
"Desi, kalau ada perempuan dengan umur sekitar 30-an datang, tanya dulu siapa namanya. Kalau namanya Wulan, tidak boleh kamu bukakan pintu. Itu perintah langsung dari saya." Titah Nyonya Rara saat akan masuk.
Desi mengangguk patuh. "Baik, Nyonya."
"Ya sudah, saya mau istirahat di dalam ruang kerja Fian."
Alfian memang meletakkan sofa yang bisa dijadikan kasur di dalam ruang kerjanya. Sebab adakalanya ia malas melangkah ke kamarnya jika sudah terlalu lelah bekerja.
Nyonya Rara melenggang meninggalkan Desi yang masih berdiri di pintu penghubung balkon dan ruang tamu.
Desi bergerak mendekati meja untuk membereskannya saat melihat Alfian berdiri dan berjalan ke arahnya. Sepertinya pemuda itu hendak masuk ke dalam.
Ternyata Alfian berhenti tepat di depan Desi, menghalangi jalannya menuju meja.
"Aku tidak melakukan hal yang senonoh." Katanya secara tiba-tiba. "Ok, aku menciumnya. Tapi belum lebih dari itu. Emm, maksudku tidak lebih dari itu." Tangannya bergerak kesana kemari tak tentu arah.
Desi mengernyit dan menatap Alfian. "Tuan, untuk apa menjelaskan itu kepada saya?"
Alfian tertegun. Benar juga, untuk apa menjelaskan hal ini pada Desi?
"Aku…" Alfian menggantung kalimatnya. Ia pun tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Alfian begitu khawatir akan pendapat Desi hingga merasa perlu untuk menjelaskan.
Alfian menatap Desi. Gadis yang baru dikenalnya beberapa hari. Namun ia begitu peduli tentang pikiran gadis itu terhadapnya. Sesuatu yang tidak pernah Alfian lakukan pada perempuan lain.
Selama ini ia tidak peduli pendapat keluarga, teman, kenalan, rekan kerja atau karyawan perempuan terhadapnya. Ia tidak peduli mereka akan menggosipkan kebiasaannya gonta ganti pacar. Alfian tidak peduli dengan segala julukan yang mereka sematkan padanya.
Tapi tidak dengan Desi. Alfian peduli dengan apa yang ada di dalam otak gadis itu setelah mendengar ucapan Wulan yang vulgar.
Alfian mendesah pelan. Saat ini ia belum bisa memahami apa yang terjadi dengan isi kepala juga hatinya. Terutama semua hal yang berkaitan dengan Desi. Ia menatap Desi dengan sendu, seolah pasrah dengan apa yang Desi pikirkan tentangnya.
"Ya, kamu benar. Tidak ada gunanya menjelaskan itu kepadamu."
Alfian lalu melangkah meninggalkan Desi yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar.
Desi berbalik, menatap punggung Alfian yang semakin jauh sampai akhirnya tidak terlihat.
"Pertanyaanku salah ya." Gumam Desi pada dirinya sendiri.
🌸🌸🌸
Desi sedang menyiapkan makan malam ketika ia mendengar bel berbunyi. Ia bergegas menuju pintu dan melihat ke layar monitor yang berada di dinding dekat pintu.
"Perempuan." Lirih Desi.
Ia lantas memencet tombol untuk berbicara. "Maaf, dengan siapa?"
Perempuan di balik pintu mendekat ke arah pintu dan menekan tombol yang simbolnya sama untuk menjawab. "Saya Wulan." Suara wanita itu terdengar ramah.
"Maaf, kami sedang tidak menerima tamu." Jawab Desi, menjalankan perintah Nyonya Rara.
"Tapi, saya harus ketemu Pak Alfian."
"Sekali lagi maaf, Pak Alfian sedang tidak bisa diganggu. Silahkan Nyonya pergi."
__ADS_1
"Tapi ini sangat penting. Saya…."
"Tidak bisa Nyonya. Saya juga hanya menyampaikan perintah langsung. Pak Alfian sedang tidak bisa diganggu."
Desi mengamati monitor, perempuan bernama Wulan itu terlihat kebingungan.
"Tapi…."
"Tidak ada tapi-tapian Nyonya. Tolong jangan menyulitkan saya." Desi kembali memotong ucapan perempuan itu.
Perempuan itu tidak lagi terlihat di layar monitor. Dan Desi menganggap Wulan telah pergi. Desi segera kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
🌸🌸🌸
"Desi, apakah tadi ada orang yang datang?" Nyonya Rara masuk ke dapur untuk mengambil air minum.
Desi yang sedang mencuci peralatan masak segera menghentikan pekerjaannya.
"Ada Nyonya, seorang perempuan."
Nyonya Rara meletakkan gelas. "Asistennya Dokter Haryadi?"
Desi menggeleng pelan. "Saya tidak tahu Nyonya. Dia tidak menyebutkan pekerjaannya, hanya menyebutkan nama. Namanya Wulan dan dia bilang mau bertemu Tuan Muda. Tapi saya mengatakan Tuan sedang sibuk, jadi tidak menerima tamu."
"Bagus bagus." Puji Rara sebab Desi sudah menjalankan perintah.
Keduanya terdiam sejenak. Hingga kemudian suara bel kembali berbunyi. Desi segera menuju pintu dan disusul Rara. Ternyata Tuan Sultan sudah pulang dari kantor.
"Sudah pulang?" Nyonya Rara menyambut suaminya dengan senyuman manis.
Mereka berpelukan dan saling mengecup. Membuat Desi yang masih ada disitu lantas berbalik.
"Ayah, Bunda, kasihan Desi." Seru Alfian yang berada di depan pintu dapur.
Desi menatap Alfian dengan mata yang membulat sempurna. Ia tak percaya Alfian mengatakan hal itu. Sedangkan Alfian hanya mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju kamar.
"O iya, Ayah sampai lupa. Gara-gara Bunda sih." Sultan kembali keluar dan memanggil seseorang.
"Kok Bunda?" Rara menunggu dengan raut wajah tak setuju.
Sedangkan Desi, ia memilih untuk kembali ke dapur. Namun suara sapaan yang ia dengar membuatnya berhenti dan berbalik.
"Selamat sore."
Perempuan tadi? Gumam Desi dalam hati.
"Ini Wulan, Asistennya Dokter Haryadi. Katanya dia tidak bisa bertemu Alfian. Ayah ketemu dia di bawah." Jelas Sultan sambil berjalan masuk.
Desi dan Rara saling menatap beberapa saat. Kemudian Rara mempersilahkan Wulan untuk masuk.
Setelah semua duduk di ruang tamu, dan Desi menghidangkan minuman, Sultan kembali bertanya.
"Alfian kan lagi sakit. Kenapa dibilang lagi sibuk?"
__ADS_1
Desi yang dilarang pergi oleh Sultan segera menatap Rara. Dan wanita itu menggerakkan tangan sebagai tanda agar Desi tetap tenang.
"Jadi begini, Ibu Wulan. Tadi ada sedikit kesalahpahaman. Kami tidak tahu kalau anda Asisten Dokter Haryadi. Kami pikir anda Wulan yang lain." Jelas Rara. "Asisten rumah tangga kami hanya menjalankan tugas yang saya berikan. Maaf kalau membuat Ibu tersinggung."
Wulan tersenyum mengerti, dan ia tidak mempermasalahkan hal itu lebih lanjut. "Sebenarnya, saya juga yang salah, Nyonya. Karena saya hanya menyebut nama, bahkan tanpa mengatakan alasan ingin bertemu."
Nyonya Rara tersenyum lega, pun dengan Desi. Setelah kesalahpahaman diselesaikan, Wulan segera memeriksa Alfian sesuai perintah Dokter Haryadi.
🩺🩺🩺
"Jadi, bisa tolong jelaskan ke Ayah. Ada apa dengan seseorang yang bernama Wulan?"
Tanya Tuan Sultan saat Wulan, Asisten Dokter Haryadi, sudah pergi. Pria paruh baya itu menatap Rara dan Desi bergantian.
Merasa sebagai orang yang paling bertanggung jawab, Rara menggerakkan tangan sebagai tanda pada Desi agar tetap diam. Sedangkan Alfian hanya memijat pelipisnya dengan pelan.
"Begini Ayah. Alfian punya kekasih baru bernama Wulan. Terus, tadi siang perempuan itu telepon. Bunda yang angkat dan Bunda tidak suka ucapannya. Jadi Bunda pesan sama Desi, kalau ada perempuan yang bernama Wulan, jangan diizinkan masuk."
Sultan menatap Alfian untuk sesaat. Jika urusannya tentang kekasih Alfian, meski perempuan itu tidak menelpon pun, pasti akan dilarang masuk. Jadi Sultan tidak mempermasalahkan pelarangan itu.
"Desi."
"Saya, Tuan Besar."
"Lain kali tanya yang lengkap ya. Nama, pekerjaan dan alasan untuk bertemu. Siapa tahu tamunya lupa menyebutkan seperti tadi." Pesan Tuan Besar Sultan.
"Baik Tuan."
🌸🌸🌸
Alfian membaringkan tubuhnya dengan diiringi helaan nafas panjang. Ia mengambil smartphone-nya dan menggulir kontak yang tersimpan. Sesaat kemudian ia memulai panggilan telepon dengan seseorang.
"Halo baby." Terdengar suara manja seorang perempuan setelah panggilannya diangkat. "Tadi siapa yang angkat telponnya? Kok kasar banget sih baby?"
Rahang Alfian mengeras. "Kita putus." Ucapnya dengan dingin.
Ia begitu kesal dengan Wulan karena berani mengucapkan kata-kata vulgar saat menelepon. Mungkin akan beda ceritanya kalau tidak ada Bunda Rara dan Desi yang mendengarkan.
Jauh di lubuk hatinya pun sebenarnya Alfian sadar. Bukan kalimat Wulan yang membuat Alfian kesal. Karena kebanyakan kekasihnya akan menggoda dan mengucapkan hal yang lebih vulgar dari itu.
Alfian begitu kesal, karena Bunda mendengar hal seperti itu. Dan mata Bunda terlihat begitu terluka saat menutup telepon dari Wulan.
"Ap…apa? Baby, kamu nggak salah bicara kan?" Wulan terdengar panik.
"Tidak."
Dan tanpa mendengar ucapan Wulan, Alfian segera memutus sambungan. Ia sudah hafal, kalimat selanjutnya pasti berisi bujukan, rengekan, tangisan mengiba atau bahkan ancaman. Seperti biasa.
Kadang, Alfian ingin berhenti. Namun jika ia melihat wanita berusia 30-an yang mulai bersikap menggoda. Atau bertingkah berlebihan di depannya, Alfian akan kembali bersemangat untuk menyakiti wanita seperti itu.
Mengikuti dendam dan sakit hati memang tidak akan ada puasnya.
...****************...
__ADS_1