
Alfian dan Desi duduk berdua di sebuah kursi ayunan yang menghadap ke kolam ikan. Keduanya sama-sama terdiam.
Beberapa menit sebelumnya, Alfian berhasil membujuk Desi untuk keluar dari kamar. Itu pun setelah mengetuk pintu kamar selama beberapa menit. Desi keluar karena sudah kesal dengan ketukan Alfian.
"Jika tidak ada yang dibicarakan, saya mau masuk." Ujar Desi seraya beranjak.
Alfian dengan cepat memegang tangan Desi. Mau tak mau Desi kembali duduk. Namun segera ia menarik tangannya dari genggaman Alfian.
Alfian menatap Desi yang terus menunduk. Dengan mudah pemuda ini dapat menemukan jejak air mata di pipi Desi. Matanya pun sedikit bengkak karena menangis.
"Maaf." Ucap Alfian lirih. "Aku terbawa emosi."
Desi menghela nafas dengan kasar. "Aku ... belum bisa memaafkan." Desi berkata jujur. Ia masih kecewa karena kata-kata yang diucapkan Alfian. Desi terluka, pemuda yang ia cintai dengan mudahnya mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu.
Hanya tertawa, itu pun tidak sampai terbahak-bahak. Dan sedikit senyum. Apakah salah jika Desi bereaksi seperti itu pada lawan bicara? Lagi pula mereka berbicara di tempat terbuka. Beberapa pekerja kadang lewat dan nimbrung dalam percakapan mereka. Tangan pun tetap terjaga, diam pada tempatnya. Tidak sekali pun Bobi menyentuhnya atau sebaliknya Desi yang menyentuh saat mereka bercanda.
Tapi dengan mudahnya Alfian menuduh yang tidak-tidak. Hati Desi teriris. Begitu tipis kepercayaan Alfian padanya. Air mata Desi kembali menggenang. Tapi ia tidak ingin menangis di depan Alfian.
"Permisi." Dengan cepat Desi berdiri dan berjalan kembali ke kamar. Tanpa sempat Alfian cegah.
"Honey." Alfian mencoba mengejar. Namun langkahnya terhenti saat melihat Rara.
"Dia belum mau memaafkan." Ucap Alfian tanpa ditanya.
Rara tersenyum lembut, ia mendekati putranya. "Ayo, makan dulu." Rara menarik tangan Alfian untuk mengikutinya ke meja makan.
"Aku harus bagaimana Bun?" Tanya Alfian seraya mengeratkan tangannya yang menggenggam tangan Rara.
"Beri Desi waktu. Kalimatmu terlalu menyakitkan untuknya. Bunda saja ikut merasakan sakitnya, apalagi Desi." Sahut Rara dengan tenang, tangannya yang bebas mengusap lengan Alfian.
Tanpa berkata apapun lagi Alfian mengikuti Rara yang membawanya ke ruang makan. Disana Sultan sudah menunggu untuk makan bersama. Meski tidak merasa lapar, Alfian memaksakan diri untuk makan. Ia tidak ingin mendengar ceramah lagi.
Beberapa kali Alfian menoleh ke belakang, berharap Desi akan datang dan makan bersama dengan mereka. Rara pun mengetahui apa yang dipikirkan Alfian, namun ia memilih melanjutkan makannya tanpa berkomentar. Karena ia akan membujuk Desi saat Alfian sudah pulang. Rara mengerti, saat ini Desi pasti enggan untuk bertemu. Karena jika ia di posisi Desi, Rara pun akan melakukan hal yang sama.
πππ
Desi menatap layar ponselnya. Sejak semalam ia tidak mengaktifkan benda tersebut. Dan saat ini pun ia merasa enggan. Desi meletakkan kembali benda pipih tersebut di nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
Kepala Desi terasa berat, mungkin karena ia banyak menangis. Ia menatap wajahnya di cermin wastafel. Desi bersyukur matanya tidak terlalu bengkak.
Sekali lagi Desi membasuh wajahnya dengan air. Kemudian ia melihat pantulan wajahnya yang masih penuh dengan titik-titik air.
"Rasanya masih sakit." Gumam Desi pada dirinya sendiri. "Mas Al keterlaluan." Desi menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
Desi segera keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Namun sebelum mencapai dapur, ia telah dihadang oleh Bik Ira yang menyunggingkan senyum lega.
__ADS_1
"Selamat pagi Bik." Sapa Desi.
"Selamat pagi. Bibi baru saja mau ke kamar kamu."
"Kenapa?"
"Tadi Nyonya bilang, hari ini mau pergi piknik. Jadi minta dibuatkan cemilan. Kan kamu tahu sendiri, di rumah ini tidak ada yang pembantu yang bisa buat kue. Jadi ... kamu mau kan, buat kue pagi ini?" Wajah Bik Ira penuh harap.
Desi mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, mau." Sudah cukup lama ia tidak membuat kue. Jadi begitu mendapat tawaran ia tidak mungkin untuk menolak.
Desi membaca beberapa daftar makanan yang diinginkan Rara. Kemudian dengan cekatan menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Bik Ira memerintahkan dua orang ART bagian dapur untuk membantu Desi. Karena majikan akan pergi keluar, maka pekerjaan di dapur berkurang sebab mereka tidak perlu masak untuk makan siang.
Nyonya Rara datang dengan membawa sekeranjang buah-buahan. Rupanya ia pergi ke pasar pagi untuk berbelanja. Wajahnya terlihat ceria saat tiba.
Desi sempat melirik ke arah jam dinding. Hari masih terlalu pagi dan Nyonya Rara baru datang. Mungkin ia sudah keluar sejak subuh. Pikir Desi.
"Wah, Desi. Kamu sudah mulai rupanya."
"Selamat pagi. Iya Tante." Jawab Desi dengan tangan yang masih terus mengaduk adonan.
Rara tersenyum puas. Ia pergi meninggalkan area dapur untuk bersiap-siap. Hari ini adalah akhir pekan, dan Rara ingin bertamasya bersama keluarganya.
πΈπΈπΈ
Desi mematut diri di depan cermin. Pagi ini ia memakai long floral dress berwarna dasar baby pink dengan motif bunga ukuran besar yang juga berwarna pink namun lebih gelap. Ia menyanggul asal-asalan semua rambutnya ke atas. Sebagai alas kaki, Desi menggunakan gladiator sandals berwarna putih.
Rara mengajak Desi turut serta dalam piknik hari ini. Katanya mereka akan ke pantai dan Rara ingin Desi membawa baju ganti.
Begitu tiba di taman belakang rumah, Desi disambut dengan tatapan terpesona dari Bik Ira juga Pak Jaya.
"Neng Desi cantik banget." Puji Bik Ira.
"Bibi bisa saja." Sahut Desi tersipu.
"Beneran lho Neng." Pak Jaya menambahi. "Sini Neng, tasnya. Biar Bapak atur."
"Terima kasih Pak." Ujar Desi sambil menyerahkan tasnya.
"Sudah siap?" Terdengar suara Rara dari belakang.
"Iya Tante."
Rara menatap Desi dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai membuat Desi salah tingkah. Rara mengangguk-angguk dan tersenyum puas.
"Cantik. Iya kan Yah."
__ADS_1
Sultan tersenyum simpul. "Iya, tapi masih lebih cantik Bunda."
Rara mencubit pinggang Sultan begitu mendengar pujian itu. Desi tertawa pelan melihat keromantisan pasangan tersebut.
Pasangan tersebut segera naik ke golf buggy car yang sudah siap. Desi menyusul dengan duduk di samping Pak Jaya. Sebenarnya Buggy Car tersebut mempunyai lima tempat duduk khusus penumpang. Satu di samping pengemudi, dan dua pasang lainnya di belakang. Serta tambahan sebuah kursi panjang menghadap ke belakang yang bisa digunakan untuk meletakkan barang.
Pak Jaya mengendarai mobil elektrik itu menuju ke pekarangan belakang. Area yang tidak diketahui oleh Desi. Meski bingung, Desi memilih untuk tidak bertanya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lapangan kecil dengan sebuah helikopter yang sudah siap untuk terbang. Pak Jaya, dibantu seorang pekerja lain segera membawa barang-barang ke atas heli. Setelah semua sudah siap, barulah Sultan, Rara dan Desi naik.
Desi berdebar, ini pertama kalinya ia naik helikopter. Sebuah pengalaman yang menyenangkan. Desi yakin, helikopter yang mereka naiki pasti bukan heli sewaan. Sebab pada salah satu sisi terdapat logo berbentuk huruf A.
"Tidak takut ketinggian, kan?" Tanya Rara sesaat sebelum heli mengudara.
Desi menggeleng sambil tersenyum. "Tidak Tante."
Heli mengudara, memberikan pemandangan indah bagi semua yang ada di dalamnya. Desi terpukau. Ia tak henti-hentinya tersenyum dan berdecak kagum. Ia menikmati penerbangan ini, melihat kota J dari udara.
Tak sampai satu jam, mereka tiba dan mendarat di sebuah helipad yang berada di tepi laut. Helipad tersebut terletak di sebuah resort.
Begitu turun, mereka disambut dengan beberapa orang. Dari seragam yang dikenakan, Desi bisa menebak mereka adalah pegawai resort.
"Yacht sudah siap, Tuan." Ujar seorang pria yang mengenakan setelan jas serba hitam dengan sebuah pin khusus di dada kiri.
"Baiklah. Terima kasih."
Ketiganya berjalan menuju dermaga yang tak jauh dari pendaratan heli. Untuk barang bawaan, ada pegawai resort yang membawa.
"Tante, sebenarnya kita mau kemana?" Akhirnya Desi bertanya juga.
Rara tersenyum, ia pikir Desi tidak terlalu penasaran karena gadis itu tidak bertanya sama sekali selama di atas heli.
"Kita akan berlayar, tidak jauh kok. Kamu tidak mabuk laut, kan?"
"Tidak Tante." Desi sudah pernah naik kapal sebelumnya. Jadi, berlayar bukanlah hal baru.
Yang baru adalah jenis kapal yang dinaiki.
Desi tersenyum, selama ini ia hanya bisa melihat yacht dari gambar, video atau film di televisi dan media elektronik lain. Kali ini ia akan naik ke kapal pesiar tersebut. Dada Desi bergemuruh karena senang.
Desi menaiki tangga dengan mata yang menatap kagum ke seluruh badan kapal. Hingga ia tidak terlalu fokus ke depan. Sesampainya diujung tangga, sebuah tangan terulur padanya untuk membantunya naik ke dek.
Desi segera mengulurkan tangannya, merasa lega ada yang membantu sebab ia sedikit repot saat satu tangannya harus menarik sedikit dress yang ia gunakan.
"Terima ka ... sih." Ucapan Desi terjeda begitu ia berhasil naik ke dek dan melihat siapa yang menolongnya.
__ADS_1
...****************...