
Alfian memasuki rumah orang tuanya dengan wajah yang kusut. Ia tahu, pagi ini ia dipanggil untuk disidang. Namun yang membuat kesal adalah saat di kantor Bunda lebih membela Desi ketimbang dirinya.
Alfian memasuki ruang tengah. Namun kakinya berhenti saat melihat sudah banyak orang disana. Fikram Sanjaya sekeluarga bersama dengan Maria.
"Alfian, duduk!" Suara Sultan mendominasi ruangan yang besar itu.
"Iya Ayah." Alfian mendekat dan duduk di tempat yang ditunjuk Sultan.
Setelah duduk, matanya bertatapan dengan Rama. Dan ingatannya saat mendengar Desi memekik kesakitan membuat Alfian kembali marah. Ia menatap adik sepupunya itu dengan wajah permusuhan.
"Fian, Bulek minta ceritakan apa yang kamu dengar di kamar Desi." Ucap Mita dengan tenang.
Alfian menarik nafas dalam sebelum berbicara.
"Fian mendengar Desi teriak ehmm!" Alfian berdehem menghilangkan rasa tak nyaman. " 'Ahh sakit'. Tidak lama kemudian kedengaran suara Rama tanya, 'sudah enak, kan?'. Begitu Bulek."
Rama, Nayra dan Maria kompak memukul dahi mereka.
"Mas Rama sih." Nayra memukul punggung Rama dengan kencang.
"Kok aku?" Rama memasang wajah tak bersalah.
"Siapa suruh Abang ikutan masuk." Maria menimpali.
"Kamu sih, ninggalin Abang."
"Cukup kalian bertiga." Mita menghentikan kasak kusuk diantara pemuda pemudi itu.
Sultan meraup wajahnya dengan kasar. "Jadi karena mendengar suara itu, kamu menuduh Desi dan Rama melakukan hal tidak senonoh?"
"Iya Ayah."
Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rama, giliran kamu."
"Iya Pak De." Rama menatap para orang tua satu per satu. "Kemarin, saya memang masuk ke dalam kamar Desi lewat jendela."
Pengakuan Rama membuat Mita melotot menatap Putra sulungnya itu.
"Tujuannya, saya mau ketemu pacar saya, Maria."
Maria melebarkan mata dan menatap Rama. "Abang." Ia tak terima Rama mengumumkan status mereka berdua.
"Apa??? Kalian pacaran???" Bukan saja melotot, kali ini Mita langsung berdiri setelah mendengar penuturan Rama. Sedangkan Rama menjengit dan menatap Mama Mita dengan wajah tak kalah terkejutnya.
"Mama." Fikram menarik tangan Mita hingga Sang Istri duduk kembali.
Rama mengusap dada, sepertinya setiap kalimat yang keluar dari mulutnya membuat kontroversi.
"Lanjutkan Nak." Pinta Sultan.
Rama menarik nafas dalam-dalam. "Jadi, setelah aku masuk, Desi cepat-cepat tutup jendela. Saat itulah ujung jarinya tertusuk kayu kecil." Rama menatap Alfian. "Yang Mas Fian dengar itu, Desi kesakitan karena jarinya tertusuk kayu. Bukan dibobol aku."
Bughhh!!!
"Aduh!" Rama mengusap wajahnya yang terasa sedikit nyeri dan panas.
Ucapan terakhir Rama berhadiah lemparan bantal sofa dari Mita dan Nayra.
"Apa sih?!" Rama menatap kesal pada Sang Adik.
__ADS_1
"Mulut kamu itu lho Mas." Nayra dengan gemas menunjuk-nunjuk bibir Rama.
"Ja ... jadi. Jadi ... jari Desi tertusuk kayu?" Tanya Alfian dengan suara tercekat. "Hanya ... hanya itu?"
Nayra mengangguk cepat. "Iya, Nay sama Mia lihat kok. Celah antara kuku sama dagingnya Desi berdarah."
Tubuh Alfian menjadi loyo, ia tak menyangka jika hanya hal sepele seperti itu. Dan ia sudah menuduh Desi yang macam-macam.
"Hanya karena Desi ketusuk kayu, kamu mau berhubungan dengan wanita murahan itu di kantor?!" Suara Rara terdengar sinis.
"Siapa?!" Rama, Nayra dan Mita bertanya di waktu yang sama.
"Sima." Rara masih menatap Putranya dengan tatapan mengejek.
"Ya ampun. Perempuan itu lagi." Rama menatap Alfian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alfian segera berdiri, hendak meninggalkan ruang tengah. "Kamu mau kemana?" Tanya Rara lagi.
"Memanggil Desi. Alfian mau minta maaf Bun."
"Desi sudah pergi."
Ucapan Rara membuat Alfian menghentikan langkah dan menatap Sang Bunda tak percaya.
"Apa?"
"Semalam Desi langsung pergi."
"Kemana Bun?"
"Nggak tahu. Pagi-pagi Bunda sudah baca surat dari Desi di atas kasurnya."
"Pak satpam lagi ke belakang buat kopi. Lihat saja di CCTV." Jawab Rara dengan enteng.
Mendengar saran Sang Bunda, Alfian segera pergi ke ruang kontrol keamanan dan memeriksa CCTV.
Selepas kepergian Aldian, Rara menatap adik iparnya dengan penuh arti.
Mita mengerti. "Sekalipun kami tahu, aku akan diam. Dan kalian juga tidak boleh buka mulut." Mita menunjuk Nayra dan Maria.
"Iya Tante."
"Iya Mama."
Sultan mengernyit. "Maksudnya apa Mita?"
"Sekalipun kami tahu dimana keberadaan Desi. Maaf, kami tidak akan memberi tahu Alfian Mas." Giliran Fikram yang menjawab. "Aku berhutang nyawa Mita pada Desi." Fikram merangkul pundak istrinya.
"Setuju." Rama menimpali ucapan Papanya.
"Maksudnya bagaimana?" Sultan benar-benar tidak mengerti.
"Waktu Mita sakit DBD di kota Y dan membutuhkan darah. Desi yang mendonor." Jawab Fikram lagi. "Selain sahabat Nayra, Desi dan juga Maria sudah kami anggap anak sendiri."
"Jadi kalian kenal Desi?" Sultan terlihat sangat terkejut.
"Iya Mas." Kini Mita yang menjawab.
"Kenapa kalian tidak mau memberi tahu dimana Desi jika kalian mengetahui posisinya sekarang?" Tanya Sultan lagi.
__ADS_1
"Kami sudah mendengar dari Nayra, bagaimana sikap cemburu Alfian yang berlebihan. Kasihan Desi, Mas. Dicintai tapi tidak dipercaya. Terus menerus dicurigai. Siapa yang bisa tahan diperlakukan seperti itu?" Jawab Mita.
Sultan mengerti, Alfian memang sudah keterlaluan.
Sultan menatap istrinya. "Bunda kok nggak kaget? Bunda juga tahu?" Sultan memicing.
"Kaget sih, tapi sedikit." Rara tersenyum kikuk.
"Sedikit bagaimana? Bagian yang mana?" Sultan kesal, ia satu-satunya orang yang tak tahu apa-apa di dalam ruangan ini.
"Bagian Desi adalah sahabat Nayra."
Kini Sultan menatap Nayra dan Maria. "Bagaimana kalian bisa menjadi sahabat?"
"Kami ... " Nayra menatap Mama Mita. Setelah mendapat persetujuan, Nayra melanjutkan kata-katanya. "Kami satu fakultas Pak De."
"Dan satu kost." Maria menambahkan.
"Desi mahasiswa?" Satu lagi fakta baru yang mengejutkan. Sultan terperangah. Namun kemudian ia menatap Rara yang sudah tegang.
"Bunda, berapa kali Ayah bilang. Jangan terima ART mahasiswa. Kasihan kan kuliahnya jadi terbengkalai."
"Kasihan Desi Yah." Rara memasang wajah mengiba, jurus andalannya jika ingin menenangkan emosi Sultan. "Dia kabur dari rumah, nggak bawa uang. Dia perlu uang untuk ujian akhir sama wisuda."
"Kabur? Kenapa Desi kabur?"
"Karena ... " Ucapan Rara terhenti saat melihat Alfian muncul.
"Ayah, Bunda. Ayo kita cari Desi." Pinta Alfian sambil duduk di tempatnya semula.
Mereka semua saling pandang. Meski kesal pada Alfian, mereka pun ingin mengetahui bagaimana keberadaan Desi.
Sultan menarik nafas dalam-dalam. "Ya, Ayah akan membantu."
Alfian tersenyum senang. "Terima kasih Ayah." Alfian lalu berdiri mendekati Rama. "Mas minta maaf Ram. Mas sudah menuduh kamu yang tidak-tidak."
Rama tersenyum kecut. "Lain kali dobrak saja pintunya Mas." Ucap Rama sambil berdiri.
Ucapan Rama seperti sindiran pedas bagi Alfian. Karena ia gegabah, hanya mempercayai telinganya tanpa mencari tahu kebenarannya. Namun Alfian tidak tersinggung sama sekali.
"Iya Ram. Kamu benar. Sekali lagi, Mas minta maaf."
Rama menerima uluran tangan Alfian, keduanya lantas berpelukan. "Iya Mas. Rama ngerti." Rama mengurai pelukan mereka. "Aku nggak akan menyakiti Maria dengan bertingkah seperti playboy."
Maria memijat pelipisnya setelah mendengarkan ucapan Rama.
"Kamu yakin bisa menghadapi Tuan Daniel Kaize, Ram?" Fikram tersenyum geli.
"Apa?!" Rama dan Alfian menatap Maria.
"Iya, Mariana kan keponakan Pak Deni." Mita menimpali.
Rama segera menatap Alfian dengan mata memohon. "Mas, percepat proyeknya sama Pak Deni ya. Terus aku yang tangani proyek itu."
Alfian melengos dan kembali ke tempat duduknya. "Bantu cari Desi dulu."
"Itu ... " Rama menatap Maria. Dan gadis itu tengah menatap tajam padanya.
Rama kembali duduk dengan tubuh lunglai. "Desi...Desi...kamu pergi membawa restuku juga. Bagaimana bisa dekat sama Pak Deni?" Rama mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
...****************...