
"Terima kasih untuk sarapannya, enak." Puji Rara setelah menyelesaikan sarapan paginya.
"Sudah tugas saya, Nyonya."
Sultan yang sudah berganti menggunakan baju kantor segera beranjak tanpa berkomentar. Rara yang mengetahui suaminya akan segera berangkat pun ikut berdiri. Ia akan mengantar suaminya sampai ke depan pintu, seperti biasa.
Desi membereskan meja makan setelah kepergian kedua orang tua Alfian. Ia begitu fokus hingga tidak menyadari ada orang lain yang sedang menatapnya dari belakang.
"Astaga!" Piring di tangan Desi sampai berbunyi karena tubuh gadis itu terlonjak kaget saat ia berbalik. "Bikin kaget saja." Gumamnya dengan suara yang lebih pelan.
"Apa? Aku bukan hantu." Kata Alfian sambil melipat tangan di depan dada lengkap dengan wajah tak bersalah.
Desi tersenyum tipis, ia tidak menanggapi lagi. Gadis itu membawa piring kotor ke bak cuci piring dan langsung mencuci peralatan makan yang telah digunakan. Namun gerakannya terhenti. Netranya melebar dan ia segera mengeringkan tangannya lalu mendekati Alfian.
"Apakah ada yang Tuan Muda butuhkan?" Tanya Desi dengan tatapan lurus ke dada Alfian. Menatap dengan cermat kancing kedua dari piyama yang dikenakan Tuan Muda.
Alfian menggerakkan tangannya menunjuk nampan berkaki yang ia letakkan pada counter table di sisinya. Desi terkesiap pelan saat matanya mengikuti arah tangan Tuan Muda.
"Maaf Tuan, seharusnya saya yang datang sendiri untuk mengambil itu dari kamar Tuan." Desi mendekat dan hendak mengambil nampan tersebut.
Akan tetapi ia tidak dapat mengangkat nampan karena Alfian merapatkan tubuh ke kabinet di sampingnya. Otomatis tangan Desi yang terulur tiba-tiba berhenti karena terhalang tubuh Tuan Muda. Desi bingung, apalagi tubuhnya jadi sudah terlanjur dekat dengan tubuh Alfian.
"Aku nggak yakin kamu bakal datang ambil nampan ini. Perintah Bunda untuk jaga aku selama makan saja kamu lupakan."
Apakah pendengarannya bermasalah? Karena yang saat ini Desi dengar adalah Tuan Muda berbicara padanya seperti gaya berbicara pada teman atau keluarganya. Bukan gaya berbicara pada bawahan.
Desi menatap bingung.
"Apa? Kamu nggak lupakan sudah ninggalin aku begitu saja?"
Kedua alis Desi terangkat. Alfian mirip cewek yang lagi ngambek karena ditinggal begitu saja sama pacarnya. Mungkin karena pengaruh demam tinggi, Alfian jadi eror begini. Desi mulai berspekulasi.
Karena tidak bisa menemukan kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan Alfian, akhirnya Desi mendesah pelan. Dan yang terucap adalah…
"Maaf Tuan."
"Kata-kata andalan." Ejek Alfian. "Kamu mau dipecat?"
Desi membelalak. "Tidak Tuan, tolong jangan pecat saya." Ucapnya cepat, ia menatap Alfian dengan cemas dan lebih lama dari biasanya.
Mata mereka bertemu, dan Desi seakan terhanyut dalam tatapan Alfian yang hangat. Tanpa disangka, Alfian semakin mendekatkan wajahnya kepada Desi.
"Apakah saat dikamar tadi kalimatku membuatmu ketakutan?" Alfian terlihat merasa bersalah.
__ADS_1
Desi hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia mendengar ucapan Alfian, namun kalimat itu seakan lalu begitu saja. Otaknya seakan berhenti berpikir. Suara Alfian yang terdengar mencemaskan dirinya dan tutur katanya yang lembut membuai pendengaran serta penglihatan Desi.
"Kalau begitu, maafkan aku ya." Pinta Alfian. Desi kembali mengangguk.
"Terima kasih."
Desi hanya mengangguk lagi.
Alfian tersenyum manis, dan secepat kilat ia mengecup singkat pipi Desi.
Hhhgggg!!!
Mata Desi membola sempurna, ia terkesiap dan segera menutup setengah mukanya dengan kedua tangan setelah wajah Alfian menjauh.
Bukan hanya Desi, tapi Alfian pun terkejut. Wajahnya menegang untuk sesaat. Kemudian berbalik meninggalkan dapur.
"Kok bisa aku nyium dia?" Dengan setengah berbisik, Alfian bergumam pada dirinya sendiri.
Entah kenapa saat Desi fokus menatapnya, ada dorongan yang kuat hingga ia berani bertindak seperti tadi. Saat itu di matanya, Desi terlihat sangat manis. Mungkin itulah yang mendorong Alfian mengecup pipi Desi. Hanya karena gemas.
Di depan pintu dapur, ia berpapasan dengan Bunda.
"Bunda dari mana?"
Senyuman Rara memudar setelah menyadari Alfian tidak berada di tempat yang semestinya.
"Ngapain kamu disini? Harusnya kamu istirahat, baring-baring di kamar." Wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas.
Alfian tersenyum dan merangkul pundak Rara. Ia melangkah mengajak Sang bunda untuk menjauhi dapur.
"Fian sudah merasa baikan Bun. Lagipula capek kalau harus terus-terusan berbaring. Jadi mau jalan sekalian antar nampan."
"Kalau begitu, sekarang kembali ke kamar, sudah cukup olahraganya." Rara menarik pinggang Alfian dan gantian menuntun masuk ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu keluar kamar ketika Alfian sudah berbaring.
Sepeninggal Rara, Alfian menatap langit-langit kamar dengan pikiran kacau.
"Kenapa jadi aku yang godain Desi sih?" Gumam Alfian dengan pelan. Ia tidak mengerti, tubuhnya selalu bereaksi lain saat bersama Desi. Apalagi kalau gadis itu sudah menatapnya untuk beberapa detik.
Sedangkan di dapur, Desi mencuci piring dengan pikiran melayang kemana-mana. Bahkan ia terlihat menggeleng beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya.
😣😣😣
Setelah makan siang di balkon, Rara meminta Desi membawakan buah untuk ia dan Alfian. Karena putranya sudah berkali-kali mengatakan bosan, maka Nyonya Rara berinisiatif untuk makan siang bersama putranya di luar ruangan.
__ADS_1
"Fian, lebih baik besok kamu jangan masuk kantor dulu. Nanti ikut Bunda pulang terus istirahat di rumah."
Ucap Rara sambil mengambil piring buah dari tangan Desi. "Terima kasih ya."
Desi tersenyum tipis. "Sama-sama Nyonya."
Alfian melirik Desi sejenak. "Tidak Bunda. Biar Fian istirahat disini saja. Lagipula, sekarang kondisi Fian sudah jauh lebih baik."
Rara menipiskan bibir. "Kamu itu selalu saja memaksakan diri." Pandangannya beralih pada Desi yang masih berdiri di dekat pintu masuk. "Desi, bujuk Alfian supaya mau pulang ke rumah utama."
Desi terperanjat, begitu pun Alfian. Ia segera menatap gadis itu.
Waduh… Kenapa aku dibawa-bawa segala? Desi mengeluh dalam hatinya.
Tatapannya beralih antara Nyonya Rara dan Tuan Muda Alfian. Namun ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat itu Nyonya Rara mendesah, ia mengalah. "Ya sudah kalau kamu tidak mau pulang." Ucapnya dengan berat hati.
Setelah ia berkata demikian, kembali terdengar nada panggilan telepon milik Alfian. Nyonya Rara melirik ke layar. Penelepon masih orang yang sama. Karena masih sedikit kesal, Nyonya Rara langsung menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat telepon dan mengaktifkan speaker.
"Halo, Fian sayang."
Terdengar suara Wulan yang dibuat semanja mungkin. Desi yang dapat mendengar juga langsung bergidik ngeri. Nyonya Rara sampai memegangi tengkuknya. Sedangkan Alfian hanya membuang muka menatap ke arah lain.
"Kamu kok nggak ngasih kabar sama aku sih beb? Nggak kangen yah. Padahal aku kangen berat, apalagi kalau kamu sudah menjelajah pakai bibir."
Mata Alfian membelalak, dan dengan cepat ia melihat Desi. Gadis itu begitu terkejut dan wajahnya menampilkan kengerian yang nyata. Tubuh Alfian menegang, kini ia begitu mencemaskan pendapat Desi perihal kalimat yang diucapkan Wulan.
"Baby, sayang. Kok diam saja."
Nyonya Rara menatap garang pada layar berukuran 6 inch itu. "Alfian sedang sibuk. Tidak punya waktu untuk kamu!" Suara Nyonya Rara terdengar sangat ketus. Ia lalu memutuskan sambungan telepon itu.
Alfian memang tidak mendengarkan nasehat kedua orang tuanya yang meminta Alfian berhenti dari tabiatnya yang buruk. Namun ia juga tidak pernah melarang jika Ayah atau Bunda mau ikut campur dalam hubungannya. Contohnya, mengangkat telepon dan berbicara kasar seperti yang baru saja terjadi.
Nyonya Rara dan Alfian terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian, Alfian kembali menatap Desi.
Apa yang ia pikirkan tentangku?
...****************...
__ADS_1