
Desi mengusap layar ponsel dengan senyuman terukir di wajahnya. Hari ini Maria dan Nayra diwisuda. Foto kedua sahabatnya yang memakai toga memenuhi layar gawainya. Seharusnya ia pun ada di sana, bersama kedua sahabatnya. Memakai toga dan berfoto bersama dengan senyuman lebar memamerkan hasil kerja keras selama empat tahun. Tapi apa boleh dikata, tidak semua yang direncanakan bisa terlaksana.
Desi berbaring menatap langit-langit kamarnya. Sedih, tentu saja. Siapa yang tidak sedih jika harus menunda kelulusan. Namun Desi tidak mau tenggelam dalam kekecewaan. Lagipula kelulusannya hanya ditunda, bukan dibatalkan.
Suara ketukan di pintu kamar membuat Desi segera duduk dan merapikan rambutnya. Sebelum membuka pintu ia berkaca dan mengusap wajahnya.
"Tante." Sapa Desi ketika melihat Rara sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Kamu tidur?"
Desi menggeleng pelan. "Tidak Tante. Ada yang harus saya lakukan?"
"Tante mau belanja. Temani ya." Pinta Rara dengan wajah berbinar.
Sebenarnya Desi enggan untuk bepergian karena suasana hatinya belum kembali baik. Akan tetapi melihat ekspresi wajah Rara yang memandangnya penuh harap, Desi jadi tidak tega untuk menolaknya.
"Saya ganti baju dulu ya Tante."
Rara tersenyum senang. "Ok. Tante tunggu di depan ya."
"Iya Tante." Desi segera menutup pintu dan bersiap.
Dua jam kemudian keduanya tiba di sebuah butik ternama yang menjadi langganan Rara. Desi hanya mengikuti kemana pun wanita paruh baya itu pergi. Ia tidak berminat untuk melihat-lihat. Selain karena tidak sanggup melihat harganya, Desi sudah terbiasa tidak akan membeli barang yang tidak akan ia pakai.
"Kamu tidak lihat-lihat Des?" Tanya Rara yang sadar Desi hanya mengikutinya.
"Tidak Tante." Jawab Desi jujur.
"Kamu pilih saja. Nanti Tante traktir." Rara mengerling.
Desi tertawa kecil. "Terima kasih untuk tawarannya Tante. Tapi untuk apa saya beli. Toh saya juga tidak akan pergi menghadiri acara yang membutuhkan gaun mahal." Tidak ada yang Desi tutupi dari Rara.
Rara menghentikan gerakan tangannya. Ia memikirkan kembali ucapan Desi dan mengangguk kemudian.
"Kalau begitu kita ke tempat lain." Ajak Rara dan keluar dari butik tersebut.
__ADS_1
"Lho, Tante nggak jadi belanja?"
Rara tersenyum. "Aku jadi ingat kalau mempunyai stok gaun yang belum pernah dipakai jika sewaktu-waktu mendapat undangan pesta." Rupanya di dalam hati, Rara mempertimbangkan ucapan Desi. Untuk apa membeli barang yang belum atau tidak akan dipakai. Hanya membuang uang dan juga membuat tempat penyimpanan menjadi penuh.
Mobil berhenti di depan sebuah salon ternama. Setelah mendaftar dan menunjukkan kartu keanggotaan berwarna gold, Rara dan Desi diantar menuju sebuah ruangan VVIP.
"Hari ini kamu juga harus dimanjakan dengan perawatan profesional. Biasanya kan kamu yang memanjakan Tante. Sekarang kamu juga harus menikmatinya " Ujar Rara saat akan melakukan penimbangan badan.
Mata Desi berbinar. "Kalau yang ini, saya tidak pernah menolak."
Jawaban Desi membuat Rara spontan tertawa. Ia senang karena sudah membuat keputusan yang tepat. Saat mendaftar, Rara memesan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Karena menjadi pelanggan VVIP, maka mereka pun akan mendapat makanan ringan sampai makanan berat. Jadi tidak takut lapar meski seharian berada di tempat tersebut. Dan yang pasti, makanan yang disediakan adalah makanan yang berkhasiat untuk kecantikan kulit juga tidak mempengaruhi berat badan. Itulah alasan mengapa Desi dan Rara menimbang berat badan mereka. Hal itu berkaitan dengan penyajian makanan berdasarkan instruksi ahli gizi yang berada di rumah kecantikan tersebut.
Desi benar-benar menikmati waktunya saat ini. Rasanya benar-benar nyaman dan menenangkan. Tanpa Desi ketahui, Rara diam-diam mengambil foto saat mata Desi terpejam menikmati pijatan di kepalanya.
Rara mengirim foto tersebut disertai keterangan.
^^^Dia menikmati waktunya. Saya jamin dia bisa melupakan kesedihannya karena tidak bisa ikut wisuda.^^^
Tak lama kemudian sebuah balasan datang.
Terima kasih banyak Tante. Saya berhutang budi sama Tante dan keluarga. Suatu saat saya akan membalas semua kebaikan Tante dan keluarga.
^^^Tidak perlu, kamu sudah mempertaruhkan banyak hal untuk menyelamatkan dia.^^^
Rara mengirim pesan tersebut. Namun ia tidak segera meletakkan telepon pintar miliknya. Ia kembali membuka aplikasi percakapan berwarna hijau tersebut.
^^^Kalau kami mempersunting Desi untuk Alfian, bagaimana?^^^
Rara menunggu jawaban dengan gelisah. Satu menit berlalu rasanya bagai seminggu. Begitu nada notifikasi terdengar ia segera membuka kunci layar dengan cepat.
Jika Desi memiliki rasa yang sama, tidak akan ada yang menghalangi. Tapi ada baiknya jika saya tanyakan lagi. Karena bukan saya yang bertanggungjawab atas Desi.
Jawaban yang diterima Rara membuat wanita itu tersenyum. Setidaknya Alfian tidak ditolak. Sebuah pesan kembali masuk
Terima kasih karena bisa menerima Desi. Padahal dia bukan dari kalangan atas seperti Om dan Tante.
__ADS_1
Jemari Rara mengetik balasan dengan lincah.
^^^Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Dia bisa membuat putra kesayangan Tante berubah. Buat Om dan Tante, itu lebih dari cukup. Alfian adalah segalanya bagi kami. Kami bersyukur Desi masuk ke dalam kehidupannya.^^^
Sebuah pesan kembali masuk.
Tidak menyangka akan berakhir bahagia seperti ini.
Rara kembali membalas.
^^^Berkat kamu.^^^
Balasan singkat dari Rara ternyata begitu mempengaruhi orang yang sedang berbalas pesan dengannya. Hingga ia memerlukan waktu untuk membalas pesan tersebut.
Saya tidak pantas mendapat pujian apapun, Tante. Semua itu berkat kegigihan Desi sendiri untuk mempertahankan harga diri dan kehormatannya.
Rara membaca pesan tersebut dan menatap Desi yang masih memejamkan mata menikmati pijatan di kepalanya. Pelupuk mata Rara mulai tergenang. Wanita itu mengerjapkan mata berulang kali menghalangi cairan bening itu agar tidak luruh.
Gadis muda itu sudah lama hidup dalam penderitaan. Saat remaja seusianya hanya memikirkan belajar dan menghabiskan waktu dengan teman sebaya, Desi harus bekerja untuk meneruskan pendidikan dan hidupnya. Di tengah-tengah kerasnya jalan hidup yang ia tempuh, Desi tidak mengambil jalan pintas.
🌸🌸🌸
Alfian menatap foto Desi yang ada di galeri ponselnya. Saat berlayar di akhir pekan, ia meminta Desi untuk mengambil foto berdua. Siapa sangka, Desi sangat antusias. Bahkan tidak canggung untuk berpose dengan posisi yang sangat dekat. Pelayaran itu membuat Alfian mabuk. Bukan mabuk laut ataupun minuman beralkohol. Melainkan mabuk cinta.
Sebelum kembali ke apartemen, Alfian memeluk Rara erat-erat dan mencium pipi wanita yang sudah membesarkannya berulang kali. Ia berterima kasih dengan ide Sang Bunda untuk berakhir pekan bersama.
Namun senyum Alfian pudar ketika mengingat kemarahannya pada Desi. Ia mengeluarkan kata-kata menyakitkan sebagai akibat dari luapan emosi.
Alfian mendesah kasar dan berdiri dari duduknya. Ia menuju jendela dan menatap ruang terbuka hijau di luar gedung.
Saat Alfian mulai mengerti yang benar dan salah. Tahu apa itu senang, sedih dan marah. Alfian sudah melihat bagaimana perilaku Sang Ibu kepada Mendiang Ayahnya.
Ibu begitu manis dan ramah pada om-om kaya yang kadang ikut pulang ke rumah. Tapi perilaku ibu sangat jauh berbeda kepadanya dan Ayah. Tak jarang Alfian melihat Ayahnya menangis sembunyi-sembunyi sambil memegangi satu lengannya yang sudah tidak memiliki tangan. Benar-benar hanya tertinggal lengan.
Emosi Alfian terpicu karena merasa Desi hanya manis dan ramah kepada pemuda lain. Traumanya membuat Alfian lupa kalau mereka belum lama menjalin hubungan. Dan lupa jika hubungan mereka diawali dari status pelayan dan majikan. Alfian menyesali perilaku impulsif yang ia lakukan saat itu.
__ADS_1
"Aku yakin kamu mengerti, kalau aku cemburu. Jadi, aku harap tidak akan ada kejadian seperti itu kedepannya." Gumam Alfian sambil kembali memandangi foto Desi.
...****************...