
Desi tertegun, namun ia tidak berusaha menarik tangan kanannya yang berada di dalam genggaman Alfian. Ia sempat berpikir jika Alfian tidak akan ikut karena memiliki kesibukan lain.
Apa yang aku pikirkan? Kenapa harus terkejut? Alfian adalah putra mereka, tidak mungkin dia tidak ikut.
Pandangan keduanya bertemu. Bahkan Desi tidak mengelak saat Alfian mengangkat tangan dan mengecup punggung tangannya. Alfian tersenyum lembut ketika Desi tidak menarik tangannya.
Desi melangkah maju selaras dengan Alfian yang melangkah mundur dengan perlahan. Setelah posisi mereka menjauh dari tangga, Alfian memposisikan dirinya berjalan di samping Desi.
Keduanya melangkah bergandengan tangan dalam diam. Entah dimana posisi Sultan dan Rara saat ini. Yang jelas mereka memberi kesempatan pada Sang Putra untuk kembali berbaikan dengan kekasihnya.
"Kamu cantik sekali." Bisik Alfian di telinga Desi. Membuat tubuh gadis itu meremang. Ia bergerak menjauhkan kepalanya dari Alfian.
Desi tersenyum tipis. "Terima kasih Mas."
Mereka tiba di dek untuk berjemur. Desi melepas tangannya dari genggaman Alfian. Kemudian memilih tempat untuk duduk.
Tak lama kemudian kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga.
Alfian menatap dalam-dalam pada Desi yang tersenyum menikmati pemandangan. Ia tidak ingin mengusik Desi. Alfian takut jika akan merusak suasana hati Desi. Diam-diam Alfian pergi untuk masuk ke dalam.
Desi sempat menoleh sejenak melihat Alfian berjalan menjauh. Namun tidak ada niat sedikit pun untuk menghentikan langkah Alfian. Desi menunduk dan menggigit bibirnya. Ia takut jika Alfian kembali melontarkan kalimat yang akan menyakiti hatinya di masa mendatang. Tapi perasaan yang Desi miliki untuk Alfian tidak serta merta berkurang. Desi hanya perlu waktu untuk mengobati kekecewaannya.
Desi berdiri kemudian berjalan menuju pinggir kapal. Ia berpegangan pada pagar pembatas. Desi memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah.
Hatinya dipenuhi rasa syukur karena diberi kesempatan bisa berlayar menggunakan kapal pesiar yang mewah. Desi tersenyum miris, ia membuka matanya dan menatap riak-riak air di bawah sana. Jangankan bertamasya a la orang kaya seperti ini. Dulu tak sekalipun ia membayangkan bisa meneruskan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi.
Sejak Sang Ayah menghilang tanpa jejak, Sang Ibu tidak pernah mengurus keperluan sekolah Desi. Bahkan Desi sering menahan lapar karena diabaikan oleh Santi. Kemudian Desi mulai sadar ia harus bisa mengurus hidupnya sendiri. Karena sejak kecil memang Sang Ayah yang merawat dan menyiapkan kebutuhan Desi. Sedikit pun Santi tidak pernah peduli. Ia sering mengatakan kalau Desi adalah sebuah kesalahan.
Ditambah lagi dengan kehadiran Kakak tiri yang selalu membuatnya lelah karena harus waspada. Hingga Desi memutuskan melanjutkan SMA ke tempat yang jauh dari kampung halamannya.
Desi tahu, yang ia nikmati saat ini hanya sementara. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk tidak ingin mengingat atau memikirkan hal lain yang membuatnya sakit hati. Ia ingin menikmati kehidupan yang menyenangkan yang sementara ia jalani sekarang. Sebelum nanti kembali berkutat dengan kerja keras untuk meneruskan hidup.
Seorang pelayan datang membawakan segelas jus dan semangkuk penuh potongan buah. "Silahkan, Nona Muda." Ujar Pelayan tersebut seraya meletakkan semua yang ia bawa di atas meja.
Desi tersenyum tipis dan kembali duduk di tempatnya. "Terima kasih." Ia mengambil gelas dan langsung menyedot jus yang ada di dalamnya.
Wajah Desi sumringah, ia menyukai minuman itu.
"Apakah anda menyukainya, Nona Muda?"
Ternyata pelayan tadi tidak segera pergi. Dia masih berdiri dengan setia di dekat Desi.
"Iya, ini enak sekali."
__ADS_1
Pelayan tersebut menarik nafas lega. "Tuan Muda pasti senang mendengarnya."
"Tuan Muda?"
"Iya Nona. Jus ini dibuat sendiri oleh Tuan Muda. Permisi Nona."
Desi menatap gelas di tangannya. Sudut bibirnya tertarik dan membentuk senyuman manis.
"Ehmm!"
Suara deheman mengalihkan perhatian Desi dari gelas yang ia tatap.
Desi mengangkat wajahnya, di depan sudah berdiri Alfian dengan dua gelas jus.
"Saya mendengar kalau Nona Muda menyukai jus ini. Oleh sebab itu, saya membuatkannya lagi khusus untuk Nona."
Desi tertawa renyah melihat tingkah Alfian yang berlagak seperti pelayan. Lengkap dengan serbet di bahu dan juga senyuman di bibirnya.
Alfian terpukau, akhirnya ia bisa melihat Desi tertawa lepas.
"Tidak cocok." Ucap Desi di sela-sela tawanya.
Alfian meletakkan jus serta serbet di meja. Kemudian duduk di samping Desi. "Jadi, yang cocok seperti apa?" Tanya Alfian penuh antusias.
"Cocoknya begini." Desi memegang rahang Alfian dengan kedua tangannya. Mengarahkan pandangannya ke depan, kemudian sedikit mengangkat dagu pemuda ini. "Jangan senyum." Pinta Desi lagi.
Alfian mendengus, ia tahu saat ini wajahnya pasti datar tanpa ekspresi dengan tatapan angkuh. Desi terkekeh geli.
"Jangan marah, nanti gantengnya hilang." Desi mencolek dagu Alfian.
Alfian tetap diam, ia tidak menggubris ucapan Desi.
"Mas." Suara Desi mendayu, menggelitik telinga Alfian. "Jangan marah gitu dong."
Hati Alfian berbunga-bunga mendengar bujuk rayu Desi. Sudut bibirnya berkedut, ingin tersenyum. Namun dengan sekuat tenaga Alfian mencegahnya.
"Mas Al." Suara Desi semakin manja.
Oh God, cobaan apa ini?
Alfian meremang, suara Desi mampu membangkitkan sisi liarnya. Padahal hanya suara, Desi bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Selama ini ia tidak pernah tergoda meski ada mantannya yang sampai nekat tak memakai apapun demi menaklukkan Alfian.
"Ma ... "
__ADS_1
"Ok ... Ok ... hentikan." Alfian mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap Desi. "Astaga, kau benar-benar ... hhhhhh." Alfian tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Desi tersenyum manis. "Gitu dong." Tiba-tiba Desi memeluk Alfian dari samping dan mengecup singkat pipi kanan Alfian.
Deeesssiiiii
Alfian mengerang dalam hatinya. Belum reda rasa sebelumnya, kini Desi malah menciumnya. Aroma tubuh Desi yang lembut tidak lagi menenangkannya, melainkan bagai bahan bakar pada tungku api.
"Honey." Panggil Alfian dengan suara yang serak.
"Iya Mas."
"Aku tidak ingin menerkammu sekarang. Jadi tolong jangan memancing."
Desi menjauhkan tubuh dan menatap Alfian dengan kening berkerut. "Aku nggak ngerti."
Desi beringsut menjauh dan kembali menikmati jus miliknya. Alfian menarik nafas lega.
"Terima kasih untuk jus ini. Rasanya sangat lezat. Permintaan maaf yang manis." Desi tersenyum lembut menatap wajah tampan Alfian.
"Benarkah?" Alfian membalas tatapan Desi tak kalah lembutnya.
Desi menggunakan tangan kanan untuk menopang dagunya dan menatap Alfian. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum. Pun dengan Alfian, ia membalas senyuman Desi.
Sepasang kekasih itu tak berbicara apapun lagi. Keduanya hanya saling memandang sambil saling melempar senyum.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati tingkah keduanya dan ikut tersenyum geli.
"Kenapa Bun?" Tanya Sultan pada Istrinya. Saat ini mereka berdua sedang berada di anjungan.
"Lihat deh Yah, mereka berdua manis sekali kan. Aduh, Bunda jadi gemas." Jawab Rara tanpa menurunkan teropong dari wajahnya.
Sultan memukul dahinya pelan. "Jadi dari tadi yang Bunda lihat pakai teropong itu bukan laut? Tapi ngintip anak yang lagi pacaran?" Sultan menatap Rara dengan pandangan tak percaya.
Rara melipat bibirnya ke dalam. Ia baru sadar sudah salah bicara. Rara meringis, menurunkan teropongnya dan menatap Sultan yang sedang menggeleng-gelengkan kepala. Tangan Sultan terulur, ia meminta teropong Rara. Dengan berat hati Rara memberikan benda tersebut pada Sang Suami.
Sultan segera menggunakan benda tersebut untuk menatap jauh ke depan. Setelah beberapa saat....
"Iya Bun, interaksi mereka manis sekali."
Rara melotot kemudian mencubit lengan Sultan. "Huuu!!! Sama aja."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya, ceritanya keren lho.