Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 10


__ADS_3

Tidur Alfian sedikit terganggu saat ia mulai merasakan sakit dikepalanya. Ia membuka matanya sedikit dan semakin kesakitan karena cahaya yang masuk ke netranya.


"Desi!" Alfian berusaha berteriak memanggil Desi meski tenggorokannya terasa kering dan sakit.


"Saya, Tuan."


Alfian membuka mata perlahan dan menemukan sosok Desi tidak jauh dari dirinya. Rupanya gadis itu tidak kemana-mana dan duduk menemaninya.


"Matikan semua lampu." Titahnya pada Desi serta kembali memejamkan mata.


"Baik Tuan." Desi bergerak menuruti perintah Tuan Muda dan menurunkan saklar.


Alfian kembali membuka matanya, posisinya yang berpindah membuatnya langsung menghadap ke jendela besar dan pintu kaca.


"Masih silau."


Mendengar keluhan itu, Desi bergegas menutup menggunakan tirai tipis berwarna putih yang diikat di bagian tengah.


Alfian memegangi kepalanya, ia ingin berada di ruangan yang gelap. "Kamu udah matiin lampu sama tutup tirai belum sih?!"


"Su..sudah Tuan."


"Jangan bohong kamu, ini masih ada cahaya." Sembur Alfian sambil menutup mata menggunakan tangannya.


Desi kebingungan, ia menatap tirai di dekatnya. Ya mana bisa gelap, tirainya aja tipis gini, trus cahaya matahari lagi terang-terangnya.


"Desi!" Alfian kembali menggeram.


"Ta..tapi Tuan. Bagaimana caranya mematikan cahaya matahari?"


"Apa?!" Alfian memicingkan mata guna mengurangi intensitas cahaya yang masuk. Ia merasa kesal, namun apa yang dikatakan Desi juga tidak salah. Karena sumber cahaya berasal dari matahari, dan tirai penutup jendela hanya kain tipis. Bahkan berwarna putih.


Alfian mengerang, namun ia juga tidak ingin kembali ke kamarnya. Sesaat kemudian Alfian merasakan sebuah kain menyentuh kening dan matanya.


"Ditutup pakai syal saja ya Tuan. Ini syal bersih." Terdengar suara Desi.


Alfian tidak menolak dan juga tidak meng-iyakan. Hal itu dianggap Desi sebagai persetujuan. Oleh sebab itu ia membiarkan syal miliknya tetap menutupi mata Alfian. Karena Desi pun tidak ingin Alfian memilih beristirahat di kamar. Desi enggan untuk masuk ke dalam kamar Tuan Muda. Jika Tuan Muda tetap di sofa, ia lebih leluasa menjaga.


Tanpa Desi ketahui, Alfian bersorak kegirangan dalam hatinya. Syal Desi yang penuh dengan aroma melati membuat Alfian bagaikan mendapat jackpot. Ia tidak perlu mencari cara bahkan berbohong agar Desi tetap di dekatnya. Karena sekarang ia bisa menghirup aroma yang sama dengan tubuh Desi dari syal gadis itu.


Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus. Rupanya Alfian sudah kembali terlelap.


Desi yang baru akan duduk tiba-tiba dikagetkan dengan suara bel. Ia menuju pintu dan melihat ke layar. Wajah Rama terlihat disana. Desi pun membuka pintu dan mempersilahkan Rama masuk.


"Selamat siang Tuan." Sapa Desi dengan ramah.


"Selamat siang." Rama segera masuk ke dalam. "Bagaimana keadaan Alfian?"


"Sudah tidak sepanas tadi pagi, Tuan."


Rama berhenti sejenak dan berbalik. "Aku lupa." Ia menyodorkan sebuah kantong kertas. "Tadi ketemu asisten Om Haryadi di lantai dasar. Ini obatnya Alfian. Sudah ada petunjuk pemberian disana."


Desi menerima kantong kertas tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Ia segera ke dapur untuk membuka kantong tersebut dan mempelajari instruksi yang diberikan. Sedangkan Rama terus ke ruang tamu untuk melihat Alfian.


Tak berapa lama kemudian, Rama masuk ke dapur.


"Desi, Alfian kok nggak tidur di kamar?"


"Saya juga kurang tahu, Tuan. Tadi pagi waktu saya keluar, Tuan Muda sudah tidur disitu."


Rama mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi bagus juga sih, kamu jadi lebih leluasa merawat dia kan."


Desi meringis, pemikirannya dan Rama sama. "Iya Tuan, benar."


Rama kembali manggut-manggut, dari awal, ia sudah menilai Desi dan hasil penilaiannya positif. Gestur tubuh dan tatapan mata Desi, mengindikasikan kalau gadis itu tidak memiliki niat macam-macam. Murni hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang.


"Aku percaya kamu bisa merawat dia dengan baik. Aku lega." Rama tersenyum simpul. "Aku akan kembali ke kantor. Aku hanya menjalankan mandat dari Orang Tua Alfian."


"Terima kasih untuk kepercayaannya, Tuan." Desi sedikit membungkuk. "Emmm, Tuan tidak makan siang dulu? Yah meski lauknya sederhana karena Tuan Muda hanya makan bubur." Desi sedikit ragu menawari makan. Ia ingin berbasa basi, tapi tidak mungkin jika tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Rama terlihat senang, kebetulan ia pun belum makan siang. Dengan tidak hadirnya Alfian di kantor, otomatis ia yang mengambil alih semua pekerjaan kakak sepupunya itu.


"Iya, aku mau." Rama segera berpindah dari kursi di depan kitchen island ke meja makan.


Dengan cekatan Desi menyajikan makanan. Sayur capcay tanpa protein hewani dan kering tempe.


Rama menatap sejenak makanannya, air liurnya sudah menggenang. Meski sederhana, tapi aromanya cukup menggugah selera.


Rama memejamkan mata saat mengunyah suapan pertama. Rasa gurih, asam, pedas dan manis dari kering tempe membuat selera makannya bertambah.


Desi tersenyum geli melihat bagaimana Rama makan. Sedikit pun tidak mengangkat kepalanya untuk menoleh kesana kemari. Ia seperti takut akan ada yang mengambil makanannya jika ia teralihkan sedikit saja.


Menjelang malam, Alfian bangun. Ia melihat Desi sudah memindahkan sebuah sofa single dan tertidur sambil duduk di dekat Alfian.


Melihat wajah Desi yang tidur dengan damai, membuat Alfian terusik. Ia duduk dan diam beberapa saat. Rupanya rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah semakin jauh berkurang.


Alfian berdiri dan melakukan peregangan otot. Setelah itu ia mendekati Desi, mengamati setiap inci dari wajah gadis itu. Tanpa takut Desi berpaling menyembunyikan wajah.


Manis.


Alfian jadi punya hobi baru, yaitu memandangi wajah Desi yang manis. Alfian yakin ia tidak akan pernah merasa bosan memandangi wajah cantik dan manis seorang Desi.


Sepertinya Alfian tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia mengikuti nalurinya saja. Atau mungkin ia sadar, namun menolak untuk mengendalikan diri. Yang jelas, kini Alfian sudah membungkuk dan mendekatkan wajahnya.


Ia menghirup aroma tubuh Desi dalam-dalam. Meski tadi sudah memakai syal milik Desi yang aromanya sama, namun terasa berbeda saat bisa menghirupnya langsung dari tubuh Desi. Sensasinya lebih memabukkan.


Desi menggeliat, dan itu membuat Alfian terkejut hingga ia berjingkat mundur. Kondisi tubuhnya yang tidak prima membuat Alfian terhuyung dan jatuh terduduk.


"Aduh!"


Suara pekikan Alfian membuat Desi terperanjat dan membuka matanya.


"Tuan Muda." Kesadaran Desi kembali 100% hanya dalam sepersekian detik.


"Tuan Muda tidak apa-apa? Mana yang sakit?" Dengan panik Desi bersimpuh di depan Alfian dan memindai tubuh Tuan Muda.


"Tidak, tidak ada yang sakit." 

__ADS_1


Desi mengernyit, ia melihat semburat merah di wajah Alfian.


"Tuan Muda panas lagi?" Tanyanya pada Alfian dengan dahi mengernyit.


"Aku? Tidak, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Alfian berusaha keras untuk tidak terlihat gugup.


"Itu, muka Tuan kelihatan merah. Saya kira Tuan panas tinggi lagi."


Alfian berdehem, sepertinya wajahnya memerah karena takut dan malu. Ia takut ketahuan sedang menikmati aroma tubuh Desi yang memabukkan bahkan mengamati wajah gadis itu.


"Desi, aku lapar." Ujarnya untuk mengalihkan perhatian, dan Desi tidak menyadari hal itu.


"Baik Tuan." Jawab Desi dan bergegas menuju dapur. Ia senang, karena Tuan Muda mau makan tanpa ditawari. Apalagi yang Alfian makan hanya bubur, pasti akan lebih cepat lapar.


Alfian menghabiskan seluruh bubur yang Desi sajikan. Ia tidak perlu dipaksa lagi karena mulutnya sudah tidak terlalu terasa pahit seperti sebelumnya.


Setelah makan dan minum obatnya, Alfian berdiri, ia ingin pindah ke kamarnya. Desi segera membuka pintu kamar dan berdiri di dinding samping pintu. Ia menanti Alfian yang berjalan dengan pelan.


Alfian merasa tubuhnya belum stabil. Mungkin efek dari sakitnya atau karena seharian hanya tidur. Beberapa kali ia terhuyung, dan Desi hanya menatapnya dengan cemas.


Sebenarnya Alfian perlu dipapah. Namun ia gengsi hendak meminta tolong pada Desi. Dan Desi terlalu takut untuk menawarkan bantuan.


Alfian sudah dekat, beberapa langkah dari pintu. Namun kakinya goyah, dan ia seperti akan ambruk.


"Ya ampun, Tuan!" Desi refleks memeluk Alfian dari depan karena tubuh Tuan Muda terlihat akan jatuh.


Alfian terkejut, dan kemudian menghela nafas lega. Ia sempat berpikir bahwa ia pasti akan mencium lantai. Beruntung Desi dengan sigap menahan tubuhnya.


Alfian menunduk menatap Desi. Gadis itu tidak menyandarkan kepalanya ke dada Alfian, ia hanya menunduk.


"Maaf, Tuan Muda." Ucapnya masih dengan menunduk sambil merenggangkan pelukannya.


Alfian menahan tangan Desi dengan lengannya dan menundukkan wajah. "Apa? Aku tidak dengar." Alfian tidak dapat mendengar apa yang Desi ucapkan karena posisi Desi yang masih menunduk hingga suaranya terdengar seperti dengungan.


Desi memiringkan kepala dan mengangkat wajahnya. "Maaf…."


Netra Desi melebar, tinggal sedikit lagi maka bibirnya bersentuhan dengan bibir Tuan Muda. Ia tidak tahu kalau Alfian sedang menunduk.


Hhhgggg


Desi terkesiap, ia menarik kepalanya ke belakang.


Alfian pun tidak menyangka akan berada sedekat itu dengan Desi. Ia berdehem kemudian melepaskan tangan gadis itu.


Suasana canggung sangat terasa. Desi begitu gugup, hingga tarikan nafasnya pendek-pendek dan memburu. Ia terus menunduk tak berani bergerak.


"Terima kasih sudah menolong." Ujar Alfian kemudian melangkah pelan menuju kamarnya.


Mendengar suara pintu ditutup di belakangnya, Desi cepat-cepat menuju kamarnya dan mengunci pintu. Ia bersandar di pintu sambil memegang dadanya.


"Mampus aku, besok pasti dipecat." Desi memukul-mukul kepalanya dengan pelan. "Haduh Desiiiiii, kok bisa sih kamu ceroboh kayak tadi." Ia merutuki dirinya sendiri.


...****************...


Tidur Alfian sedikit terganggu saat ia mulai merasakan sakit dikepalanya. Ia membuka matanya sedikit dan semakin kesakitan karena cahaya yang masuk ke netranya.


"Desi!" Alfian berusaha berteriak memanggil Desi meski tenggorokannya terasa kering dan sakit.


"Saya, Tuan."


Alfian membuka mata perlahan dan menemukan sosok Desi tidak jauh dari dirinya. Rupanya gadis itu tidak kemana-mana dan duduk menemaninya.


"Matikan semua lampu." Titahnya pada Desi serta kembali memejamkan mata.


"Baik Tuan." Desi bergerak menuruti perintah Tuan Muda dan menurunkan saklar.


Alfian kembali membuka matanya, posisinya yang berpindah membuatnya langsung menghadap ke jendela besar dan pintu kaca.


"Masih silau."


Mendengar keluhan itu, Desi bergegas menutup menggunakan tirai tipis berwarna putih yang diikat di bagian tengah.


Alfian memegangi kepalanya, ia ingin berada di ruangan yang gelap. "Kamu udah matiin lampu sama tutup tirai belum sih?!"


"Su..sudah Tuan."


"Jangan bohong kamu, ini masih ada cahaya." Sembur Alfian sambil menutup mata menggunakan tangannya.


Desi kebingungan, ia menatap tirai di dekatnya. Ya mana bisa gelap, tirainya aja tipis gini, trus cahaya matahari lagi terang-terangnya.


"Desi!" Alfian kembali menggeram.


"Ta..tapi Tuan. Bagaimana caranya mematikan cahaya matahari?"


"Apa?!" Alfian memicingkan mata guna mengurangi intensitas cahaya yang masuk. Ia merasa kesal, namun apa yang dikatakan Desi juga tidak salah. Karena sumber cahaya berasal dari matahari, dan tirai penutup jendela hanya kain tipis. Bahkan berwarna putih.


Alfian mengerang, namun ia juga tidak ingin kembali ke kamarnya. Sesaat kemudian Alfian merasakan sebuah kain menyentuh kening dan matanya.


"Ditutup pakai syal saja ya Tuan. Ini syal bersih." Terdengar suara Desi.


Alfian tidak menolak dan juga tidak meng-iyakan. Hal itu dianggap Desi sebagai persetujuan. Oleh sebab itu ia membiarkan syal miliknya tetap menutupi mata Alfian. Karena Desi pun tidak ingin Alfian memilih beristirahat di kamar. Desi enggan untuk masuk ke dalam kamar Tuan Muda. Jika Tuan Muda tetap di sofa, ia lebih leluasa menjaga.


Tanpa Desi ketahui, Alfian bersorak kegirangan dalam hatinya. Syal Desi yang penuh dengan aroma melati membuat Alfian bagaikan mendapat jackpot. Ia tidak perlu mencari cara bahkan berbohong agar Desi tetap di dekatnya. Karena sekarang ia bisa menghirup aroma yang sama dengan tubuh Desi dari syal gadis itu.


Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus. Rupanya Alfian sudah kembali terlelap.


Desi yang baru akan duduk tiba-tiba dikagetkan dengan suara bel. Ia menuju pintu dan melihat ke layar. Wajah Rama terlihat disana. Desi pun membuka pintu dan mempersilahkan Rama masuk.


"Selamat siang Tuan." Sapa Desi dengan ramah.


"Selamat siang." Rama segera masuk ke dalam. "Bagaimana keadaan Alfian?"


"Sudah tidak sepanas tadi pagi, Tuan."


Rama berhenti sejenak dan berbalik. "Aku lupa." Ia menyodorkan sebuah kantong kertas. "Tadi ketemu asisten Om Haryadi di lantai dasar. Ini obatnya Alfian. Sudah ada petunjuk pemberian disana."


Desi menerima kantong kertas tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Ia segera ke dapur untuk membuka kantong tersebut dan mempelajari instruksi yang diberikan. Sedangkan Rama terus ke ruang tamu untuk melihat Alfian.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Rama masuk ke dapur.


"Desi, Alfian kok nggak tidur di kamar?"


"Saya juga kurang tahu, Tuan. Tadi pagi waktu saya keluar, Tuan Muda sudah tidur disitu."


Rama mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi bagus juga sih, kamu jadi lebih leluasa merawat dia kan."


Desi meringis, pemikirannya dan Rama sama. "Iya Tuan, benar."


Rama kembali manggut-manggut, dari awal, ia sudah menilai Desi dan hasil penilaiannya positif. Gestur tubuh dan tatapan mata Desi, mengindikasikan kalau gadis itu tidak memiliki niat macam-macam. Murni hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang.


"Aku percaya kamu bisa merawat dia dengan baik. Aku lega." Rama tersenyum simpul. "Aku akan kembali ke kantor. Aku hanya menjalankan mandat dari Orang Tua Alfian."


"Terima kasih untuk kepercayaannya, Tuan." Desi sedikit membungkuk. "Emmm, Tuan tidak makan siang dulu? Yah meski lauknya sederhana karena Tuan Muda hanya makan bubur." Desi sedikit ragu menawari makan. Ia ingin berbasa basi, tapi tidak mungkin jika tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Rama terlihat senang, kebetulan ia pun belum makan siang. Dengan tidak hadirnya Alfian di kantor, otomatis ia yang mengambil alih semua pekerjaan kakak sepupunya itu.


"Iya, aku mau." Rama segera berpindah dari kursi di depan kitchen island ke meja makan.


Dengan cekatan Desi menyajikan makanan. Sayur capcay tanpa protein hewani dan kering tempe.


Rama menatap sejenak makanannya, air liurnya sudah menggenang. Meski sederhana, tapi aromanya cukup menggugah selera.


Rama memejamkan mata saat mengunyah suapan pertama. Rasa gurih, asam, pedas dan manis dari kering tempe membuat selera makannya bertambah.


Desi tersenyum geli melihat bagaimana Rama makan. Sedikit pun tidak mengangkat kepalanya untuk menoleh kesana kemari. Ia seperti takut akan ada yang mengambil makanannya jika ia teralihkan sedikit saja.


Menjelang malam, Alfian bangun. Ia melihat Desi sudah memindahkan sebuah sofa single dan tertidur sambil duduk di dekat Alfian.


Melihat wajah Desi yang tidur dengan damai, membuat Alfian terusik. Ia duduk dan diam beberapa saat. Rupanya rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah semakin jauh berkurang.


Alfian berdiri dan melakukan peregangan otot. Setelah itu ia mendekati Desi, mengamati setiap inci dari wajah gadis itu. Tanpa takut Desi berpaling menyembunyikan wajah.


Manis.


Alfian jadi punya hobi baru, yaitu memandangi wajah Desi yang manis. Alfian yakin ia tidak akan pernah merasa bosan memandangi wajah cantik dan manis seorang Desi.


Sepertinya Alfian tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia mengikuti nalurinya saja. Atau mungkin ia sadar, namun menolak untuk mengendalikan diri. Yang jelas, kini Alfian sudah membungkuk dan mendekatkan wajahnya.


Ia menghirup aroma tubuh Desi dalam-dalam. Meski tadi sudah memakai syal milik Desi yang aromanya sama, namun terasa berbeda saat bisa menghirupnya langsung dari tubuh Desi. Sensasinya lebih memabukkan.


Desi menggeliat, dan itu membuat Alfian terkejut hingga ia berjingkat mundur. Kondisi tubuhnya yang tidak prima membuat Alfian terhuyung dan jatuh terduduk.


"Aduh!"


Suara pekikan Alfian membuat Desi terperanjat dan membuka matanya.


"Tuan Muda." Kesadaran Desi kembali 100% hanya dalam sepersekian detik.


"Tuan Muda tidak apa-apa? Mana yang sakit?" Dengan panik Desi bersimpuh di depan Alfian dan memindai tubuh Tuan Muda.


"Tidak, tidak ada yang sakit." 


Desi mengernyit, ia melihat semburat merah di wajah Alfian.


"Tuan Muda panas lagi?" Tanyanya pada Alfian dengan dahi mengernyit.


"Aku? Tidak, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Alfian berusaha keras untuk tidak terlihat gugup.


"Itu, muka Tuan kelihatan merah. Saya kira Tuan panas tinggi lagi."


Alfian berdehem, sepertinya wajahnya memerah karena takut dan malu. Ia takut ketahuan sedang menikmati aroma tubuh Desi yang memabukkan bahkan mengamati wajah gadis itu.


"Desi, aku lapar." Ujarnya untuk mengalihkan perhatian, dan Desi tidak menyadari hal itu.


"Baik Tuan." Jawab Desi dan bergegas menuju dapur. Ia senang, karena Tuan Muda mau makan tanpa ditawari. Apalagi yang Alfian makan hanya bubur, pasti akan lebih cepat lapar.


Alfian menghabiskan seluruh bubur yang Desi sajikan. Ia tidak perlu dipaksa lagi karena mulutnya sudah tidak terlalu terasa pahit seperti sebelumnya.


Setelah makan dan minum obatnya, Alfian berdiri, ia ingin pindah ke kamarnya. Desi segera membuka pintu kamar dan berdiri di dinding samping pintu. Ia menanti Alfian yang berjalan dengan pelan.


Alfian merasa tubuhnya belum stabil. Mungkin efek dari sakitnya atau karena seharian hanya tidur. Beberapa kali ia terhuyung, dan Desi hanya menatapnya dengan cemas.


Sebenarnya Alfian perlu dipapah. Namun ia gengsi hendak meminta tolong pada Desi. Dan Desi terlalu takut untuk menawarkan bantuan.


Alfian sudah dekat, beberapa langkah dari pintu. Namun kakinya goyah, dan ia seperti akan ambruk.


"Ya ampun, Tuan!" Desi refleks memeluk Alfian dari depan karena tubuh Tuan Muda terlihat akan jatuh.


Alfian terkejut, dan kemudian menghela nafas lega. Ia sempat berpikir bahwa ia pasti akan mencium lantai. Beruntung Desi dengan sigap menahan tubuhnya.


Alfian menunduk menatap Desi. Gadis itu tidak menyandarkan kepalanya ke dada Alfian, ia hanya menunduk.


"Maaf, Tuan Muda." Ucapnya masih dengan menunduk sambil merenggangkan pelukannya.


Alfian menahan tangan Desi dengan lengannya dan menundukkan wajah. "Apa? Aku tidak dengar." Alfian tidak dapat mendengar apa yang Desi ucapkan karena posisi Desi yang masih menunduk hingga suaranya terdengar seperti dengungan.


Desi memiringkan kepala dan mengangkat wajahnya. "Maaf…."


Netra Desi melebar, tinggal sedikit lagi maka bibirnya bersentuhan dengan bibir Tuan Muda. Ia tidak tahu kalau Alfian sedang menunduk.


Hhhgggg


Desi terkesiap, ia menarik kepalanya ke belakang.


Alfian pun tidak menyangka akan berada sedekat itu dengan Desi. Ia berdehem kemudian melepaskan tangan gadis itu.


Suasana canggung sangat terasa. Desi begitu gugup, hingga tarikan nafasnya pendek-pendek dan memburu. Ia terus menunduk tak berani bergerak.


"Terima kasih sudah menolong." Ujar Alfian kemudian melangkah pelan menuju kamarnya.


Mendengar suara pintu ditutup di belakangnya, Desi cepat-cepat menuju kamarnya dan mengunci pintu. Ia bersandar di pintu sambil memegang dadanya.


"Mampus aku, besok pasti dipecat." Desi memukul-mukul kepalanya dengan pelan. "Haduh Desiiiiii, kok bisa sih kamu ceroboh kayak tadi." Ia merutuki dirinya sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2