Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 29


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan Muda." Sapa Desi saat melihat Alfian memasuki dapur.


Langkah Alfian terhenti, senyum bahagianya pudar seketika. Ia berdiri sambil bersedekap, memperhatikan Desi yang sedang menyiapkan makanannya.


Ketika Desi kembali menoleh, ia terkejut Alfian masih berdiri mematung. Bahkan menatap tajam ke arahnya.


Duh, Tuan Muda marah. Apa lagi yang salah?


"Tuan, sarapannya sud...." Desi melipat bibirnya ke dalam. Ia sudah tahu dimana letak kesalahannya.


"Sudah ingat?" Tanya Alfian.


Desi meringis. "Maaf."


"Tidak semudah itu."


Desi segera memegang bibir bawahnya dan menunjukkan sebuah luka kecil.


"Aku sariawan."


Alis Alfian bertaut, ia bergegas mendekat untuk membuktikan ucapan Desi.


"Ckk." Alfian berdecak kesal. "Kenapa bisa?"


"Kenapa bisa?" Desi mengulang pertanyaan Alfian. "Masih bisa tanya kenapa bisa?"


Alfian menggaruk kepalanya. "Ya, namanya juga lagi menggebu-gebu."


Desi menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menata sarapan Alfian di kitchen island.


"Kok cuma satu porsi, hon?"


"Aku nanti aja."


"Nggak, pokoknya makan berdua. Aku nggak terima penolakan honey." Ujar Alfian penuh penekanan.


Kalau sudah begini, Desi hanya bisa menarik nafas. Tuan pemaksa ini tidak ingin ditolak. Akhirnya Desi mengambil piring, dua buah roti tawar dan selai coklat. Tak lupa ia menuang jus untuknya sendiri dan membawa semua itu ke meja makan.


Dengan senyuman mengembang sempurna, Alfian membawa makanannya sendiri dan menyusul Desi ke meja makan.


"Honey, nanti ke apotek terus beli obat buat lukanya ya." Ucap Alfian setelah meneguk jusnya.


"Tidak perlu Mas, nanti sembuh sendiri." Sahut Desi kemudian mulai menikmati roti miliknya.


Alfian tidak langsung menanggapi. Ia menikmati makanannya terlebih dulu.


"Sembuhnya lama hon. Nanti aku nggak bisa cium kamu."


Mata Desi membulat sempurna.


"Bukan bukan, maksudnya nanti kamu kesakitan dan lukanya semakin lebar." Ralat Alfian.


"Kalimat pertama yang paling jujur." Sahut Desi kemudian menggigit rotinya dengan sebal.


Alfian tersenyum geli, ia menahan gemas melihat ekspresi Desi. Keduanya melanjutkan makan dalam diam. Namun sesekali keduanya saling menatap sambil melempar senyum.


Aduuuhhhhh...... Yang sedang kasmaran, dunia milik berdua. Author dan yang baca cuma ngontrak.


"Hon, buatin bekal buat makan siang ya."


"Mau bekal apa?"


"Terserah kamu. Karena apapun yang kamu masak, rasanya enak."


Desi merasa tersanjung akan pujian Alfian. Hatinya berbunga-bunga, namun mulutnya mengatakan yang lain.

__ADS_1


"Hmmm." Cibir Desi.


"Serius hon."


"Iya Mas, iya."


Namun Alfian tampak memikirkan sesuatu hingga ia berubah pikiran.


"Nggak jadi deh hon, aku pulang aja."


Desi tersenyum tipis. "Bekal atau pulang?"


"Pulang."


"Yakin?"


Alfian meneguk jusnya sampai habis. "Yakin."


"Baiklah kalau begitu."


Alfian mengusap tangan Desi dengan sayang. "Terima kasih ya hon. Aku berangkat dulu." Alfian berdiri dan mencondongkan tubuhnya. Ia mengecup kening Desi dengan penuh perasaan.


Nafas Desi tercekat, ia merasakan kasih sayang yang tulus dari Alfian. Membuat Desi memejamkan matanya menikmati kecupan Alfian.


"Love you." Alfian mengalihkan kecupan di dahi Desi ke bibirnya. Singkat, tanpa gerakan tambahan.


Desi pun berdiri dan mengantar Alfian sampai ke pintu. "Hati-hati di jalan Mas."


"Iya sayang." Alfian mengusap kepala Desi.


🌸🌸🌸


Alfian tersenyum saat membaca pesan dari Desi. Bunda datang dan mengajak Desi berbelanja. Hanya pesan seperti itu tanpa kata-kata romantis. Tapi mampu membuat semangat kerja Alfian bertambah.


"Rama. Sudah pulang rupanya." Sambut Alfian sambil beranjak dari meja kerjanya.


Keduanya duduk di sofa yang berada di tengah ruangan Alfian.


"Bagaimana keadaan Nayra?"


"Sudah baik Mas. Sebenarnya kemarin aku sudah pulang. Tapi karena cuaca buruk, kepalaku jadi sakit. Makanya nggak langsung kerja."


Alfian mengangguk, ia mengerti. "Sudah, nggak apa-apa. Tapi hari ini sudah siap kerja kan?"


"Siap, sudah Pak." Jawab Rama kembali dalam mode formal.


"Good." Alfian mengacungkan jempolnya dan mengambil berkas yang Rama bawa.


🌸🌸🌸


"Desi, kamu yakin cuma perlu ini saja?" Tanya Nyonya Rara saat melihat keranjang belanja yang Desi pegang.


"Iya Nyonya. Kalau ikuti resep aslinya, memang masih perlu banyak bahan lain. Bahkan tidak ada di toko ini. Tapi saya sudah pernah buat versi ekonomis. Jadi kita pakai bahan yang ada saja Nyonya." Jelas Desi.


Rara mengangguk-anggukkan kepala. Keduanya segera menuju kasir untuk membayar belanjaan.


Setelah Desi selesai masak untuk makan siang, Rara datang berkunjung dan mengajaknya pergi. Sebab hari ini Rara ingin makan sebuah kue dan ia meminta Desi untuk membuatnya.


Rara sengaja membawa Desi untuk berbelanja di luar lingkungan apartemen agar gadis itu tidak jenuh.


Pak Jaya menghampiri keduanya begitu melihat Nyonya Rara dan Desi keluar dari toko. Dengan sigap, supir keluarga Adhyaksa itu mengambil semua kantung belanjaan yang dipegang kedua wanita berbeda usia ini.


"Terima kasih pak." Ujar Desi.


"Iya Nona, sama-sama." Pak Jaya sedikit menundukkan kepalanya. Membuat Desi merasa tidak nyaman karena merasa berada dalam level yang sama. Lelaki itu berjalan cepat menuju mobil untuk menata kantung-kantung belanja yang ia pegang.

__ADS_1


Jauh di belakangnya, Nyonya Rara dan Desi berjalan sambil mengobrol ringan. Tiba-tiba dari arah samping muncul seorang pria yang berjalan cepat mendekati Nyonya Rara. Setelah dekat, dengan cepat ia menarik tas tangan yang dipegang Rara.


Nyonya Rara terkejut dan tidak siap membuat tas dengan mudah terlepas.


"Akhh!!!" Nyonya Rara memekik merasakan sakit di pergelangan tangannya.


Ketika pemuda itu hendak lari, Desi berhasil memegang salah satu tangan pemuda tersebut. Tarik menarik pun terjadi.


"Tolong! Tolong!" Desi berteriak sekuat tenaga. Ia sudah berhasil mencengkram tas Nyonya Rara.


Pak Jaya berbalik dan segera berlari menghampiri, begitu juga beberapa orang yang sedang berada di area tersebut. Melihat kedatangan beberapa orang, pemuda tersebut menghentakkan tangannya dan melepaskan tas yang ia pegang kemudian kabur.


Desi yang dalam posisi menarik, tak siap. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Desi jatuh dengan sangat kencang.


"Aduhh!!!"


Mata Desi berkunang-kunang. Ia merasakan sakit pada bagian kepalanya akibat benturan yang sangat kuat dengan paving block halaman toko.


"Dessiiii!!!" Nyonya Rara bergegas menghampiri. "Mana yang sakit? Pak Jayaaa.... Pak Jayaaaa."


Pak Jaya yang hendak mengejar pemuda tadi pun mengurungkan niatnya dan kembali pada Rara.


"Saya Nyonya."


"Ayo bantu bawa Desi ke mobil, kita ke rumah sakit."


Pak Jaya dan Rara segera membantu Desi berdiri. Desi menggigit bibirnya, kedua alisnya bertaut, ia menahan sakit yang begitu menyiksa pada bagian belakang kepala.


"Tahan ya Desi." Ucap Rara untuk membuat Desi merasa lebih baik. Meski ia tahu ucapannya tidak akan banyak membantu.


Begitu mobil bergerak menuju rumah sakit. Rara segera menelepon Dokter Haryadi dan menceritakan kondisi Desi. Segera setelah menutup telepon, Dokter ini menghubungi petugas di unit gawat darurat untuk bersiap.


πŸš—πŸš—πŸš—


Sementara itu di kantor, Alfian menahan kesal melihat Sima ada di ruangannya. Alfian baru saja menandatangani kerja sama dengan seorang pengusaha di kota B untuk pembangunan sebuah perumahan tipe 54, untuk kalangan ekonomi menengah.


Tuan Prasetyo, seorang pria tua berusia hampir 60 tahun, baru dua hari menjadi suami Sima. Dengan alasan ingin mengenal bisnis Sang Suami, Sima memaksa untuk ikut dalam pertemuan Prasetyo dan Alfian.


Dengan tidak tahu malunya, beberapa kali Sima mengerling nakal menggoda Alfian saat Prasetyo sedang sibuk membaca berkas. Sebenarnya Alfian sama sekali tidak ingin menatap Sima. Namun dengan liciknya wanita itu pura-pura bertanya tentang pekerjaan. Hingga mau tidak mau Alfian menjawab dan menatapnya.


"Sayang, bagaimana? Kamu sudah mulai mengerti dengan pekerjaan ini?" Tanya Prasetyo pada Sima.


"Iya Mas, sudah." Jawab Sima dengan suara yang dibuat semerdu mungkin.


"Pak Alfian, jika saya mengawasi di kota B, silahkan hubungi istri saya jika ada keperluan mengenai pekerjaan."


Tawaran Prasetyo membuat netra Sima berkilat. Ia mendapat akses luar biasa untuk bisa kembali mengejar Alfian.


"Proyek ini akan ditangani oleh Saudara Dwi. Jika Nyonya Prasetyo atau kami memiliki hal oenting untuk dibicarakan, maka bisa berkomunikasi melalui Saudara Dwi." Jawab Rama mewakili Alfian.


Prasetyo mengangguk-anggukkan kepala. Sedangkan Sima menelan rasa kecewanya karena Alfian tidak menangani pekerjaan itu secara langsung. Namun Sima tidak akan menyerah. Setidaknya ia mempunyai kartu akses untuk bisa mengunjungi Alfian di kantor.


Alfian berdiri, ia merasa sudah cukup dan akan menyerahkan sisa pertemuan pada Rama dan Dwi.


"Senang bekerja sama dengan anda Tuan." Ujar Alfian saat berjabat tangan dengan Prasetyo.


"Saya juga merasakan hal yang sama, Pak Alfian. Kalian anak-anak muda yang luar biasa." Puji Prasetyo.


"Terima kasih. Selanjutnya akan diurus oleh Saudara Rama dan Saudara Dwi. Saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan lain." Pamit Alfian, ia menundukkan sedikit kepalanya.


"Silahkan Pak."


Sima memasang senyum terbaiknya, bahkan berharap Alfian menjabat tangannya juga. Sayangnya Alfian tidak menatapnya sedikit pun, apalagi berjabat tangan. Rama diam-diam tersenyum puas saat melihat wajah kecewa Sima.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2