
Alfian mengerjap, rasa sakit yang mendera kepalanya sudah jauh berkurang. Badannya pun sudah tidak sepanas tadi. Ia menggeliat dan kemudian duduk. Keningnya mengernyit menyadari dimana ia berada.
Aku tertidur di sofa dari tadi malam?
Ia menatap jam dinding di atas televisi, sudah pukul 11 siang. Tiba-tiba perutnya mulai berbunyi, minta segera diisi. Saat pandangannya beralih ke perut, ia semakin terkejut karena bajunya sudah diganti.
Alfian berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Tadi pagi ia memang beberapa kali terbangun, namun tidak sepenuhnya sadar. Hingga berpikir kalau yang terjadi hanyalah mimpi.
Setelah beberapa lama Alfian mulai ingat, bagaimana Desi merawatnya. Hingga kemudian Dokter Haryadi datang.
Berarti Om yang mengganti bajuku.
Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa, mungkinkah ia ingin jika Desi yang mengganti bajunya?
Tidak, tidak. Desi bukanlah tipe perempuan yang ingin Alfian kencani. Ralat, bukan kencan, tapi dipermainkan.
Menjalin hubungan serius tidak ada di dalam kamus Alfian. Meski umurnya mendekati kepala tiga, Alfian belum berubah pikiran. Lalu? Kenapa harus ada perasaan kecewa yang menyusup. Apakah mungkin ia penasaran dengan Desi? Hingga berharap gadis itu akan nekat melewati batasannya. Karena beberapa pelayan perempuan yang dipekerjakan sebelum Desi melakukan hal tersebut.
Apakah Desi berbeda dengan mereka?
Alfian menggeleng dan tersenyum kecut. Tidak, perempuan semua sama kecuali perempuan di keluargaku.
Mungkin karena ini baru beberapa hari. Jika sudah sedikit lebih lama, sepertinya Desi akan mulai beraksi. Katakanlah Alfian sedang eror karena sakit. Sebab di dalam lubuk hatinya timbul keinginan untuk digoda oleh Desi, seperti perbuatan pendahulu Desi hingga mereka semua dipecat.
Alfian tersenyum jahil. Kita lihat, sejauh mana kamu bertahan untuk tidak menggodaku. Aku akan membuktikan sekali lagi, kalau kamu sama saja seperti yang lainnya.
Alfian mengusap wajahnya dengan tangan. Namun kemudian ia menghentikan pergerakannya saat indra penciumannya menghirup sesuatu yang asing. Alfian kembali mengendusi lengannya.
Aroma melati yang lembut memenuhi rongga hidungnya. Alfian kembali menarik nafas dalam-dalam, menikmati bau yang tiba-tiba membuatnya tenang.
Hanya Om Har yang menyentuhku, dan juga Desi. Apa mungkin ini aroma dari tangan Desi? Harum sekali.
Alfian mengernyit. Pelayan perawatan juga? Tapi, tidak mungkin ini aroma Om Har. Masa iya laki-laki pakai aroma yang feminim dan seksi begini. Pasti ini aroma parfum atau perawatan tubuhnya Desi.
Saat Alfian sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri, Desi muncul dan berdiri sedikit jauh tanpa Alfian sadari. Desi melihat bagaimana wajah Alfian berubah-ubah layaknya orang yang memikirkan sesuatu.
"Tuan Muda." Panggil Desi dengan pelan.
"Ya ampun!" Alfian tersentak dan memegangi dadanya.
Respon Alfian membuat Desi pun ikut berjingkat dan mundur satu langkah.
"Kenapa membuatku kaget? Kalau panggil biasa saja nadanya." Protes Alfian.
Desi mengerjap bingung. "Tapi Tuan, saya sudah memanggil dengan suara pelan."
"Kalau pelan tidak mungkin aku sekaget ini." Alfian tidak ingin disalahkan. Desi mengangkat sebelah alisnya melihat bagaimana Alfian tidak ingin dibantah. Akhirnya ia menunduk dan menarik nafas dengan pelan.
"Maaf Tuan." Ucap Desi dengan pelan. Ia mengalah, demi kesejahteraan bersama.
Hhhhhhh
Terdengar Alfian menghela nafas. "Ada apa?" Tanyanya pada Desi.
"Makan siang sudah siap Tuan, apakah anda ingin makan sekarang?"
__ADS_1
"Ya, bawakan sekarang."
Desi segera berbalik menuju dapur. Namun suara Alfian membuatnya berhenti melangkah.
"Tapi sedikit saja." Alfian menambahkan.
"Baik Tuan."
Beberapa menit kemudian Desi datang membawa nampan kayu berkaki yang berisi semangkuk bubur dilengkapi dengan air putih hangat dan sepiring kecil buah anggur. Setelah memastikan pijakannya aman, Desi meletakkan nampan tersebut di samping Alfian.
Desi tidak langsung pergi, ia berdiri tidak jauh dari Alfian. Menunggu untuk perintah selanjutnya.
Alfian menatap bubur putih yang sepertinya berisi potongan wortel. Ia kembali teringat tadi pagi Desi menyuapinya. Hal yang semula ia kira hanya mimpi.
Alfian menarik nafas, sebenarnya ia enggan untuk makan. Mulutnya terasa pahit, ia kehilangan selera makan. Tapi perutnya juga sudah meronta minta diisi.
Perlahan ia menyuapi bubur ke dalam mulutnya. Rasa hangat dan tekstur bubur yang lembut membuatnya nyaman. Dan meskipun wortelnya dipotong dadu, ternyata mudah sekali hancur hanya dengan menekannya ke langit-langit mulut menggunakan lidah.
Enak.
Alfian suka dengan bubur buatan Desi. Kaldu ayam yang gurih membuat bubur itu semakin nikmat. Alfian mengaduk-aduk mangkuknya. Ia mengernyit karena tidak menemukan potongan daging disana.
"Aku bisa merasakan kaldu ayam, tapi kenapa tidak kelihatan dagingnya?"
Desi mengangkat kepala. "Saya merebus bubur hanya menggunakan kaldu ayam, Tuan. Tanpa dagingnya."
"Beli?"
"Tidak Tuan, saya merebusnya sendiri." Jawab Desi lagi kemudian menunduk.
"Aku tidak bisa menghabiskannya."
Desi mendekat dan melongok ke dalam mangkuk. Isinya masih cukup banyak. Dengan tangan yang bertaut erat Desi memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf Tuan, kalau tidak habis nanti tubuh Tuan akan semakin lemah. Kemudian Tuan akan lebih lama di rumah sehingga tidak bisa bekerja." Suara Desi terdengar sedikit bergetar karena ia gugup. "Jadi, bisakah Tuan Muda menghabiskan makanannya?"
Alfian menatap Desi dengan tidak suka. "Apa pedulimu jika aku tidak bisa pergi bekerja?"
Dia mulai berlagak perhatian. Ternyata tidak perlu waktu lama untuk dia mulai menggodaku.
Desi menatap Alfian sejenak kemudian kembali menurunkan pandangannya. "Kalau Tuan tidak bekerja, gaji saya bagaimana, Tuan?"
Gubrakkkk
Alfian mengerang di dalam hatinya. Ternyata Desi hanya memikirkan nasibnya. Bukan menggoda dan berpura-pura perhatian.
Alfian sewot. "Aku akan pinjam uang Bunda."
"Malu Tuan. Sudah kerja kok pinjam uang orang tua." Tanpa sadar Desi berkomentar.
Ehhh!!!
Desi menutup mulutnya. "Maaf Tuan, keceplosan."
Netra Alfian melebar. Gadis ini!!! Ia menggeram dalam hatinya.
__ADS_1
Dengan kesal Alfian menarik kembali nampan ke dekat tubuhnya dan mulai makan. Meski ia jengkel dengan ucapan Desi, Alfian juga tidak ada keinginan untuk memarahi gadis itu karena sudah berani menasihatinya.
Pelan tapi pasti, Alfian menghabiskan buburnya. Lagi pula, porsi yang disiapkan Desi memang hanya sedikit.
Desi tersenyum lega melihat Tuan Muda sudah selesai makan. Ia segera mengambil obat penurun panas. Dokter Haryadi sempat berpesan agar tetap memberikan obat tersebut jika obat yang ia resepkan belum datang.
Alfian meminum obatnya tanpa bertanya. Ia meminta Desi mengangkat nampan tanpa menyentuh buah yang disiapkan. Dan Desi pun tidak memaksa seperti sebelumnya.
Saat Desi berada di dekatnya untuk mengatur nampan, Alfian sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya. Aroma melati kembali tercium dan Alfian menghirup aroma itu dalam-dalam.
Benar-benar menenangkan.
Desi yang tidak sadar dengan apa yang Alfian lakukan menegakkan tubuh dan pergi ke dapur. Alfian yang tidak lagi bisa menghirup aroma melati dari tubuh Desi, sontak merasa kecewa. Ia kehilangan sesuatu yang membuatnya tenang.
"Desi." Sebelum Desi semakin jauh ia memanggil gadis itu.
"Iya Tuan."
Alfian terkejut karena nekat memanggil gadis itu hingga Desi berhenti dan berbalik.
Ahhh, sudah kepalang tanggung.
"Kemari, aku lupa memberitahu. Tadi ada semut merah di kerah bajumu."
Desi menoleh ke kiri dan ke kanan, ia berusaha mencari semut yang Alfian katakan. Namun sia-sia saja.
"Kemarilah. Biar aku membantumu."
Tanpa berpikir yang aneh-aneh, Desi menurut saja. Ia mendekat dan duduk di samping Alfian, masih memegangi nampan.
Alfian tersenyum senang tanpa Desi ketahui. Ia mendekatkan wajah, berlagak mencari semut merah itu.
Dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan menghirup aroma tubuh Desi dalam-dalam.
"Bagaimana Tuan, sudah ketemu semutnya?"
Alfian menggeleng. "Belum, tunggu sebentar." Jawab Alfian berbohong.
Desi terdiam, membiarkan wajah Alfian berada sangat dekat di lehernya. Bahkan hembusan nafas Alfian yang hangat bisa Desi rasakan. Dan itu membuat Desi meremang, ia mulai merasa risih.
Spontan Desi bergeser menjauh dan menggerakkan lehernya. Berusaha menghentikan gelenyar aneh disana.
"Terima kasih Tuan, nanti saya cari sendiri. Atau mungkin semutnya sudah pergi."
Alfian merasa kecewa, namun ia tidak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya. Datar, kembali seperti biasa.
"Hmmmm." Alfian hanya menjawab dengan dengungan tidak jelas dan kembali berbaring.
Sepeninggal Desi, Alfian memukul kepalanya pelan. Apa-apaan tadi? Ia sampai berbohong hanya untuk lebih dekat dengan Desi dan menghirup aroma tubuh gadis itu.
Akan tetapi Alfian tidak merasa bersalah. Karena saat ini, ia merasa jauh lebih nyaman. Alfian pun memejamkan mata sambil tersenyum.
...****************...
__ADS_1