Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 38


__ADS_3

Maria menggigit bibirnya sendiri, ia menahan gelisah yang sudah melanda sejak ia menuruti permintaan Nayra untuk tinggal di rumahnya selama mereka berlibur.


Tadi pagi mereka baru saja mengikuti wisuda, dan sore harinya mereka segera mengambil penerbangan untuk pergi kota J. Nayra dan Maria sepakat untuk tidak mengurus berkas-berkas setelah kelulusan sebab ingin menunggu Desi. Setelah Desi wisuda, barulah mereka bersama akan menyelesaikan administrasi di fakultas.


Maria menatap keluar jendela mobil keluarga Nayra. Hari sudah gelap, dan aktifitas malam kota J baru saja akan dimulai.


Ini bukan pertama kalinya Maria pergi ke kota J atau ke rumah Nayra. Tapi sebelumnya ia tak pernah bertemu Rama, dan Maria pun tidak tertarik untuk melihat-lihat foto keluarga sahabatnya. Selama Maria berkunjung ke rumah Nayra, Rama selalu saja sedang tidak berada di rumah. Dan biasanya, Maria tidak pernah menginap sebab ia diperintahkan untuk tinggal di apartemen milik keluarganya. Jadi Nayra yang akan menemaninya di apartemen.


Karena Maria sudah wisuda, keluarganya sepakat memberi gadis itu kelonggaran. Dan mengizinkan Maria untuk tinggal di rumah Nayra. Hal lain yang membuat Maria semakin tidak bisa menolak, adalah alasan Nayra agar lebih mudah saat akan bertemu Desi. Mereka tidak perlu repot-repot mengatur waktu karena bisa berangkat bersama.


Kendaraan mereka sudah berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Sanjaya. Dan begitu mereka turun dari mobil, terlihat Mita Adhyaksa membuka pintu dengan senyuman lebar. Ia dan Fikram Sanjaya, Sang Suami, pulang lebih dulu dengan jet pribadi mereka setelah acara wisuda Nayra selesai. Sedangkan Nayra dan Maria menyusul sebab Maria masih harus mengikuti acara yang dibuat khusus oleh keluarganya.


"Akhirnya, putri-putri cantik sampai juga." Sapa Mita dengan kedua tangan terentang. Nayra segera masuk ke dalam pelukan Mita, bergantian dengan Maria.


"Selamat malam Tante."


"Selamat malam kriwil tersayang." Mita begitu menyukai rambut Maria, gadis berkulit eksotis dengan mata yang tak terlalu besar itu dianugerahi rambut ikal yang indah. Sepertinya karena efek dari pernikahan beda latar belakang, oriental yang memiliki kulit putih dan mata sipit dengan orang timur yang berkulit gelap.


Maria terkekeh geli mendengar sapaan khas Mita kepadanya. Sama sekali ia tidak tersinggung. Karena Maria tahu maksud hati Mita. Dan panggilan itu terdengar begitu menyenangkan saat keluar dari mulut Mita.


Ketiganya segera masuk ke dalam rumah. Mita membawa kedua gadis itu ke kamar mereka masing-masing. Kamar Maria berada di lantai tiga, tepat setelah kamar Nayra. Di lantai tersebut terdapat tiga buah kamar, yang pertama dan dekat tangga, tentu saja milik Rama.


"Kalian mandi dan istirahat dulu. Nanti Mama akan panggil untuk makan malam." Ucap Mita sebelum turun.


"Papa sama Mas Rama kemana?" Tanya Nayra begitu menyadari dua orang anggota keluarga lain tidak menyambut mereka. Tanpa Nayra dasari, tubuh Maria menegang mendengar nama pemuda itu disebut.


"Papa dalam perjalanan pulang, tadi ada sedikit urusan. Kalau Rama mungkin akan terlambat pulang karena banyak pekerjaan."


Diam-diam Maria menarik nafas lega. Ia belum siap bertemu Rama. Ia segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap.

__ADS_1


Setelah mandi dan berganti baju, Maria berdiri menatap jendelanya yang menghadap ke halaman depan. Maria sibuk memikirkan perasaannya.


Setelah Rama pergi meninggalkan kota Y dan tidak memberi kabar sama sekali, Maria merasa kesal. Namun, beberapa waktu kemudian ada rasa rindu yang menyelinap disana. Akan tetapi ia segera menepis semua perasaan itu karena beranggapan jika Rama hanya bermain dengannya.


Dan pemikiran itu membuat Maria kembali marah. Marah karena Rama sudah menciumnya. Bukannya Maria tidak pernah berciuman sebelumnya. Tapi ia tidak pernah melakukan itu dengan pemuda yang bukan kekasihnya.


"Mia." Suara Nayra terdengar di depan pintu kamarnya.


"Iya Nay." Maria bergegas membuka pintu.


"Ayo makan." ajak Nayra.


Maria mengangguk dan segera mengikuti Nayra menuju ruang makan.


🧆🧆🧆


Sudah pukul sepuluh malam, semua pasti sudah tidur. Gumam Rama saat melihat ke arah jam dinding yang berada dekat tangga. Ia melangkah menuju lift di samping tangga dan segera menekan tombol bertuliskan tiga. Rama bersandar di dinding saat lift mulai bergerak naik.


Begitu lift berhenti di lantai tiga, Rama bergegas menuju kamarnya yang tak jauh dari sana. Namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok tubuh ramping dengan rambut ikal yang keluar dari kamar Nayra.


Rama tersenyum, rasa lelahnya menguar entah kemana. Dengan mengendap-endap Rama mengikuti Maria dari belakang. Dan ketika gadis itu baru memasuki kamarnya, Rama segera menerobos masuk kemudian membekap mulut Maria yang berbalik karena terkejut.


"Hai." Senyum Rama semakin lebar saat melihat mata indah dengan bulu mata lentik itu mengerjap-ngerjap. Rama menurunkan tangannya. "Kaget ya."


Sebagai jawaban, Maria hanya mengangguk sambil menatap Rama.


Tangan Rama bergerak hendak memeluk Maria, namun gadis itu segera mundur. Membuat kening Rama berkerut.


"Abang kangen sama kamu, Mariana." Ujar Rama dengan tampang memelas.

__ADS_1


Maria melengos. "Kalau kangen kok nggak pernah ngabarin."


Rama tersenyum. "Jadi, kamu mengharapkan abang menghubungi kamu?" Tanya Rama sambil menutup pintu.


Maria tergagap, ia baru sadar sudah keceplosan. "Buk ... bukan begitu."


"Abang takut kamu cuekin sayang." Ucap Rama penuh kejujuran. Ia melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan jasnya, ia letakkan begitu saja di sampingnya. "Abang takut kamu hanya membaca pesan tanpa ada niat untuk membalas. Abang belum siap dicuekin sama kamu."


Maria terdiam, jadi yang membuat Rama berat untuk menghubunginya, karena takut dengan responnya.


"Karena abang tahu kamu belum bisa menerima abang." Imbuh Rama yang membuat Maria memutar tubuh menghadap kepadanya.


Melihat Maria hanya terdiam, Rama tersenyum tipis. Ia mengambil jasnya dan berdiri. "Kamu pasti lelah karena acara dan perjalanan kesini. Istirahat ya sayang." Ujar Rama yang berdiri tepat di depan Maria.


Maria menatap Rama, ada sedikit rasa iba melihat wajah yang lelah itu. "Abang juga, cepat istirahat. Pasti sudah capek karena banyak pekerjaan, kan."


Kedua alis Rama terangkat, meski hanya perhatian yang sederhana. Setidaknya Maria sudah mulai memperhatikannya.


"Iya." Rama mengusap kepala Maria. "By the way, selamat atas wisudanya. cum laude, kan."


Maria mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih Bang."


"Bangga deh. Pacar Abang hebat." Rama menarik hidung Maria dengan pelan. "Mau hadiah apa, hmm?"


Mata Maria bergerak kesana kemari, ia memikirkan hadiah apa yang akan ia minta sekaligus mengerjai Rama. Tanpa ia sadar Rama sudah mendekatkan wajahnya.


"Kamu lama banget mikirnya. Ini DP hadiahnya." Rama segera mengecup bibir Maria. Hanya satu kecupan singkat. Namun mampu membuat dada Maria yang tadinya sudah berdebar hebat, seakan hendak meledak.


Baru saja tangan Maria bergerak ingin memberi pelajaran, Rama sudah berbalik dan bergegas meninggalkan kamar Maria.

__ADS_1


__ADS_2