Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 24


__ADS_3

"Maksudnya?" Maria menatap Rama dengan wajah penuh tanda tanya.


Rama memainkan rambut ikal Maria dengan telunjuknya. "Sejak kemarin, aku sudah memutuskan bahwa kamu adalah milikku."


Wajah Maria berubah kesal. "Abang, saya manusia, bukan hadiah. Main klaim seenaknya saja." Sungut Maria.


Rama terkekeh, Maria semakin menggemaskan saat kesal dengan bibir mengerucut. Dengan cepat Rama kembali mengecup bibir gadis itu, bahkan sedikit menggigitnya karena gemas.


"Abang!"


Maria mengerahkan tenaganya untuk lepas dari Rama, tapi sayang, Rama lebih kuat.


"Berhenti cium-cium!"


"Kamu duluan yang menggodaku." Sahut Rama tanpa rasa bersalah.


"Apa?!" Maria semakin sewot menghadapi Rama.


Berbanding dengan Rama yang tetap tenang bahkan semakin nyaman mendekap Maria.


"Dengar, karena kemarin kamu cium Abang, jadi kamu harus tanggung jawab. Harga diri Abang terluka lho sama kejadian kemarin."


Mulut Maria menganga, ia menatap horor. Beberapa kali bulu matanya yang lentik bergerak-gerak lucu karena Maria mengerjap-ngerjap.


"Abang! Harusnya saya yang bilang begitu."


"Hei, cowok juga bisa merasa terhina kalau dilecehkan kayak kemarin."


Dilecehkan? Kata itu berputar dalam kepala Maria.


Kekesalan Maria meningkat. "Abang! Kemarin itu kecelakaan."


"Ya sudah, jadi kita RBA."


Dahi Maria berkerut. "RBA?"


"Relationship By Accident." Rama menjawab dengan penuh keyakinan.


"Hmpph!" Maria menggembungkan pipinya. "Hahahahahaha." Tawa Maria pecah, istilah yang digunakan Rama menggelitik telinganya.


Sekali lagi Rama terpukau. Maria menunjukkan berbagai macam ekspresi di depannya. Tidak menjaga sikap atau berpura-pura manis hingga terlihat menyebalkan. Maria tampil apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi.


Maria meredakan tawanya, ia memegang pundak Rama dengan kedua tangannya. "Abang, terima kasih sudah membantuku. Tapi maaf karena drama tadi tidak bisa dilanjutkan. Dan maaf, sudah membuat harga diri Abang terluka karena kecelakaan kemarin." Maria menatap Rama dengan tegas namun lembut. Ia tidak ingin bermain-main lagi.


"Abang terima permintaan maaf kamu. Tapi Abang tidak membuat drama. Mulai kemarin, Abang sudah menganggap kamu sebagai kekasih Abang." Rama membelai pipi Maria dengan lembut.


"Tapi aku tidak cinta sama Abang." Sahut Maria lagi.


Rama tersenyum kecut. "Kamu jujur banget sih." Ia menarik hidung Maria dengan gemas. "Kalau begitu, Abang akan buat kamu jatuh cinta sama Abang."


Maria berdebar, tatapan Rama yang lembut dan dalam membuat jantungnya bergemuruh hebat. Maria memalingkan wajah, ia tidak sanggup melihat tatapan Rama lebih lama lagi.


Maria menggeliat, ia berusaha lepas dari pelukan Rama.


"Abang, mau sampai kapan kayak gini?" Maria menyerah, ia menatap Rama dengan tatapan memohon.


"Abang akan lepasin kamu asal kamu pulang sama Abang."


Maria menghela nafas dengan kasar. "Iya deh iya. Aku batalkan pesanan taksi dulu."


Rama tersenyum penuh kemenangan. Ia memaksa Maria agar terbiasa dengan kehadirannya. 

__ADS_1


Empat tahun yang lalu hubungannya dengan Sang tunangan kandas karena perselingkuhan. Sejak itu Rama tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Ia mungkin akan menggoda lewat kata-kata atau bersikap menyebalkan. Tapi semua itu hanya sebatas itu, tidak lebih.


Namun berbeda dengan Maria. Hatinya begitu menginginkan gadis ini. Maria yang kasar, manis tapi juga lucu. Jauh berbeda dengan tipenya. Tapi itu yang membuat Rama suka. 


"Terima kasih Bang." Maria membuka sabuk pengamannya.


"Abang antar sampai di dalam."


"Eh, nggak usah." Tolak Maria.


"Abang mau ambil bonekanya Nay."


Maria ber-oh ria. Ketika masuk, suasana kost sedang sepi. Seperti biasa, para penghuninya yang sebagian besar adalah mahasiswa tingkat akhir sedang berkutat dengan tugas masing-masing.


Rama meminta izin pada pemilik kost, dan seperti biasa. Ia diberi akses untuk masuk ke kamar Nay.


Tanpa mengucapkan apapun, Maria langsung masuk ke dalam kamarnya. Rama pun tidak ingin menahan gadis itu lagi.


Namun setelah Rama masuk ke dalam kamar, ia jadi bingung. Boneka mana yang diinginkan Nay. Ada begitu banyak boneka dengan berbagai macam bentuk dan warna. Ia merogoh kantong celananya.


"Bagus! Aku tidak membawa iphone-ku."


Rama menyugar rambutnya dengan kasar. Kemudian ia teringat Maria. Rama segera keluar dan mengetuk pintu kamar Maria.


"Iya." Terdengar Maria menyahut dari dalam dan suara kunci dibuka. "Eh, kenapa Bang?"


"Abang tidak tahu boneka yang mana."


Maria mengerti, ia segera mengikuti Rama ke kamar Nayra. Dengan cepat ia menemukan boneka yang biasa dipeluk Nayra saat tidur.


"Ini?" Rama kaget dengan boneka berbentuk pisang yang diberikan Maria.


Maria hanya mengangguk sambil menahan senyum. Rama bukan orang pertama yang kaget dengan boneka favorit Nayra.


"Itu dari mantan pacarnya."


"Nay punya pacar?!"


Sekali lagi Maria mengangguk.


"Kok aku nggak tahu?" Rama heran.


"Sahabat Nay saja Abang tidak tahu, apalagi pacar." Cibir Maria.


Rama terlalu sibuk sampai tidak mengikuti perkembangan pergaulan Sang Adik. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Mantan tunangan dengan bekerja. Hingga mengabaikan yang lain. Apalagi ia dan Nayra tinggal di kota yang berbeda.


"Iya, Abang salah." Ucap Rama sambil mengusap kepala Maria. "Terima kasih ya sayang, sudah bantu Abang."


Maria mengangkat kedua alisnya, ia masih merasa aneh dengan panggilan itu. Maria menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbalik untuk kembali ke kamar.


Namun belum sempat melangkah, Rama sudah memeluknya dari belakang.


"Abang! Berhenti peluk-peluk."


"Tidak, kamu harus terbiasa dengan skinship diantara kita."


"Tidak! Tidak! Tidak!" Maria menolak.


"Tapi besok Abang sudah pulang, sayang."


"Baguslah kalau begitu."

__ADS_1


"Abang bakalan kangen berat sama kamu." Rama menggigit pundak Maria dengan pelan.


"Abang." Maria merasakan sensasi yang lain. Refleks ia berbalik dan membekap mulut Rama dengan tangannya. "Berhenti."


Rama menyeringai, ia mengecup telapak tangan Maria. Karena geli, Maria segera melepaskan tangannya. Dan ia mendorong sekuat tenaga hingga Rama melepas pelukannya. Bukan karena tenaga Maria yang kuat, tapi karena Rama memang tidak berniat menjahili gadis ini lagi.


"Nggak tahu kapan kita bisa ketemu lagi."


"Saya berharap kita tidak akan bertemu lagi. Selamanya." Tandas Maria karena kesal.


Rama tertawa sumbang, baru kali ini ada cewek yang menolaknya mati-matian meski sudah dicium. Tekadnya semakin bulat untuk memiliki Maria.


Sebelum Maria mencapai pintu, Rama menariknya dan menyandarkan gadis ini di dinding. Dengan tangan yang lain Rama menutup pintu. Tanpa aba-aba Rama menyergap bibir Maria, ********** tanpa ampun. Ia menggunakan beban tubuhnya untuk menahan Maria ke dinding.


Meski awalnya menolak, lama kelamaan Maria terhanyut dan membalas ciuman Rama. Membuat Rama tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Ia meraih tangan Maria dan meletakkan tangan gadis itu ke pundaknya. Dan sadar atau tidak, Maria semakin bergelayut manja pada Rama.


❤️❤️❤️


Desi memeriksa kembali jendela dan pintu sebelum tidur. Diluar, hujan turun dengan sangat deras. Desi menatap jam yang ada di dinding. Sudah hampir tengah malam dan Alfian belum juga pulang.


Desi melangkah mondar mandir di lorong menuju pintu keluar. Terkadang bahkan sampai masuk ke dalam dapur.


"Aaaaahhh!!!" Suara guntur yang begitu besar membuatnya menjerit dan refleks menutup telinga.


Baru saja ia ingin menurunkan tangan dari telinga, tiba-tiba suara guntur kembali terdengar.


"Aaaahhhh!!!" Desi menutup telinganya lagi sambil berjongkok di lantai depan pintu dapur.


"Desi!" Alfian yang baru membuka pintu melempar tasnya dan menghampiri Desi.


"Tuan Muda?"


"Kamu kenapa?"


"Cu..cuma kaget suara guntur." Desi tersenyum canggung, ia lantas berdiri.


"Benar hanya itu?" Alfian memindai Desi, meragukan jawaban gadis di depannya. Ia mengira Desi sedang kesakitan atau terluka.


"Iya, benar Tuan." Desi meyakinkan.


"Syukurlah." Wajah Alfian terlihat lega. "Aku sangat khawatir melihatmu meringkuk seperti tadi." Ucap Alfian sungguh-sungguh. Ia menatap Desi dalam-dalam.


Jantung Desi berdetak kencang, kalimat kekhawatiran Alfian bahkan membuat wajahnya memerah.


"Ehm." Desi berdehem, mencoba menyingkirkan rasa malunya. "Tuan masih mau makan atau minum sesuatu?" Matanya dengan liar menatap kesana kemari menghindari tatapan Alfian. Kadang ia menggigit bibirnya, Desi benar-benar gugup.


Alfian bungkam, ia sibuk menikmati wajah Desi yang sedang merona karena malu. Bahkan gadis itu terlihat salah tingkah. Rasa lelah Alfian hilang begitu saja.


Dengan satu gerakan Alfian menarik Desi masuk ke dalam pelukannya. "Biarkan seperti ini, sebentar saja." Pinta Alfian.


Desi menegang, ia tidak tahu harus bagaimana. Jadi ia memilih diam tanpa membalas pelukan Alfian.


Alfian menutup mata, menghirup dalam-dalam aroma melati yang lembut dan menenangkannya. Jantung Alfian pun berdebar semakin cepat. Aroma tubuh Desi membawa sensasi tersendiri baginya.


Ia sedikit menjauhkan tubuh Desi agar lebih leluasa melihat wajah gadis itu. Kemudian dengan pelan ia menahan pipi Desi sembari mendekatkan wajah dengan tatapan lurus pada bibir ranum Desi.


Tinggal sedikit lagi, dan suara guntur menggelegar mengagetkan mereka berdua. Pelukan Alfian terlepas karena terkejut. Dan Desi sontak mendorong tubuhnya.


"Aaaahhh!" Desi kembali menutup telinganya. "Ma..maaf Tuan, lebih baik saya masuk ke kamar  saja."


Tanpa menunggu jawaban Alfian, Desi segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Meninggalkan Alfian yang termangu.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan? Aku hampir menciumnya.


...****************...


__ADS_2