
Nayra dan Maria memilih naik tangga untuk ke kamar. Mereka saling menggoda dan tertawa hingga tiba di lantai tiga.
"Selamat malam Mas."
"Selamat malam Bang."
Keduanya menyapa Rama yang sedang duduk di sofa ruang tengah lantai tiga. Rama menatap keduanya bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Selamat malam." Balasnya. Tak ada lagi kata yang akan ia ucapkan. Namun pandangannya tak juga kembali ke MacBook yang ada di depannya. Rama malah menutup benda tersebut secara perlahan tanpa melepas pandangan daei kedua gadis yang mulai gelisah.
Akhirnya Nayra berinisiatif duduk di seberang Rama. Karena tidak mungkin kembali ke kamar, akhirnya Maria pun duduk di samping Nayra.
"Mas Rama marah? Tapi ini belum jam sembilan malam, Mas." Nayra mencoba menerka perihal wajah Rama yang tanpa ekspresi. "Kami berdua pulang sebelum batas waktunya."
Rama terdiam, Nayra semakin gelisah. Ia bergerak-gerak tak nyaman.
Akhirnya Rama mendengus. "Mana kopi pesanan Mas?"
"Eh?" Maria menatap Rama, kemudian balik menatap Nayra. Sahabatnya itu tengah memukul dahinya.
"Aduh Mas!!!" Nayra menurunkan tangan dari keningnya. "Lupa." Imbuhnya disertai cengiran kuda, tanda rasa bersalah.
"Kok bisa lupa?" Rama kesal. Ia sudah menunggu cukup lama agar dibawakan kopi dari kafe yang didatangi Nayra dan teman-temannya itu. Kopi disana adalah favorit Rama.
"Ya bisa. Buktinya sekarang Nay lupa." Jawab Nayra sambil menggaruk tengkuknya. "Maria sih, nggak ngingetin. Padahal tadi dia mesan kopi itu juga."
"Loh kok saya?" Maria menunjuk dirinya sendiri. "Mana saya tahu Abang nitip dibelikan kopi?" Ujarnya membela diri.
"Kamu minum kopi itu juga Mia?" Rama penasaran. Ekspresi marahnya mulai berkurang.
"Iya Bang."
"Suka?"
"Banget." Jawab Maria disertai senyum indah yang bertengger di wajahnya. Ia benar-benar menyukai minuman berwarna hitam itu.
"Bagaimana menurut kamu?"
Mendengar pertanyaan Rama, Nayra memutar bola matanya dengan malas. Sebab setelah ini pembahasan akan berpusat pada kopi.
Maria menelengkan kepalanya. "Hmmm...entahlah Bang. Saya bukan penilai kopi. Tapi kopi yang saya minum tadi rasanya ringan dan lembut. Aromanya tajam dan yahhh nyaris tanpa ampas. Tidak terlalu asam, dan pahitnya pas."
__ADS_1
"Pakai berapa banyak gula?"
"Cuma sedikit. Saya tidak terlalu suka kalau kopinya terlalu manis." Maria tersenyum.
Rama mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi?" Rama tahu ada yang belum disampaikan oleh Maria.
"Tapi saya lebih suka yang long aftertaste." Jawab Maria disertai senyum malu-malu.
Rama tertawa kecil, namun ekor matanya menangkap pergerakan Nayra yang hendak melarikan diri. Ia memang bukan pecinta kopi.
"Kamu mau kemana?" Nada bicara Rama.berubah drastis saat berbicara pada Nayra.
"Eh!" Nayra tersenyum canggung dan berbalik. "Ke kamar, Mas."
"Kopi Mas, gimana?" Rama masih menagih kopinya.
"Udah malam begini Mas. Masa tega suruh kami berdua keluar lagi." Ucap Nayra memelas.
"Siapa juga yang suruh kalian berdua. Cuma kamu saja." Rama mengedipkan salah satu matanya pada Maria.
"Maria pasti bakalan ikut aku. Iya kan Mia?" Nayra meminta dukungan Maria melalui tatapan matanya.
"Iya." Maria mengangguk.
Nayra tertawa sumbang. "O iya ya." Ia mengeluarkan gawainya dan duduk di tempat semula. Tangan Nayra dengan cepat mulai bekerja, memesan kopi untuk Rama.
"Mia, malam minggu besok ikut yuk. Ada kedai kopi tradisional langganan Abang. Dijamin, kamu pasti ketagihan kesana terus." Tawar Rama. Di dalam hatinya ia berdebar takut ditolak Maria.
"Beneran Bang?" Mata Maria berbinar. "Iya aku mau."
Nayra merengut. "Terus, rencana kita bagaimana?"
Maria menatap Nayra dengan perasaan bersalah. Tiba-tiba Rama berdehem dengan cukup kuat. Nayra mengerti kode tersebut.
"Ya udah deh. Kita bisa pergi minggu sore." Nayra memaksa senyumnya.
"Makasih Nay." Maria memeluk Nayra dari samping. Nayra hanya bisa menghela nafas secara diam-diam.
Demi Mas Rama yang lagi PDKT. Gumam Nayra di dalam hatinya.
Ketiganya berbincang tentang banyak hal sambil menunggu kopi pesanan Rama datang. Maria pun terbawa suasana, ia sudah tidak canggung lagi saling bercanda dengan Rama. Hingga sebuah pertanyaan membuat tawa mereka memudar.
__ADS_1
"Apa hubungan kalian dengan Desi Sasmita?"
Nayra menahan nafas, Maria mengerjap-ngerjapkan mata dengan mulut terbuka. Sebentar menutup, kemudian membuka lagi. Seakan hendak mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.
"Kamu lupa ya Nay kalau pemilik kafe itu teman Mas."
Ya ampun, bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu. Rutuk Nayra dalam hatinya.
"Dia, sahabat kami berdua, Bang." Jawab Maria dengan pelan.
"Mia..." Nayra mencoba protes.
"Nggak ada gunanya bohong Nay." Ucap Maria lagi.
Rama memijat pelipisnya pelan. "Sejak kapan?"
"Sejak awal ngekost. Dari awal masuk kuliah." Akhirnya Nayra ikut berkata jujur.
"Desi menjaga kost atau tukang bersih kost?" Rama terus meluncurkan pertanyaan.
"Dia mahasiswa juga Bang. Hanya beda jurusan sama kami berdua." Jawab Maria.
Jawaban dari Maria sukses membuat Rama melebarkan netranya. Ia memperbaiki posisi duduknya tanda ia berminat dengan cerita tentang Desi. Akhirnya, tanpa diminta Maria menceritakan tentang sosok Desi pada Rama.
"Jadi begitu." Gumam Rama diakhir cerita Maria.
"Tolong, jangan bilang ke bulek ya Mas. Ke Mas Alfian juga. Pokoknya jangan bilang ke siapapun." Pinta Nayra.
"Iya Bang." Maria menimpali.
Rama menatap kedua gadis itu bergantian. Ia tersenyum lembut. "Iya, tidak akan ada yang tahu."
"Yeayy, terima kasih Mas."
"Terima kasih Abang."
Rama hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat wajah bahagia Nayra dan Maria. Namun di sudut hatinya, ada rasa bersalah yang menyusup. Rama tidak mengenali teman-teman Sang Adik. Untung saja Nayra bergaul dengan gadis-gadis yang baik. Jika tidak, mungkin Rama akan larut dalam tangis penyesalan.
"Pantas saja waktu pertama ketemu, Desi sudah menimbulkan kesan berbeda." Lirih Rama dengan pelan.
Sedangkan di kamarnya, beberapa kali Desi bersin. Hingga ia merasa tidak enak di area hidung. Desi berbaring membersihkan hidung dengan tisu.
__ADS_1
"Capek bersin terus." Keluh Desi.
...****************...