
Kegaduhan terjadi saat Alfian memasuki kantor. Beberapa staf wanita yang melihat kemunculannya, segera berkumpul dalam kelompok-kelompok setelah Alfian memasuki ruangannya.
"Pak Alfian masih pucat ya."
"Iya, calon suamiku masih kelihatan lemas."
"Idihhh, emang Pak Alfian mau sama kamu? Tipenya Pak Alfian itu yang usianya lebih tua. Body aduhai, nggak kayak kamu yang kurus seperti sapu lidi."
Ketiganya tertawa dan kembali ke meja kerja masing-masing.
"Aku mau deh merawat Pak Alfian secara gratis."
"Aku jadi ikutan sedih lihat wajah tampan yang nggak sehat begitu."
"Tapi tetap tampan kok. Buat aku makin cinta."
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mengkhawatirkan kondisi Alfian dari kelompok-kelompok pekerja perempuan itu.
"Ehmmm!!!"
Deheman Rama membuat keadaan kembali hening. Bahkan pemuda itu memutar kepalanya untuk memindai seluruh sudut ruangan.
Rama memiliki wajah yang tak kalah tampan dengan Alfian. Namun bedanya, Rama lebih murah senyum jika sedang berada di luar lingkup keluarga dibandingkan Alfian.
Tetapi jika ia sedang dalam mode serius seperti saat ini. Tidak ada satupun yang akan berani mendekat atau menyapa.
Begitu kondisi tenang, ia lantas masuk ke dalam ruangannya sendiri.
"Pak Rama akhir-akhir ini galak banget sih." Bisik salah seorang pegawai kepada rekannya.
"Mungkin dia lelah." Jawab rekannya itu sambil menoleh ke segala arah memastikan mereka aman. "Kan dia harus menangani semua pekerjaan Pak Alfian." Imbuhnya setelah memastikan keadaan aman."
"Mmm, sepertinya begitu. Ayo, lanjut bekerja."
🖥️🖥️🖥️
"Selamat siang Pak Alfian."
"Selamat siang Pak Deni." Alfian membalas jabat tangan pria bertubuh kekar di depannya.
"O iya, kenalkan. Ini asisten saya jika berada di kota ini, Nona Intan."
Alfian mengangguk tanpa melihat gadis yang ditunjuk oleh Pak Deni.
"Dan ini Rama, sekretaris saya." Alfian turut memperkenalkan Rama yang ikut dalam acara makan siang berbau bisnis itu.
__ADS_1
"Mari, sebaiknya kita tidak membuang waktu." Ucap Alfian sambil duduk, mengabaikan Intan yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Pak Deni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia membuka map yang sudah disiapkan Intan dan mulai memperkenalkan badan usaha yang ia pimpin.
Presentasi berjalan baik, dan Alfian berkata akan mempertimbangkan untuk meneruskan bekerja sama atau tidak.
"O iya. Tolong jangan anggap ini sebagai sogokan. Saya tulus memberi sebagai tanda perkenalan." Ucap Pak Deni sambil menyodorkan sebuah tas kertas ke arah Alfian. "Sekalipun kita tidak jadi bekerja sama, saya berharap Bapak Alfian dan Bapak Rama masih mau menerima saya sebagai kolega dari jauh."
Alfian menerima pemberian Pak Deni. "Ini, apa?" Tanya Alfian dengan pandangan menyelidik.
"Itu dendeng rusa. Oleh-oleh khas dari kota kami, Kota Mr. Juga ada souvenir berbahan kulit buaya."
"Terima kasih banyak Pak Deni. Saya akan menerima hadiah perkenalan ini. Perkenalan sebagai teman baru, bukan sesama pengusaha." Ucap Alfian penuh penekanan.
Pak Deni tertawa kecil. "Kalau saya tidak tulus, saya akan memberikan yang jauh lebih mahal Pak." Pak Deni mengerti arah dari ucapan Alfian.
Alfian dan Rama berpandangan sesaat dan mengangguk.
Tak lama kemudian, pelayan datang dan mulai menyajikan makanan kepada mereka yang berada di ruangan VIP itu. Mereka menyantap hidangan diselingi obrolan ringan untuk saling mengenal.
Kemudian suara panggilan telepon membuat mereka berhenti sejenak.
"Maaf, itu milik saya." Ucap Pak Deni kemudian segera menjawab panggilan itu.
Tanpa menunggu respon, ia segera memutus sambungan.
"Keponakan yang lagi kuliah di Kota Y." Ujar Pak Deni berbasa basi.
"Bapak Tua, maksudnya bagaimana?" Tanya Rama, antusias.
Pak Deni tersenyum. "Begini, saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Jadi, semua anak dari adik-adik saya akan memanggil saya dengan sebutan Bapak Tua."
Rama mengangguk-angguk. "Berarti sama seperti saya memanggil orang tua Pak Alfian, Pakde dan Bude."
Alis Pak Deni terangkat. "Bapak berdua saudara sepupu?"
"Iya." Jawab Rama diiringi senyuman bangga.
Hati Alfian selalu saja terasa hangat dengan ucapan spontan Rama dan adiknya. Atau sepupu-sepupu yang lain. Mereka tidak akan menambah embel-embel penjelasan apapun. Bagi mereka, Alfian adalah sepupu mereka, Putra Sultan dan Rara, titik!
"Wah, saya senang melihat keluarga yang saling membantu dalam pekerjaan. Adik-adik saya tidak ada yang tertarik dengan bisnis. Yang satu seorang Dokter, dan yang lain berkecimpung di dunia kerohanian."
"Berarti mereka siap mendukung penuh. Karena yang satu akan mengobati Bapak jika sakit karena memikirkan bisnis. Dan yang satu akan selalu mengingatkan jika bisnis yang Bapak jalani melenceng terlalu jauh secara Agama." Ujar Rama lantas tertawa kecil.
"Benar, anda memang benar." Sahut Pak Deni diiringi tawa.
__ADS_1
Dan seperti biasa, Alfian hanya memasang wajah datar. Namun Pak Deni tidak memusingkan hal itu.
Sebelum bertemu Alfian, ia sudah mendengar dan membaca berbagai berita tentang pengusaha muda itu. Bahkan ia mencari tahu dari beberapa orang yang sudah pernah bekerja sama dengan Alfian. Dan mereka mengatakan hal yang sama. Pak Alfian Adhyaksa minim ekspresi.
Makan siang kali ini memiliki kesan tersendiri bagi Alfian. Sepertinya, Pak Deni memang tidak terlalu memikirkan apakah Alfian akan bekerja sama dengannya atau tidak. Karena setelah makan, pembicaraan mereka sama sekali tidak menyinggung soal bisnis. Berbeda dengan beberapa pengusaha dari daerah yang hendak menjalin kerjasama dengan Alfian.
"Terima kasih atas jamuannya Pak." Ucap Alfian dengan tulus sambil menjabat tangan Pak Deni. "Saya akan segera memberi kabar."
"Sama-sama, Pak Alfian. Saya akan menunggu." Jawab Pak Deni, dan kemudian ia berjabat tangan dengan Rama.
Selepas kepergian Alfian dan Rama, wajah Deni berubah. Keramahannya hilang, ia menatap tajam pada Intan.
"Tolong pakai otak, jangan pakai tubuh dan wajah. Jika kamu tidak bisa mengendalikan diri dan mengobral seperti tadi. Kamu tidak perlu bekerja pada saya lagi." Ucap Pak Deni pada Intan.
Ia sudah risih dengan Intan yang terang-terangan menatap penuh puja dan damba pada Alfian. Bahkan beberapa gerak tubuh Intan membuat belahan dadanya semakin terlihat.
"Ta..tapi Pak. Saya melakukan ini demi peru…."
"Saya tidak mau mendapat pekerjaan dengan cara tidak pantas. Seharusnya kamu tahu itu." Potong Deni dengan cepat. Dan ia tahu, Intan berbohong jika menyebut tingkahnya tadi demi perusahaan Deni.
"Maaf Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
🖥️🖥️🖥️
Alfian dan Rama sudah dekat dengan mobil mereka ketika tiba-tiba seorang wanita memeluk Alfian dari belakang.
"Aku nggak mau putus sama kamu." Ucap wanita yang ternyata Wulan dengan suara bergetar.
Alfian mencengkram kedua tangan Wulan dan melepaskan diri dengan paksa.
"Aakhhh!" Wulan hampir saja jatuh ke belakang.
Alfian mendengar jeritan Wulan, namun ia memilih tak peduli. Alfian kembali melangkah tanpa ingin menoleh melihat Wulan.
Wulan yang ingin mengejar dihadang Rama. "Aku tak ingin membuang satu mayat wanita lagi. Tolong, aku sangat lelah." Ujar Rama dengan wajah memelas dan volume suara yang dibuat pelan. Seolah-olah ia takut Alfian mendengar ucapannya.
Wajah Wulan mendadak pucat pasi. Ia mengangguk dan berjalan tergesa-gesa menuju ke mobilnya sendiri.
"Apa yang kau katakan padanya?" Tanya Alfian pada Rama setelah pemuda itu duduk di belakang kemudi.
"Aku bilang, aku lelah dan tak ingin membuang mayat wanita lagi." Jawab Rama dengan santainya.
Alfian tak menanggapi, ia tersenyum tipis dan melihat keluar jendela saat mobil yang dikemudikan Rama mulai bergerak meninggalkan restoran.
...****************...
__ADS_1