Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 28


__ADS_3

Sepeninggal Alfian, Desi masih berdiri pada tempatnya dengan jari meraba bibir. Kecupan Alfian masih terasa hangat di kulit tipis ini. Dada Desi bertalu. Ia bersandar di tepi kitchen island dengan kedua tangan memegang overhang.


"Jadi, Tuan Muda tidak sedang menjebakku." Gumamnya pada diri sendiri.


Desi menggigit bibirnya dengan wajah menunduk. "Tapi aku kan cuma pembantu. Nyonya Rara pasti marah besar kalau tahu tentang ini."


Desi memejamkan matanya. Bayangan-bayangan perlakuan manis Alfian pada dirinya melintas. Hatinya menghangat, Desi tersenyum. Bayangan wajah Alfian di pelupuk matanya membuat darah Desi berdesir.


Sepertinya, aku jatuh cinta. Gumam Desi dalam hati. Bukan sepertinya, tapi aku memang sudah jatuh cinta. Ralatnya sendiri.


Tiba-tiba Desi merasakan benda kenyal dan lembut menempel di bibirnya. Desi segera membuka mata. Ketika ia terkesiap karena kaget, saat itulah Alfian memperdalam ciumannya. Alfian segera menekan tengkuk Desi dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya bertumpu pada kitchen island untuk menopang tubuhnya.


Lidah Alfian menerobos masuk. Bibirnya bergantian ******* dengan gemas bibir Desi bagian atas dan bawah.


"Mmmppp Tu mmmpphhh."


Alfian tidak memberi kesempatan pada Desi untuk bisa berbicara. Dengan rakus dan menuntut ia terus mencecap setiap inci bibir Desi. Ia tidak peduli meski Desi kelabakan mendapat ciuman panas seperti itu.


"Mmuughhh." Desi melenguh karena tidak sempat menarik nafas.


Alfian melepas pagutannya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Desi.


"Aku kecewa kamu memiliki pemikiran kalau aku hanya menjebakmu." Ucap Alfian dengan nafas terengah-engah. Desi tidak menanggapi, ia sibuk mengatur nafas. Bahkan tidak berani membuka mata karena tidak berani menatap wajah Alfian.


Tangan Alfian terulur membelai pipi Desi. Kemudian Alfian kembali ******* bibir gadis di depannya. Kali ini lebih lembut, tidak seperti pertama.


"Buka matamu." Pinta Alfian.


Desi menuruti, tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap wajah Desi memerah hingga ke telinga.


Alfian tersenyum manis. Ia menatap mata Desi, kedua tangannya yang besar menangkup kedua pipi gadis itu. "Aku suka sama kamu."


Desi mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Desi, aku cinta sama kamu."


Mulut Desi terbuka, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Seolah-olah kalimatnya tersangkut di ujung lidah. Perasaannya tidak karuan. Seolah-olah ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


Desi mencari kebohongan di dalam manik mata Alfian. Namun tidak ia temukan sama sekali. Desi malahan seperti tersedot dan hanyut dalam tatapannya.


"Aku....."


Alfian segera menutup mulut Desi dengan ujung jari tengah dan jari telunjuknya.


"Aku nggak terima penolakan. Karena aku yakin, kamu juga suka sama aku. Kan tadi kamu bilang baper sama perlakuanku."


Netra Desi membulat sempurna. "Apa?"


Alfian mendekatkan wajahnya dan hendak mencium Desi. Namun gadis ini menarik kepalanya ke belakang.


"Sudah cukup cium-ciumnya Tuan." Tolak Desi.


Alfian menyeringai. Ia menarik tengkuk Desi dan menahannya agar Desi tidak bisa mengelak. Bibirnya mendarat dengan sempurna. Satu kecupan singkat.


"Itu hukumanmu."


Desi melongo, ia lupa akan perintah Alfian yang melarang Desi memanggilnya Tuan.

__ADS_1


"Sebut namaku."


Desi menelan salivanya dengan kasar. Lidahnya terasa geli. Begitu sulit jika hanya memanggil nama. Desi menarik nafas dalam-dalam.


"Al...Alfian." Lirih Desi, hampir tidak terdengar.


"Apa? Aku tidak dengar."


Desi kembali menarik nafas, dadanya bergemuruh. "Alfian." Ucapnya pelan. Namun ia segera menggelengkan kepala.


Senyum di wajah Alfian pudar. "Kenapa, hmm?"


"Rasanya aneh." Jawab Desi jujur. Kepalanya berpikir keras, bagaimana harus memanggil Tuan Muda pemaksa dan tukang cium itu.


Alfian mengedikkan bahu. "Aku tidak mau tahu. Yang jelas, aku tidak mau bibirmu yang manis ini memanggilku dengan sebutan Tuan Muda." Ucap Alfian sambil mengusap bibir Desi yang bengkak.


Alfian tersenyum geli. "Bibirmu jadi bengkak sayang." Kemudian ia kembali mengecup bibir Desi.


"Siapa yang buat jadi begitu?" Desi kesal.


"Aku." Dengan entengnya Alfian menjawab dan kembali ******* bibir Desi.


"Mmmas." Desi mendorong dada Alfian.


Alfian melepas Desi karena terkejut dengan panggilan yang Desi sematkan padanya. Ia tersenyum lebar dan memeluk Desi.


"Jadi, mulai hari ini kita menjalani komitmen untuk menjalin hubungan?" Alfian seperti ABG yang baru berpacaran.


"Apa aku boleh bilang tidak?"


"Tidak."


Alfian terkekeh. "Jangan marah, nanti aku cium lagi."


"Heelllehhhh, modus." Desi mengerucutkan bibirnya. "Dasar tukang cium."


Untung saja ia sedang berada dalam dekapan Alfian. Jika tidak, entah apa jadinya. Mungkin Alfian akan kembali menyerangnya dengan beringas.


"Tapi kamu suka juga kan?"


"Mas." Desi memukul pelan dada bidang Alfian.


Alfian tertawa renyah. Ia mempererat pelukannya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Desi.


"Aroma tubuh kamu lembut banget sayang." Alfian menempelkan hidungnya ke leher Desi. "Aku suka."


"Geli Mas."


Alfian tidak memperdulikan ucapan Desi.


"Berhenti ngendus-ngendus gitu."


Alfian mengangkat kepalanya. "Aku bukan kucing."


"Iya deh iya, bukan kucing....." Desi melepaskan tangan Alfian. Ia bergerak menjauhi pemuda itu. "Kucing garong."


"Apa kamu bilang?"

__ADS_1


Secepat kilat Desi berlari keluar dari dapur. Alfian yang tak terima dikatai kucing garong segera mengejar.


Desi berbelok ke ruang tamu, ia berada di belakang sofa. Tawanya berderai, begitu pun dengan Alfian.


"Sini kamu."


Desi menggeleng. "Nggak mau."


Alfian bergerak, Desi pun melakukan hal yang sama.


"Tega kamu ya, ngatai pacar sendiri kucing garong."


Desi tergelak. "Kenyataannya kan. Sukanya sama yang lebih tua lagi." Sindir Desi.


Bukannya marah, Alfian malah semakin gemas dengan kekasihnya ini.


"Kucing garongnya mengubah menu, sekarang suka sama yang bening-bening."


"Lagi diet? Kolesterolnya tinggi ya." Goda Desi.


"Iya, udah bosan sama yang berminyak, kolesterol naik. Makanya sekarang mau yang bening." Jawab Alfian sambil berdiri menatap Desi seakan gadis tersebut adalah mangsa. "Bening kayak kamu." Dengan sekali gerakan Alfian melompat ke atas sofa yang berada di depan Desi.


"Aaakkkhhh!" Desi yang berada di belakang sofa tersebut menjerit panik dan berlari menuju kamarnya.


Alfian melompati sandaran sofa dengan mudah dan menyusul Desi dengan cepat. Belum sempat Desi menutup pintu, Alfian sudah menahan dan mendorong pintu hingga Desi mundur.


"Am..ampun Tu eh Mas. Aku nggak bakal ngomong gitu lagi." Desi berjalan mundur. Alfian menyeringai, ia menatap Desi seperti singa lapar yang menatap buruannya.


"Terlambat." Alfian maju menangkap Desi, gadis itu berkelit. Namun ia kalah cepat karena Alfian berhasil menggapai lengannya.


"Aaakkhh!" Desi terpelanting menabrak tubuh kekar Alfian.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Jemari Alfian dengan lincah menari di atas pinggang Desi.


"Mas hahahaha ampun. Hahahaha ampun Mas, geli." Desi tertawa terbahak-bahak karena ulah jari Alfian yang menggelitiknya.


"Ini hukuman kamu." Ujar Alfian diiringi gelak tawa.


Desi terus bergerak, mencoba melepaskan diri. Hingga akhirnya ia terjatuh ke kasur. Alfian tidak berhenti hingga akhirnya Desi terbatuk-batuk karena tersedak salivanya sendiri.


"Uhukkkk...uhukkkk....uhukkk. Udah Mas...uhukkk...uhukkk...uhukkkk."


Alfian menghentikan aksinya dan menepuk punggung Desi yang berbaring menyamping. "Iya iya." Ia membantu Desi sambil mengatur nafas.


"Mas sih." Ujar Desi sambil berusaha duduk.


Dengan sigap Alfian membantunya. "Kamu yang mancing duluan." Alfian mencolek hidung Desi.


Desi tertawa kecil sambil mengusap peluhnya. Dari pipi hingga ke leher. Dan semua gerakannya itu tidak luput dari pengamatan Alfian.


"Kasihan. Capek ya."


Desi mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Istirahat ya." Alfian mengusap kepala Desi dan mengecup keningnya singkat. "Love you."


Desi yang belum terbiasa hanya tersenyum manis membalas ucapan Alfian. Ia mengantar Alfian sampai ke depan pintu. Setelah pemuda itu melangkah ke kamarnya, barulah Desi menutup dan mengunci pintu.

__ADS_1


Ketika mendengar suara pintu di tutup. Alfian berbalik. Kemudian ia meninju udara dengan ekspresi berteriak gembira tanpa suara. Sedangkan di balik pintu, Desi bersandar sambil memegang dadanya. Rasa bahagia merajai hatinya.


...****************...


__ADS_2