Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 8


__ADS_3

Desi berusaha melepaskan diri dari Alfian. Tapi pelukan Tuan Muda terlalu kuat. Desi mulai merasa kepanasan imbas dari suhu badan Alfian yang tinggi.


"Mmmm." Tuan Muda bergumam sambil menggesek-gesek pipi di rambut Desi.


Aku dikira guling.


Desi berusaha menempatkan tangannya di cela-cela tubuh Alfian. Ia mencari pijakan untuk mengangkat tubuhnya.


Setelah kedua tangannya di posisi yang tepat, Desi berdiam diri. Ia menunggu saat Alfian akan kembali menggeliat. Tubuh yang panas akan membuat tidur menjadi tidak nyaman dan sering bergerak. Jadi Desi hanya tinggal menunggu saat itu tiba.


Keberuntungan memihak kepadanya. Tak lama kemudian Alfian kembali menggeliat. Desi yang sudah mengambil ancang-ancang langsung menegakkan kedua sikunya. Dan terbebas lah ia dari pelukan Tuan Muda.


Desi duduk di lantai sambil mengusap peluhnya. Ia menatap wajah Tuan Muda yang tepat berada di samping kirinya. Rasa iba menyapa hati Desi. Ia berdiri dan mengambil handuk kecil kemudian mengusap keringat di wajah Alfian.


Setelah itu Desi kembali ke dapur. Ia menyiapkan oatmeal dan air putih hangat.


"Tuan Muda." Kali ini Desi berani untuk mengguncang lengan Alfian lebih keras.


Alfian bereaksi. "Hmm Ya. Ada apa?" Suara Tuan Muda terdengar sangat lemah.


"Makan dulu, baru minum obat. Badan Tuan panas sekali."


Alfian membuka matanya untuk sesaat, kemudian menutup lagi. Ia merasa terlalu lemah sampai tidak mampu membuka mata.


Kalau menelepon Nyonya dan tunggu sampai Nyonya datang. Kasihan Tuan Muda.


Desi menggigit bibir, ia menatap Alfian dan mangkuk oatmeal secara bergantian. Akhirnya ia memantapkan hatinya. Desi menyendokkan sedikit oatmeal dan menyodorkan itu di depan mulut Alfian.


"Tuan, maafkan kelancangan saya. Tapi Tuan harus minum obat."


Alfian menarik nafas kemudian kembali membuka matanya. Ia sedikit terkejut melihat sendok yang sudah berada di depan mulutnya. Ditatapnya Desi yang sedang menunggu dengan wajah cemas dan juga takut.


"Maaf saya lancang, Tuan." Lirihnya lagi kemudian menyodorkan sendok agar semakin dekat ke mulut Alfian.


Alfian tidak berkomentar, ia membuka mulutnya dengan patuh dan memakan oatmeal yang Desi sodorkan. Desi menunduk dan tersenyum lega. Ia menunggu sebentar dan kembali menyuapi Alfian.


Pada suapan ke lima Alfian menggeleng. Mulutnya terasa pahit hingga ia kehilangan selera makan.


Desi meletakkan mangkuk dan mengambil gelas air. Ia terdiam sejenak dan menatap Alfian. Desi bergegas mengambil sebuah sedotan di dapur. Ia merasa sudah cukup lancang dengan menyuapi Alfian. Tidak mungkin ia harus memegang kepala Tuan Muda untuk membantunya minum.


"Tuan Muda, minum dulu."


Alfian yang masih ingin tidur terpaksa kembali membuka mata. Ia membiarkan Desi mendekatkan sedotan ke mulutnya dan mulai minum.


"Terima kasih." Lirihnya lagi.


Desi mengangguk kemudian membereskan peralatan makan Alfian. Ia kembali dengan membawa sebuah obat.


"Tuan, ini obat penurun panas. Sebaiknya Tuan Muda minum dulu." Desi meletakkan nampan berisi obat dan air di meja yang berada dekat kepala Alfian.


Alfian kembali patuh, ia berusaha bangkit namun tenaganya tidak cukup. Desi menghela nafas berat. Ia mendekati Alfian dan berdiri dengan lututnya.


"Tuan, sekali lagi tolong maafkan kelancangan saya."


Desi memaksa tangan kirinya untuk masuk ke bawah pundak Alfian. Sampai pundak kirinya bersentuhan dengan lengan kanan Alfian. Kemudian sekuat tenaga ia bergerak agar tubuh Alfian terangkat.


Meski tubuhnya lemah, Alfian juga tidak tega jika membiarkan tubuh mungil Desi untuk mengangkatnya sendiri. Alfian ikut memaksa tubuhnya agar bisa bergerak.


Setelah Alfian berhasil mengangkat sedikit tubuhnya, Desi mengatur bantal sofa agar posisi Alfian lebih tinggi. Alfian pun meminum obatnya, membuat Desi bernafas lega.

__ADS_1


Saat Desi membersihkan peralatan makan Alfian, nada dering dari smartphone-nya terdengar. Desi segera mengangkat telepon. Ia yakin peneleponnya adalah Nyonya Rara, sebab ia sudah mengirim pesan sebelumnya.


"Selamat pagi Nyonya."


"Pagi. Desi, bagaimana kondisi Alfian?"


"Masih panas, Nyonya. Tuan Muda baru saja minum obat penurun panas." Desi melaporkan keadaan terkini Alfian.


"Minum obat? Emangnya dia bisa makan?" Nyonya Rara hafal benar dengan kondisi Alfian jika sedang sakit.


Desi menegang. "Ma…maafkan saya Nyonya."


"Alfian minum obat tanpa makan?!"


"Buk…bukan Nyonya. Sa..saya tadi menyuapi Tuan Muda." Nada bicara Desi melemah di akhir kalimat. "Maaf Nyonya."


Hening, Nyonya Rara tidak segera beraksi. Dan hal itu membuat Desi semakin takut.


"Alfian mau makan?" Tanya Rara pada akhirnya. Ada keragu-raguan yang begitu kentara disana.


"Iya Nyonya, tapi cuma sedikit. Tadi saya buatkan oatmeal, Nya."


Rara kembali terdiam sejenak. "Desi, saya belum bisa datang karena lagi di luar kota. Nanti saya telepon Dokter pribadi agar dia datang memeriksa Alfian."


"Baik Nyonya. Mmm dan maaf….."


"Desi, tidak perlu meminta maaf. Aku bersyukur kamu mau merawat Alfian." Nyonya Rara memotong ucapan Desi yang hendak meminta maaf. "Terima kasih ya. Saya tutup dulu teleponnya."


Desi menarik nafas lega. Ia kemudian membuat bubur untuk Tuan Muda makan.


Sedangkan Rara menutup telepon dengan wajah penuh keheranan.


"Alfian sudah minum obat."


Sultan mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus itu."


"Sudah makan juga walau sedikit."


"Syukurlah." Sultan mengangguk-anggukkan kepala lagi. Kemudian mulai memusatkan perhatian di tab yang ia pegang.


"Dia disuap Desi."


Sultan kembali menatap Rara dengan mata yang membesar. "Ajaib."


❤️❤️❤️


Bel berbunyi, Desi segera membasuh tangannya dan menuju ke pintu. Di layar monitor terlihat seorang pria paruh baya berpakaian rapi sedang menunggu.


Desi menekan tombol kemudian berbicara. "Maaf, dengan siapa?"


Pria tersebut mendekat dan menekan tombol di papan kunci yang ada di pintu.


"Saya Dokter Haryadi, tadi Ibu Rara menelepon saya dan meminta untuk datang memeriksa Alfian." Pria tersebut memperkenalkan diri.


Terdengar suara "beep" dan pintu dibuka.


"Selamat pagi Dokter. Silahkan masuk."


Dokter Haryadi menatap Desi untuk sejenak sebelum ia masuk.

__ADS_1


"Kamu siapa?"


"Saya pembantu baru." Desi menutup pintu dan menyusul Dokter masuk ke dalam. "Tuan Muda di sofa depan televisi, Dokter."


"Kenapa tidur di luar?" Dokter bertanya sambil terus berjalan.


"Saya tidak tahu Dok. Bangun pagi saya juga terkejut Tuan Muda sudah ada di sofa." Jelas Desi lagi.


Dokter Haryadi tak lagi menanggapi. Ia berdiri di dekat tubuh Alfian yang terbaring di sofa sambil berdecak.


"Anak ini." Haryadi duduk di kursi yang dibawakan Desi kemudian mengguncang tubuh Alfian. "Fian, bangun. Om periksa dulu ya."


Alfian membuka mata pelan dan mengangguk. Ia memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi. Bajunya telah basah karena keringat.


Dokter Haryadi segera memeriksa kondisi Alfian dan memasang termometer untuk mengukur suhu tubuhnya. Setelah itu ia memasang stetoskop dan mulai memeriksa. Desi meninggalkan keduanya dan kembali ke dapur. Ia merasa tidak nyaman melihat Dokter membuka baju Alfian.


Saat Desi kembali, Dokter telah selesai memeriksa Tuan Muda.


"Tadi kamu memberi obat penurun panas pada Alfian?" Tanya Dokter pada Desi.


"Iya Dokter. Apakah salah?"


"Tidak, coba lihat obatnya."


Desi segera mengambil obat yang tadi ia berikan pada Alfian. Dokter Haryadi terlihat lega, karena yang Alfian minum obat penurun panas biasa dan dosisnya tepat.


"Aku akan menelepon orang tuanya untuk memberitahukan hasil diagnosis sementara." Dokter Haryadi membereskan peralatannya. "Begitu juga dengan obatnya."


Desi hanya mengangguk-angguk. Saat Dokter Haryadi hendak pulang, ia melihat Desi seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa?"


"Itu, mmm bisakah Dokter menolong untuk mengganti baju Tuan Muda?" Desi tersenyum kecut saat mengatakannya.


Dokter Haryadi mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum lembut, pria paruh baya itu seakan mengerti apa yang dipikirkan Desi.


"Berikan bajunya."


Desi tersenyum senang, ia masuk ke dalam ruang laundry dan mengambil kaos yang sudah bersih dan rapi. Secepat kilat ia kembali dan menyerahkan itu pada Dokter Haryadi.


Alfian yang hampir tertidur terpaksa kembali membuka mata. Ia menurut saja ketika Dokter Haryadi mengganti bajunya.


Dokter Haryadi mengusap peluhnya ketika berjalan menuju pintu keluar. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu akan mengganti baju pemuda bertubuh kekar begitu."


Desi tersenyum kaku mendengar ucapan itu.


"Tadi aku sudah menyuntikkan vitamin. Sekitar satu atau dua jam ke depan dia akan membaik."


"Terima kasih banyak Dokter."


"Sudah tugasku. Tolong rawat dia baik-baik ya."


"Iya Dokter."


Desi menutup pintu, perasaannya jauh lebih ringan. Ia kembali melihat kondisi Alfian. Rupanya Sang Tuan Muda sudah terlelap. Tanpa sadar Desi terpaku pada wajah Alfian yang terlihat tenang.


Ganteng


Netra Desi melebar, ia memukul kepalanya mengenyahkan pikiran yang baru saja melintas. Desi memilih kembali ke dapur untuk memasak makanan untuknya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2