Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 48


__ADS_3

Dokter Haryadi berdiri di dekat kaki ranjang bersama Sultan setelah ia memeriksa Alfian. Pria itu tidak langsung pergi karena menunggu asistennya yang akan datang membawa obat untuk Alfian.


"Proyek apa yang sedang ia kerjakan sampai membuatnya stres seperti ini?" Tanya Haryadi pada Sultan.


"Proyek hati." Jawab Rara yang sedang mengganti kain kompres di kening Sang Putra.


Haryadi terlihat bingung, ia menatap Sultan dan Rara secara bergantian.


Sultan menghela nafas dan mengajak sahabatnya itu untuk keluar dari kamar Alfian. Ia tidak ingin percakapan mereka mengganggu Alfian yang baru saja terlelap.


"Alfian stres berat karena ditinggal kekasihnya." Ujar Sultan setelah keduanya duduk di ruang santai tak jauh dari kamar yang ditempati Alfian.


"Kekasih?" Haryadi tersenyum kecut. "Bukankah biasanya ia yang mencampakkan kekasihnya? Apakah Alfian sedang kena karma?"


Sultan tersenyum getir. Sepak terjang Alfian dalam dunia percintaan memang tidak pernah menghasilkan kabar yang baik. Dan dalam hatinya, Sultan pun membenarkan ucapan Haryadi. Mungkin saat ini putranya sedang mendapatkan karma atas kelakuannya yang buruk.


Alfian membalaskan dendamnya atas Ibu Kandung kepada wanita-wanita yang berusia hampir sama dengan Sang Ibu saat wanita itu meninggalkannya. Dan Sultan berkeyakinan, tidak semua korban Alfian adalah wanita jahat. Pasti diantara mereka ada wanita baik-baik yang benar-benar jatuh cinta pada Alfian.


"Apa yang membuat gadis itu pergi?"


"Alfian tidak bisa mempercayai kekasihnya dan juga tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Ia menganggap apa yang ia lihat dan dengar adalah kebenaran mutlak meski tidak 100% yang ia ketahui."

__ADS_1


"Wow, itu menakutkan." Haryadi menggeleng-gelengkan kepala.


Sultan mengangguk. "Dan tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu, Alfian akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan bahkan melakukan tindakan balas dendam."


"Apa yang terjadi?"


"Rara dan Desi memergoki Alfian sedang bercumbu dengan salah satu mantan kekasihnya di kantor. Hal itu Alfian lakukan hanya karena sebuah kesalahpahaman."


"Astaga." Haryadi tersenyum miris "Putramu benar-benar sakit."


"Aku tahu. Oleh sebab itu kami berencana membawanya ke psikiater."


"Aku mendukung. Dan aku akan merekomendasikan seorang psikiater terbaik."


"Sama-sama. Lagipula Alfian sudah ku anggap seperti anakku sendiri."


🏥🏥🏥


Alfian menatap bangunan tiga lantai di depannya dengan tatapan kosong. Ia sadar benar ada yang tidak beres dengan dirinya. Oleh sebab itu, saat Sultan dan Rara mengatakan akan membawanya untuk konsultasi dengan psikiater, Alfian menyetujuinya.


"Bagaimana perkembangan pencarian Desi?" Tanya Sultan ketika mereka berada di dalam lift.

__ADS_1


"Nihil. Desi menghilang tanpa jejak." Jawab Alfian dengan nada sedih yang sangat kentara.


"Kita fokus pada penyembuhan mu dulu." Ujar Rara kemudian.


"Iya Bun. Lagipula percuma jika aku menemukan Desi. Aku tidak memiliki apa-apa untuk meyakinkannya agar mau kembali kepadaku." Jawab Alfian sambil menyandarkan kepalanya ke dinding lift.


Pemandangan itu membuat hati Rara mencelos. Putranya yang selalu tampil sempurna kini terlihat acak-acakan. Wajahnya pucat, lengkap dengan jambang yang dibiarkan begitu saja. Tatapan matanya yang biasa terlihat tajam, tegas dan penuh percaya diri, kini kosong. Tak ada lagi cahaya yang tampak.


Rara mengepalkan kedua tangan, ia menahan gejolak di dalam hatinya. Sultan yang melihat raut wajah Rara segera menggenggam tangan istrinya itu. Keduanya saling menatap, memberi kekuatan pada pasangan lewat tatapan.


Beberapa saat kemudian, ketiganya telah sampai di tempat praktek Psikiater yang menjadi rujukan dari Dokter Haryadi. Dokter itu mengambil satu lantai di gedung tersebut sebagai tempat kerjanya. Setelah melakukan proses pendaftaran, mereka dibawa ke ruangan lain dimana Dokter sudah menunggu.


Namun sebelum masuk, Alfian berhenti dan berbalik menatap orang tuanya.


"Ayah, Bunda, kalian pulang saja. Fian janji akan menjawab semua pertanyaan Dokter dengan jujur."


Rara tersenyum lembut menatap Alfian, ia bergerak maju dan mengusap tangan putranya.


"Kita akan melakukan pengobatan ini bersama-sama. Biarkan Ayah dan Bunda ikut, agar kami lebih mengerti keadaanmu." Ujar Rara.


Alfian sadar jika tekad Bunda Rara sudah bulat. Jadi Alfian tak lagi memaksakan kehendaknya. Alfian mengangguk sebagai tanda menyetujui permintaan Rara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2