Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 32


__ADS_3

Nayra memutus panggilannya setelah Maria keluar dari kamar mandi.


"Mia, sorry ya. Gue lupa bilang kalau lagi VC."


Wajah Maria ditekuk, ia kesal. "Sa kira ko lagi dengar lagu (saya kira kamu lagi dengar lagu)."


Nayra meringis, ia benar-benar merasa tak enak.


"Tahu begitu tadi buka kaos luarnya di kamar mandi saja sekalian." Sungut Maria. Ia menyesal sudah membuka kaos tipis yang biasa ia gunakan sebagai penutup tanktop saat baru memasuki kamar.


"Sorry ya Mia." Nayra memegang tangan Maria dan menggoyang-goyangnya. Tak lupa memasang wajah memelas.


Kalau sudah begini, Maria hanya bisa menghela nafas. "Iya iya." Tangan Maria yang bebas mengusap kepala Nayra.


"Yeayyyy." Wajah Nayra berbinar. "Malam ini aku traktir makan di kafe."


Maria tersenyum kecut. "Sip."


"Aku balik kamar dulu, Mas Rama belum selesai ngomong." Nayra bergegas keluar dari kamar Maria.


Maria menggigit bibirnya saat mendengar nama pemuda itu Wajah Rama tiba-tiba melintas di benaknya. Sejak kembali ke kota J, Rama tidak pernah menghubunginya. Padahal pemuda itu sudah mendapatkan nomornya setelah mengancam tidak akan mengeluarkan Maria dari dalam kamar Nayra dan tidak akan berhenti menciumnya.


Maria mendesah kasar. "Mungkin aku hanya tempat pelampiasan. Di kota J dia pasti sudah memiliki kekasih." Maria tertawa sumbang. Dalam hatinya menyesal sempat terlena dengan permainan bibir Rama, bahkan membalasnya. Bahkan setelah itu ia tidak bisa berhenti memikirkan Rama.


💔💔💔


"Syarat apa sih Mas?" Tanya Nayra setelah kembali terhubung dengan Rama.


"Bawa Maria ke rumah setelah kalian wisuda."


Nayra memicingkan matanya. "Aku sudah curiga waktu Mas senyum-senyum nggak jelas di Rumah Sakit. Mas apain Maria?!"


"Nggak Mas apa-apain kok."


"Bohong!"


"Tanya aja sama dia, kalau nggak percaya." Rama berani bertaruh, Maria tidak akan berani menjawab dengan jujur.


Nayra tidak bisa melepas Rama begitu saja. "Dia nggak akan jujur."


"Sudah, tugas kamu adalah membawa dia ke rumah. Kalau berhasil, Mas akan belikan kalung berlian yang kamu mau."


Mata Nayra berbinar, ia tergiur. Namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Nggak! Nay nggak mau. Maria lebih berharga dari kalung berlian."


"LV, all product. Terserah kamu mau yang mana."


Nayra kembali menggeleng. "Tidak Mas. Persahabatan aku, Maria dan Desi nggak bisa dibeli sama apapun." Jawab Nayra tegas.


"Desi?"


"Iya, ada satu lagi sahabat aku. Namanya Desi."


Rama terdiam sejenak. Ah, mungkin sama nama aja. Kan di dunia ini yang namanya Desi bukan cuma satu orang.


Rama menarik nafas dalam-dalam. Kalau sudah begini, ia harus jujur sama Nayra.


"Sepertinya, aku jatuh cinta." Rama menjeda ucapannya seraya menarik nafas dalam-dalam. "Aku sudah jatuh cinta sama sahabat kamu Nay."

__ADS_1


Nayra tercengang. "Secepat itu? Mas yakin?"


Rama tertawa. "Mas juga nggak tahu kenapa bisa secepat itu langsung suka sama Maria. Mas bukan ABG lagi yang labil dan nggak sadar sama hati sendiri."


Nayra mengerjap berkali-kali. Ia bahkan sampai mengubah posisi duduknya.


"Mas! Kalau cuma mau main-main. Cari cewek lain saja sana. Nayra nggak ikhlas lahir batin kalau Mas Rama mainin Maria." Ucap Nayra dengan tatapan tajam.


Rama mengusap wajahnya dengan kasar. "Sejak kapan Masmu ini suka mainin cewek? Yang ada Mas yang dipermainkan."


Tawa Nayra pecah. "Iya sih, Mas Rama kan sad boy."


"Nayra."


"Hahahaha sorry." Nayra menutup mulut dengan tangannya. "Kalau Mas serius, aku akan bawa Mia pulang. Nggak perlu Mas nyogok aku. Aku senang, kalau akhirnya Mia yang jadi kakak ipar aku."


"Yes!!!" Rama meninju udara dengan wajah sumringah.


Nayra kembali tertawa. Sudah lama tidak melihat Rama bisa bahagia karena seorang gadis.


"Sudah ya, Mas lanjut kerja dulu."


"Iya Mas. Bye."


Nayra masih memegang gawainya. Ia sedang memikirkan apa yang harus ia katakan pada Maria agar gadis itu mau ikut ke kota J. Sebenarnya bukan pertama kalinya Maria pergi kota J bersama Nayra, akan tetapi biasanya Maria akan tinggal di apartemen milik keluarganya. Dan kali ini Rama ingin Maria tinggal di rumah mereka.


Nayra memijat pangkal hidungnya. "Bagaimana ngomongnya biar Maria nggak curiga ya?" Nayra bertanya pada dirinya sendiri. "Seandainya ada Desi, pasti lebih seru. Ada yang bantuin." Keluh Nayra dengan wajah murung.


"Desi, aku kangen."


📱📱📱


"Beneran bukan penganiayaan kan?" Tanya Maria sekali lagi.


"Iya Mariana." Desi gemas karena kedua sahabatnya tidak percaya kalau ia dirawat karena jatuh.


"Tapi kalau misalnya ada penganiayaan, cepat cerita." Nayra menambahkan.


Desi mengangguk, hatinya menghangat. Orang lain malah seperti saudara. Sedangkan saudara sendiri??? Ah sudahlah. Ada sedikit rasa nyeri menyusup.


Desi tidak mengerti, tidak satu pun keluarga orang tuanya yang peduli kepadanya. Bahkan mereka terang-terangan menjauhi dan menghindari Desi.


Dulu Desi akan menangis, tapi sekarang ia memilih untuk ikut tidak peduli. Meski tetap saja ada rasa sakit.


"Kalian makan di tempat biasa?" Tanya Desi setelah mengamati keadaan di belakang Maria dan Nayra.


"Iya, karena seseorang sedang sangat rindu." Jawab Maria sambil menyenggol Nayra.


"Memangnya ko tra rindu (memangnya kamu tidak rindu)?" Balas Nayra sambil menirukan logat timur yang kadang Maria gunakan.


"Rindu juga." Maria meringis.


"Huuuu." Nayra gemas dan menarik pipi Maria.


Desi tertawa, ia jadi ingin berada diantara mereka.


"Eh, sudah. Jangan ganggu Desi lagi. Selamat istirahat beb. Muahh Muahh Muahh." Nayra dengan centil mengirim ciuman menggunakan jarinya.

__ADS_1


"Lekas sembuh ya beb." Maria melambai.


"Makasih bebeb." Desi menahan tawa saat menirukan gaya centil Nayra.


Desi meletakkan gawainya sambil tertawa kecil.


"Seneng banget, bicara sama siapa?" Tanya Alfian yang sedang bersandar pada pintu sambil bersedekap.


Desi tergagap, entah apa saja yang sudah didengar Alfian. "Eh, Mas. Sudah pulang?"


Alfian menutup pintu dan berjalan menuju Desi. "Iya, belum terlalu lama. Kamu terlalu asyik bercanda sampai tidak dengar waktu Mas buka pintu."


Tangan Alfian terulur mengusap kepala Desi. "Masih pusing?"


Desi menggeleng pelan, dadanya berdesir dengan perlakuan manis Alfian. "Cuma luka saja yang sakit, sedikit."


Alfian tersenyum senang kemudian menunduk dan mengecup kening Desi.


"Bicara sama siapa hon?" Tanyanya sambil duduk di samping brankar Desi.


"Sahabat aku Mas. Cewek." Desi melengkapi jawabannya dengan keterangan gender.


Alfian tertawa kecil. "Baguslah. Karena aku bakal cemburu kalau ada cowok lain yang buat kamu tertawa dan terus senyum seperti tadi. Sedangkan kalau sama Mas, kamu canggung sekali."


Desi menggigit bibirnya dengan bola mata yang bergerak kesana kemari. "Aku bingung mau bagaimana menanggapi." Ujar Desi apa adanya.


Alfian semakin terkekeh kemudian menarik hidung Desi. "Kamu lucu banget sih sayang."


"Sakit." Keluh Desi pelan.


Alfian tersenyum lembut dan mengusap hidung Desi yang ia tarik sebelumnya.


"Malam ini tidur ditemani Bunda, nggak apa-apa kan?"


Mata Desi membola. "Jangan Mas. Aku sendiri saja, nggak apa-apa. Lagian aku sudah nggak dipasangi infus, jadi bebas bergerak."


"Aku juga nggak bisa menolak honey. Ini inisiatif Bunda dan Bunda tidak ingin dibantah."


Sekarang Desi tahu darimana Alfian memiliki sifat pemaksa.


Di kamar perawatan Desi memang tersedia satu buah tempat tidur khusus yang menjaga pasien. Tapi tetap saja Desi merasa tidak nyaman, masa majikan jaga pembantunya.


"Kamu kan sekarang calon menantu Bunda. Jadi nggak masalah kan kalau dijaga calon mertua."


Pipi Desi merona mendengar kata menantu dan mertua yang diucapkan Alfian. Padahal mereka baru saja beberapa jam menjalin hubungan tapi Alfian sudah berpikir jauh kesana.


Lagi pula tidak ada yang salah dengan pemikiran Alfian. Dua orang yang sudah cukup umur menjalin hubungan, dan Sang pemuda memiliki penghasilan yang lebih dari cukup untuk menafkahi. Kurang apa lagi? Untuk apa menjalin hubungan hanya untuk bersenang-senang. Buang-buang waktu.


Alfian mengusap rona merah di pipi Desi. "Baik-baik sama Calon Mertua ya." Ucapnya kembali menggoda Desi hingga wajah gadis ini memerah sempurna.


"Mas Al." Rengek Desi, ia belum siap mendengar kata-kata itu.


Alfian terkekeh, ia bangkit dari duduknya dan menunduk hendak mengecup bibir Desi.


"Alfian Adhyaksa!"


Teriakan di pintu membuat Alfian mematung pada posisinya.

__ADS_1


Aduh Bunda, padahal sedikiiit lagi.


...****************...


__ADS_2