
Alfian memanggil Dwi ke apartemennya. Orang kedua yang Alfian percaya selain Rama itu punya keahlian khusus yang tidak bisa dikerjakan Rama. Yaitu mengerjakan pekerjaan 'kotor' yang Alfian perintahkan.
Bukan berarti Alfian selalu menggunakan kekerasan dalam menjalankan usahanya. Ia hanya membersihkan orang-orang yang ingin menghancurkan pekerjaannya. Melindungi keluarga dan karyawannya dari kompetitor yang bersaing dengan tidak sehat. Alfian akan melakukan apapun jika merasa terancam.
"Masuklah." Alfian membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Dwi untuk masuk.
Sepanjang perjalanan menuju balkon, Dwi tercengang dengan keadaan apartemen Alfian yang tak seperti biasanya. Bau alkohol, bahkan puntung rokok ada dimana-mana.
"Ada apa? Masih untung ruangan ini tidak terbakar." Ucap Alfian setelah melihat Dwi sedang menatap ke sekeliling ruangan itu.
"Maaf Pak." Ucap Dwi pada akhirnya. Ia kemudian menyusul Alfian ke balkon.
Alfian menyerahkan foto Desi. "Cari sampai ketemu. Namanya Desi Sasmita."
Dwi mengambil foto dari tangan Alfian dan menatap gadis di dalam foto itu sejenak. Bukan untuk dikagumi, tapi agar Dwi bisa lebih ingat.
"Jangan terpesona seperti itu. Dia kekasihku." Ucap Alfian dengan nada ketus.
Dwi terkejut, ia menatap Alfian sejenak kemudian memandang ke lantai.
"Saya hanya mencoba menghafal wajahnya, Pak. Agar lebih mudah saat mencari." Jawab Dwi jujur.
Alfian mendengus kesal. Ia menenggak minuman beralkohol langsung dari botolnya.
Pak Alfian cemburuan sekali. Gumam Dwi dalam hati.
"Pak."
"Ada apa?"
"Besok ada rapat penting." Dwi mencoba mengingatkan.
Alfian menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap botol di tangannya untuk sesaat kemudian meletakkan botol tersebut kembali ke meja.
"Terima kasih sudah mengingatkan." Lirih Alfian.
"Sama-sama Pak. Saya permisi."
__ADS_1
"Ya."
Alfian tidak mengantar Dwi keluar. Ia memejamkan mata dan tenggelam dalam lamunannya. Entah berapa lama Alfian berada di dalam posisi tersebut.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh tangan Alfian. Pemuda itu terkejut saat merasakan sentuhan lembut di kulitnya. Alfian segera membuka matanya.
"Desi." Alfian menatap tak percaya. Gadis yang ia cari ada di depannya dengan senyum manis bertengger di bibirnya.
"Sayang, kamu kembali?"
Desi tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil menatap Alfian dengan sedih.
"Sayang, Mas minta maaf ya. Mas cemburu sampai menuduh kamu yang tidak-tidak. Kamu mau kan maafin Mas?"
Desi menarik tangannya, ia masih tetap tersenyum. Namun sinar di matanya redup. Tak ada lagi tatapan penuh cinta. Desi melangkah mundur, selangkah demi selangkah.
"Desi, jangan pergi!" Alfian duduk dengan tegak. Berharap ucapannya di dengar oleh Desi.
"Desi!!!"
"Aduh." Alfian mengusap dahinya yang sakit karena terbentur lantai.
Alfian menatap ke sekelilingnya. "De ... Bunda?"
Tak jauh dari tempat Alfian tergeletak, Rara sedang berdiri sambil melipat tangan di depan dada.
"Sudah bangun? Mimpi apa sampai bisa jatuh begitu?" Rara melangkah duduk di salah satu kursi yang ada di balkon.
"Mimpi?" Alfian duduk bersimpuh. "Nggak mungkin Bunda. Tadi Desi datang dan dia pegang tangan aku, Bun."
Rara tertawa kecil. Terdengar lebih seperti mengejek. "Dari tadi Bunda disini, nggak ada siapa-siapa yang datang."
Alfian meraup wajahnya dengan kasar. Ia kecewa karena ternyata semua cuma mimpi.
"Sudahlah. Ayo mandi, habis itu makan." Ajak Rara.
Alfian menggeleng. "Aku nggak lapar Bun."
__ADS_1
Rara menghela nafas. "Bagaimana kamu akan mencari Desi kalau sakit?"
Alfian terdiam. Untuk beberapa saat ia terdiam, memikirkan ucapan Sang Bunda. Dan beberapa saat kemudian ia berdiri, mengikuti ajakan Bunda Rara.
Beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Alfian terkejut dengan beberapa orang pelayan sedang bekerja membersihkan ruangan di depan Alfian.
"Bun ... "
"Apartemen ini bisa dipakai untuk menanam tomat." Sahut Bunda Rara dengan cepat, memotong ucapan Alfian.
Alfian hanya menarik nafas dan kemudian menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
💔💔💔
"Sayang, Abang bantu Mas Alfian ya." Rama masih terus saja membujuk Maria.
"Terserah Abang." Jawab Maria. Masih sama seperti sebelumnya.
Rama menatap Maria dengan frustasi. Yang Rama tahu, kalau seorang cewek sudah menjawab "terserah", berarti Sang Cowok harus berpikir ekstra keras untuk menganalisis kata tersebut agar bisa mendapatkan kesimpulan yang tepat, benar dan tidak menimbulkan kontroversi.
"Mia ... " Rama menatap gadis di depannya dengan putus asa.
"Lagian kenapa sih Mas Rama nekat banget mau bantuin Mas Alfian?" Tanya Nayra yang baru saja datang sambil membawa dua buah jus buah naga.
"Karena kalau Desi ketemu, Mas Alfian akan menyerahkan proyek di kota Mr untuk Mas tangani. Jadi bisa lebih dekat sama Pak Deni." Jawab Rama.
"Oooo mau cari muka sama Bapak Tua saya." Sahut Maria.
"Emang kurang ya Mas udah punya satu muka?" Tanya Nayra lagi.
Rama menatap Maria dan Nayra bergantian. Ia menggeram kesal dan meninggalkan kedua gadis itu begitu saja.
Setelah Rama menghilang di balik pintu, Nayra dan Maria tertawa cekikikan sambil melakukan tos.
,
...****************...
__ADS_1