Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 31


__ADS_3

Alfian keluar dari ruang perawatan Desi ketika Rama meneleponnya.


“Halo Ram."


“Selamat siang Pak. Maaf mengganggu, ada beberapa berkas yang perlu Bapak periksa dan tanda tangani. Apakah saya letakkan di meja Bapak atau cukup menunggu sampai Bapak datang?"


Alfian memijat pangkal hidungnya. “Apakah sangat mendesak?"


Rama terdiam sejenak, seakan ia ragu dan takut jika akhirnya Alfian merasa seakan dipaksa.


“Sejujurnya, dokumen ini sudah ditunggu bagian keuangan Pak. Untuk keperluan audit minggu depan."


“Kalau begitu datanglah ke Rumah Sakit Citra Persada. Ruang Perawatan VIP, Ruang Mawar."


“Siapa yang sakit Mas?" Rama begitu khawatir. “Pak De? Bude? Atau Mas yang sakit?"


“Bukan Rama. Desi jatuh waktu menolong Bunda dari jambret."


Rama tertegun. “Desi? Ruang VIP?"


“Iya."


“Aku kesana sekarang." Ujar Rama, ia menunggu Alfian memutus sambungan telepon barulah ia menyimpan gawainya.


“Desi sakit terus dirawat di ruang VIP." Rama bergumam. “Memang sih Bude baik sama pembantu. Tapi biasanya juga cuma ke Puskesmas. Desi spesial banget." Gerakan tangan Rama berhenti. Ia berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Berusaha mengenyahkan pikiran yang sempat hinggap.


Rama menutup tas kantor yang sudah berisi berkas untuk Alfian.


“Yang ini ketinggalan." Dwi menyodorkan sebuah map yang tak jauh dari Rama.


“Astaga!" Rama memegang dadanya. “Sialan lo Dwi. Ngagetin gue aja." Rama memukul Dwi dengan map yang disodorkan Dwi.


Dwi mengernyit. “Kan dari tadi gue disini. Lo aja yang melamun setelah telepon Bos."


“Eh. Iya ya."


Dwi menggeleng-gelengkan kepala. “Sejak pulang dari kota Y, gue perhatiin lo sering banget melamun. Kesambet apaan lo disana?"


Rama tersenyum. “Kesambet cewek."


“Halu lo."


“Enak aja." Rama mendengus. “Udah, gue mau berangkat."


Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit pikiran Rama tertuju pada seorang gadis di kota Y.


“Maria lagi ngapain ya? Kangen gue." Rama tersenyum lebar mengingat pertemuan terakhirnya dengan Maria.


🚗🚗🚗


Alfian memeriksa berkas dan menandatanganinya. Ia sedang menjaga Desi seorang diri karena Rara keluar untuk membelikan makan. Sesekali Rama melirik ke brankar tempat Desi berbaring.


Sebenarnya jiwa keponya sedang meronta-ronta. Tapi Rama menahan diri karena tak ingin fokus Alfian terganggu.


Pintu terbuka, Nyonya Rara masuk dengan membawa beberapa bungkusan.


"Eh, ada Rama."


"Selamat siang Bulek." Rama membantu Rara membawa kantong-kantong plastik itu. Kemudian ia kembali menyalami Rara dan mencium tangan wanita ini.


"Sudah lama?"


"Belum bulek."


Rara bergabung dan duduk dengan mereka. Dan sesaat kemudian terdengar suara gesekan kain. Terlihat Desi menggeliat dan melenguh.


Melihat itu Alfian segera berdiri dan menghampiri Desi.


"Honey." Panggil Alfian dengan lembut.


"Hmmm." Desi bergumam dengan mata terpejam.

__ADS_1


Alfian membelai kepala Desi dengan lembut. Menunggu hingga gadisnya bisa membuka mata.


Rama menatap semua adegan itu dengan mulut menganga lebar. Matanya membulat sempurna. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Alfian menatap Desi dengan sangat lembut, perlakuannya pun manis.


"Kondisikan mulutnya Ram." Rara entah sejak kapan sudah menggeser tempat duduknya hingga bisa menekan rahang bawah Rama agar mulut pemuda ini mengatup.


"Mataku nggak salah lihat kan Bulek."


"Nggak, kamu nggak salah." Jawab Rara sambil mengeluarkan makanan yang sudah ia beli dan mengaturnya di meja.


"Waahhh. Ckckckck." Rama berdecak kagum. "Ee……."


"Jangan bertanya, jangan komentar." Potong Rara.


Rama menutup mulutnya lagi. Namun ia tak mau dihantui rasa penasaran.


"Sampai kapan Bulek?"


Hhhhhhh…. Rara menghela nafas.


"Sampai keadaan Desi lebih baik. Setelah itu kamu bisa tanya ke Masmu, sepuas-puasnya."


Rama mengangguk mengerti. Ia kembali menoleh melihat dua sejoli di depan sana. Alfian sedang membantu Desi untuk minum.


"Sudah cukup Mas."


"Sedikit lagi hon."


Desi menuruti perkataan Alfian. Sekali lagi ia menyedot air minumnya menggunakan sedotan yang sudah Alfian siapkan.


Rara menghampiri keduanya. "Alfian, ayo makan dulu."


Desi seakan baru tersadar akan kehadiran Rara. Wajahnya mulai terlihat gelisah.


"Bunda sudah tahu hon. Kamu tenang aja. Ya sayang. Mas makan dulu." Ucap Alfian sambil mengusap kepala Desi.


Sepeninggal Alfian, Rara segera duduk lebih dekat dengan Desi.


Desi meringis, ia bingung bagaimana mau menjawab pertanyaan Rara. Mungkin, Alfian memang memaksakan kehendaknya. Akan tetapi Desi pun memiliki perasaan yang sama, hanya saja ia lebih memilih untuk memendamnya.


Rara mengusap tangan Desi. "Nggak usah dijawab dulu. Yang penting sekarang, kamu sehat."


Desi menggigit bibirnya, tangannya mengepal. Ia sedang mengumpulkan keberanian. "Nyonya pasti kecewa dan marah dengan saya. Maaf Nyonya."


"Sudah, nanti saja baru kita bahas ya." Rara meyakinkan Desi.


Desi hanya mengangguk pasrah. Ia siap menerima konsekuensi karena berani menjalin hubungan dengan Tuan Muda Alfian.


Rama pamit untuk kembali ke kantor. Ketika ia membuka pintu, Dokter Haryadi sudah berada di depannya.


"Eh, Om Har." Sapa Rama. "Apa kabar Om?"


"Oh kamu Rama. Seperti yang kamu lihat, kabar baik."


"Rama balik kantor dulu Om."


Haryadi menyingkir dari depan Rama. "O iya, silahkan Nak. Hati-hati di jalan ya."


"Iya Om."


Haryadi segera melangkah masuk setelah Rama pergi.


"Selamat siang semuanya."


"Selamat siang." Jawab Rara, Alfian dan Desi bersamaan.


"Bagaimana kondisimu Desi? Masih pusing dan muntah?" Tanya Dokter setelah berdiri di samping brankar.


Desi menggeleng pelan. "Masih nyeri di bagian luka, tapi sudah tidak pusing atau muntah lagi Dok."


Haryadi tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Hasil CT Scan sudah keluar. Tidak ada masalah serius di kepala Desi. Gejala yang ia alami hanya efek sementara dari trauma yang terjadi di kepala."

__ADS_1


Rara bisa bernafas lega. "Syukurlah. Aku lega mendengarnya." Rara tersenyum pada Desi dan mengusap bahu gadis muda itu.


"Tapi saya sarankan Desi dirawat disini dulu, agar kami bisa memantau perkembangannya. Jika malam ini tidak ada gejala lagi, besok sore ia sudah bisa pulang."


"Ya, aku setuju sama saran Om." Ujar Alfian yang berdiri di samping Dokter Haryadi.


"Bunda juga setuju." Rara mengangguk. "Nggak apa-apa ya Desi. Cuma satu malam."


Sebenarnya Desi keberatan, namun karena untuk kebaikannya, Desi akhirnya mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Terima kasih banyak ya Har." Rara mengantar Haryadi ke pintu.


"Terima kasih ya Om."


🩺🩺🩺


Rama mengernyit, ia baru saja tiba dan duduk di kursi kerjanya saat terdengar nada panggilan dari smartphone-nya.


"Nayra?" Alis Rama bertaut, ia mulai was was menerima panggilan video tersebut.


"Nay, kamu baik-baik saja kan dik?" Tanya Rama setelah menggeser ke atas simbol video.


"Hai Mas. Iya, aku baik-baik aja kok." Nayra sedang duduk dengan latar belakang tempat yang bukan kamarnya.


"Kamu dimana? Baru sembuh sudah kelayapan."


Nayra mencebik. "Ini kamar Mia kok Mas. Aku nggak kemana-mana."


"Mia? Maria maksudnya?"


"Iya. Mia yang mana lagi."


Rama tersenyum, dalam hatinya ia sangat berharap bisa melihat Maria.


"Mas, aku mau minta tolong."


"Apa?"


"Tambahin uang jajan." Jawab Nayra to the point.


Rama berkerut. "Ini baru tanggal berapa Nay?"


Nayra tergelak. "Bercanda Mas. Aku mau minta tolong koreksi skripsi aku. Kalau ada salah penulisan tolong ditandai. Soalnya kalau aku sendiri yang periksa, pasti bener aja. Maria sudah periksa juga, dan ada yang salah. Kalau lebih banyak yang bantu periksa kan kemungkinan bakalan benar 100% penulisannya jadi lebih besar."


Rama mengangguk-anggukkan kepala. Dulu saat ia akan ujian akhir, Nayra juga membantu memeriksa skripsi.


"Kirim aja ke email Mas."


Nada bicara Rama menjadi pelan di akhir kalimat saat matanya menangkap sosok yang ia cari sedang berdiri di belakang Sang Adik.


Rama terpana, apalagi saat ini Maria hanya memakai tanktop sport model crop dan tanpa lengan berwarna putih. Hingga memamerkan perut dan lengan. Maria memadukan pakaian khusus olahraga itu dengan celana jogger berwarna abu-abu.


Maria tidak sadar kalau Nayra sedang melakukan panggilan video. Dengan tenang ia tetap berdiri di belakang Nayra sambil mengusap keringat di lehernya.


Rama menelan ludah dengan susah payah. Cara Maria berdiri sambil mengusap peluh benar-benar menguji iman.


Nayra yang tersadar dengan arah pandang Rama segera menutup kamera depannya dan berteriak.


"MARIANA KAIZE!!! Aku lagi video call sama Mas Rama."


Rama kecewa, hanya ada warna hitam di layar gawainya. Tak lama kemudian terdengar jeritan Maria.


Rama tersenyum kecut mendengar gadis itu berteriak panik. Padahal ini bukan pertama kalinya Rama melihat Maria berpakaian seperti itu.


Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepala Rama setelah Nayra melepas tangannya dari kamera.


"Mas akan bantu, dengan satu syarat." Ujar Rama seraya menaik turunkan kedua alisnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2