Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 40


__ADS_3

Desi sudah bersiap dan sedang menunggu taksi yang ia pesan menggunakan aplikasi. Awalnya ia ragu untuk meminta izin. Setelah mengumpulkan keberanian dan berbicara pada Rara, Desi terkejut wanita itu memberi izin tanpa bertanya Desi akan pergi kemana.


Senyum Desi mengembang sempurna begitu turun dari mobil.


"Nay, Mia!" Pekiknya girang.


"Desiiii!!!" Nay dan Mia tak kalah seru menyambut gadis itu.


Ketiganya berpelukan melepas rindu, tak peduli dengan tatapan penasaran juga sinis dari pengunjung kafe yang lain. Mereka menjadi pusat perhatian sore itu. Namun mereka tak peduli. Tatapan mengejek masih terus tertuju pada mereka hingga saat ketiganya memasuki wilayah VVIP kafe. Tatapan sinis berubah menjadi tercengang.


Nayra dan Maria sengaja memesan tempat di kafe yang sudah menjadi langganan mereka berdua. Fasilitas VVIP yang disediakan membuat mereka merasa berada di rumah sendiri dan sedang duduk di taman tepi kolam renang.


Tawa bahagia berubah menjadi ekspresi iba begitu Nayra dan Maria mendengarkan cerita Desi.


"Kalau membunuh tidak berdosa, laki-laki brengsek seperti Bagas sudah saya bunuh." Geram Maria.


"Tapi dia nggak pegang yang lain kan?" Tanya Nayra.


"Nay!" Maria merasa pertanyaan Nayra terlalu berani dan takut Desi histeris.


Desi tersenyum getir. "Dia peluk dari belakang. Itu saja. Tangannya juga nggak kemana-mana."


Jawaban Desi membuat kening Maria berkerut, benar-benar berkerut. "Kamu tidak salah ingat?"


Desi hanya menggeleng.


"Aneh, baru kali ini saya dengar orang mau melecehkan tapi tangannya tidak kemana-mana." Ujar Maria.


Ucapan Maria membuat ingatan Desi kembali ke beberapa tahun sebelumnya saat Bagas pertama kali datang. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan lapar yang menjijikkan. Hanya sebatas itu.


Kemudian, Bagas pernah tiba-tiba muncul di antara batu-batu besar di sungai saat Desi dan seorang temannya sedang bercerita sambil merendam kaki. Kedatangan Bagas sontak membuat mereka berdua menjerit dan segera pergi. Bagas tidak mengejar, ia hanya berdiri menatap kepergian mereka berdua sambil menyeringai.


Berbicara tentang kesempatan. Bagas selalu punya kesempatan. Beberapa kali Desi lupa mengunci pintu kamar. Saat terbangun Desi terkejut Bagas sudah berdiri di ambang pintu sambil bersedekap.


Satu-satunya momen Bagas menyentuh Desi, hanyalah saat Desi diusir oleh warga dan berakhir menjadi ART di apartemen Alfian Adhyaksa.


"Dia beneran mau melecehkan? Atau cuma mau buat lo nggak betah di rumah dan pergi?" Nayra pun sepemikiran dengan Maria.


Desi memijat pelipisnya. "Aku ... nggak pernah mikir sampai kesitu." Tatapan Desi menerawang. "Aku ketakutan sama sikap Mas Bagas dan mengambil langkah untuk keluar dari rumah."


"Mungkin bukan dia predator yang sebenarnya." Ucap Maria pelan.


"Tapi bagaimana pun juga. Tindakan Bagas tidak bisa dibenarkan." Sahut Desi.


"Saya tidak membenarkan tindakan Bagas. Hanya mempertanyakan. Sejak kapan orang yang mau melecehkan tangannya tidak *****-***** seperti di berita-berita?!"

__ADS_1


"Mungkin Desi beruntung dan bangun tepat waktu?" Nayra berspekulasi.


"You need more than lucky. Kalau berhadapan sama predator." Maria menyeruput kopinya.


"Malaikat penjaga lo luar biasa." Nayra tersenyum menggoda Desi.


"Sudah, sore ini aku mau melepas rindu sama kalian. Nggak usah bahas yang sedih-sedih." Desi tak berminta lanjut membahas Bagas.


"Btw lo jadi ART dimana?" Tanya Nayra sebelum tangannya menyuapkan potongan kentang goreng ke dalam mulut.


"Apartemen Alfian Adhyaksa." Jawab Desi dengan jujur.


"Uhhuuukkk...Uhhuuukkk...Uhhuukkkk!!!!" Nayra tersedak kentang goreng.


"Makan pelan-pelan Nay." Maria menepuk punggung Nayra. Sedangkan Desi memberikan segelas air putih.


"Kalau makan sepotong aja. Jangan langsung tiga potong begitu." Sungut Desi.


Nayra mengusap air mata yang sempat keluar. Tenggorokannya benar-benar sakit. Ia menenangkan diri terlebih dulu.


Nayra menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. "Alfian Adhyaksa itu kakak sepupu gue." Ucap Nayra sambil menatap Maria dan Desi bergantian.


"Apa?!!" Saking terkejutnya suara Desi seperti berbisik.


"What the ... !" Maria mengerjap-ngerjap beberapa kali.


Tawa berderai pecah dari mulut ketiganya.


"Bisa ya ada kebetulan seperti ini." Ujar Desi di sela-sela tawanya. Namun sesaat kemudian tawanya lenyap.


"Kenapa?" Tanya Maria heran.


"Aku ... " Desi ragu, ia menggigit bibirnya. "Aku ... pacaran sama Mas Alfian."


Hening.


Sangat hening.


Masih hening.


"Dhuuaarrrr!!!" Maria menggebrak meja.


"MARIANA!!!" Sentak Desi dan Nayra bersamaan. Keduanya sempat melompat dari tempat duduk karena terkejut.


Maria hanya terkekeh pelan sambil menutup mulutnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Untung jantung gue dilakban pakai lakban coklat. Kalau copot terus gue koit gimana? Kan gue jadi nggak bisa ngasih restu ke kalian berdua sebagai saudara ipar." Cerocos Nayra.


"Berdua?" Desi bingung. Sementara Maria sudah mulai gugup. Nayra tersenyum penuh arti menatap Maria.


Ia tidak ingin mengatakannya pada Desi. Nayra ingin Maria sendiri yang memberitahukannya seperti Desi.


"Halooo ... " Desi mulai tidak sabar menunggu. "Seseorang tolong jelasin."


"Ehmm!!!" Maria berdehem kemudian menyeruput kopinya. "Saya ... menjalin hubungan sama Abang Rama." Lanjut Maria dengan suara pelan.


"Rama?" Tanya Desi.


Nayra mengangguk penuh semangat.


"Jadi Rama kakak kamu?" Tanya Desi lagi pada Nayra.


"Iiyess!" Nayra tersenyum lebar. "Gue seneng banget. Dua sohib gue akhirnya jadi kakak ipar." Nayra bertepuk tangan sendiri meluapkan kebahagiaannya.


Desi tertawa pelan, sedangkan Maria hanya menggigit bibir.


"Tapi, Maria kok kelihatan bingung begitu?" Tanya Desi pada Maria.


"Gimana nggak bingung. Jadi pacarnya kan terpaksa." Nayra menahan tawa.


"Kok kamu tahu?!" Maria menatap Nayra dengan perasaan was-was.


"Hehe." Nayra terkekeh. "Gue paksa Mas Rama ngaku. Jadinya Mas Rama cerita semua."


Sontak saja tangan Maria terulur memukul bahu Nayra. Namun belum sempat tangan Maria mendarat, Nayra sudah berkelit sambil tertawa.


"Nayra!!!" Maria menahan malu.


"Lo pasti penasaran banget, iya kan Des?" Nayra mengerling.


"Banget." Jawab Desi antusias diiringi anggukan kepala.


"Nanti gue cerita." Nayra kembali tertawa kecil.


"Jangan dong." Maria memelas.


"Maaf sayang. Tidak ada dusta diantara kita." Jawab Nayra diikuti dengan tatapan jenaka.


...****************...


__ADS_1


mampir di novel teman saya juga ya


__ADS_2