
Keesokan harinya.
Velina bersiap-siap untuk pergi ke kampus, namun dia pergi ke perpustakaan karena dia harus mencari buku dan jurnal untyk laporan skripsinya.
“Hari ini pergi ke perpustakaan, aku mau memakai baju yang hangat dan mantel bulu favoritku, musim dingin yang sangat romantis hehehehe. Aduh gawat tanda merah hasil karya si Jinwo kenapa banyak sekali sih aduh memalukan, aku harus menutupinya dengan pakai syal, lalu aku akan memakai riasan yang sedikit tebal untuk menutupi hasil karya si Jinwo.” Kata Velina yang sangat semangat.
Setelah itu dia pergi ke perpustakaan, namun dia sangat kaget karena mobil Raka ada di depan apartemennya.
“Good morning, masuklah aku akan mengantarmu.” Kata Raka.
“Kamu sudah lama disini?” Tanya Velina.
“Lumayan sih paling 15 menitan, ayo cepat naiklah.” Kata Raka.
Akhirnya Velina masuk kedalam mobil Raka, bahkan Raka juga memasangkan sabuk pengaman kepada Velina.
“Aku bisa memakai sendiri kok Raka.” Kata Velina.
“Sudahlah aku ingin memanjakanmu pokoknya hari ini.” Kata Raka.
“Aku harus pergi ke perpustakaan hari ini.” Kata Velina.
“Aku akan mengantarmu dan menemanimu hari ini.” Kata Raka sangat semangat.
“Aduh kenapa dia harus seperti ini sih, aku kan ingin bertemu dengan Jinwo.” Kata Velina dalam hati.
“Kamu kedinginan ya kok pakai syal setebal itu?” Tanya Raka.
“Iya.” Jawab Velina.
“Aku nyalakan penghangatnya, jadi kamu bisa melepas syal milikmu.” Kata Raka.
__ADS_1
“Baiklah.” Kata Velina namun dia tetap memakai syalnya.
“Masih kedinginan ya? Aku lepaskan syalmu ya.” Kata Raka sambil melepas syal milik Velina namun Velina menghalangi tangan Raka.
“Jangan lancang kepadaku.” Kata Velina namun Raka terlanjur melepas syal Velina dan melihat ada tanda merah di leher Velina lalu Velina segera menutupi lehernya.
“Lehermu terluka?” Tanya Raka.
“Tidak apa-apa, tadi hanya tergores saja.” Kata Velina.
“Coba aku lihat.” Kata Raka.
“Kita pergi sekarang saja, aku baik-baik saja.” Kata Velina.
“Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang ya.” Kata Raka.
**
“Vel.” Panggil Jinwo, Jinwo kaget melihat Velina jalan berdua bersama Raka.
“Ada apa? Aku masuk dulu ke perpustakaan.” Kata Velina langsung masuk, namun Jinwo menahan Velina dengan menarik tangan Velina.
“Lepaskan tangan dia.” Kata Raka.
“Aku ingin bicara dengannya.” Kata Jinwo.
“Dia milikku jadi kamu harus meminta ijin kepadaku, tapi aku tidak mengijinkanmu untuk bicara dengan Velina.” Kata Raka.
“Ada hal yang harus aku selesaikan dengannya dan harus dibicarakan berdua.” Kata Jinwo.
“Bicara saja disini.” Kata Raka.
__ADS_1
“Raka kamu masuklah terlebih dahulu, aku mau bicara dengannya.” Kata Velina.
“Tapi aku takut dia macam-macam kepadamu.” Kata Raka.
“Aku bisa menjaga diri, cepat masuklah.” Kata Velina, akhirnya Raka pun masuk kedalam perpustakaan. Sedangkan Velina mengajak Jinwo bicara di tempat yang tidak terlalu ramai.
“Kenapa kamu bisa bersama dia?” Tanya Jinwo.
“Tadi pagi dia tiba didepan apartemenku, aku berusaha untuk menghindar tapi aku tidak bisa, aku bingung harus bagaimana.” Kata Velina.
“Aku cemburu melihatmu bersamanya.” Gerutu Jinwo.
“Aku harus bicara apa dengannya? Kemarin saja dia menghampiriku dan hampir saja ketahuan kalau kamu ditempatku.” Kata Velina.
“Kamu tidak berani ya untuk memutuskannya dan berpisah darinya?” Tanya Jinwo.
“Bagaimana dengan orang tuaku?” Tanya Velina.
“Bukankah pertunanganmu dengan Raka hanya karena masalah politik? Lalu setelah ayah kamu mengalami kekalahan setelah itu apakah mereka tetap menyuruhmu untuk bersama Raka?” Tanya Jinwo.
“Aku tidak tau.” Kata Velina.
“Asal kamu tau saja ya, bahkan ayahku telah.” Kata Jinwo hampir keceplosan.
“Ayahmu kenapa memangnya?” Tanya Velina.
“Tidak apa-apa, masuklah temui Raka, aku pergi dulu.” Kata Jinwo.
“Nanti kita bertemu ya, aku tunggu di kafe tempat kita biasa bertemu.” Kata Velina.
“Iya.” Jawab Jinwo.
__ADS_1