Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 27


__ADS_3

BRAKKK!!!!!


Santi dan Wiji menjengit saat meja di depan mereka di gebrak dengan sangat kuat oleh seorang pria tua. Postur tubuhnya pendek dengan perut membuncit melebihi dada. Kulit wajahnya berminyak, sama seperti rambutnya. Dan ia memelihara kumis yang tebal hingga menutupi sebagian bibir atasnya.


"Masa kalian tidak bisa menemukan dimana Desi? Apa susahnya pergi ke kota Y dan datangi kampusnya."


Pria tersebut meluapkan emosinya hingga perutnya ikut bergoyang saat ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah orang tua Desi.


"Ma...maaf Juragan. Ka...kami benar-benar sudah berusaha mencari kesana. Teman-temannya bilang Desi belum pulang liburan." Jawab Santi sambil berpegangan erat pada Wiji, suaminya.


"Halahhh!!! Bilang saja kalau kalian tidak ingin menepati janji." Hardik Juragan Topa.


"Tidak Gan. Kami tidak berani." Sahut Wiji lagi. "Kami pasti akan membawa Desi ke rumah Juragan."


Ucapan Wiji disambut anggukan kepala Santi sebagai tanda persetujuan.


"Bagus. Karena kalau kalian tidak membawanya, maka kubur saja impian kalian untuk menjadi orang kaya. Bahkan kalian harus mengembalikan semua uang yang sudah kuberikan kepada kalian. BESERTA BUNGANYA!!!" Ujar Juragan Topa penuh penekanan kemudian berdiri.


Di luar rumah, Bagas berdiri merapatkan tubuhnya di dinding yang lebih condong keluar sebagai pembatas teras. Dari posisinya, Bagas bisa mendengar semua percakapan dari ruang tamu. Namun orang di dalam tidak akan bisa melihatnya.


Ketika Bagas sedikit mengintip, tampak Juragan Topa sedang bersiap-siap untuk pulang. Bagas cepat-cepat mengendap-endap menuju halaman dan berjalan seakan baru saja pulang ke rumah.


"Selamat malam Juragan." Sapa Bagas.


Juragan Topa menatap Bagas dengan tajam. "Kamu jangan bermimpi bisa bersaing denganku."


Bagas mengernyitkan dahi, berpura-pura tidak mengerti.


"Maksud Juragan, apa ya?"


Juragan topa mengibaskan tangannya dengan kesal. "Halahhh! Sudah! Minggir kamu!" Ia mendorong Bagas agar menyingkir dari jalannya.


Bagas diam-diam menyeringai. "Hati-hati di jalan ya Gan." Ucap pemuda ini sambil melambaikan tangan.


Ketika ia berbalik hendak masuk ke rumah. Santi dan Wiji sudah menatapnya dengan kesal.


"Selamat malam Pak, Bu." Sapa Bagas.


"Kamu lihat! Gara-gara ulah kamu, Juragan marah-marah sama Bapak dan Ibu kamu."


Bagas memasang wajah bingung. "Kok aku sih Pak. Memangnya apa yang sudah aku buat?"


"Kamu membuat Desi lari!" Jawab Santi dengan penuh emosi.


"Kan Desi yang menggoda Bagas. Kok malah Bagas yang disalahkan sih Bu. Lagian, apa hubungannya kepergian Desi sama Juragan Topa yang marah-marah?"


Wiji dan Santi terdiam. Tidak dapat menjawab pertanyaan Bagas.


"Aaakkhhh!!!" Pekik Santi sambil mengepalkan kedua tangannya dan masuk ke dalam rumah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Wiji mengikuti Sang istri masuk ke dalam rumah meninggalkan Bagas yang masih tetap berdiri di tempatnya.


🤷🤷🤷


Desi membersihkan peralatan makan yang digunakan Alfian. Dan Membiarkan Tuan Muda terus menerus menatapnya dari tempat ia duduk.


Sebenarnya Desi merasa tidak nyaman, namun ia bingung bagaimana harus mengatakannya. Karena tidak terlalu fokus, mangkuk kaca yang ia pegang hampir saja terlepas.

__ADS_1


"Hati-hati!" Seru Alfian sambil menangkap mangkuk.


"Hhhhggg!" Desi terkesiap. Ia terkejut, bukan saja karena mangkuk yang hampir jatuh. Namun juga karena Alfian yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


"Mikirin apa sih, hmm?" Tanya Alfian dengan lembut sambil meletakkan mangkuk di rak pengering.


Bagaimana Desi menjawabnya? Jika ia menjawab memikirkan Tuan Muda yang terus melihatnya, maka Tuan Muda akan berpikir yang tidak-tidak tentang Desi. Tapi kalau ia menjawab dengan berbohong, apa kebohongan yang akan ia katakan?


Dahi Desi berkerut-kerut, matanya kadang memicing, kadang melebar. Membuat Alfian tersenyum geli dan menjentikkan telunjuknya ke kening Desi.


"Aduh!" Desi memegang dahinya.


"Kamu lagi nyari alasan ya." Tebak Alfian.


"Eh, it..itu.."


Alfian semakin gemas dan menarik hidung Desi. "Kamu lagi mikirin aku kan."


"Hah! Ti...tidak Tuan. Saya tidak berani." Jawab Desi jujur. Karena konteks 'memikirkan' yang Alfian ucapkan berbeda dengan kenyataannya. Desi segera mengeringkan tangannya dengan kain yang tergantung di depannya.


"Benarkah?"


Desi mengangguk-angguk dengan semangat. "Beneran Tuan. Suer ta kewer-kewer." Tangan kanan Desi membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Matanya terlihat bersungguh-sungguh.


Alfian tertawa lepas, dengan gemas ia mengacak-acak rambut Desi.


"Tuan." Desi kesal dan kembali merapikan rambutnya.


Alfian tertawa, begitu rambut Desi rapi, ia segera mengacak-acaknya kembali.


Akhirnya Desi mulai ikut tertawa dengan kedua tangan yang terus mengejar tangan Alfian. Setiap ada kesempatan, Alfian menarik pelan pangkal rambut Desi. Dan jika Desi berhasil menangkap tangan Alfian, maka Desi akan melayangkan cubitan.


"Oh, kamu berani cubit aku?" Tanya Alfian diiringi tawa.


"Salah sendiri Tuan cari gara-gara." Jawab Desi sambil terkekeh.


Tangan keduanya kembali berperang. Gelak tawa terdengar memenuhi area dapur. Hingga akhirnya pertahanan Desi terbuka. Tangan Alfian dengan cepat terulur dan menarik hidung Desi sedikit lebih kuat. Hingga tubuh Desi pun mendekat pada Alfian.


"Aduhhh!" Desi memegang hidungnya yang terasa agak nyeri setelah Alfian menarik tangannya.


"Sakit." Rengek Desi sambil memukul dada bidang Alfian. Sepertinya ia tidak sadar ketika melakukannya.


Alfian tertawa, ia menarik Desi ke dalam pelukannya. "Habis kamu menggemaskan."


"Ya nggak gitu juga." Sekali lagi Desi memukul dada Alfian. Desi menggerutu dengan bibir mengerucut.


Alfian tertawa, ia mengusap kepala Desi dan mengecupnya. "Iya deh, maaf."


Alfian merenggangkan pelukannya. Ia mengamati hidung Desi yang terlihat memerah. Tangannya terulur menyentuh cuping hidung gadis ini.


"Masih sakit?" Tanyanya dengan lembut.


"Sedikit."


Alfian semakin mendekat dan mengecup cuping hidung Desi. "Maaf ya." Tangan kanannya mengusap pipi Desi dengan penuh kelembutan. Matanya menatap dalam, menggambarkan ia sedang bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Pipi Desi merona, ia tersadar jika posisi mereka begitu intim. Desi memalingkan wajahnya karena malu. Ia bahkan memegang tangan Alfian yang melingkar di pinggangnya, mencoba melepaskan tangan kekar itu. Usahanya sia-sia, karena Alfian tidak berniat melepaskan Desi.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu."


Suara Alfian yang berat dan dalam memaksa Desi mengangkat wajah dan menatap Alfian.


"Tuan."


"Aku tidak ingin mendengar kamu memanggilku Tuan Muda."


"Lalu?"


"Sebut namaku."


Desi menggeleng pelan. "Tidak Tuan."


Alfian mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Desi dan menahannya sejenak.


"Aku akan menciummu setiap kali kamu memanggilku seperti itu."


"Tapi Tu...eh."


Alfian kembali mendekatkan wajahnya, dengan cepat Desi menutup bibir Alfian.


"Kan nggak selesai ngomongnya." Protes Desi ketika Alfian hendak kembali mengecup bibirnya.


Alfian tersenyum. "Kalau begitu, panggil namaku."


Desi kesal. "Apa salah saya sampai Tuan tega menjebak saya seperti ini?"


Dahi Alfian berkerut. "Menjebak bagaimana?" Ia tidak mengerti dengan ucapan Desi.


"Iya, menjebak. Tuan sengaja menggoda saya. Setelah saya baper, menanggapi Tuan. Tuan akan memecat saya dengan alasan saya menggoda Tuan."


Raut wajah Alfian berubah. Ia melepaskan pelukannya.


"Kamu pikir, aku sepicik itu?"


Desi mengerjap, tatapan Alfian memancarkan kekecewaan.


"Kamu berpikir aku bermain-main, apa sikapku ke kamu menunjukkan kalau aku sedang bercanda denganmu?"


Desi mengangguk sebagai jawabannya. Kini kedua tangannya saling bertaut melihat emosi Alfian yang mulai naik.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?!"


"Lalu saya harus berpikir bagaimana, Tuan? Tidak mungkin saya berpikir Tuan mempunyai maksud lain. Meski jujur saja, saya juga baper. Tapi saya selalu mengatakan kepada diri saya sendiri. Tidak mungkin......"


"Tidak ada yang tidak mungkin, Desi." Tukas Alfian. "Apapun bisa terjadi."


Alfian menunduk dan membalikkan tubuhnya.


"Aaarrgghhh!!!" Alfian meninju udara untuk melampiaskan kekecewaannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2