Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 17


__ADS_3

Desi merebahkan tubuhnya, setelah banyak beraktivitas rasanya sangat nikmat bisa beristirahat seperti ini. Baru beberapa menit memejamkan mata, sebuah panggilan video membuat Desi mengerang. Dengan enggan ia meraih gawai yang tidak jauh dari jangkauan tangannya.


"Maria?" Ia mengernyit.


Desi beranjak dan mencari headsetnya. Setelah dipakai barulah ia mengangkat panggilan itu.


"Desiiiiii." Seru dua orang gadis yang kini wajahnya memenuhi layar.


"Hai hai. Apa kabar?" Desi sumringah melihat wajah kedua sahabatnya, Maria dan Nayra.


"Baik. Kami rindu." Jawab Nayra sambil memasang wajah memelas.


"Aku pun." Sahut Desi dengan nada bicara yang membuat kedua sahabatnya terkekeh.


Ketiganya lantas memperbincangkan banyak hal. Desi banyak bertanya tentang situasi di kampus. Sebagai mahasiswa yang tinggal mengikuti ujian akhir, ia memang tidak terikat dengan absensi yang mewajibkannya untuk hadir di kampus. Sehingga tidak akan banyak orang yang menyadari jika Desi sudah lama tidak datang.


Sedangkan di ruang kerjanya, Alfian memijat pelipisnya. Ia tidak bisa fokus bekerja. Ingatannya dipenuhi dengan wajah Desi.


"Hahh, sepertinya aku sudah gila." Lirihnya lagi. Alfian menyandarkan tubuhnha pada lunggung kursi kerja yang nyaman. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat dan menarik nafas dalam-dalam.


Alfian membuat keputusan, ia terpaksa mematikan laptop dan keluar dari ruang kerja. Karena percuma saja bertahan, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Alfian melirik arlojinya, saat ini baru pukul 8 malam. Ia memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar.


Akhirnya mobil yang ia kemudikan berhenti di sebuah Pub yang sudah menjadi langganannya.


Akan tetapi, sepertinya malam ini Alfian kurang beruntung. Niat hati ingin mencari hiburan, namun yang dilihat adalah orang yang membuat kepalanya berdenyut.


"Hai Fian, aku senang bisa kembali bertemu denganmu." Sima yang berpenampilan memukau dengan penuh percaya diri duduk di seberang meja Alfian.


Alfian diam, ia tidak menanggapi. Dengan tenang Alfian menyesap cocktail miliknya yang mengandung campuran rempah. Dan masih dalam mode cuek, ia mulai menikmati sorbet buah yang disajikan sebagai pendamping cocktail.


Sima menggigit bibirnya, Alfian yang dingin dan cuek membuatnya semakin bergairah. Wajah tegas dan tampan itu membuat sesuatu dalam dirinya menggelegak.


Meski Alfian tidak pernah melewati batas, lebih dari berciuman, namun Sima sudah berencana akan menyeret Alfian untuk menghangatkan ranjangnya. Dan sampai saat ini, keinginan itu masih begitu kuat.


Karena jika sampai terjadi, maka Alfian tidak akan bisa lepas lagi dari genggamannya. Sima begitu terobsesi untuk mendapatkan pemuda yang usianya lebih muda ini.


"Mas, maaf aku terlambat." Rama yang baru saja tiba langsung duduk. "Eh…" Dan ia terkejut melihat keberadaan Sima yang cara duduknya seolah sengaja membuat buah dadanya seakan hendak melompat keluar tempatnya.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu?" Rama menatap Alfian dengan bingung.


Alfian menggeleng. "Tidak, pesanlah sesuatu."


Rama mengangguk dan mengangkat tangan memanggil pelayan.


"Akhirnya, aku bisa mendengar suaramu."


Ucapan Sima membuat Rama menatap Alfian dan Sima secara bergantian. Alisnya terangkat, ia menduga kalau dari tadi Kakak sepupunya itu pasti tidak menanggapi Sima. Menyadari itu, Rama segera ikut campur. Ia tidak ingin mood Alfian rusak dan berlanjut hingga esok hari.


"Maaf, Nyonya Sima. Bisakah anda meninggalkan  kami berdua? Karena saat ini ada pekerjaan yang hendak kami diskusikan." Rama beralasan.


Sima mencibir. "Aku tahu kamu tidak menyukai kehadiranku, tapi dari tadi Alfian tidak keberatan. Dan juga, untuk apa mendiskusikan pekerjaan di Pub. Kenapa tidak besok saja di kantor?" Sima melayangkan protes.


Rama tersenyum. "Nyonya, jika semua urusan dikerjakan di kantor, maka 8 jam sehari tidaklah cukup. Lagipula, jika bekerja di tempat yang suasananya menyenangkan seperti ini, ide-ide baru akan bermunculan." Senyum Rama tidak surut.


"Artinya pundi-pundi keuntungan pun akan bermunculan. Sebagai seseorang yang hanya bisa menikmati hasil tanpa tahu proses, seharusnya anda memaklumi hal semacam ini."


Sima semakin kesal, diakhir penjelasan, Rama menghinanya. Namun yang dikatakan Rama adalah benar. Karena ia hanya menikmati uang hasil pembagian saat bercerai dengan Sang Suami. Uang yang cukup besar hingga bisa memenuhi gaya hidup mewahnya sampai puluhan tahun ke depan.


Sima mencengkram tas tangannya, kemudian berdiri.


Sima tersenyum kecut, namun ia tetap mengangkat dagunya dan pergi dari meja Alfian dengan kepala terangkat. Meski Alfian sudah menghinanya, namun Sima tidak ingin mengaku kalah. Keinginannya untuk memiliki Alfian semakin menjadi-jadi.


"Dia tidak akan menyerah Mas." Gumam Rama sambil terus menatap Sima yang saat ini menarik perhatian beberapa lelaki.


Alfian mendesah kasar. "Kamu sih, kenapa bisa lupa mengingatkan untuk mutusin dia." Sahut Alfian dengan ketus.


Rama menatap tak percaya. "Aku juga kan sibuk Mas. Lagian Mas Fian juga, orang pacaran yang diingat itu tanggal jadian. Bukan kapan mau mutusin." Rama sewot, tak terima disalahkan.


Alfian melengos. "Lain kali ingatkan."


"Masih mau cari lagi Mas? Emang belum puas? Barisan prajurit patah hatinya sudah jadi 1 batalyon lho Mas." Rama mengingatkan.


Alfian menatap tajam pada Rama. "Kamu ngitung? Kalau gitu sekalian aja kamu yang jadi danyon."


"Ogah!" Sungut Rama. "Anggotanya janda tua semua."


"Janda kan lebih berpengalaman."

__ADS_1


"Helehhhh. Cuma modal cium-cium tanpa *****-***** aja bilang berpengalaman."


"Ngomong satu kata lagi, Mas potong 10% gaji kamu." Sahut Alfian ketus.


"Tapi…."


"20%."


Mata Rama membulat, ingin rasanya bilang jangan bawa urusan pekerjaan. Tapi ia tak ingin kehilangan 80% gajinya. Akhirnya Rama hanya bisa duduk bersandar sambil menarik nafas dalam-dalam.


🙊🙊🙊


Hampir tengah malam, Alfian dan Rama memutuskan untuk pulang. Namun saat menuju ke mobil, langkah Alfian dihadang oleh Wulan.


"Wedew!" Rama mengangkat kedua alisnya. Meski bukan urusannya, namun ia mengurungkan langkah untuk menuju mobilnya sendiri. Rama memilih untuk menemani Sang Kakak.


"Aku mau bicara!"


Alfian menatap Wulan dengan dingin. Hingga tanpa sadar Wulan melangkah mundur. Saat itulah Alfian maju mendekati Wulan.


"Ak..aku..aku" Wulan mendadak merasa ketakutan. Tatapan Alfian begitu mengintimidasi. Seakan-akan nyawanya bisa hilang begitu saja hanya melalui tatapan.


Alfian berhenti saat melihat nafas Wulan yang pendek-pendek dan membuat dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Ia memberi kode pada Rama. Keduanya melangkah menuju mobil masing-masing dan pergi meninggalkan Wulan.


Wulan mengerjap beberapa kali. Kesadarannya telah kembali. Rasa takutnya lenyap setelah Alfian tak lagi nampak. Namun ketika berjalan menuju mobilnya, seseorang dengan keras menarik tangannya dan mendorong Wulan hingga tubuhnya menabrak mobil.


"Kalau kamu dekati Alfian lagi, aku nggak akan segan untuk melenyapkanmu!" Ancam seorang wanita yang terlihat asing di mata Wulan.


Dan karena masih ada perasaan takut akibat tatapan Alfian, Wulan mengangguk-angguk mengikuti kemauan Si pengancam.


"Bagus."


Sima tersenyum menyeringai. Meski ia meninggalkan meja Alfian, namun dari tempatnya duduk, ia terus memantau pemuda yang sudah membuatnya tergila-gila. Dan aksi penghadangan yang dilakukan Wulan membuat darah Sima mendidih. Akan tetap setelah melihat sikap cuek yang ditunjukkan Alfian, Sima menjadi senang dan merasa harus makin mengancam Wulan.


Sima mundur, memberi ruang pada Wulan. Dan benar saja, wanita itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Sima.


Sima menatap kepergian Wulan dengan sorot mata yang menggambarkan kekuatan tekadnya.


"Alfian cuma buat aku! Nggak akan ada kesempatan untuk yang lain."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2