Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 39


__ADS_3

Maria menyangka ia akan segera terlelap begitu berbaring. Namun ternyata matanya tak bisa diajak bekerja sama. Ia sedang memainkan game di gawainya saat sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke dalam aplikasi pesan miliknya.


...08xxxxxxxxxxx...


Belum tidur?


Maria mengernyit, namun ia tak berniat untuk membalas pesan tersebut.


Tuh kan, yang sudah serumah saja dicuekin. Apalagi waktu masih beda kota.


Maria tersenyum, ternyata Rama yang sudah mengirimnya pesan. Segera saja ia menyimpan nomor pemuda itu.


...Abang...


^^^Nomor baru, jadi ngapain dibalas?^^^


Tega kamu ya☹️


^^^🤪^^^


Rama tertawa kecil sambil menggigit bibirnya. Ia merasa gemas dengan balasan yang diberikan oleh Maria.


...My Maria...


🤪


^^^Ooo, udah berani ya sama Abang. Awas saja kalau ketemu. Abang cium kamu di depan Papa Mama, biar kita dinikahkan saat itu juga.^^^


Ihhh, dasar tukang ngancam!😒


^^^😄^^^


^^^Tidur yuk. Semoga mimpi indah calon istri. I love you so much❤️^^^


Rama segera meletakkan smartphone-nya di nakas. Ia tahu, Maria tidak akan membalas pesannya yang satu itu. Pemuda tampan ini memejamkan mata dengan senyuman merekah sempurna. Rasanya ia bisa bermimpi indah malam ini.


📱📱📱


Pagi harinya, Rama bergegas keluar kamar. Ia sudah terlambat pergi ke kantor.


"Aduh!"


"Aduh!" Rama menggosok kepalanya yang sakit akibat tabrakan itu. Begitu juga dengan Maria, ia mengusap kepala dengan kedua tangannya.


"Ya ampun sayang. Maaf Abang nggak lihat." Rama menghampiri Maria dan menarik tangan gadis itu agar Rama dapat melihat dahinya.


"Sakit banget ya." Rama terlihat cemas. Maria hanya mengangguk sebagai jawaban. "Maaf ya sayang." Ucap Rama lagi dan mengecup kening Maria.


Rama belum ada niat menjauhkan bibirnya, namun Maria sudah lebih dulu mundur.


"A ... abang, Tante panggil untuk sarapan." Ucap Maria terbata, ia gugup dengan perlakuan Rama.


Melihat itu, Rama tersenyum. Ia menoleh ke sekeliling ruangan lantai tiga. Kemudian dengan cepat menarik Maria dan menyandarkan gadis itu di dinding.


"Aba ... "

__ADS_1


Rama tak memberi kesempatan, dengan cepat ia menyerang bibir Maria dengan rakus.


"Morning kiss, sayang." Ujar Rama setelah melepas pertautan bibir mereka dan mengusap bibir Maria dengan jarinya.


Maria berusaha mendorong Rama dengan sekuat tenaga, tapi pemuda di depannya tidak bergerak sama sekali.


Baru kali ini dapat lawan yang lebih kuat. Gumam Maria dalam hatinya.


"Abang lebih kuat dari lawan-lawan kamu sebelumnya, kan." Rama menaik turunkan kedua alisnya. Seakan ia dapat membaca pikiran Maria.


Maria melengos. "Nanti Abang terlambat ngantor." Ujar Maria pada akhirnya. Setelah sia-sia berusaha mendorong Rama.


Tak lama kemudian terdengar nada dering dari ponsel Rama. Tanpa melepas Maria, Rama mengangkat teleponnya.


Mas Alfian? Rama mengernyit melihat nama yang tertera di layar telepon pintar miliknya.


"Halo. Selamat pagi, Mas."


"Halo. Selamat pagi Ram. Kamu sudah siap ngantor?"


"Iya Mas, sudah."


"Hari ini masuk terlambat aja Ram. Semalam kamu kan sudah kerja keras siapkan semua berkas. Aku sudah menelepon Dwi dan meminta untuk mengatasi pekerjaan karena kita berdua akan terlambat berangkat ke kantor."


Rama tersenyum lega. "Terima kasih banyak ya Mas." Rama menatap Maria dalam-dalam.


"Iya sama-sama. Salam buat Bulek."


"Akan disampaikan." Rama mengusap pipi Maria dengan tangannya yang bebas.


Senyum di wajah Rama terkembang sempurna. Ia memasukkan gawainya kembali ke dalam saku celana. Semua ia lakukan tanpa melepaskan pandangannya pada Maria.


Seketika itu juga Maria bergidik ngeri. "Ke ... kenapa ngeliatin sampai segitunya?"


Rama tak menjawab, ia kembali mendekatkan wajahnya dengan senyuman yang tak luntur.


"Mas Ramaaaa, Miaaaa." Terdengar suara Nayra dari tangga.


Karena kaget, Maria menepuk dada Rama dengan kuat, membuat pemuda itu batuk-batuk.


"Uhhuukk...uhhuukk...uhhuukk... Kamu tega banget sama Abang." Ujar Rama sambil melangkah mundur.


"Ma ... maaf Bang. Saya tidak sengaja.",


Maria bingung bagaimana mau membantu Rama.


"Lho? Mas Rama kenapa?" Tanya Nayra yang sudah berdiri di anak tangga terakhir.


"Ehmmm!" Rama berdehem, kemudian menarik nafas dalam-dalam. "Dada Mas ditepuk sama Maria. Kenceng banget." Adu Rama.


"Maaf Nay. Sa tra sengaja (saya tidak sengaja)."


Nayra memicingkan mata. "Mas apain Maria sampai ditepuk gitu?"


"Mau cium dikit doang." Jawab Rama dengan santainya. Ia bahkan tak peduli dengan Maria yang sudah melotot. Pemuda itu pergi begitu saja menuruni anak tangga.

__ADS_1


Nayra terdiam dengan mulut terbuka, ia menatap Maria tak percaya. Maria panik.


"Nay, sa ... aku ... saya ... tra ... tidak ganggu ko pu Mas (Mas kamu). Maksudnya ... aku tra goda dia. Eh." Saking gugupnya, Maria berkata-kata dengan logat daerah yang bercampur aduk.


Nayra tertawa terpingkal-pingkal. Ia menepuk lengan Maria dengan pelan kemudian kembali tertawa sambil memegang perutnya.


"Aduh Mia ... Mia." Nayra menutup mulut dengan kedua tangannya.


Maria menatap Nayra dengan bingung. Ia sudah ketakutan jika Nayra marah dan menganggapnya menggoda Rama. Namun respon Nayra ternyata tak seperti yang Maria bayangkan.


Nayra mengusap air mata yang keluar. "Mia ... Mia. Kamu lucu banget kalau gugup begitu."


"Aku ... takut kamu marah. Betulan, sa tra ganggu Abang." Maria masih tidak sadar dengan logat bahasanya yang berantakan.


Nayra terkekeh. "Iya, aku percaya. Pasti Mas Rama yang ganggu kamu. Lagian, kalau kamu jadi kakak iparku, aku sama sekali nggak keberatan kok. Malahan aku senang banget." Nayra mengerling menggoda Maria.


"Hah? Apa?!"


"Sudah....sudah. Nanti mama marah karena kelamaan nunggu kita." Nayra meraih tangan Maria dan menggandeng gadis itu menuruni tangga.


Sementara itu di kediaman Adhyaksa. Desi memukul dada Alfian saat mulai kehabisan nafas.


"Mas...."


Keduanya terengah-engah setelah melewati sesi ciuman yang panjang.


"Masih kangen sayang." Alfian kembali menempelkan bibirnya. Namun Alfian masih bisa menahan diri. Ia hanya mengecup sebentar kemudian menjauhkan tubuhnya dari Desi.


"Lain kali aku nggak mau kalau disuruh panggil kamu untuk sarapan." Rajuk Desi. Ia segera berbalik untuk keluar dengan cepat dari kamar Alfian.


Alfian mengejarnya. "Honey, jangan marah."


Desi berjalan tergesa-gesa menuruni tangga menuju ruang makan. Rara yang sudah duduk menunggu di meja makan dibuat bingung dengan sejoli itu.


"Honey, pelan-pelan jalannya. Nanti kamu jatuh." Alfian cemas melihat cara Desi melangkahi dua anak tangga sekaligus.


Bahkan Desi setengah berlari saat sudah mendekati meja makan. Ia segera duduk di samping Rara.


"Ada apa sayang?" Tanya Rara pada Desi. Namun ketika mengamati wajah Desi, terutama bibir Desi yang terlihat lebih merah dan sedikit bengkak. Rara segera melayangkan tatapan tajam pada Alfian.


"Mulai sekarang, sekalipun kamu lembur sampai lemes. Jangan pulang ke rumah lagi! Pulang aja ke apartemen." Ujar Rara ketus.


"Bunda." Alfian menatap Rara dengan lesu.


Rara tidak luluh. "Bisa-bisa gawangnya Desi kebobolan kalau kamu nginap disini."


"Bbbuuufffttttt!!!!" Sultan menyemburkan jus yang baru saja ia minum.


"Uhuukk...uhuukk...uhukkkk!!!" Desi tersedak karena menelan utuh-utuh potongan roti yang ia gigit.


Dengan cepat Rara membantu Desi, dan Alfian membantu Sang Ayah.


"Ma ... maaf ya maaf." Rara menatap Sultan dan Desi bergantian.


Alfian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Sang Bunda.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2