Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 20


__ADS_3

Alfian berdiri menatap jalanan dengan kedua tangan masuk ke dalam kantong celananya. Berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


Jika ada yang berani bertanya, siapa yang sudah membuatnya risau. Maka dengan yakin Alfian akan menyebut nama Desi.


Sayangnya, tidak ada yang berani. Termasuk Rama yang dari tadi sudah menunggu di depan pintu.


Hhhhhhhh!!!


Alfian kembali mendesah, mengusap leher dan membalikkan tubuhnya.


"Rama? Sedang apa disitu?" Alfian mengernyit melihat Rama yang hanya berdiri mematung di ambang pintu.


Rama tersenyum kecut. "Saya tidak berani mengganggu Bapak." Jawab Rama sambil duduk di seberang meja kerja Alfian. Ia menyodorkan map polos berwarna kuning.


"Apa ini?" Tanya Alfian sebelum membuka map di depannya.


"Surat izin, saya mau pergi ke kota Y. Nay sakit."


Alfian menegakkan tubuh. "Sakit apa? Kenapa pakai surat izin segala? Langsung pergi saja kan bisa."


"Saya mau mendelegasikan beberapa pekerjaan pada Dwi. Jadi saya membutuhkan disposisi persetujuan izin saya Pak."


Alfian mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengambil selembar kertas dan menulis izin sesuai keperluan Rama.


"Nay sakit apa? Kenapa nggak telpon Mas?" Alfian menghapus formalitas.


"Pagi ini dia dibawa ke Rumah Sakit, katanya sakit perut. Aku juga baru tahu setelah sampai di kantor. Makanya langsung buat surat izin."


"Pak Lek sama Bulek sudah tahu?"


"Sudah Mas, tapi Papa lagi rapat. Setelah selesai mereka akan langsung terbang ke kota Y dari Pulau S."


Alfian mengangguk-anggukkan kepala.


"Mas, tapi kalau Mas lagi banyak pikiran, saya bisa….."


"Nggak, Mas nggak apa-apa. Nay lebih penting."


Rama ber-oh ria.


"Memangnya kamu lihat Mas bagaimana? Kok ngomong gitu?"


Rama tersenyum. "Mas melamun, terus narik nafas dalam-dalam berkali-kali. Jadi, aku pikir Mas lagi banyak masalah."


Alfian tak segera menjawab. Ia terdiam untuk beberapa saat sambil menyelesaikan tulisannya.


"Mas baik-baik saja." Ujarnya sambil menyerahkan selembar kertas pada Rama. "Segeralah berangkat. Sampaikan salamku pada Nay."


Rama mengangguk. "Pasti Mas. Terima kasih."


🏥🏥🏥


Alfian berjalan dengan kepala tertunduk karena merasa lelah. Meski sudah ada Dwi yang menggantikan Rama, namun Alfian memilih mengerjakan beberapa hal seorang diri. Sebab ia belum bisa mempercayai pegawai lain seperti ia mempercayai Rama.


Namun suara ceria seorang gadis membuat kepala Alfian terangkat dengan cepat. Ia bahkan berhenti melangkah.


Desi


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Desi sedang asyik mengobrol dengan Daffa, penjaga keamanan. Meski tidak tertawa renyah, namun Desi yang berbicara dengan luwes, ditambah mimik wajah riang membuat sisi ceria gadis itu terlihat jelas malam ini.


Dari tempatnya, Alfian bisa melihat, ekspresi dan cara berbicara Desi tidak dibuat-buat agar dinilai sebagai gadis yang periang. Namun seperti itulah karakter aslinya.

__ADS_1


Alfian ikut tersenyum saat melihat Desi tersenyum. Tapi ketika menatap Daffa, senyuman Alfian hilang. Ia menjadi sangat kesal.


Alfian melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam lift. Dan ketika Daffa melihat kedatangan Alfian, senyum pemuda itu hilang dalam sekejap.


"Selamat malam Tuan."


Desi yang melihat perubahan pada wajah Daffa segera ikut berbalik.


Senyuman Desi luntur. "Eh! Tu…."


"Jadi begini tingkah kamu kalau saya sedang tidak ada?!" Tanya Alfian dengan ketus. Desi mengerjap, ia bingung.


Apa salah mengobrol saat pekerjaan sudah selesai? Lagian kan belum sampai 5 menit.


"Masuk!" Titah Alfian seraya masuk lebih dulu ke dalam lift.


Desi berjingkat. "Iy…iya Tuan." Alfian tidak pernah marah sebelumnya.


Ia menatap Daffa untuk berpamitan. "Daff…."


"Desi!" Sekali lagi suara Alfian terdengar.


"Saya Tuan." Desi hanya melambai sedikit kemudian bergegas masuk.


Setelah pintu lift tertutup, Daffa tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Alfian.


"Ternyata Tuan Muda itu kalau lagi cemburu mengerikan juga." Gumam Daffa pelan.


Senyumnya segera memudar saat seseorang memasuki lobi. Daffa kembali bersikap biasa.


"Selamat malam Nyonya." Sapa Daffa.


Yang disapa hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia segera memasuki lift lain yang tersedia khusus bagi penghuni di lantai genap.


"Pukul 06.30, kembali ke apartemen sambil menenteng tas wanita brand LV berwarna coklat. Seorang diri." Suaranya setengah berbisik.


Setelah menarik tangan dari tombol kecil di sisi benda tersebut, Daffa segera memasukkan alat perekam itu ke saku celananya. Kemudian ia keluar untuk kembali melaksanakan tugasnya sebagai penjaga keamanan apartemen.


🏢🏢🏢


"Kamu punya banyak waktu untuk nongkrong ya. Sudah tidak mau kerja?!" Teriak Alfian. Suara yang dipenuhi dengan emosi itu memenuhi lorong di depan pintu masuk.


Pemuda itu bahkan tidak menunggu untuk sekedar meletakkan tas kerja atau menggantung jas. Begitu Desi masuk, menyusulnya dari belakang, ia langsung memarahi gadis ini.


"Kalau kamu lebih senang mengobrol, berhenti bekerja sekarang juga!" Imbuh Fian.


Desi sontak mengangkat kepalanya dan menatap Alfian dengan sedih.


"Fian! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu marah-marah sama Desi?"


Nyonya Rara muncul dari ruang tamu. Ia berjalan dengan sangat cepat. Begitu tiba di samping Alfian, matanya menelisik tubuh Desi yang menegang dengan kepala kembali tertunduk.


"Desi, masuk ke kamarmu." Titahnya dengan lembut.


Desi menatap Alfian terlebih dulu.


"Dengar saya saja Desi." Imbuh Nyonya Rara yang mengerti kalau Desi meminta persetujuan Alfian. Sebab Desi sadar, Alfian belum selesai berbicara.


Namun ia juga tidak ingin membantah Nyonya Besar. Desi mengangguk dan melangkah melewati kedua majikan dengan tubuh membungkuk.


Alfian mengantar kepergian Desi dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Nyonya Rara mengambil jas dan tas kerja Alfian dari tangan putranya.


"Bunda."


Nyonya Rara tidak menanggapi panggilan Alfian, wanita itu masuk ke dalam ruang kerja Putranya dan meletakkan tas beserta jas. Setelah itu keluar dan menuju dapur. Tak mengindahkan Alfian yang berdiri sambil bersandar di dinding menantinya.


Rara kembali membawa segelas air putih dan menyerahkan pada Alfian.


"Minum dulu."


Alfian menerima gelas itu dan minum tanpa protes. Sedangkan Nyonya Rara sudah berjalan menuju balkon, tempatnya duduk sebelum mendengar teriakan Alfian.


Alfian meletakkan gelasnya di dapur dan segera menyusul Rara.


"Kenapa kamu teriak-teriak ke Desi?" Tanya Rara dengan lembut setelah Alfian duduk di sampingnya.


Alfian menghela nafas, ia pun tidak mengerti kenapa bisa tersulut emosi.


"Aku kesal melihatnya berbincang dengan penjaga keamanan. Memangnya tugas dia sudah selesai sampai bisa mengobrol dengan santainya?"


Desi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pekerjaan Desi sudah beres. Apartemen bersih, rapi, harum. Makan malam sudah siap, hanya perlu dipanaskan lagi karena kamu terlambat pulang. Pakaian kotor sudah bersih, yang kering sudah disetrika, bahkan pakaian dalammu juga sudah Desi lipat."


"Bunda. Harus dirinci begitu?" Alfian protes.


"Harus." Jawab Rara tegas. "Karena kamu sudah berani menuduhnya tanpa dasar."


Nyonya Rara menyedot jus sayur dan buah yang Desi buatkan untuknya sebelum kembali berbicara.


"Nak, Desi itu pergi belum sampai 10 menit. Yahh, total 10 menit kalau ditambah dengan saat dia kembali bersama kamu. Bunda yang menyuruhnya pergi menemui Daffa. Membawakan dendeng pedas untuk makan malam. Karena penjaga keamanan itu sudah menolong Bunda."


Wajah Alfian menegang. "Menolong? Menolong dari apa? Bunda kenapa?" Alfian memberondong Rara dengan pertanyaannya.


"Tadi ujung baju Bunda terjepit di pintu karena Bunda buru-buru. Beruntung ada Daffa, jadi Bunda bisa selamat dari kejadian mengerikan. Nah, sebagai ucapan terima kasih, Bunda minta Desi bawakan Daffa makanan."


Alfian menarik nafas lega. Akan tetapi ada rasa bersalah yang menyusup saat mendengar nama Desi disebut. Tadi ia begitu marah hingga membentak gadis itu.


"Kamu jangan marah seperti tadi kalau belum tahu duduk persoalannya. Lagi pula, Desi itu cantik. Wajar saja kalau Daffa ingin lebih mengenalnya." Rara melirik Alfian, mencoba memanasi Putranya.


"Bunda kagum sama Daffa, seleranya tinggi. Desi kan masih muda, cantik, pintar masak, penampilannya tidak urakan. Dibanding seseorang yang lebih suka sama tante-tante." Sindir Rara.


"Bunda."


"Kenapa? Bunda cuma berkata jujur. Kalau besok-besok Daffa mau lebih dekat sama Desi, Bunda akan memberi peluang."


"Jadi Bunda mengizinkan Desi membawa masuk pria ke apartemenku?" Alfian menatap tak suka.


"Tidak, untuk apa juga mereka ke apartemen ini. Bunda akan memfasilitasi mereka untuk nge-date di luar." Bunda Rara tersenyum saat matanya menerawang membayangkan idenya itu.


"Bunda! Nggak ada comblang-comblangan."


"Ih, suka-suka Bunda."


"Tapi Desi itu pelayan aku, Bun."


"Kan cuma pelayan, bukan keluarga, pacar apalagi suami. Ya bebas dong Bunda mau comblangin Desi sama cowok ganteng mana pun."


"Pokoknya nggak bisa Bunda!"


"Kenapa nggak bisa?"


"Karena….." Alfian tidak menemukan kalimat yang pas. "Duhhh!!! Pokoknya nggak bisa dan nggak boleh. Sudah, aku mau mandi."

__ADS_1


Alfian segera berdiri dengan pikiran yang kacau. Meninggalkan Bundanya yang menutup mulut menahan tawa yang hampir meledak keluar.


...****************...


__ADS_2