
Dari jauh, Alfian menatap Desi yang sedang bercerita dengan Nayra dan Maria. Ia merasa senang karena kekasihnya bisa cepat akrab dengan saudara sepupunya. Namun yang membuat Alfian risih adalah keberadaan Rama diantara gadis-gadis itu. Bahkan beberapa kali Rama terlihat menggoda Desi.
Meski Rama adalah sepupunya, Alfian tetap merasa marah jika pemuda itu akrab dengan Desi. Ketika ia melihat Desi salah tingkah dengan wajah merona, Alfian segera bergerak mendekati mereka.
"Mau kemana kamu?" Tiba-tiba Bunda Rara sudah mencengkram lengan Alfian.
Dari tadi ia sudah mengamati Alfian. Dan Rara bisa tahu kalau putranya itu mulai cemburu melihat Rama berbicara pada Desi. Rara tak ingin Alfian membuat keributan yang akan merusak suasana.
"Eh, Bun ... "
"Mereka hanya bercanda. Lagipula, tidak bisakah kau lihat cara Rama menatap teman Nayra itu?" Tanya Rara sambil mengedikkan dagu ke arah perkumpulan muda mudi tersebut.
"Bunda tidak melarang kamu bergabung dengan mereka. Namun ubah dulu wajahmu dan caramu melihat Rama. Dia tidak ingin bersaing dengan kamu, Fian."
Alfian terdiam, dia menarik nafas dalam-dalam. Setelah merasa cukup tenang, ia melepas tangan Sang Bunda.
"Terima kasih, Bunda."
Alfian berjalan dengan cepat. Begitu tiba ia langsung merangkul pinggang Desi dengan posesif. Rara yang melihat kejadian itu memukul dahinya.
"Haduhh!!! Dasar tukang cemburu." Rutuk Rara melihat kelakuan Alfian yang berlebihan. Desi pun terlihat tidak nyaman.
Sementara itu, Nayra, Maria dan Rama semakin menggoda Desi. Membuat wajah Desi semakin merah seperti udang rebus.
"Cieee, Mas Alfian. Udah nggak doyan sama daun tua." Celetuk Nayra, menyindir kebiasaan Alfian yang suka berpacaran dengan wanita yang usianya lebih tua dari dirinya. Alfian tersenyum masam mendengar ucapan adik sepupunya itu.
"Daun muda kan lebih renyah." Timpal Maria.
"Iya, kayak kamu." Sahut Rama sambil mengerling menggoda Maria.
Maria segera melipat bibir dan menatap kesal pada Rama.
"Hmmmmm....yang pada jatuh cinta." Nayra nyinyir.
"Makanya, cepat cari pacar." Rama meledek Nayra.
Desi tertawa, bukan karena ucapan Rama, melainkan ekspresi wajah Nayra yang manyun sepanjang-panjangnya. Ia tahu Nayra belum bisa move on dari mantan kekasihnya.
Akan tetap Alfian melirik tajam begitu Desi tertawa. "Pinjam Desi dulu." Ucapnya begitu saja dan menarik Desi untuk menjauh.
"Mas Al." Desi terseok-seok mengikuti langkah Alfian yang membawanya ke sudut taman, tidak terlihat dari tempat keluarga Adhyaksa bercengkrama.
__ADS_1
Alfian berhenti setelah keadaan cukup sepi. Ia menatap Desi dalam-dalam.
Setelah beberapa waktu menjalin hubungan dengan Alfian, Desi menjadi lebih mengerti sifat Alfian. Salah satunya adalah sifat Alfian yang pencemburu. Cemburu yang sangat berlebihan.
"Mas ... "
"Kamu senang sekali bercanda sama Rama."
Desi menarik nafas lelah. "Mas, aku tertawa karena lihat ekspresinya Nayra. Bukan fokus ke ucapan Mas Rama." Desi mencoba memberi pengertian.
"Ooo, jadi sekarang Rama juga dipanggil Mas."
"Ya, kan usianya lebih tua dari aku."
"Tapi kamu kan pacar aku, sedangkan aku adalah kakaknya dia."
"Kan baru pacar Mas, bukan istri."
"Jadi kamu nggak mau menikah sama aku?! Begitu?!" Nada bicara Alfian semakin tinggi.
Desi tercengang, saat sedang cemburu Alfian menjadi tak terkendali. Ucapannya pun tak berdasar. Beberapa hari yang lalu Alfian pun marah hanya karena seorang satpam memberikan paket pada Desi. Padahal paket tersebut bukan untuk Desi, melainkan untuk seorang pelayan di bagian laundry. Tapi Alfian menyebut Desi menerima hadiah dari Sang Satpam.
"Mas, memangnya kamu mau menikahi perempuan yang tidak kamu percaya seperti aku?" Desi balik bertanya dengan suara yang lirih. Desi benar-benar lelah menghadapi Alfian.
Alfian tercengang, ia terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Desi. Saat itu juga ia tersadar, ia sudah mulai berlebihan.
"Sayang ... "
Desi mengangkat tangannya, ia menghentikan Alfian ingin berkata-kata.
"Nggak enak sama tamu, Mas." Desi segera pergi meninggalkan Alfian.
"Desi." Alfian mencoba mengejar, namun dari arah depan ia melihat Bunda Rara tengah menatapnya dengan tajam. Alfian berhenti mengejar.
πππ
"Kalian bertengkar?" Tanya Maria pada Desi. Mereka sudah berpindah ke dalam kamar Desi. Nayra beralasan ingin meminta Desi melakukan perawatan wajah dan ingin lebih mengenal kekasih Alfian. Tanpa curiga, Sultan Adhyaksa pun mengijinkan.
Mata Desi berkaca-kaca, ia menggigit bibirnya. "Aku capek menghadapi sikap Mas Al yang cemburuan."
Desi menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian mulai menceritakan semua kejadian dimana Alfian marah kepadanya hanya karena salah paham. Bahkan setiap kata-kata menyakitkan yang Alfian ucapkan. Setiap detailnya, tak ada yang terlewatkan.
__ADS_1
Yahhh, tak bisa dipungkiri. Perempuan adalah pengingat sejarah terbaik dibanding laki-laki.
Nayra menatap Desi dengan iba, ingin rasanya ia menceritakan alasan dari sikap Alfian. Namun Nayra merasa, dia tidak berhak melakukan itu.
Maria memeluk Desi saat gadis itu mulai menangis. Nayra tak tahan lagi, ia pun ikut memeluk Desi dari sisi lain. Mereka tak mengucapkan apapun. Membiarkan Desi menumpahkan rasa sesak di dadanya.
Beberapa menit kemudian, Desi mulai tenang. Ia mengusap air matanya kemudian turun dari kasur dan mengambil air minum yang ada di meja rias.
"Terima kasih. Kalian datang diwaktu yang tepat." Desi tersenyum menatap Maria dan Nayra bergantian.
"Itulah gunanya sahabat." Sahut Maria dengan senyuman manisnya.
Tuk...Tuk...Tuk...
Terdengar suara dari jendela kamar yang berada tak jauh dari pintu diketuk seseorang. Desi segera menyibak vitras dan melihat Rama sedang cengengesan di balik jendela. Desi membuka jendela.
"Kenapa Mas?"
"Mau ketemu Maria. Minggir." Tanpa menunggu persetujuan Desi, Rama segera masuk memegang kusen jendela hingga Desi terpaksa mundur. Dengan sekali lompat, Rama sudah berada di dalam kamar Desi.
Desi geleng-geleng kepala melihat kelakuan nekat Rama. Ia cepat menutup jendela hingga tidak memperhatikan struktur kayu di sekitar daun jendela dan kusen.
"Ahhh sakit!" Desi memekik saat sebuah kayu kecil menancap di kukunya.
Rama segera berbalik dan memeriksa tangan Desi. Ia mencabut kayu itu. "Sudah enak, kan?" Tanya Rama.
Desi hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Nayra. Ia dan Maria menghampiri Desi dan Rama.
"Ketusuk kayu." Jawab Desi sambil memperlihatkan ujung jari tengahnya yang mulai mengeluarkan darah dari sela-sela kuku.
Maria segera mencari tisu dan menutup darah dengan benda tipis tersebut.
"Kamu sih, nggak hati-hati." Rama menyalahkan Desi.
"Lagian Mas Rama, ngapain masuk lewat jendela?" Desi tak terima disalahkan Rama.
"Eh ... hehehe." Rama menggaruk kepala yang tak gatal. Sedangkan ketiga gadis itu hanya bisa mendengus kesal.
πΈπΈπΈ
__ADS_1