
Alfian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau memikirkan keadaan Desi.
Flashback On
Alfian keluar dari ruang pertemuan dengan perasaan kesal. Ekspresi wajahnya yang datar semakin menakutkan ketika terlihat dengan jelas rahangnya yang mengeras. Tanpa Alfian sadari, ia berjalan dengan kedua tangan mengepal erat.
Beberapa pegawai yang bertemu dengannya di jalan segera menyingkir ke pinggir bahkan tak berani menyapa. Alfian memang jarang bicara dan tersenyum. Namun kali ini semua bisa melihat jika ia sedang marah, bukan ekspresi dingin seperti biasanya.
Alfian berjalan cepat menuju lift yang terbuka. Beberapa pegawai yang melihat kedatangannya terkesiap. Apalagi Alfian melangkah dengan langkah panjang dan tatapan tajam dipenuhi amarah. Satu per satu dari mereka segera keluar dari dalam lift. Hingga saat Alfian masuk, tak ada lagi pegawai di dalam. Pintu lift tertutup dan benda tersebut mulai bergerak naik.
Pegawai yang berdiri mematung di luar lift saling pandang. Semuanya serempak menatap lift di sebelah kiri mereka, yaitu lift khusus pejabat tinggi perusahaan. Rupanya Alfian salah masuk dan memakai lift umum. Mereka hanya bisa mendesah pasrah, menanti lift umum di sebelah kanan yang terlihat sedang bergerak naik dari lantai dasar.
Alfian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Harus Alfian akui, Sima begitu tangguh, tak mudah menyerah. Seperti kebanyakan wanita yang ia permainkan. Alfian melonggarkan dasi, membuka jas dan menggulung lengan kemejanya.
Desi
Nama dan wajah gadis itu melintas dalam benaknya. Tanpa menunggu lagi Alfian segera mengambil ponselnya. Tangannya bergerak dengan lincah dan men-dial nomor gadis itu.
Beberapa detik setelah terhubung, panggilannya tidak segera diangkat. Ketika Alfian hendak memutus sambungan, telepon terhubung.
"Hal...."
"Fian!"
Alfian menjauhkan gawai dari telinganya dan menatap layar datar tersebut. Alfian tidak salah nomor, tapi kenapa Bunda yang menjawab?
"Bunda?"
"Iya Fian. Desi....."
"Desi kenapa Bun?"
"Desi jatuh Nak."
"Apa? Sekarang bagaimana kondisinya?"
"Dokter Haryadi akan melakukan CT Scan kepadanya. Bunda sedang mengisi formulirnya."
"Aku kesana sekarang."
Alfian segera bergegas mengambil kunci mobil dan keluar dengan tergesa-gesa. Ia menuju rumah sakit tempat Dokter Haryadi bertugas.
Flashback Off
Alfian berlari di lorong rumah sakit. Ia menuju sebuah ruangan dimana Desi masih melakukan pemeriksaan.
"Bunda!" Seru Alfian saat melihat Rara sedang duduk dengan wajah cemas.
"Fian." Wajah Rara terlihat lega melihat kedatangan putranya.
"Desi kenapa Bun?"
"Desi jatuh saat berusaha merebut tas Bunda dari jambret. Kepalanya terbentur paving block, Nak."
"Desi." Desis Alfian, tangannya menarik rambut untuk sesaat. "Bagaimana ceritanya sampai Desi bisa jatuh Bun? Desi ngejar jambretnya?"
Rara menggeleng. "Jambretnya belum sempat lari. Karena Desi sudah memegang tas Bunda yang diambil jambret. Mereka tarik menarik dan Desi berteriak. Karena panik lihat orang-orang datang, jambretnya melepas tas Bunda. Karena posisi Desi lagi sementara menarik tas. Ya otomatis dia terjungkal ke belakang." Jelas Rara.
Alfian duduk di samping Bunda dengan lesu. Ia takut terjadi sesuatu pada Desi akibat benturan tersebut.
"Bunda takut Fian. Tadi Desi sempat muntah terus pingsan."
Alfian menoleh dengan cepat. "Muntah? Pingsan?"
"Iya, makanya Dokter Haryadi memutuskan untuk melakukan CT Scan."
Dada Alfian berdebar semakin kencang. Honey, kamu harus kuat sayang. Alfian menunduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu terbuka, brankar tempat Desi berbaring didorong keluar oleh petugas medis. Sementara Dokter Haryadi dan seorang Dokter lain mengikuti dari belakang.
"Sementara ini kita tempatkan Desi di ruang perawatan dulu. Sambil menunggu hasilnya." Ujar Dokter Haryadi.
"Aku setuju Om."
Rara pun mengangguk mengiyakan ucapan Alfian.
🏥🏥🏥
Alfian duduk di samping brankar. Tangannya terus memegangi tangan Desi. Sedangkan Nyonya Rara sedang pergi entah kemana.
"Masih pusing, hon?"
"Iya Mas."
Alfian mengecup punggung tangan Desi. "Terima kasih ya, kamu sudah menolong Bunda. Tapi lain kali jangan begitu. Harta masih bisa dicari lagi, tapi keselamatan kamu dan Bunda yang lebih penting."
Desi tersenyum lemah. "Iya Mas. Aku tadi refleks."
Alfian berdiri dan mengecup kening Desi. "Hon, kamu muntah karena benturan kan."
"Iya Mas. Kenapa?"
"Kaget aja sih. Aku kan belum buka segel kamu."
"Mas Al." Desis Desi. "Apa-apaan sih?!"
Alfian terpana, panggilan Desi kepadanya membawa efek tersendiri. Ia kembali duduk dan meraih tangan Desi lagi.
"Hon, coba ulangi panggil Mas seperti tadi."
"Kenapa?"
"Mas pengen dengar lagi sayang."
"Honey. Jangan tidur dulu." Alfian mengguncang tangan Desi.
"Aku pusing Mas." Jawab Desi lirih.
"Honey." Alfian tidak mau menyerah untuk mendapatkan keinginannya. "Sekali aja."
Desi tetap diam tak menghiraukan Alfian.
"Hon....."
"Alfian!" Seru Bunda dari ambang pintu. "Desi mau istirahat. Kenapa kamu guncang-guncang tangannya?!" Dengan cepat Rara melangkah masuk setelah menutup pintu.
Alfian melepas tangan Desi, sedangkan Desi hanya membuka sedikit matanya.
"Masih pusing Des?" Tanya Nyonya Rara dengan lembut.
"Iya Nyonya." Jawab Desi dengan mata tertutup.
"Sabar ya, sebentar lagi Dokter akan memberi obat setelah hasil CT Scan keluar."
Nyonya Rara duduk di sofa khusus keluarga pasien. Dengan jarinya, ia memberi kode pada Alfian untuk mendekat dan duduk bersamanya.
"Kamu tadi ngapain guncang-guncang Desi? Kasihan dia lagi sakit begitu."
"Aku cuma......"
"Hhooeekk!!!" Tiba-tiba Desi kembali muntah. Untungnya sudah disediakan wadah di samping brankar. Desi berbaring menyamping dan bertumpu pada tangan kirinya.
Alfian dan Rara melesat untuk membantu gadis itu. Rara mengusap punggung Desi agar gadis itu merasa nyaman.
"Ja...jangan Nyonya." Desi merasa segan dengan perhatian Rara.
__ADS_1
"Sudah, jangan segan begitu kepadaku. Saat ini kondisimu lebih penting." Ujar Rara.
Sementara itu Alfian dengan telaten membersihkan mulut Desi. Kemudian ia membawa wadah tersebut untuk membuang isinya dan membilas benda tersebut. Tanpa rasa jijik atau canggung.
"Masih mau muntah lagi sayang?" Tanya Alfian dengan lembut. Desi yang kini telah kembali berbaring dan memejamkan mata hanya menggeleng pelan.
Nyonya Rara terkejut dengan panggilan yang disematkan Alfian untuk Desi. Wanita paruh baya ini mengamati wajah putranya. Tidak terlihat sedikit pun Alfian sedang iseng pada Desi seperti sebelumnya.
"Desi sudah minum Bun?"
"Sudah."
Rara mengusap rambut Desi hingga gadis itu terlelap. Setelah memastikan Desi sudah tidur, Rara kembali ke sofa. Begitu pun dengan Alfian yang langsung mengikuti Bundanya.
"Jelaskan." Ucap Rara setelah Alfian duduk di sampingnya.
"Jelaskan apa Bun?" Alfian tidak mengerti.
"Kenapa tadi panggil sayang ke Desi?"
Alfian terdiam, rupanya tadi ia tidak sadar sudah memanggil Desi dengan sayang.
"Maaf belum bilang ke Bunda. Dan tolong Bunda berjanji tidak akan marah pada kami terutama Desi." Pinta Alfian.
Rara mengernyit. "Maksud kamu?"
"Janji dulu Bun."
"Ok, Bunda janji."
"Aku dan Desi sudah menjalin hubungan Bun."
Rara tertegun, ia menatap Desi yang sedang berbaring di brankar. Jantung Rara berdegup lebih cepat. "Jadi, Desi muntah-muntah ka...."
"Alfian belum buka segelnya Desi Bun." Potong Alfian dengan cepat.
Nyonya Rara menghela nafas lega. "Sejak kapan?"
"Baru tadi malam."
Rara menarik nafas dalam-dalam.
"Aku yang mendekatinya Bun. Desi tidak bersalah." Ucap Alfian lagi.
"Bagaimana tanggapan Desi saat mendengarmu menyatakan perasaan?"
"Aku bilang tidak menerima penolakan." Jawab Alfian jujur.
Netra Rara membola sempurna.
"Aduh!" Alfian memekik kesakitan saat tangan Rara mendarat dengan cepat dan juga kuat di lengannya. "Bunda." Alfian meringis.
"Kamu maksa anak orang jadi pacar kamu? Dasar nggak tahu malu. Playboy daun tua. Kalau Desi sadar, Bunda akan suruh dia putusin kamu."
"Tapi Desi juga suka sama aku Bun."
"Bohong." Nyonya Rara tak percaya begitu saja. "Dia itu terpaksa terima kamu."
Alfian menghela nafas. Percuma berdebat dengan Bunda.
"Aduh!" Alfian terperanjat ketika Rara memukul pahanya. "Apa lagi sih Bun?"
"Kamu mau mainin Desi juga? Ayo ngaku!"
"Enggak Bunda. Alfian beneran jatuh cinta sama Desi." Jawab Alfian penuh penekanan.
Kok malah lebih ribet meyakinkan Bunda dari pada meyakinkan Desi sih?
__ADS_1
...****************...