu ini, biar aku yang mengaturnya.” Kata ayah Raka lalu dia pergi.
“Awas ya kamu kalau berani melawan.” Ancan ayah Velina lalu pergi, tinggal Velina dan Raka saja.
“Aku tidak bisa menikah denganmu Raka, aku tidak mencintaimu.” Kata Velina.
“Kenapa? Selama ini apapun yang aku inginkan selalu terpenuhi tapi baru kali ini keinginanku tidak terpenuhi dan aku ditolak oleh wanita sepertimu.” Kata Raka.
“Kenapa nada bicaramu berubah?” Tanya Velina sedikit ketakutan.
“Ikut aku.” Kata Raka sambil menarik tangan Velina.
“Mau kemana? Lepaskan tanganku.” Kata Velina.
“Kamu perlu diberi pelajaran agar tidak berbuat seenaknya apalagi meremehkanku.” Kata Raka.
__ADS_1
Raka membawa Velina kedalam kamarnya.
“Raka apa yang kamu lakukan?” Tanya Velina.
“Kenapa? Apakah ini kali pertamanya kamu bermalam dengan seorang laki-laki? Tentu tidak dong, bukankah Jinwo sering menghampirimu ke apartemenmu? Menurutmu apa yang akan aku lakukan malam ini kepadamu?” Tanya Raka sambil membelai rambut Velina.
“Jangan Raka, aku mohon jangan seperti ini, kamu salah paham. Jinwo memang sering ke apartemenku namun dia tidak pernah menginap, aku mohon lepaskan aku Raka. Maafkan aku Raka.” Kata Velina.
“Semakin kamu menghindar semakin aku ingin menghajarmu.” Kata Raka lalu menampar pipi Velina.
Plakkkkkk
“Berani seorang wanita sepertimu meremehkanku dan menolakku hah?” Tanya Raka sambil menjambak rambut Velina.
“Ahhh sakit Raka, ampun Raka.” Rintih Velina.
Raka pun semakin menyiksa Velina hingga pipi Velina memar.
“Hari ini aku masih baik hati karena tidak menidurimu, pergi dari sini.” Kata Raka. Akhirnya Velina keluar dari kamar Raka dengan pipi dan tangannya yang memar akibat pukulan Raka. Velina menangis kesakitan, dia pun kembali ke apartemennya dengan mengendarai taksi.
Selama diperjalanan, Velina menangis terus.
“Kenapa mbak? Pipi dan tangan mbak nya lebam semua, apa perlu saya antar ke rumah sakit?” Tanya supir taksi.
“Tidak perlu pak, saya bisa mnegobatinya dirumah kok.” Kata Velina.
“Apa perlu mampir ke apotek untuk membeli obat mbak? Nanti biar saya yang turun membeli obat.” Kata supir taksi.
“Baiklah pak, terima kasih banyak pak.” Kata Velina.
Setibanya di depan apotek.
“Tunggu sebentar ya mbak, saya belikan obat dulu.” Kata supir taksi. Saat supir taksi pergi ke apotek, Velina kabur lalu berlari sambil menangis, hingga tak terasa dia tiba didepan apartemennya.
Di sisi lain, supir taksi tersebut pun bingung karena penumpangnya tidak ada didalam mobil. Supir taksi tersebut pun mondar-mandir mencari penumpangnya di sekeliling hingga sampai bertanya ke orang-orang di sekitar,, kebetulan sekali Jinwo baru saja keluar dari bar dekat apotek tersebut.
“Maaf mas, tadi mas melihat seorang wanita turun dari mobil saya tidak? Tadi saya tinggal sebentar untuk membelikan obat di apotek lalu saat saya masuk mobil ternyata penumpang saya tidak ada, justru dia memberi saya uang lebih, saya khawatir dengan keadaannya semoga saja dia baik-baik saja.” Kata supir taksi tersebut.
“Maaf saya tidak melihatnya pak, mungkin saja pulang pak penumpangnya.” Kata Jinwo.
“Semoga saja dia baik-baik saja, wajah dan lengannya lebam semua.” Kata supir taksi.
“Mungkin habis berkelahi pak makanya babak belur atau jatuh.” Kata Jinwo.
“Justru saya curiga habis dipukuli sama kekasihnya, soalnya dia naik dari hotel Xone.” Kata supir taksi.
“Hotel Xone? Itu kan tempat orang tua Velina menginap. Apa jangan-jangan wanita yang dimaksud supir taksi ini adalah Velina? Tapi tidak mungkin sih.” Kata Jinwo dalam hati.
“Wanita tadi ciri-cirinya seperti apa pak?” Tanya Jinwo.
“Dia cantik, memakai dress dan bersepatu hak tinggi dengan rambutnya digerai, penampilan dia rapi namun karena dia kesakitan jadi tampak terlihat kusut.” Kata supir taksi.
“Dia memakai jepit rambut seperti ini tidak pak? Atau memakai tas seperti ini?” Tanya Jinwo sambil menunjukkan foto Velina.
“Nah iya benar sekali mas, mas nya kenal dengan dia ya?” Tanya supir taksi. Jinwo pun mengambil obat yang dipegang oleh supir taksi tersebut lalu berlari menuju ke apartemennya Velina.
__ADS_1