
"Selamat pagi." Alfian menyapa Desi yang sedang berdiri membelakanginya.
"Eh!" Desi segera berbalik menghadap Alfian. "Selamat pagi Tuan Muda." Ia sedikit membungkuk saat memberi salam.
"Sedang apa?"
"Ini Tuan, mengisi mesin pengharum ruangan otomatis." Desi menunjuk mesin kecil berwarna kecoklatan di tangannya.
Melihat tidak ada yang ingin Alfian katakan lagi, Desi melanjutkan aktivitasnya dan meletakkan benda tersebut kembali di tempatnya.
"Sarapannya sudah siap, Tuan." Imbuh Desi.
Alfian menatap balkon dan melirik jam tangannya. Masih ada banyak waktu sebelum rapat pertama.
"Aku ingin sarapan di balkon."
"Baik Tuan."
Desi menyajikan roti, selai, jus buah dan sayur serta air mineral.
"Desi, kalau kamu bosan, kamu bisa ikut saya ke kantor." Tawar Alfian tiba-tiba.
Desi mengernyit sambil tersenyum, merasa lucu akan tawaran Tuan Muda.
"Untuk apa saya di sana, Tuan?"
"Menemaniku, atau sekedar melihat-lihat."
Desi tertawa pelan. "Tidak perlu Tuan. Kantor tempat bekerja, bukan tempat wisata."
Sejak pembicaraan mereka di dapur, Desi sudah tidak terlalu tegang saat berbicara dengan Alfian. Ia bahkan sudah mulai bisa berekspresi di depan Tuan Muda. Seperti saat ini.
"Ya mungkin saja. Kamu ingin cuci mata."
Desi nampak berpikir sesaat sebelum kembali menjawab. "Emmmm, bisa juga sih Tuan. Mungkin bisa ketemu jodoh di sana."
Senyum Alfian pudar. "Kalau begitu tidak usah."
Desi menarik bibirnya sebentar ke salah satu sisi, ia kesal dengan perubahan Alfian yang begitu cepat.
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Desi memutuskan untuk kembali ke dalam dan melanjutkan pekerjaannya.
Hhhhhh
Alfian menatap kepergian Desi dengan penyesalan. Niat hati ingin menikmati sarapan ditemani obrolan ringan dengan Desi. Namun akhirnya ia sendiri yang merusak suasana.
Akhirnya Alfian memutuskan untuk berangkat kerja setelah menghabiskan sarapannya. Ia bahkan tidak mengatakan apapun saat melewati Desi yang berdiri di dekat pintu.
"Tuan Muda, permisi."
Alfian berhenti, namun ia tetap tidak mengatakan apapun. Karena melihat Alfian tidak akan berbalik, Desi berjalan melewati tubuhnya dan berdiri di depan Tuan Muda.
"Itu Tuan, dasinya miring." Desi memberitahukan. "Apakah boleh?" Desi menatap Alfian untuk meminta izin.
Tuan Muda ini mengangguk, masih dalam mode bisu, tanpa suara. Desi tersenyum tipis, tangannya terulur memperbaiki dasi Alfian. Bahkan ia merapikan area kemeja di sekitar leher Tuan Muda.
Jarak yang begitu dekat membuat Alfian kembali menikmati aroma melati yang menguar dari tubuh Desi. Wajah gadis itu pun begitu dekat. Bahkan hanya dengan sedikit menunduk, Alfian bisa mencium kening Desi.
Oh ya, Alfian begitu tergoda untuk mengecup dahi gadis itu. Ia menelan ludahnya dengan kasar. Tiba-tiba ia merasa gugup, hatinya bertarung. Harus mengikuti keinginannya atau tidak.
"Sudah rapi Tuan."
Suara Desi mengubah dengan paksa fokus Alfian. Pemuda itu mengerang dalam hatinya saat Desi menjauh.
"Apakah kamu yakin?" Alfian masih belum rela.
"Iya Tuan Muda." Jawab Desi, masih pada tempatnya.
Alfian menarik nafas berat. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih."
__ADS_1
Desi menyingkir agar Alfian lebih leluasa melangkah keluar. Saat menutup pintu, kening Desi mengernyit.
"Apa aku berbuat salah lagi?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. "Tapi apa ya?"
Desi menuju ruang laundry dengan penuh tanda tanya di benaknya.
🤷🤷🤷
Rama menatap satu per satu anggota keluarganya yang tengah berbincang dengan Maria. Hanya dia satu-satunya yang tidak mengenal sahabat Nay, Sang Adik. Namun tidak masalah, toh saat ini ia sudah mengenal dan semakin tertarik pada gadis berkulit eksotis di depannya.
Namun demi menjaga image, Rama memasang tampang datar. Dan hanya sesekali tersenyum tipis. Mengimbangi tawa orang tuanya.
"Mia, mana pacar kamu yang waktu itu?" Tanya Mama Mita dengan penuh semangat.
Apa? Dia sudah punya pacar? Entah kenapa Rama merasa kesal.
Maria menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sudah putus tante. Sudah lama kok." Jawab Maria dan diakhiri dengan cengiran.
"Lho? Kenapa? Padahal kalian serasi sekali. Cantik dan tampan."
"Dia selingkuh tante." Jawab Maria lagi. Ia tersenyum miris, menertawakan hal buruk yang terjadi kepadanya.
"Baguslah." Celetuk Rama tiba-tiba.
Sontak saja semua mata tertuju padanya. Rama yang menyadari sudah mengucapkan kata yang ambigu, segera mengklarifikasi.
"Kalau tukang selingkuh memang tidak boleh dipertahankan. Nanti kumat lagi."
Maria mengangguk-angguk.
"Dengar tuh Mia, yang sudah berpengalaman bolak balik diselingkuhi lho yang berbicara." Sahut Nayra yang duduk di tepi brankar.
Rama melotot menatap Nayra. Ia kesal karena Sang Adik membuka masa lalunya di depan Maria. Nayra pun tak ingin kalah, ia melebarkan matanya sambil mencibir. Sedangkan Maria hanya tersenyum geli melihat tingkah kakak beradik yang sedang bertengkar melalui tatapan mata.
"Sudah sudah, nanti matanya kemasukan lebah." Mama Mita menengahi. "Malu sama Maria."
Rama menoleh dengan cepat, hancur sudah image yang ia jaga di depan Maria. Dan itu semua karena ulah Nayra.
Maria berpamitan karena merasa sudah terlalu lama berkunjung. Dan Nayra butuh istirahat. Sebab sejak kedatangan Maria, Nay tidak bisa diam. Ia menanyakan banyak hal pada Maria sampai Mita harus turun tangan meminta Nayra berhenti bertanya.
Maria memilih menunggu taksi online pesanannya di bawah sebuah pohon tidak jauh dari gerbang masuk rumah sakit. Ia melirik sejenak arlojinya. Meski belum terlalu malam, halaman rumah sakit swasta itu tampak lengang.
"Maria."
Suara seorang perempuan membuat Maria mengangkat kepala dari smartphone miliknya. Dan ketika melihat siapa yang memanggil, Maria menyesali keputusannya menolak tawaran Rama untuk mengantarnya.
Maria menatap gadis di depannya yang sedang bergelayut manja di lengan seorang pemuda. Dulu ia selalu merasa nyeri saat melihat pemandangan itu. Namun sekarang, rasanya biasa bahkan muak.
"Kamu ngapain disini?" Tanya gadis itu dengan suara yang lembut namun terdengar cempreng di telinga Maria.
"Jaga pohon." Jawab Maria asal.
"Jawab yang benar. Untari sudah bertanya baik-baik kepadamu." Ujar pemuda di samping Untari dengan ketus.
"Ihhh, suka-suka dong. Mulut-mulut saya." Tukas Maria tak kalah ketus.
"Hahhh!" Pemuda itu tersenyum mengejek. "Sudah benar keputusanku dulu untuk mencampakkanmu dan lebih memilih Untari. Dia lebih baik, lebih lembut, lebih…."
"Gatal." Maria memotong ucapan Sang Mantan. Satu kata yang keluar dari mulutnya membuat wajah Untari yang lembut berubah drastis.
"Jaga ucapanmu!" Hardik Untari, ia tak terima dikatai gatal.
"Kalau memang baik, kenapa ganggu Alfons padahal sudah tahu Alfons pacar saya waktu itu?" Maria menatap Untari dengan sinis. "Cewek cantik tapi nggak bisa dapat cowok jomblo, malah rebut pacar orang. Nggak laku di kalangan cowok jomblo?"
Kemudian pandangannya beralih pada Alfons, mantan kekasihnya. "Baik karena de su buka de pu mulut bawah buat ko. Iyo to (Baik karena dia sudah membuka mulut bawahnya buat kamu. Iya kan)." Maria menaik turunkan alisnya.
Maria tahu benar, Untari berani menawarkan tubuhnya agar bisa merebut Alfons dari Maria. Untari bersedia melakukan hubungan badan dengan Alfons demi mendapatkan pemuda itu. Hal yang tidak pernah bisa Maria beri. Dan tentu saja, Alfons tidak menolak. Kucing garong mana yang menolak diberi ikan asin. Gratis lagi. Sedangkan Maria selalu menolak untuk lebih dari berciuman.
"MARIA!!!" Alfons melayangkan tangannya, namun belum sempat menyentuh pipi Maria, tangannya sudah ditangkap seseorang.
__ADS_1
Rama memegang tangan Alfons dengan sangat kuat sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan. Matanya berkilat penuh kebencian. Ia sudah mendengar semua pembicaraan mereka.
Awalnya ia menyusul untuk membujuk Maria agar mau diantar pulang olehnya. Namun langkahnya didahului oleh pasangan pengkhianat itu.
Akhirnya Rama memilih berdiri di salah satu mobil tepat di samping mereka bertiga, hingga ia bisa mendengar dengan sangat jelas setiap kata demi kata yang mereka ucapkan. Karena menjadi korban perselingkuhan, Rama jadi sangat membenci orang yang berselingkuh.
Dengan satu sentakan yang sangat kuat, Rama melepaskan tangan Alfons.
"Pak…Pak Rama." Desis Untari pelan, nyaris tidak terdengar. Tubuh Untari bergetar. Ia tentu mengenal Rama, karena ia bekerja sebagai resepsionis di kantor cabang perusahaan keluarga Rama di Kota Y.
Rama menatap gadis itu dengan datar, ia seperti pernah melihat gadis itu, namun lupa dimana.
"Siapa kamu?! Jangan ikut campur!" Hardik Alfons.
"Aku pacar Maria, tentu aku harus ikut campur jika kekasihku disakiti."
Jawaban Rama membuat Maria terkejut, namun dengan cepat ia mengendalikan diri dan bersiap menjadi pemeran dalam drama yang dibuat Rama.
Alfons tertawa sumbang. "Mustahil, kami baru putus beberapa bulan yang lalu. Dan aku tahu Maria bucin padaku."
Maria mendengus kesal, ia menatap Alfons dengan tajam.
"Tidak ada yang mustahil. Kami baru saja berpacaran kemarin." Sahut Rama dengan tenang. Ia mundur selangkah agar lebih dekat dengan Maria. "Benar kan sayang?"
Rama meminta penegasan Maria dengan mada bicara yang begitu manis.
"Iya Bang." Jawab Maria disertai senyum manis yang membuat Rama berdebar.
"Abang kenapa lama sekali?" Maria berpura-pura merajuk, ia memasang wajah kesal sekaligus mengerucutkan bibirnya.
Rama terpana, suara Maria yang merajuk dengan nada manja membuat Rama lepas kontrol. Ia segera mengulurkan tangan dan menarik pinggang Maria hingga gadis itu menubruk tubuhnya.
"Maaf ya sayang." Rama menunduk dan mengecup bibir Maria hingga beberapa kali. Maria ingin menolak, namun karena di depannya masih ada Alfons, ia jadi membalas kecupan Rama.
Rama tersenyum, ia mengusap bibir Maria dengan lembut menggunakan ibu jarinya. "Kamu manis banget sih sayang." Puji Rama sambil menatap Maria dalam-dalam. Bukan sandiwara, Rama benar-benar sedang memuji Maria.
Suara Rama yang berat disertai tatapannya yang dalam dan lembut membuat Maria berdebar. Tanpa sadar ia tersenyum malu-malu.
Ekspresi yang ditampilkan Maria membuat Rama semakin mengeratkan pelukannya. Ia menekan tengkuk Maria dan kembali mencium gadis itu. Awalnya Maria berpikir ciuman ini hanya untuk memanas-manasi Alfons. Namun kenyataannya ia terhanyut dalam ******* bibir Rama. Maria membalas ciuman Rama bahkan semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata. Keduanya saling memagut sampai Alfons dan Untari merasa jengah dan memutuskan pergi.
Setelah beberapa langkah Alfons berbalik, hatinya panas melihat Maria masih berciuman dengan Rama. Itu artinya di hati Maria sudah tidak ada lagi namanya. Dan Alfons merasa kesal dengan hal itu.
"Sudah, dia sudah punya pacar baru." Untari menarik Alfons dengan kesal.
Sialan Maria, dia bisa dapat cowok lebih ganteng dan tajir sebagai ganti Alfons. Sungut Untari.
Sedangkan di bawah pohon, Maria memukul dada Rama dengan pelan karena sudah mulai kehabisan oksigen.
"Abang." Maria menarik mundur wajahnya. Rama tidak melepaskannya begitu saja. Mengakhiri ciuman panas mereka, Rama mengecup-ngecup bibir Maria. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Ia menempelkan dahinya pada dahi Maria.
"Maaf sayang. Habis bibir kamu manis sekali."
"Sudah cukup dramanya, mereka sudah pergi." Maria menahan malu. Ia dan Rama baru saja kenal, tapi mereka sudah berciuman seperti pasangan kekasih.
Maria mendorong tubuh Rama agar pelukan mereka terlepas. Namun usahanya sia-sia.
"Abang." Maria mulai meronta. Akhirnya ia memberanikan diri menatap Rama.
Betapa terkejutnya Maria karena Rama sedang menatapnya lekat. Hal itu membuat jantung Maria berdebar semakin cepat. "Ab…abang."
"Iya sayang. Kenapa, hmm?"
"Me..mereka sudah pergi Bang. Jadi jangan panggil sayang lagi." Jawab Maria sambil mencuri-curi pandang. Ia benar-benar malu.
"Ini bukan sandiwara, Maria."
Maria tercengang, ia menatap Rama. Dan tersadar, tidak ada kebohongan pada tatapan pemuda ini.
...****************...
__ADS_1