
Jantung Desi mulai berdetak lebih kencang. Ia memperbaiki letak kantong belanja dengan bantuan lututnya. Begitu pintu lift terbuka ia berjalan dengan sangat cepat.
Sesekali Desi menoleh ke belakang, ia terkesiap melihat pemuda tadi ikut keluar lift. Desi semakin mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan pintu apartemen Alfian, ia menekan tombol kunci elektronik dan mendorong pintu dengan kakinya.
Desi melesat masuk dan mendorong pintu dengan tubuhnya. Setelah merasa aman, Desi meletakkan kantong belanjanya di lantai secara sembarangan. Ia kembali menekan tombol untuk mengunci pintu dan mengaktifkan pengaman tombol agar tidak ada orang yang bisa membuka pintu dari luar.
Dalam pikiran Desi, jangan sampai pemuda tadi bisa meretas sistem kunci elektronik seperti di film-film yang ia tonton.
"Ya Tuhan!" Desi menjerit karena pintu digedor dari luar.
"Hei! Buka pintunya!" Terdengar pemuda itu berteriak.
Desi mulai panik, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia segera meraih barang belanjaannya dan meletakkan semua di dapur. Desi kemudian menelepon Nyonya Rara untuk meminta bantuan.
Telepon Desi diangkat setelah beberapa saat.
"Ha..halo, selamat sore Nyonya. Ini Desi."
"Oh, Desi. Bagaimana?"
"Nyonya, tolong ke apartemen Tuan Muda sekarang. Ada seseorang yang mengikuti saya dari supermarket dan sekarang berusaha masuk. Dia sedang menggedor pintu."
"Apa?!" Suara Nyonya Rara terdengar panik. "Kamu sudah pasang pengaman tombol?"
"Su..sudah Nyonya." Suara Desi mulai bergetar.
"Bagus, kebetulan saya sudah di bawah. Sabar ya, jangan takut."
"I..iya Nya."
😣😣😣
Setelah menunggu selama beberapa menit, Desi mendengar suara dari arah pintu. Namun ia tidak berani mendekat. Desi tetap berdiri di dapur dan sesekali mengintip ke arah pintu masuk.
Tak lama kemudian nada panggilan telepon terdengar. Melihat nama Nyonya Rara yang tertera di layar smartphone-nya, Desi segera menggeser ikon berwarna hijau.
"Halo, Nyonya."
"Desi, ayo buka pintunya. Saya ada di depan."
"Ba…baik Nyonya."
Desi bergegas ke pintu tanpa melihat layar monitor dan membuka kunci. Begitu pintu terbuka, Desi tertegun melihat Nyonya Rara berdiri dengan pemuda tadi. Wajah pemuda itu terlihat marah. Selain mereka berdua ada juga supir rumah utama, Pak Jaya dan juga seorang petugas keamanan dengan nama Daffa di dada kanannya.
Desi mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Demikian juga dengan Nyonya Rara.
"Desi, mana orang yang kamu maksud tadi?"
Dengan gerakan pelan dan tanpa suara Desi mengangkat tangannya menunjuk pada pemuda berjas biru navy yang berdiri di samping Nyonya Rara dan sedang menatap tajam ke arahnya.
Nyonya Rara menatap Desi dengan mulut sedikit terbuka dan wajah yang maju ke depan.
"Desi." Nyonya Rara menatap dengan tak percaya. "Kamu nggak hafal muka Alfian?"
__ADS_1
Deg
Desi tertegun, dengan kasar ia menelan salivanya. Jantungnya bertalu dan ujung jarinya mulai terasa dingin.
Mati aku.
"Nyonya, sepertinya ini hanya salah paham. Saya izin kembali ke bawah." Ucap Daffa sambil menahan senyum menatap Desi.
"Saya juga Nya, mau menunggu di mobil." Pak Jaya mengikuti langkah Daffa.
Nyonya Rara hanya menatap sesaat kedua pria itu dan mengangguk. Pandangannya pun kembali pada Desi.
"Ayo kita bicara di dalam."
Desi segera menyingkir, Nyonya Rara dan Alfian berjalan masuk. Saat Alfian melewati Desi, pemuda itu berhenti sejenak. Desi yang sedang menunduk mengangkat wajahnya. Pandangan keduanya bertemu untuk sesaat, namun Desi kembali menunduk.
Sebelum menyusul majikannya, Desi menarik nafas dalam-dalam. Dengan perasaan tak menentu ia berjalan menuju ruang tamu.
Habis sudah, aku pasti akan dipecat. Bukan karena menggoda Tuan Muda, tapi karena tidak tahu bagaimana wajahnya.
Desi duduk bersimpuh di lantai di depan Nyonya Rara. Kedua tangannya menyatu di atas paha dan kepalanya selalu tertunduk. Sedangkan Alfian memilih duduk di sofa single yang berada di sebelah kiri Sang Bunda.
"Desi, coba jelaskan." Suara Nyonya Rara terdengar tenang.
Desi lebih dahulu menarik nafas untuk meredakan kegugupannya.
"Sa…saya tidak tahu kalau orang yang dua kali menolong saya saat belanja adalah Tuan Muda. Saya kaget waktu Tuan Muda ikut masuk ke lift. Saya pikir, Tuan Muda adalah penjahat yang memakai pakaian bagus dan mau merampok apartemen melalui saya. Seperti di berita-berita."
Desi menjeda penjelasannya. Tangannya yang bertaut bergerak sedikit karena ia tetap gugup.
Nyonya Rara menarik nafas dalam-dalam. Suasana yang hening membuat keadaan terasa semakin tegang bagi Desi.
"Kenapa kamu tidak bisa mengenali Alfian? Masa dari suaranya juga kamu nggak tahu."
Desi menggigit bibirnya. "Tu..Tuan Muda tidak pernah berbicara, Nyonya. Jadi, saya tidak hafal suara Tuan Muda."
Kedua alis Nyonya Rara terangkat. Kali ini ia menatap Putranya, dan Alfian hanya tersenyum tipis. Nyonya Rara menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau wajah. Mmm… Sa..saya tidak pernah lihat wajah Tuan Muda, Nyonya."
"Apa?!" Nyonya Rara langsung duduk dengan tegak. "Kemarin waktu dikenalkan itu?"
"Saya…saya lihat dasinya Tuan Muda saja, Nyonya."
Nyonya Rara tertawa tertahan. " Ya ampun Dessiiiii Desiiii." Rara menutup mulut dengan tangan dan tertawa cekikikan.
Desi menggigit bibirnya lagi, ia bahkan menunduk semakin dalam. Wajah gadis itu sudah memerah sepenuhnya sampai ke telinga dan leher.
Setelah dapat menghentikan tawanya, Nyonya Rara kembali bertanya. "Jadi saat kamu berpapasan dengan Alfian, kamu menunduk terus?"
Desi mengangguk pelan. "Iya Nyonya."
"Desiiii Desi." Nyonya Rara menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan tingkah pelayan baru itu.
__ADS_1
"Desi, lihat saya."
Perlahan Desi mengangkat wajahnya menatap Nyonya Rara dengan takut-takut.
"Sekarang, kamu lihat muka Alfian. Muka lho ya, bukan dasinya."
Desi mulai panik. "Ta…tapi Nyonya."
Nyonya Rara paham, sepertinya Desi benar-benar mengindahkan peringatan Pratiwi.
"Desi, Alfian itu sudah dewasa. Dia tahu bedanya melihat dengan menggoda. Nggak perlu takut dipecat."
Bola mata Desi bergerak liar, wajahnya benar-benar terlihat bingung. Beberapa kali Desi menggigit bibirnya hingga semakin memerah.
Alfian menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Sejak pertama bertemu, Alfian mengira Desi begitu takut dengannya hingga selalu menunduk. Ia tidak menyangka jika yang Desi takutkan adalah dirinya akan salah paham dan dikira menggoda.
Sebodoh itukah aku?
Alfian menatap Desi dengan intens. Raut wajah Desi yang berubah-ubah membuatnya betah berlama-lama menatap. Sedari tadi ia hanya bisa melihat wajah Desi dari samping dan kurang jelas karena tertutup rambut. Dan saat ini Desi sedang menatap Bundanya, jadi Alfian dengan leluasa bisa mengamati wajah Desi.
Menarik. Gumam Alfian lagi di dalam hatinya. Tunggu dulu, apa yang aku pikirkan?
Perlahan Desi menggerakkan kepalanya, lalu menatap Alfian. Kadang ia fokus, kadang matanya beralih kembali ke….Dasi.
"Mukanya Desi, bukan dasinya." Nyonya Rara mengingatkan dengan penuh penekanan.
Desi mengerjap-ngerjap dan menelan salivanya dengan kasar. Perlahan ia kembali menatap Alfian. Kulit Alfian putih, dengan hidung yang mancung, mata yang tajam seperti elang dengan manik mata yang berwarna biru. Jambang tipis yang berada di dagu dan rahangnya, serta rambutnya yang kecoklatan.
Sempurna. Pantas saja pembantu sebelum aku nekat menggoda. Tapi aku nggak boleh khilaf, aku butuh pekerjaan ini, aku butuh uang.
"Maafkan saya, Tuan Muda." Lirih Desi dengan wajah yang tetap terangkat hanya saja ia menurunkan pandangannya.
Sesekali Desi menatap wajah Alfian. Ia memperbanyak rekaman ingatannya akan wajah Tuan Muda agar tidak salah mengenali lagi.
Dan sepertinya Sang Tuan Muda tidak keberatan. Karena ia nampak balas menatap Desi.
Alfian menikmati bagaimana Desi menatapnya dengan matanya yang indah. Bulu mata yang lentik itu bergerak-gerak dengan lucu saat Desi mengerjap. Dan bibir yang merah karena beberapa kali digigit oleh pemiliknya sendiri.
Alfian menarik nafas dalam-dalam berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya.
"Baiklah. Aku juga minta maaf karena belum pernah berbicara kepadamu."
Setelah berbicara demikian Alfian pun berdiri. "Bunda, aku mau ganti baju dulu."
"Iya sayang."
👔👔👔
Di dalam walk in closet, Alfian berdiri di depan deretan dasi yang ia miliki. Kemudian ia mengangkat dasi yang tadi ia pakai sampai ke dekat wajahnya. Alfian berbalik menatap cermin besar di belakangnya. Matanya bergantian menatap kain halus itu dan juga wajahnya.
"Dasi oh dasi."Â
Â
__ADS_1
...****************...