
Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh ayah Velina yaitu pemilihan umum. Dan ternyata benar dugaan Santika bahwa Trisna kalah dalam pemilihan tersebut, Trisna benar-benar kesal, marah dan telah banyak menghabiskan uang untuk hal ini, dia bahkan rela melakukan apa saja demi kemenangannya namun karena satu orang di yayasan yang tidak mendukungnya akhirnya Trisna kalah dalam pemilihan.
“Ikhlaskan pa.” Kata Velina.
“Apa kamu bilang? Ikhlas? Papa sudah banyak melakukan hal agar papa bisa menang tapi yang papa dapatkan adalah kekalahan, aku akan membuat perhitungan dengan dia, dia yang menyebabkan aku kalah dan dia juga tidak mendukungku.” Kata Trisna.
“Maksud papa orang Korea itu ya?” Tanya Velina.
“Iya, terutama mata-mata dia. Selama ini dia selalu memantau papa dan keluarga kita.” Kata Trisna.
“Papa tau siapa mata-matanya?” Tanya Velina.
“Papa pernah tau fotonya tapi fotonya sangat blur karena memakai masker dan topi jadi tidak terlihat dengan jelas, lagipula dia bisa menyamar menjadi apa saja demi melaksanakan aksinya. Papa pernah tau identitasnya atau julukannya.” Kata Trisna.
“Siapa julukannya pa?” Tanya Velina.
“Julukannya Black Tiger.” Kata Trisna.
“Black Tiger?” Tanya Velina.
“Lagipula kamu bisa apa meskipun tau julukannya?” Tanya Trisna.
“Aku kan pernah tinggal di Korea pa jadi siapa tau aku bisa mencari tau siapa mata-mata itu.” Kata Velina.
“Aku akan buat peritungan kepadanya.” Kata Trisna.
**
Velina kembali ke Korea untuk menyelesaikan kuliahnya.
Setibanya di Korea, dia segera ke apartemennya. Dia mengendarai kereta untuk menuju ke apartemennya. Namun gerbong keretanya sangat penuh sehingga dia tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri sambil menjaga barang bawaannya.
“Aduh sesak sekali keretanya dan barang bawaanku juga banyak lagi hmmmm, fighting Vel.” Kata Velina dalam hati.
Tiba-tiba ada laki-laki yang diam-diam mengambil gambar Velina, laki-laki tersebut mengambil gambar yang tak seharusnya, namun Velina tidak merasa sama sekali.
Tiba-tiba datanglah Jinwo lalu mengambil ponsel laki-laki tersebut dan menghapus gambar-gambar yang ada diponsel laki-laki asing tersebut.
__ADS_1
“Laki-laki ini mengambil gambar yang tidak sepantasnya, aku akan melaporkan dia.” Kata Jinwo bicara didepan semua penumpang di gerbong kereta tersebut.” Kata Jinwo. Akhirnya semua penumpang pun membantu Jinwo membawa laki-laki asing tersebut ke kantor polisi.
Sementara Velina yang masih syok sekaligus kaget dan ketakutan pun berdiam diri sambil menangis di rest area di stasiun. Lalu Jinwo menghampirinya dan memberikan jaket miliknya kepada Velina.
“Jangan ceroboh, jangan pakai pakaian yang membuat orang dengan mudah melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.” Kata Jinwo memberikan jaket miliknya kepada Velina. Velina merasa bingung, malu tapi takut karena sejak Jinwo menyuruhnya pergi, Velina tidak lagi menghubungi Jinwo sehingga dia fokus dengan kuliahnya.
“Te teri terima kasih.” Kata Velina lirih. Kemudian Velina berdiri dan melanjutkan perjalanannya menuju ke apartemen namun dia kesulitan membawa barangnya apalagi diluar hujan deras.
“Ah sial, hujan lebat dan aku tidak membawa payung.” Kata Velina.
“Biar aku antar kamu saja.” Kata Jinwo sambil membawakan barangnya, namun Velina mengambil barangnya dari Jinwo.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Kata Velina.
“Diluar hujan lebat.” Kata Jinwo.
“Kamu kenapa mengikutiku? Apa sih maumu sebenarnya?” Tanya Velina.
“Aku tidak mengikutimu, tapi Hyewon menyuruhku untuk menjemputmu tapi sepertinya kamu tidak butuh bantuanku. Masuklah kedalam mobilku.” Kata Jinwo.
“Kita sudah berakhir kan? Terima kasih atas bantuanmu tadi dan aku kembalikan jaketmu.” Kata Velina mengembalikan jaket Jinwo.
“Itu urusanku bukan urusanmu.” Kata Velina namun Jinwo menarik tangan Velina.
“Ayo ikut aku, diluar hujan deras.” Kata Jinwo, akhirnya Jinwo membawa Velina masuk kedalam mobilnya yang diparkir dipinggir jalan. Jadi saat Jinwo pergi ke bandara, dia diantar oleh supir lalu dia mengendarai kereta dan supirnya mengikutinya namun mengendarai mobil, setelah itu Jinwo menyuruh supirnya untuk kembali pulang karena Jinwo akan mengantar Velina pulang.
“Masuk.” Kata Jinwo.
“Aku bisa pulang sendiri bahkan tanpa bantuanmu.” Kata Velina.
“Kalau tadi aku tidak datang pasti laki-laki tadi sudah menyebarkan foto-fotomu ke internet.” Kata Jinwo. Jinwo kemudian justru merebahkan dirinya di kursi mobil sambil menatap Velina.
“Kenapa melihatku seperti itu? Ayo cepat pergi.” Kata Velina.
“Kalau hujan lebat seperti ini bahaya jika mengemudi. Jadi kita tunggu saja sampai reda.” Kata Jinwo.
__ADS_1
Velina melihat ke arah Jinwo dengan ekspresi sangat kesal lalu dia membuka pintu mobil Jinwo untuk keluar namun Jinwo mencegahnya.
“Diluar hujan deras dan itu bahaya, apalagi kamu mudah sekali terkena flu, kalau flu merepotkan lagi.” Kata Jinwo, akhirnya Velina tidak jadi turun.
Jinwo memutar musik dan tanpa sengaja lagu yang diputar tentang seseorang yang sedang jatuh cinta.
Oh, what are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do, oh
What are you, what are you waiting for?
What are you waiting for?
Karena Velina canggung dengan liriknya akhirnya dia mematikan lagunya namun Jinwo menyingkirkan tangan Velina.
“Kamu tidak berhak menyentuh barang milik orang lain.” Kata Jinwo.
“Jadi kamu membentakku? Dasar kejam.” Bentak Velina.
“Kamu tidak berhak memarahiku saat ini. Velina yang aku kenal itu manis, lucu meskipun menyusahkan dan menyebalkan tapi dia tidak akan membentak apalagi memarahiku.” Kata Jinwo.
“Maaf aku bukan seperti Velina yang kamu kenal.” Bentak Velina.
“Kalau merasa bersalah jangan membentakku.” Kata Jinwo.
Jinwo pun mengamati Velina yang membuat Velina menjadi salah tingkah.
“Kamu tidak lapar setelah membawa banyak barang dan marah-marah kepadaku? Makan yuk.” Kata Jinwo.
“Dasar Jinwo bodoh, aku tidak bisa membencinya.” Kata Velina dalam hati sambil tersenyum.
__ADS_1
“Dia terlihat sangat menggemaskan, bagaimana caraku bisa melupakan apalagi membencinya.” Kata Jinwo dalam hati sambil terus memperhatikan Velina.