
Alfian melonggarkan dasinya, ia merasa lelah setelah mengikuti rapat yang satu ke rapat yang lain sepanjang hari. Dan Bunda memintanya mengantarkan barang milik Bunda yang tertinggal. Keinginannya untuk berbaring tak bisa terpenuhi.
Kakinya melangkah dengan gontai menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Namun saat baru memasuki dapur, ia terpana begitu melihat siluet tubuh Desi yang tampak bersinar dengan bantuan cahaya matahari sore. Gadis itu terlihat sedang sibuk merangkai bunga yang menghiasi meja makan.
Alfian menahan nafas, tanpa sadar ia sudah melangkah lebih jauh dan berhenti di ujung kitchen island. Desi terlihat begitu berbeda. Padahal ia tidak memakai riasan, bajunya pun hanya baju sederhana. Kaos oblong dan celana kain yang panjangnya tepat di bawah lutut. Desi tidak pernah memakai baju yang terbuka selama bekerja, namun entah kenapa itu menjadi magnet tersendiri bagi Alfian.
Dan yang lebih mengejutkan, rasa lelah yang tadi melanda seakan menguap begitu saja. Apalagi ketika melihat Desi tersenyum setelah menyelesaikan rangkaian bunganya. Senyum manis yang tidak pernah Alfian lihat. Darah Alfian berdesir, jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
Disaat yang sama, Desi berbalik hendak membuang beberapa daun dan tangkai bunga yang tidak terpakai.
"Tuan Muda!" Desi berseru dan memegangi dadanya. Jantung Desi bergemuruh hebat saking terkejutnya.
Namun dengan cepat ia menguasai diri. "Maaf, saya tidak dengar waktu Tuan Muda menekan bel."
"Ehmm." Alfian berdehem untuk menguasai diri. "Aku memang tidak menekan bel. Kadang aku lupa kalau sudah tidak tinggal sendiri." Jawab Alfian dengan jujur. Memang saat ia masuk apartemen, ia lupa kalau saat ini sudah mempunyai asisten rumah tangga.
"Apakah Tuan ingin minum kopi sekarang?" Tawar Desi.
Alfian menggeleng pelan. "Ganti saja bajumu, kita akan ke rumah utama. Ada barang Bunda yang ketinggalan." Sahut Alfian kemudian berbalik dan mengambil segelas air putih untuk ia minum.
Desi diam, ia menunggu sampai Alfian selesai minum.
"Ada apa?" Tanya Alfian sambil meletakkan gelas. Ia melihat Desi tidak bergerak dari tempatnya.
"Itu…Tuan." Desi sedikit takut. "Apakah saya memang harus ikut?"
Alfian mengerti dengan keanehan yang Desi rasakan dari ajakan Alfian. Karena ia pun berpikir demikian ketika sedang minum. Lidahnya lebih cepat dari kerja otak, bergerak sendiri mengucapkan kalimat ajakan.
Alfian menarik nafas. "Ya, harus." Jawabnya tak ingin dibantah. Alfian segera keluar menuju kamar untuk berganti baju.
Desi pun kembali kamarnya untuk berganti baju. Ia tidak ingin memancing kemarahan Alfian.
🌸🌸🌸
Alfian tersenyum saat ia dan Desi berjalan beriringan menuju mobil. Ia berhasil memaksa gadis ini untuk jalan disisinya.
"Aku tak ingin orang mengira bodyguard-ku adalah seorang gadis. Membuatku terlihat lemah." Alfian beralasan.
Kalimat yang ia ucapkan sebelum mencapai lift itu sangat ampuh, terbukti Desi segera mensejajarkan langkahnya hingga saat ini.
Alfian semakin senang karena tanpa janjian, Desi memakai baju yang sama warnanya dengan baju yang dipakai Alfian, warna biru elektrik. Dan juga celana berbahan denim warna hitam.
Setibanya di mobil, Desi terlihat kebingungan. Ia merasa tidak nyaman harus duduk di depan di samping Alfian. Tapi kalau duduk di belakang, Alfian akan tampak seperti supir pribadi Desi.
"Duduk di depan Desi." Ucap Alfian sesaat sebelum ia masuk dan duduk dibalik kemudi.
Desi menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
🚗🚗🚗
Rara menyambut kedatangan Alfian dan Desi dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Maaf ya sayang, Bunda ngerepotin kamu." Ujar Rara saat Alfian memeluknya.
"Iya Bun. Tidak apa-apa."
"Desi, ayo masuk." Panggil Rara saat melihat Desi tidak bergerak dari samping mobil Alfian. "Wah, kalian kayak sepasang kekasih yang lagi kencan. Warna bajunya kembar."
Desi membeliak, ia tidak terlalu memperhatikan warna baju yang ia dan Alfian pakai. Desi menatap Alfian dengan cemas.
__ADS_1
Melihat ketakutan di wajah Desi, Rara segera mendekat dan meminta Alfian masuk lebih dulu.
"Sudah, nggak perlu takut begitu." Rara menenangkan. "Alfian nggak akan pecat kamu cuma gara-gara warna baju."
Desi meringis. "Iya Nyonya."
"Ayo."
Tanpa menunggu disuruh untuk ketiga kalinya, Desi mengikuti langkah Rara memasuki rumah utama Keluarga Adhyaksa. Begitu masuk, Desi terpana dengan keindahan rumah itu.
Lebih tepatnya terpana sekaligus bingung. Sebab ia tidak tahu dimana tempat para pelayan berada.
Nyonya Rara tampak membahas sesuatu dengan seorang wanita yang sudah sepuh. Desi mengambil kesempatan itu untuk mengikuti seorang pelayan yang kebetulan lewat. Begitu tiba di dapur, beberapa pelayan menatap Desi dengan heran.
"Kamu siapa?" Tanya seseorang, membuat pelayan yang diikuti Desi segera berbalik.
"Lho, Nona. Nona buat apa disini? Aduh, kalau Nyonya Besar lihat, Nyonya bisa marah." Pelayan yang diikuti Desi tahu jika Desi datang bersama Alfian.
Kedua tangan Desi bergoyang-goyang di depan tubuhnya. "Bukan bukan. Saya bukan tamu. Saya…"
"Oh, Nona haus? Nona bisa tunggu di depan. Saya bisa mengantarkan untuk Nona." Potong pelayan tersebut dengan senyum ramah.
"Tidak perlu, saya….."
"Lho, Desi. Ngapain disini? Saya cari kamu kemana-mana." Rara datang bersama wanita sepuh yang tadi berbicara dengannya.
"Nyo…." Kalimat Desi kembali dipotong.
"Ayo, nanti Alfian nyari kamu?" Rara menarik Desi dengan paksa.
Aduhhh, kalau begini, mereka semua akan salah paham. Desi mengeluh dalam hatinya.
"Bik Ira, itu pacar Tuan Muda?"
"Pacar atau calon istri Bik?"
"Nyonya Rara kayaknya akrab sekali ya sama pacar Tuan Muda. Sudah lama ya Bik pacarannya?"
"Bik Ira, malam ini Tuan Muda mau ngenalin pacarnya ya?"
Bik Ira
Bik Ira
Bik Ira
Bik Ira
Bik Ira
"Dddiiiiiaaaaaammmmmm!!! DIAM!" Bik Ira berseru sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Semua pelayan yang mengerubunginya sontak mundur.
"Kembali bekerja, siapkan makan malam." Imbuhnya dengan wajah kesal.
"Bik Ira mah gitu."
"Iya nih."
"Ho'oh, aku kan kepo."
__ADS_1
"Akhirnya, Sang Pangeran ketemu Tuan Putri. Mana cantik dan sederhana, persis kayak Nyonya Besar."
"Iya bener."
"Betul itu, betul."
Celotehan para pelayan tak berhenti meski Bik Ira sudah menegur mereka dengan keras. Wanita itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu, Desi duduk dengan gelisah. Ia bingung karena dibawa masuk ke dalam ruang baca. Dimana Sultan dan Alfian sedang berdiskusi. Sedangkan Rara pergi entah kemana.
Setelah beberapa saat, Sultan berdiri. "Tunggu ya, Ayah ambil dulu berkasnya." Ucapnya pada Alfian. "Desi, tunggu dulu disini ya Nak." Ujar Sultan saat melewati tempat Desi duduk.
"Eh? Iy..iya." Desi terperanjat.
Apa Tuan Besar nggak salah sebut? Desi menatap kepergian Sultan dengan alis bertaut dan dahi berkerut.
Setelah Sultan tidak terlihat, barulah ia memalingkan wajahnya ke depan.
"Ya ampun!" Desi memekik dan menjengit ke belakang hingga tubuhnya menabrak sandaran sofa. "Tuan Muda, ngagetin aja."
Desi memegangi dadanya karena terkejut, wajah Alfian sudah berada di depannya ketika ia kembali menoleh.
"Tadi kamu dari mana?" Tanya Alfian tanpa sedikit pun mengubah posisi tubuhnya. Ia membungkuk dengan kedua tangan memegangi tangan single sofa yang diduduki Desi.
"Dari dapur, Tuan."
"Ngapain disana?"
"Tempat saya kan memang disana."
"Kata siapa?"
"Kata saya, baru saja."
Alfian tertawa kecil kemudian menjentikkan jarinya di kening Desi. "Kamu itu ya. Bisa aja jawabnya."
"Aduh." Desi meringis merasakan nyeri di kulit keningnya.
"Tempat kamu itu di samping aku."
Desi tersenyum kecut. "Tapi tidak dimana saja juga kan Tuan. Nanti apa kata orang, saya kan cuma pelayan. Trus kalau saya jadi khilaf godain Tuan, bagaimana?"
"Aku malah senang kalau kamu khilaf."
Wajah Desi berubah serius, ia merasa Alfian sedang menjebaknya. "Tidak Tuan, saya tidak mau dipecat." Sahut Desi jujur.
Alfian tersenyum lembut. "Kalau kamu nggak godain aku, berarti aku yang bakal godain kamu."
Desi menatap Alfian dengan raut wajah tidak mengerti sekaligus bingung. Ini bagaimana konsepnya sih?
Alfian kembali menegakkan tubuhnya. "Siap-siap aja aku godain." Imbuhnya sambil diakhiri dengan kerlingan. Kemudian kembali ke tempat duduknya semula.
Desi mengerjap beberapa kali.
Kayaknya Tuan Muda mau menjebak aku deh. Kalau aku menanggapi, nanti Tuan mecat aku dengan alasan aku yang godain dia.
Desi mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sadar.
Aku nggak bakal terjebak. Semangat Desi! Jangan sampai dipecat.
__ADS_1
...****************...