
Jinwo tiba didepan gedung apartemen Velina. Kemudian Jinwo menelfon Velina.
“Aku sudah didepan.” Kata Jinwo.
“Gawat sayang.” Kata Velina.
“Ada apa memangnya?” Tanya Jinwo.
“Sebenarnya aku malu untuk bilang sayang tapi memang ini sangat gawat.” Kata Velina sambil setengah menangis.
“Ada apa? Aku kesana ya.” Kata Jinwo.
“Dalamanku habis sayang, aku lupa belum mencuci pakaian dalamku. Semua pakaian dalamku masih belum kering, masih lembab karena baru tadi aku jemur.” Kata Velina.
“Astaga aku kira kenapa, berarti kamu tidak memakai apa-apa sekarang? Aku kesana sekarang ya.” Kata Jinwo dengan penuh semangat.
“Belikan aku pakaian dalam, satu set ya atas bawah. Kamu mengerti kan maksudku?” Tanya Velina.
“Jadi kamu menyuruhku untuk membeli bra dan ****** ***** untukmu begitu?” Tanya Jinwo.
“Iya, memangnya kamu ingin aku keluar untuk membelinya tanpa memakai dalaman begitu? Cepat belikan sekarang juga, merk apapun boleh asalkan cepat.” Kata Velina lalu langsung menutup telfonnya.
Jinwo pun segera pergi ke toko pakaian untuk membelikan pakaian dalam untuk kekasihnya.
Setibanya di toko pakaian.
“Selamat datang, ada yang bisa dibantu? Ingin mencari baju untuk kekasihnya ya? Bisa kami bantu kak.” Kata SPG.
“Jadi pacar saya butuh pakaian dalam mbak.” Bisik Jinwo karena takut terdengar oleh orang lain.
“Oh kakaknya butuh pakaian dalam untuk pacar kakak ya?” Tanya SPG.
“Mbak tolong jangan keras-keras ya, saya malu loh mbak.” Bisik Jinwo.
“Mari saya bantu carikan ya kak.” Kata SPG.
“Saya pasrah sama mbak nya saja ya, saya tunggu disini saja. Pokoknya pacar saya butuh dua set katanya mbak, bra dan ****** *****.” Kata Jinwo.
“Baik kak, bra nya ukuran berapa kak?” Tanya SPG.
__ADS_1
“Aduh saya tidak tau mbak soalnya saya tidak pernah melihatnya apalagi mengukurnya mbak.” Bisik Jinwo.
“Berarti belum pernah merabanya juga dong kak hehehe. Kan bisa menelfon pacarnya kak untuk bertanya ukurannya berapa hehe.” Kata SPG.
“Ya belum lah mbak, dia bisa mencakarku bahkan membunuhku mbak kalau sampai itu terjadi. Oh iya ya, kenapa saya jadi terlihat kebingungan seperti orang bodoh ya mbak, tunggu sebentar ya mbak, saya telfon pacar saya dulu.” Kata Jinwo.
“Astaga untung ganteng.” Kata SPG lirih.
Kemudian Jinwo menelfon Velina, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Jinwo masuk lagi kedalam toko pakaian tersebut.
“Bagaimana kak?” Tanya SPG.
“Dia tidak menerima panggilanku mbak, bagaimana ini mbak?” Tanya Jinwo.
“Menurut kakak, ukurannya sebesar apa? Sekepalan tangan atau lebih? Atau terlihat rata?” Tanya SPG.
“Agak menonjol mbak tapi nggak terlalu besar banget mbak, sepertinya ukuran standart mbak.” Kata Jinwo.
“Baiklah akan saya bantu mencarikan ya kak.” Kata SPG.
“Iya mbak, minta tolong ya mbak. Mbak warnanya jangan terlalu mencolok ya mbak, memalukan soalnya mbak.” Kata Jinwo.
“Ya kali aja saya ingin diam-diam melihat isinya gitu mbak, saya takut syok aja jika warnanya mencolok pas dibuka ternyata rata mbak, apa jangan-jangan pacar saya pakai yang busanya super tebal ya mbak, wah dia menipuku dong selama ini.” Kata Jinwo.
“Ah begitu ya, jadi bagaimana kak? Apakah ingin yang ada busanya saja?” Tanya SPG.
“Iya mbak boleh, mbak minta tolong cepat ya.” Kata Jinwo.
“Baik kak.” Kata SPG nya yang sangat malu dengan kelakuan Jinwo.
**
Jinwo tiba didepan kamar apartemen Velina.
“Mana titipanku?” Tanya Velina.
“Aku boleh masuk tidak?” Tanya Jinwo.
“Tunggu saja diluar.” Kata Velina lalu menutup pintunya.
__ADS_1
Jinwo menunggu hampir satu jam didalam mobil. Tidak lama kemudian datanglah Velina dengan mengetuk kaca mobil Jinwo.
“Terima kasih, kamu menunggu sangat lama ya? Maaf ya.” Kata Velina sambil memeluk Jinwo.
“Empuk banget, apa benar busanya sangat tebal ya.” Kata Jinwo dalam hati.
“Bagaimana rasanya? Enak tidak?” Tanya Jinwo.
“Apanya?” Tanya Velina yang agak kebingungan.
“Ya itunya lah.” Kata Jinwo.
“Oh maksudmu bra nya? Ini pertama kalinya aku memakai bra yang busanya sangat tebal, kamu sengaja ya membelikanku yang busanya sangat tebal? Padahal ukuranku lumayan berisi kok.” Kata Velina.
“Aku tidak percaya.” Kata Jinwo.
“Jadi kamu tidak mempercayaiku?” Tanya Velina.
“Aku tidak percaya sebelum menyentuhnya dengan tanganku sendiri.” Kata Jinwo.
“Kamu mau mencobanya? Silahkan coba saja.” Kata Velina sambil mendekatkan dirinya ke Jinwo.
“Kamu serius? Wah sudah lama aku menginginkannya.” Kata Jinwo dengan penuh semangat.
Kemudian Jinwo mendekati Velina, tiba-tiba Velina memukul lengan Jinwo dengan sangat keras.
“Awwwwwww sakit.” Bentak Jinwo.
“Jadi kamu membentakku?” Tanya Velina dengan ekspresi sedihnya yang membuat Jinwo jadi tidak tega melihatnya.
“Bukan begitu tapi kan tadi kamu bilang.” Kata Jinwo, lalu dia memeluk Velina.
“Maaf ya, aku keterlaluan kepadamu. Makanya jangan mengatakan hal seperti itu, kan aku jadi berdiri.” Kata Jinwo.
“Apanya yang berdiri?” Tanya Velina.
“Ya punyaku lah, kamu pikir aku bukan seorang laki-laki?” Tanya Jinwo.
__ADS_1
“Ayo cepat kita berangkat saja.” Kata Velina.