Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 22


__ADS_3

Rama terus saja menyunggingkan senyum. Membuat Papa dan Mamanya saling menyenggol. Mereka heran, tidak biasanya putra sulung mereka ini bersikap seperti itu.


"Rama, kamu sehat kan?" Tanya Mita, Sang Mama.


"Sehat dong Ma. Memangnya kenapa?"


"Dari tadi Mas Rama senyum-senyum nggak jelas." Nayra yang sedang mengunyah apel menjawab.


Rama tersenyum salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak ada apa-apa." Jawab Rama menutupi suasana hatinya yang sedang bahagia.


Jawaban Rama membuat Nayra memicingkan mata menatap Sang Kakak. Jika tidak ada kedua orang tuanya, ia pasti akan memberondong Rama dengan berbagai macam tuduhan.


Pasti Mas Rama ketemu seseorang di kost. Gumam Nayra dalam hatinya.


"Beneran nggak apa-apa? Mama kira kamu mulai gila karena belum punya pacar."


Rama hanya geleng-geleng kepala melihat Mamanya yang kini sedang terkekeh setelah mengejek putranya sendiri.


Dan tatapan Rama tertuju pada map plastik berwarna hijau yang ia terima dari Maria. Di dalamnya berisi laporan milik Nayra. Meski sedang sakit, Nayra ngotot ingin membaca kembali laporannya sebelum ujian.


Jika map itu adalah mempunyai perasaan, mungkin benda yang tergeletak di meja itu sudah salah tingkah karena dipandangi terus menerus oleh Rama.


Flashback On


Rama sedang mengemasi pakaian Nayra ketika pintu kamar diketuk. Pemuda itu meninggalkan pekerjaannya dan membuka pintu. Ia tertegun sejenak, di depannya Maria yang baru selesai mandi berdiri sambil memegang sebuah map plastik.


Dada Rama berdetak lebih cepat. Meski pakaian Maria lebih tertutup dibanding tadi, namun tetap saja Rama bisa membayangkan keseksian tubuh gadis timur ini mengingat sebelumnya Maria berpakaian minim. Ditambah lagi rambut ikalnya yang basah membuat Maria semakin terlihat manis, segar dan seksi.


Rama mengerjap saat ada lambaian tangan di depan matanya.


"Abang! Abang!" Suara Maria terdengar penuh penekanan.


"Eh! Iy…iya Maria. Ada apa?" Rama gelagapan. Raut wajah Maria yang sedang kesal malah membuat Rama semakin gemas.


"Saya panggil Abang dari tadi. Masa berdiri berhadapan begini tidak kedengaran." Sungut Maria lagi.


Rama terkekeh pelan. "Maaf ya manis."


Kedua alis Maria terangkat, ia mulai merasa risih berhadapan dengan Rama. Abangnya Nayra ini tukang gombal. Gumam Maria dalam hati.


"Ada apa?" Tanya Rama lagi.


Maria menyodorkan map di tangannya. "Ini yang diminta Nayra, tolong berikan padanya."


"Oh, ok." Rama mengambil map tersebut.


Maria segera berbalik setelah map plastik itu sudah berpindah tangan.


"Eh, Maria. Tunggu."


"Ya?"


Rama tersenyum malu." Mau minta tolong."


"Tolong apa?"


"Itu. Ehmm! Pakaian dalam Nay. Saya tidak tahu dimana tempatnya. Selain itu, ada beberapa barang juga. Ini daftarnya." Rama menunjukkan secarik kertas.

__ADS_1


Maria tersenyum tipis. "Saya juga tidak tahu Bang dimana Nay menyimpan pakaian dalamnya."


"Tapi bisakah kamu bantu saya? Biar lebih cepat."


Maria terlihat ragu.


"Saya akan biarkan pintunya terbuka." Imbuh Rama saat melihat keraguan di wajah Maria.


Maria akhirnya mengangguk dan segera masuk ke kamar Nayra setelah Rama mundur untuk memberi akses. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya mereka berdua mencari dan menemukan semua barang yang ada dalam daftar Nayra. Memang sulit jika mencari benda di dalam ruangan yang bukan area kita.


"Terima kasih ya Maria." Ucap Rama sambil menutup tas yang akan ia bawa.


"Iya Bang, sama-sama." Maria yang sedang dalam posisi setengah berjongkok segera berdiri.


Tapi karena terlalu lama menekuk kaki, akhirnya ia berdiri dengan tubuh tidak stabil. Ia limbung setelah baru saja berdiri.


"Aduh."


Maria jatuh ke depan, dan dengan sigap Rama menangkap tubuh Maria. Akan tetapi karena kuda-kuda Rama yang kurang kuat, akhirnya mereka jatuh ke lantai dengan posisi Maria berada di atas tubuh Rama.


Maria memang selamat, ia tidak terjerembap, namun wajahnya mendarat di wajah Rama hingga bibir kedua menempel.


Mata Maria membeliak sempurna, kelopak yang dihiasi bulu mata yang lentik alami itu mengerjap-ngerjap. Ia berdiri dengan cepat.


Kulit wajahnya jadi terlihat lebih gelap. Karena rona merah yang menguasai wajah manisnya.


"Ma…maaf Bang." Ucapnya dan terburu-buru kembali ke kamar.


Sedangkan Rama, ia tetap pada posisinya yang terlentang di lantai. Kemudian dengan pelan jari-jarinya menyentuh bibirnya sendiri. Rasa kenyal dan hangat bibir Maria masih terasa. Rama tersenyum, ia duduk dengan hati penuh syukur.


"Makasih ya Nay, karena sudah sakit." Gumamnya pelan saat menatap foto Nayra yang berada di dinding.


Sebelum kembali ke rumah sakit, Rama berdiri menatap pintu kamar Maria. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan di dalam sana. Namun yang pasti senyum Rama tidak pernah pudar menatap pintu berwarna coklat tua itu.


Flashback Off


"Ramaaaa!" Suara Mita kembali terdengar dengan intonasi lebih tinggi.


"Mama, ini rumah sakit." Tegur Fikram.


"Habis, Rama nggak dengar sih Pa." Mita membela diri.


"Eh, iya Ma. Kenapa?" Rama menatap Mama dan Papanya dengan bingung.


"Kamu melamun? Dari tadi Mama panggil."


"Masa sih." Kilah Rama. "Memangnya Mama mau bilang apa?"


Mita menelan kekesalannya, ia ingin mencecar Rama namun takut akan lupa dengan apa yang ingin ia tanyakan. 


"Kamu mau diberi izin sama Alfian sampai kapan?" Tanya Mita pada Rama dengan wajah kesal.


"Sampai Nay sembuh Ma."


"Jangan, besok kamu kembali saja. Biar Mama yang menjaga adikmu." Papa Fikram memberi saran.


"Tidak apa-apa kok Pa." Rama berat kalau harus meninggalkan kota Y. Tidak seperti biasanya. "Lagian Rama pengen menemani Nay."


"Tumben." Celetuk Nayra.

__ADS_1


"Iya dong, aku kan Kakak yang baik."


Nayra menipiskan bibirnya. Ia tahu Rama menyembunyikan sesuatu. Sebab selama Nayra kuliah di kota Y, Rama cuma mempunyai waktu sebentar untuk menemuinya. Kali ini Rama ingin tinggal lebih lama padahal ada Mama. Tidak mungkin kalau tidak ada udang di balik batu.


"Lagi sakit nggak usah mikir macam-macam." Rama yang sudah berada di samping brankar Nayra segera mengusap kepala Sang adik.


Susahnya kalau punya adik pintar, nggak bisa dikibulin.


Mita dan Fikram saling menatap, dan keduanya memutuskan untuk tidak lagi bertanya.


🌸🌸🌸


"Maria, kamu kenapa? Kok bibirnya digosok-gosok terus?" Tanya Desi yang sedang melakukan panggilan telepon dengan sahabatnya, Maria.


Maria menghentikan aktivitasnya. "Tidak kok, cuma banyak kulit mati nih." Kilahnya. Ia merasa malu jika harus membicarakan kejadian tadi lewat telepon. Maria merasa lebih baik jika bisa bercerita secara langsung.


"Desi, ko masih lama kah disitu (kamu masih lama kah disitu)?" Maria mencoba mengalihkan topik. Meski tidak sepenuhnya mengalihkan, karena ia benar-benar sudah rindu pada Desi.


"Entahlah Mia." Desi pun tidak tahu sampai kapan. "Ini kan belum satu bulan."


"Harus ya selama itu."


"Ya kan aku belum gajian Mia. Nunggu gajian dulu."


"Berapa kali gajian?"


Desi terkekeh pelan." Mungkin dua atau tiga kali."


"Yahhhh, kalau begitu kita tidak bisa wisuda sama-sama." Wajah Maria semakin ditekuk.


"Maaf." Desi meringis.


"Ko butuh modal berapa banyak kah (kamu butuh modal berapa banyak)? Biar sa bilang di sa pu bapak tua kasih pinjam ke ko dulu (Biar saya bilang ke bapak tua saya untuk memberi pinjaman ke kamu)."


Desi menggoyang-goyangkan tangan di depan kamera. "Jangan Mia, tidak perlu."


Maria mendengus. "Isss, ko ini (kamu ini)!"


Desi tersenyum lembut. "Jangan marah Maria. Suatu saat, aku pasti akan menerima tawaran ini."


"Iya deh iya." Maria akhirnya mengalah.


"Sudah jenguk Nay lagi?"


Maria menggeleng. "Hari ini belum. Lagi pula sudah ada keluarganya. Rencananya sih besok."


Sontak ekspresi Maria berubah setelah mendengar ucapannya sendiri.


Besok? Ketemu Abangnya Nayra lagi dong. Aduhhhhh. Keluh Maria dalam hati, namun tangannya bergerak memukul dahi.


"Kamu kenapa? Kok pukul dahi begitu?"


Kali ini berganti Maria yang menggoyang tangannya di depan kamera. "Tidak, tidak apa-apa."


"Aku nggak percaya."


Maria tertawa sumbang. Percuma berbohong pada Desi. "Lebih nyaman cerita kalau ketemu langsung."


Desi menghela nafas. "Berarti masih lama dong. Padahal sudah penasaran."

__ADS_1


"Hehe, sorry."


...****************...


__ADS_2