Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 16


__ADS_3

"Eh, ayah sudah pulang." Nyonya Rara menyambut kedatangan suaminya dengan antusias. Ia bahkan sudah mengalungkan tangan di leher Sultan. Alfian menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua orang tuanya yang mesra tanpa melihat tempat dan masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.


"Makan apa?" Tanya Sultan pada istrinya.


 "Pie leci." Jawab Rara sambil kembali duduk di kursi rotan. "Desi yang buat. Enak sekali."


"Benarkah?"


Rara mengangguk. "Nanti Desi akan mengantarkannya kesini."


Tak berapa lama Desi sudah muncul membawa nampan berisi pie dalam loyang kaca dan dua buah piring kecil. Gadis itu menata pie diiringi tatapan menggoda Nyonya Rara.


"Kuenya Tuan, Nyonya."


"Terima kasih Desi." Jawab Sultan.


Desi mengangguk dan segera kembali ke dapur untuk mengambil teh. Saat melintasi ruang tamu ia berpapasan dengan Alfian.


"Desi, jasku kamu taruh dimana?"


"Di ruang kerja, Tuan."


"Kenapa di ruang kerja? Kan Bunda suruhnya ke kamar."


"Tapi, tadi Tuan Muda tidak beri penegasan juga. Jadi saya tidak berani, Tuan Muda."


Alfian meraup wajahnya kasar, ia mendekati Desi dan meletakkan tangan di kedua bahu gadis itu bahkan sedikit menunduk.


"Kalau Bunda yang suruh, lakukan saja. Ok."


Desi berdebar, suara Alfian yang lembut membuat efek berbeda di telinga dan jantungnya.


"Iy…iya Tuan."


Alfian tersenyum manis dan menarik hidung Desi. "Gadis pintar."


Desi memegang hidungnya dan melayangkan tatapan protes. "Issh Tuan."


Alfian tersenyum gemas dan mengacak-acak rambut Desi.


"Tuan." Desi semakin kesal dan menangkap tangan Alfian. Namun dengan cepat Alfian menggerakkan tangannya hingga tak dapat ditangkap oleh Desi.


Kekesalan Desi malah membuat Alfian semakin senang. Bahkan di mata Alfian, Desi yang sedang mencebik terlihat semakin menggemaskan. Tanpa mereka berdua sadari, Sultan dan Rara sedang mengintip dari balik pintu.


"Ayah, lihat itu." Rara menggosok kepala Sultan menggunakan dagunya karena menahan gemas.


"Ajaib." Sahut Sultan yang kepalanya berada di bawah.

__ADS_1


"Manisnyaaaaa... Bunda jadi gemas lihatnya." Ujar Rara dengan tangan menggenggam menahan gemas.


Namun tontonan itu tak berlangsung lama. Melihat Alfian berhenti mengerjai Desi, Sultan dan Rara bergegas kembali ke tempat duduknya. Akan tetapi mereka lupa kalau Alfian bisa melihat dari dalam. Karena jendela kaca itu hanya ditutup tirai tipis. Alfian tersenyum tipis melihat tingkah orang tuanya. Ia melepas Desi dengan sedikit rasa tidak rela.


"Ayah, Bunda." Sapa Alfian sebelum duduk dan bergabung dengan orang tuanya.


"Hmmm." Sultan berpura-pura acuh. Sementara Desi sudah seperti cacing kepanasan yang bergerak tak jelas disertai senyum-senyum aneh.


Alfian pun berpura-pura tak tahu. Ia memilih menikmati pie buatan Desi.


"Gimana pie buatan Desi? Enak kan." Tanya Rara pada Alfian.


Alis Alfian terangkat, sebab ini kedua kalinya Sang Bunda menanyakan hal yang sama. "Biasa aja." Jawab Alfian berbohong.


"Iya, emang biasa aja. Yang enak kan bibirnya yang buat." Sahut Rara.


"Uhukk…Uhukk…Uhukk…" Alfian tersedak pie yang sedang ia makan.


Sultan sontak memukul-mukul punggung Alfian. Sedangkan Desi yang baru keluar pintu bergegas mendekat dan meletakkan teh dan air mineral yang ia bawa.


"Bunda." Sultan menatap Rara dengan mata melotot tak senang.


"Minum, minum dulu sayang." Rara mengangsurkan air mineral pada Alfian. Wajahnya menyunggingkan senyum canggung, penuh rasa bersalah.


Wajah serta mata Alfian memerah, ia mengambil air yang diberikan dan segera meneguk minuman itu.


Namun Desi menghentikan langkah tepat di ambang pintu saat terdengar tawa dari Sultan dan Rara, tampaknya mereka sedang menggoda Alfian. Entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat ketiganya tampak bahagia.


Desi melangkah masuk, dan tepat di tengah ruangan ia berhenti lalu berbalik. Desi mengamati keluarga Adhyaksa yang sedang bercengkrama melalui jendela.


Ketiga anggota keluarga Adhyaksa tampak sangat akrab dan saling mengasihi. Mereka menatap penuh sayang pada satu sama lain.


Hati Desi teriris, ia memegang dadanya yang terasa sesak. Desi merasa iri. Ia berbalik dan melangkah dengan gontai.


"Sayang." Lirih Desi. Ia mengingat ucapan Nyonya Rara saat memberikan Alfian minum. "Kapan ibu memanggilku sayang?"


Desi tersenyum kecut. Saat ia kecil dan mulai mengerti bahasa. Ia tidak pernah sekalipun mendengar Sang Ibu memanggilnya "sayang". Seperti yang Nyonya Rara katakan pada Alfian.


Anak tak tahu diuntung!


Kenapa kamu tidak mati saja di dalam perutku?!


Pembawa sial!


Beban keluarga!


Dan masih banyak lagi sumpah serapah yang diucapkan Santi padanya. Kesalahan sekecil apapun, akan membawa kemarahan besar.

__ADS_1


Sedikitpun Ibu tidak pernah menunjukkan kasih sayang seperti yang ia lihat dari Nyonya Rara terhadap Alfian. Hanya Ayah yang menyayanginya. Tapi beberapa tahun lalu Ayah pergi tanpa berpamitan. Ayah bak hilang ditelan bumi. Dan tak lama kemudian Ibu menikah dengan teman Ayah, Om Wiji.


Dari sanalah penderitaan Desi semakin menjadi-jadi. Ia mulai diteror oleh Bagas yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya. Jika ia lengah sedikit saja, ia bisa kehilangan kehormatannya.


Namun ada yang sedikit mengganggu Desi, akhir-akhir ini Ibu mulai berubah. Ia sering menghubungi Desi walau hanya sekedar menanyakan kabar. Saat ia berlibur pun, perlakuan Ibu akan jauh berbeda.


Namun perubahan itu menyisakan perasaan aneh. Firasat Desi mengatakan kalau Ibu tidak tulus. Sikap Ibu terlihat sangat tidak normal. Kebaikannya seperti hanya dibuat-buat. Apalagi Bagas juga tidak berhenti menggodanya. Jika ada kesempatan Kakak tirinya itu akan memanfaatkan situasi untuk melecehkannya.


Desi menarik nafas dalam-dalam, butiran kristal yang hendak jatuh dari kedua matanya yang indah segera ia usap.


Tidak boleh menangisi nasib, Desi. Tidak boleh iri juga. Suatu saat, hari-hari bahagiamu pasti akan tiba.


💔💔💔


Meski wajahnya datar dan kesal, Alfian tetap menyantap makanan yang telah dimasak Desi. Apalagi Bunda dan Ayah juga menyarankan agar menjaga makanan terlebih dahulu sebab ia baru saja sembuh.


"Desi, kamu tinggal di rumah utama saja ya. Nanti pekerjaan disini digantikan pelayan dari rumah utama. Bagaimana? Mau kan. Soalnya masakan kamu enak sekali." Celetuk Rara setelah mereka selesai makan malam.


"Iya…."


"Tidak Bisa!" Alfian memotong Desi yang hendak menjawab pertanyaan Sang Bunda.


"Kenapa?" Rara memandang putranya penuh selidik.


"Bunda kan sudah punya koki di rumah. Kalau ingin makan masakan Desi, datang saja kesini." Jawab Alfian tegas. "Lagi pula, bagaimana kalau pelayan yang menggantikan Desi masakannya tidak cocok dengan lidahku?" Alfian balik bertanya.


"Ya kamu tinggal pulang saja ke rumah. Supaya bisa makan masakan Desi." Bunda membalik saran dari Alfian.


Alfian mendengus, dari dulu Rara memang selalu ingin agar Alfian kembali tinggal bersama mereka. Namun setelah memimpin salah satu perusahaan milik mereka, Alfian memilih untuk mandiri karena jarak apartemen ke kantor tidak terlalu jauh.


"Bunda pakai Desi untuk memaksaku pulang?" Alfian langsung menyebut inti permasalahan.


"Tidak." Jawab Bunda Rara dengan santai. "Bunda memang suka makanan yang Desi masak dan juga kue buatannya." Rara berbohong. Sebenarnya ia hanya ingin menggoda Alfian.


"Kalau begitu, kita minta Bik Ira yang tinggal disini. Selama ini kan kamu cocok sama masakan Bik Ira." Usul Ayah Sultan, mendukung keisengan Sang Istri.


"Tidak, pokoknya Alfian cuma mau Desi."


"Kenapa?" Nyonya Rara mendesak.


"Tidak ada alasan khusus. Alfian cocok saja sama cara kerja Desi."


Bahu Rara merosot. Ia pikir bisa menekan Alfian untuk terbuka. Ternyata hasilnya nihil.


Ya...ya…ya. Desi tetap disini." Akhirnya Nyonya Rara mengalah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2