
Alfian memijat pelipisnya sejenak untuk mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya. Penampilannya yang biasa terlihat sempurna kini berantakan. Bahkan wajahnya terlihat kusam dengan bulu-bulu halus yang dibiarkan tumbuh begitu saja.
Sudah dua minggu sejak Desi pergi. Hingga saat ini Alfian tidak bisa menemukan sedikit pun informasi tentang gadis itu. Agar tak terus menerus tenggelam dalam kesedihan dan rasa bersalah, Alfian menyibukkan diri dengan pekerjaan. Atas permintaan Rara, ia pun bersedia untuk tinggal di rumah utama.
"Masuk!" Titah Alfian setelah mendengar suara ketukan di pintu. Sosok Dwi masuk sambil membawa beberapa map.
"Selamat sore, Pak."
"Sore. Silahkan duduk."
Dwi melangkah dengan cepat dan duduk ditempat yang dimaksud Alfian.
"Ada apa?"
"Saya membawa laporan keuangan dari kantor cabang kota S." Dwi menyerahkan map yang ia bawa. "Dan mengenai Nona Muda… " Dwi sedikit ragu.
Alfian meletakkan pena yang ia pegang dan menyiapkan diri menerima kabar dari Dwi.
"Katakan."
Dwi menarik nafas dalam-dalam sebelum memberikan informasi.
"Kami sudah menemukan sopir taksi online yang dipesan Nona Muda. Ternyata ia hanya mengantar Nona sampai di dekat stasiun. Disana sudah ada mobil lain yang menunggu."
"Mobil lain?" Kening Alfian bertaut.
"Iya Pak. Kami memeriksa CCTV dan menemukan info kalau itu adalah taksi online lainnya." Dwi menahan nafas saat melihat wajah Alfian semakin kusut. "Taksi itu berhenti di bawah jembatan layang yang kamera pengawas jalannya sudah rusak. Sopir itu bisa memastikan kalau ada mobil yang sudah menunggu. Namun ia tidak bisa ingat plat nomor kendaraan itu." Imbuh Dwi sambil menyerahkan sebuah kertas.
Alfian menarik nafas dalam-dalam. Awalnya mereka menemukan jalan buntu karena mobil yang terlihat di CCTV gerbang ternyata mobil sewaan. Dan pemilik mobil bahkan tidak tahu kalau ada unit yang disewa karena sedang bermasalah.
Kini, saat si penyewa sudah ditemukan, mereka kembali menemui jalan buntu. Desi benar-benar tidak ingin ditemukan.
Alfian membaca kertas dari Dwi. Dari alamat-alamat tempat para supir menurunkan Desi, terlihat kalau gadis itu hanya berputar-putar dalam satu kawasan besar sambil menghindar CCTV di jalanan. Jadi saat mobil berikut yang ia naiki tidak terlacak, tujuan terakhirnya pun tidak akan terlacak.
__ADS_1
Alfian berdiri sambil menggerakkan tangan. Dan Dwi pun segera berdiri meninggalkan ruangan.
Dengan gontai, Alfian berjalan mendekati jendela. Satu tangannya terulur mencengkram dada. Tiba-tiba ia merasa begitu sesak. Alfian dipenuhi rasa bersalah dan kecewa pada diri sendiri. Setipis itu kepercayaannya pada Desi. Gadis mana yang bisa bertahan jika tidak bisa dipercaya. Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan.
💔💔💔
Rara menatap iba pada Alfian yang baru saja memasuki rumah. Namun dahinya dipenuhi kerutan ketika melihat wajah Alfian yang begitu pucat. Ia berjalan cepat menghampiri Sang Putra.
"Fian." Naluri keibuan menuntun Rara untuk meletakkan tangan di dahi Alfian. "Astaga!!!" Rara menarik tangan dengan cepat. "Badan kamu panas sekali."
Sultan yang mendengar pekikan Sang Istri, buru-buru menghampiri.
"Ayah, badan Fian panas sekali."
Sultan bergegas menghampiri dan membantu Alfian berjalan masuk ke dalam kamar yang ditempati Desi sebelumnya.
Ya, Alfian bersedia pulang asalkan ia diizinkan menempati kamar Desi. Tentu saja Rara dan Sultan tidak keberatan. Asalkan Alfian bersedia pulang agar mereka lebih mudah mengawasi putra mereka yang sedang patah hati itu.
"Mana yang sakit?" Tanya Rara dengan cemas.
Alfian yang menatap kosong ke arah lain perlahan memusatkan perhatiannya pada Sang Bunda.
"Bun."
"Iya sayang."
"Aku butuh dokter."
Rara mengangguk cepat. "Iya sayang, Ayah sedang menelepon Dokter Haryadi." Ucap Rara sambil melirik Sultan yang tengah berbicara dengan Dokter di depan pintu kamar.
Alfian menggeleng. "Bukan Bun."
"Kamu mau ganti Dokter?"
__ADS_1
Alfian mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu mau Dokter siapa?" Tanya Sultan sambil melangkah masuk.
"Dokter jiwa. Fian sakit jiwa Ayah, Bunda."
Jawaban Alfian membuat Rara dan Sultan terhenyak.
Setelah menjawab seperti itu, Alfian membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit-langit dengan tatapan hampa.
"Fi … Fian … " Air mata mulai bergulir satu per satu di pipi Rara. Dan menjadi deras dengan cepat.
"Mental Fian yang sakit Bun. Ayah, bisa tolong bawa Fian ke Rumah Sakit Jiwa?"
Sultan menatap Alfian sejenak. Ia sadar, yang dialami Alfian adalah imbas dari trauma masa kecil yang tidak benar-benar sembuh. Mereka menyangka Alfian sudah baik-baik saja. Ternyata Alfian memiliki krisis kepercayaan yang sangat parah. Hal ini tidak terdeteksi karena sebelum bertemu Desi, Alfian tidak pernah menjalani sebuah hubungan yang serius.
"Ya, setelah demam kamu turun." Ucap Sultan pada akhirnya.
"Ayah … " Lirih Rara sambil menatap Sultan dengan air mata yang berderai.
Sultan menarik Rara masuk ke dalam pelukannya. "Jangan menangis. Alfian butuh kita." Ujar Sultan seraya mengusap punggung Sang Istri.
💔💔💔
Desi meletakkan telepon pintar miliknya di nakas. Dan beberapa saat kemudian, air matanya kembali mengalir.
Di sela-sela persiapannya menghadapi ujian akhir, Desi masih sering menangis. Bayangan Alfian bercumbu dengan wanita lain membuat hatinya yang terluka semakin hancur.
Desi tahu, tidak selamanya ia akan berada di dalam kondisi itu. Namun ia juga tak kuasa mengendalikan perasaannya.
Dengan kasar Desi mengusap air matanya. Ia kemudian berdiri mengambil laptop dan menyalakan benda tersebut untuk kembali belajar. Hanya dengan cara itu ia bisa melupakan sejenak patah hatinya.
...****************...
__ADS_1